Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Malam pertama yang tertunda


__ADS_3

"Disini adem ya"


Suasana bernuansa alam di belakang ndalem membuat Zimah betah.


"Iya mbak, ini tempat favorit aku kalau lagi di ndalem selain kamar"


Zimah menoleh pada Salsa yang duduk di samping nya.


"Kayak nya mbak bakalan ngikutin kamu deh, kalau di ndalem ini jadi tempat favorit." kekeh Zimah di ikuti Salsa


"Bukan cuma kita loh mbak."


"Ohya?" Salsa mengangguk


"Umi menyukai pemandangan alam, jadi dulu waktu umi baru menikah sama abi, umi minta di buatin tempat ini, dan ini pondopo yang kita duduk tempat abi dan umi kalau mau bersantai, biasa nya kita anak-anak nya juga ikut, dan kami akan mendengar kan cerita umi dan abi ketika dulu." Cerita Salsa semangat membayang kan hari-hari yang di lalui bersama keluarga tercinta.


"Keluarga kalian harmonis banget ya." kata Zimah ikut senang mendengar cerita dari adik ipar nya.


"Alhamdulillah mbak."


Kedua nya kembali diam menikmati pemandangan yang sangat menenang kan, kolam yang di hiasi ikan-ikan, tumbuh-tumbuhan yang di tanam di sekitar nya, ada bebatuan di tepian kolam.


"Mas cariin, ternyata disini" kata Aqlan tiba-tiba


Zimah mendongak kan kepala nya menatap Aqlan yang berdiri di samping nya.


"Tadi mas lagi ngajar, jadi Salsa ajak mbak Zimah kesini deh, sekalian pendekatan." sahut Salsa nyengir


"Kamu gak ngaji kitab ndok?" selidik Aqlan pada adik nya.


Salsa membola kan mata nya lucu


"Hehehe, tadi kepengen libur aja mas." ujar Salsa mengggaruk kepala nya yang di lapisi hijab.


Zimah memandang suami dan adik ipar nya, Zimah baru tau kalau Salsa ada kelas kitab.


"Ada apa mas cari Zimah?" tanya nya mengalih kan suami nya yang akan mengintrogasi adik ipar nya.


Berhasil! Aqlan langsung memandang Zimah.


"Mas kira kamu kemana gak ada di kamar." kata Aqlan membuat Salsa hampir memutar bola mata nya, tapi tidak jadi, karna takut kualat.


"Takut banget istri nya hilang mas." timpal Salsa lalu berdiri memandang Aqlan. "Salsa masuk dulu ya mas, mbak" lanjut nya melangkah hendak pergi


"Makasih ya udah nemenin mbak."


Zimah tersenyum memandang Salsa yang menoleh mengangguk dan kembali melangkah pergi.


Setelah kepergian Salsa kini Kedua nya duduk berdekatan menghadap kolam seperti saat Zimah bersama Salsa tadi.


"Tadi ngapain aja sama Salsa?" tanya Aqlan masih memandang ikan-ikan di kolam


"Duduk aja, sambil dengerin cerita Salsa tentang abi, umi, dan yang lain nya, Salsa anak nya seru." kata Zimah tersenyum menatap suami nya.


Aqlan membalas senyuman istri nya.


"Dulu waktu mas masih kecil, mas suka melihara ikan." cerita Aqlan


"Jadi itu ikan mas Aqlan?" tunjuk Zimah ke arah ikan-ikan di kolam

__ADS_1


Aqlan menggeleng.


"Itu ikan yang baru-baru di beli, ikan mas udah pada mati."


Zimah mengangguk.


"Sudah mau maghrib, kita masuk ya" ajak Aqlan yang sudah berdiri mengulur kan tangan di depan Zimah.


Zimah menyambut uluran tangan suami nya, berdiri dan menyamai langkah suami nya berdampingan masuk ke dalam.


...-------------------------------------------...


๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ


Aqlan membuka perlahan pintu kamar nya, dan melihat istri nya mengenak kan mukenah, sedang duduk di kursi dan fokus menatap laptop di atas meja di depan nya.


"Assalamu'alaikum" ucap Aqlan sambil menutul pintu setelah masuk.


"Wa'alaikumussalam" balas Zimah memandang suami nya dengan senyum, dan kembali menatap laptop nya.


"Kalau ada apa-apa hubungi Zimah ya mbak, atau lapor ke Risha aja."


"๐˜‰๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ถ." ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ท๐˜ช๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฐ ๐˜ค๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ


"Maaf banyak ngerepotin mbak" kata Zimah tak enak


"๐˜š๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ."


Zimah tersenyum, dan mereka pun mengakhiri sambungan vidio call.


"Siapa?" tanya Aqlan yang duduk di sofa sedari tadi menatao Zimah.


"Sudah selesai ngajar nya mas?"


Zimah membuka mukenah nya dan duduk di samping Aqlan


Aqlan mengangguk sambil membelai kepala Zimah yang menyender di bahu nya.


