Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Spesial


__ADS_3

"Assalamu'alaikum."


Ucapan salam dari orang yang berdiri di ambang pintu, mengalih kan, atensi semua orang yang ada di ruang tamu.


"Wa'alaikumussalam," jawab semua nya serentak.


"Masuk Zain," ujar umi Halimah pada pemuda di ambang pintu.


"Njih bunyai," Zain perlahan melangkah mendekati orang-orang yang ada duduk di sofa. "Assalamu'alaikum," ucap Zain lagi, membungkuk kan sedikit badan.


Zimah tersenyum melihat kedatangan adik nya. "Sini, duduk dekat kakak," ujar Zimah pada Zain, menepuk sofa yang kosong di sebelah nya.


Tanpa banyak kata, Zain segera menuruti perintah sang kakak.


"Ini Zain adik ipar saya," Aqlan memperkenal kan tanpa keraguan. Membuat hati Zimah menghangat, memandang suami nya.


"Zain, perkenal kan ini Fadhil dan Irzan," Zimah menunjuk dua orang remaja di depan nya. "Mereka akan mondok disini."


Walaupun bingung, kenapa santri yang baru masuk berhadapan sama kluarga ndalem, yang biasa nya hanya daftar melalui ustadz pengurus. Namun Zain hanya diam tanpa bertanya. Mungkin nanti saat ia berdua dengan kakak nya, Zain kan bertanya.


"Nanti tolong antar kan mereka pada bagian pengurus ya le," ujar umi Halimah.


"Njih bu nyai," jawab Zain cepat.


...------...


"Maulid kali ini. Maaf ya, aku gak bisa sama kalian," ujar Zimah tak enak menatap layar laptop nya yang menyala.


"Gak apa-apa Zi, nama nya juga udah ada suami."


"Pasti maulid di pesantren seru ya Zi?, apalagi ada kang santri yang ganteng-ganteng, sholeh-sholeh."


Tanpa di beri tau pun, pasti tau itu suara siapa?, Dira yang pengertian. Chessy si tukang Khayal.


Layar laptop yang menyala menampak kan, wajah cantik ke dua gadis yang berarti dalam hidup Zimah.


"Cowok mulu yang lo fikirin? Heran!" sinis Dira menatap Chessy di sebelah nya.


"Itu tanda nya gue normal," balas nya mencibir.


Dira memutar bola mata nya malas, lalu kembali memandang Zimah yang terkekeh di seberang sana. Zimah yang melihat perdebatan sahabat nya selesai, langsung menghenti kan tawa.


"Emang lo gak mau jumpa crush lo?" sambung Chessy, menaik turun kan alis nya.


Seketika Dira membola kan mata menoleh pada Chessy, sedangkan Zimah yang tidak mengerti, mengerut kan alis nya.


"Crush?, siapa?, dimana?, kok aku gak tau?," tanya Zimah bruntun.


Suara tawa Chessy terdengar kuat. menertewa kan Dira yang gelagapan, seperti orang salah tingkah. Dira segera memandang Zimah memelas.

__ADS_1


"Gak ada Zi. Jangan percaya kata nih anak, suka ngada-ngada emang" ujar Dira tertawa hambar.


"Percaya kata aku Zi. Ada crush nya Dira di pesantren suami kamu!" kata Chessy meyakini.


Dira mendelik pada Chessy, kemudian menatap Zimah, berharap, sahabat nya yang satu ini tidak percaya, omongan si tukang khayal.


Namun Zimah hanya geleng kepala menanggapi pembicaraan kedua sahabat nya.


"Jadi nasi kotak nya dari restoran kamu Zi," ucap Dira mengalih kan pembicaraan.


Zimah mengerut kan alis nya, mendengar ucapan Dira yang tidak nyambung. "Kan emang gitu tiap tahun nya Dir?" kata Zimah tak mengerti dengan tingkah Dira yang gelagapan.


"Eh?. Iya, itu maksud aku" tingkah Dira sampai menggaruk kepala nya, membuat Chessy yang tau apa penyebab sahabat nya itu. Tidak bisa menahan tawa.


"Ya ampun Dir, sumpah, baru kali ini gue liat lo, salah tingkah kek gini. Udah sampe level berapa sih, nama dia di hati lo?," kata Chessy di sela tawa nya.


"Siapa sih Ches?, tanya Zimah lagi, bingung.


"Tanya aja nih anak" tunjuk Chessy pada Dira


"Nanti aku cerita Zi," ujar Dira menatap Zimah yang kebingungan. "Kita lanjut yang tadi aja ya" lanjut nya lagi.


Semua nya mengangguk.


"Berapa persen persiapan kalian?" tanya Zimah memulai pembahasan mereka yang tadi teralih kan.


"Jam berapa nganterin nya?" tanya Zimah lagi.


"Bentar lagi nih, nungguin Risha sama kedua sahabat nya, kata nya mereka bertiga mau iku," jawab Dira


"Mbak Dian mana?"