"Mas mau Zimah buatin kopi atau teh?" tawar Zimah melihat suami nya yang memejam kan mata nya tampak letih.


"Boleh, kopi aja."


Zimah mengangguk dan berjalan mengambil jilbab instan nya di lemari, dan melangkah keluar kamar setelah memakai jilbab nya.


Sambil menunggu air mendidih, Zimah melihat kesikitar dapur yang tampak sepi hanya ada dia sendiri.


Walaupun Zimah tidak pernah berintraksi dengan para santri di sini, tapi Zimah yakin kalau di dapur ini ada santri-santri yang terpilih untuk khidmat dengan keluarga ndalem.


Langkah kaki seseorang mengalih kan pandangan Zimah yang tadi menatap sekitar.


"Mbah." sapa Zimah ramah, melihat kakek suami nya yang berdiri tidak jauh dari nya.


Mbah hanya mengangguk.


"Mbah mau Zimah buatin kaopi atau teh?" tawar Zimah


"Teh saja"


Zimah mengangguk dan mematikan air yang sudah mendidih, dan mengambil satu gelas lagi untuk kakek suamu nya.

__ADS_1


Setelah kopi dan teh telah siap, Zimah menoleh kebelakang melihat kakek dari suami nya yang sudah duduk di kursi meja makan sambil membaca mushaf yang di pegang nya.


Zimah meletakan teh dengan hati-hati di depan mbah.


"Trimakasih" kata mbah Tanpa ekspresi lalu berdiri membawa cangkir teh beserta mushaf yang di pegang,


Zimah melihat mbah menuju ruang tamu, dan setelah nya Zimah kembali kedapur mengambil kopi yang sudah di buat untuk suami nya.


"Tumben lama?" tanya Aqlan memandang istri nya yang kembali duduk di sebelah nya.


"Tadi sekalian buatin mbah teh."


"Mbah yang minta?"


Zimah menggeleng.


"Zimah yang nawarin"


Aqlan mengangguk kembali menikmati kopi yang di buat istri nya, hingga tersisa sedikit.


"Mbah walaupun sudah tua tapi rajin banget ya baca qur'an nya, Zimah sering melihat mbah baca qur'an selama tinggal disini." kata Zimah kagum.


Aqlan mengangguk meletakan gelas yang hanya tersisa serbuk kopi di dalam nya, dan menoleh menatap sang istri yang juga menatap nya.


"Setelah mbah putri meninggal, mbah lanang menyibukan diri dengan hal-hal penting, seperti membaca qur'an, sholat, kalaupun berkumpul dengan anak-anak dan cucu-cucu nya jika ada hal penting saja." beri tau Aqlan "Dan biasa juga sesekali memberi nasehat pada santri."


Zimah mengangguk tampak sedih mendengar tentang kakek dari suami nya.


Kedua nya diam dengan fikiran masing-masing, Zimah yang bersender di dada bidang suami nya dengan memejam kan mata menikmati elusan di kepala dan sapuan pelan di pipi nya dari Aqlan.


Aqlan sedikit menunduk melihat wajah istri nya yang menutup mata, sangat cantik, membuat Aqlan berdebar.


"Zimah." panggil Aqlan pelan masih membelai wajah istri nya.


Zimah membuka mata mendengar panggilan suami nya dengan suara serak, tidak seperti biasa nya.


"Iya.?" jawab Zimah menarik kepala nya dari dada bidang Aqlan.


Mereka saling bertatapan, tatapan Zimah tanda bertanya?, sedangkan tatapan Aqlan terlihat menahan sesuatu.


"Apa mas boleh minta hak mas.?" tanya Aqlan tanpa paksaan.


Zimah menatap penuh mata Aqlan, Zimah tau dia lalai dengan tugas yang satu ini, di ambil nya tangan Aqlan dan mengangguk dengan senyuman semanis mungkin.


"Boleh mas, maaf Zimah lalai dengan tugas ini, karna Zimah malu" cicit Zimah di akhir kata, menatap Aqlan dengan merona.


Aqlan mengangguk terkekeh menepuk pelan kepala sang istri yang masih tertutup jilbab instan, tampak menggemas kan.


Aqlan mendekat membuka perlahan jilbab istri nya di belai nya rambut sang istri yang terurai indah, mengusap pipi Zimah dengan tatapan cinta, lalu meletakan sebelah tangan nya di atas kepala Zimah.


Setelah berdo'a Aqlan mendekat kan wajah nya, sangat dekat hingga membuat Zimah menegang, mencium kening sang istri lalu di pipi.


Selanjut nya Hanya Allah dan mereka yang tau.


...------------------------------------------...


Yang jomblo silahkan berkumpul๐Ÿ˜Œ


...{17 Agustus 1945...

__ADS_1


...Merdeka**โœŠ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ**}...


__ADS_2