"Kata nya, ada pekerjaan dikit, bentar lagi kesini."


Zimah mengangguk.


Sudah tidak asing lagi, jika mendengar nama ke tiga orang gadis cantik yang bersahabatan. Bahkan sebelum Zimah tampil di telivisi, Zimah dan kedua sahabat nya, sudah di kenal di kalangan pengurus-pengurus panti asuhan, pondok pesantren, dan panitia-panitia yang selalu mengadakan acara penting di sekitar tempat nya. Seperti 'Maulid Nabi Muhammad'.


Zimah dan sahabat nya selalu memberi sumbangan untuk tempat-tempat yang ingin mengada kan acara islami, tapi mereka kekurangan biaya. Dan salah satu nya sumbangan melalui makanan dari restoran yang Zimah kelolah.


Zimah, Dira, maupun Chessy, tidak pernah mempublis kan tentang ini kepublik, sehingga orang-orang mengira mereka hanya anak dari pengusaha sukses. Bagi mereka jika bisa membantu, maka akan mereka bantu, walau sekedar nya.


"Mudahan semua nya berjalan dengan lancar ya," ucap Zimah tulus.


"Aamiin" jawab kedua nya serentak.


"Dan mudah-mudahan gue ketemu cogan sholeh," celetuk Chessy mengusap wajah menggunakan kedua tangan nya.


Zimah dan Dira saling berpandangan, lalu menghela nafas kasar. Namun tak ayal mereka mengamin kan perkataan Chessy.

__ADS_1


Sambungan vidio call mereka berakhir dengan Chessy yang cemberut, memaju kan bibir nya, melihat ekspresi Zimah dan Dira yang mengolok celetukan nya tadi.


Zimah segera merapikan laptop nya, dan memakai pashmina polos. Berjalan kearah pintu kamar lalu melangkah mencari suami nya.


"Mas Aqlan dimana Sa?" tanya Zimah ketika berpapasan dengan adik ipar nya, ketika ingin menuju pintu rumah.


"Di tempat santri putra kali mbak," jawab Salsa setelah tadi menghenti kan langkah nya di depan Zimah.


Zimah mengangguk pelan. "Kamu mau kemana?"


"Rencana nya emang mau manggil mbak tadi ke kamar," ujar Salsa dengan senyuman.


"Ada apa?"


"Mau ngajak keliling pesantren, liatin persiapan santri-santri untuk maulid besok."


"Oh boleh, mbak juga pengen jalan-jalan."


"Yuk mbak," ajak Salsa langsung menggandeng tangan kakak ipar nya.


Mereka melangkah beriring, menuju lapangan yang akan di ada kan maulid Nabi, besok.


Tampak santri putra dan santri putri tampak antusias mengerjakan tugas mereka masing-masing. Mereka saling membantu satu sama lain, tapi tetap menjaga batasan.


Zimah juga melihat adik nya Zain, dan juga remaja kemarin, Fadhil dan Irzan. Mereka mengerja kan dengan saling bercanda dengan yang lain nya. Membuat panggung yang besar.


Santri-Santri yang melihat kedua ning nya, menyapa dengan sopan. Zimah tersenyum bahagia melihat kekompakan semua santri. Pemandangn yang sangat menyejukan.


"Siapa aja yang akan hadir Sa?" tanya Zimah.


"Semua orang-orang kampung disini di undang mbak, juga kiyai-kiyai dari beberapa pesantren," jawab Salsa melihat kakak ipar di samping nya.


"Ramai banget pasti ya?" tebak Zimah


"Banget mbak, sahabat Abi juga ada di undang, yang dari Kalimantan."


"Kalimantan?, siapa?" tanya Zimah penasaran, saat mendengar kalimantan.


"Kiyai Ali mbak."


"Sama istri nya gak?" tanya Zimah antusias.


"Kurang tau juga mbak," kata Salsa yang bingung melihat tingkah bahagia kakak ipar nya. "Mbak kenal?".


Zimah mengangguk pasti dengan senyuman manis nya. Membuat Salsa semakin bingung.


...🌼🌼🌼🌼🌼...


𝑴𝑬𝑴𝑷𝑬𝑹𝑰𝑵𝑮𝑨𝑻𝑰 𝑴𝑨𝑼𝑳𝑰𝑫 𝑵𝑨𝑩𝑰 𝑴𝑼𝑯𝑨𝑴𝑴𝑨𝑫 𝑺𝑯𝑶𝑳𝑳𝑨𝑯𝑼'𝑨𝑳𝑨𝑰𝑯𝑰 𝑾𝑨𝑺𝑺𝑨𝑳𝑨𝑴. 1445 𝑯𝒊𝒋𝒓𝒊𝒂𝒉. 𝑲𝒂𝒎𝒊𝒔-28-𝑺𝒆𝒑𝒕𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓-2023.

__ADS_1


__ADS_2