
"𝘘𝘰𝘣𝘪𝘭𝘵𝘶 𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢 𝘸𝘢 𝘵𝘢𝘻𝘸𝘪𝘫𝘢𝘩𝘢 𝘢𝘭𝘢𝘭 𝘮𝘢𝘩𝘳𝘪𝘭 𝘮𝘢𝘥𝘻𝘬𝘶𝘶𝘳 𝘸𝘢 𝘳𝘢𝘥𝘩𝘪𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘪𝘩𝘪, 𝘸𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩𝘶 𝘸𝘢𝘭𝘪𝘺𝘺𝘶 𝘵𝘢𝘶𝘧𝘪𝘲."
𝘚𝘢𝘩
𝘚𝘈𝘏!!!!
𝘈𝘓𝘏𝘈𝘔𝘋𝘜𝘓𝘐𝘓𝘓𝘈𝘏
"Alhamdulillah"
"Selamat Zimah kamu udah jadi seorang istri"
"Selamat kakak"
"Selamat Zi sakinah mawaddah warohmah ya"
Zimah hanya diam menerima ucapan selamat dari kedua sahabat nya dan Risha, setelah kata sah di ucap kan oleh penghulu dan orang-orang yang berada di dalam panggilan vidio call dari laptop Zimah
Menikah melalui panggilan vido call, tidak pernah terfikir kan oleh Zimah dan di nikah kan oleh paman sebagai wali nya
"𝘗𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘶"
"𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨?"
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘯"
"𝘓𝘢𝘪𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘬𝘢𝘳𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯"
"𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘸𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘡𝘢𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘸𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢"
"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘸𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘢𝘮𝘢𝘯"
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?"
𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘱𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘷𝘪𝘥𝘪𝘰 𝘤𝘢𝘭𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭 𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢-𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘴𝘰𝘧𝘢
𝘑𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘣𝘪 𝘋𝘪𝘯𝘥𝘢 𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘬𝘦𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘷𝘪𝘥𝘪𝘰 𝘤𝘢𝘭𝘭 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘯 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢
"𝑍𝑎𝑖𝑛?" 𝑢𝑐𝑎𝑝 𝑍𝑖𝑚𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑡𝑖
"𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱"
𝘜𝘤𝘢𝘱 𝘈𝘲𝘭𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘱𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩
"𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨"
__ADS_1
"𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘱𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩"
"𝘓𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯" 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘦𝘬𝘴𝘱𝘳𝘦𝘴𝘪
Itu percakapan mereka tadi sebelum akad di mulai.
...--------------------------------------...
Zimah mengetuk-ngetukan kaki nya di lantai dengan duduk di tepi kasur, setelah tadi selesai ijab qobul dia mendapat chatan dari nomor yang tidak di kenal, dan ternyata itu Aqlan, entah dari mana Aqlan mendapat kan nomor nya.
𝑀𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑎𝑦𝑎 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑠𝑢𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑚𝑢>𝐴𝑞𝑙𝑎𝑛
Selesai membaca chatan dari Aqlan Zimah hanya membalas '𝑖𝑦𝑎' dan langsung merapi kan kamar yang tadi nya sedikit berantakan karna ada sahabat nya dan juga Risha.
Setelah nya Zimah pergi ke kamar mandi membersih kan diri
Zimah tidak tau apa reaksi nya nanti ketika dia dan Aqlan bertemu dengan status baru
"𝘈𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮"
Suara ketukan dan ucapan salam dari luar pintu kamar membuat Zimah semakin meremat kan tangan nya, dia tidak pernah segerogi ini walaupun menghadapi banyak orang
𝘤𝘦𝘬𝘭𝘦𝘬
Suara pintu yang di buka pelan membuat Zimah mengangkat kepala nya yang tadi menunduk dan dia langsung berdiri melihat Aqlan yang sudah berdiri di ambang pintu kamar nya
Zimah hanya mengangguk kan kepala nya pelan bingung harus membalas apa setelah nya mereka langsung diam, saling memandang.
"Silahkan masuk ustadz" Zimah mempersilahkan setelah keterdiaman nya
Aqlan langsung berjalan masuk dan berhenti dihadapan Zimah membuat Zimah semakin gerogi dan mundur selangkah kebelakang di ikuti Aqlan di depan nya yang tersenyum manis menatap Zimah sedangkan Zimah berusaha menenangkan debaran jantung nya yang semakin menjadi
"Zimah"
"I,ya" jawab Zimah gerogi karna Aqlan sangat dekat dengan nya sehingga deru nafas Aqlan terasa di permukaan wajah Zimah
Aqlan tersenyum lucu melihat Zimah yang biasa nya selalu tegas dan bisa menguasai diri tapi kali ini wajah nya benar-benar sangat menggemas kan karna merah seperti tomat
"Ustadz tolong mundur sedikit ya" kata Zimah berusaha tenang
Mendengar suara lembut Zimah membuat Aqlan langsung mundur selangkah dan tersenyum manis, walaupun sedari tadi dia juga gerogi berdekatan dengan Zimah perempuan pertama setelah keluarga nya, tapi Aqlan masih bisa menguasai diri
"Boleh saya pegang tangan kamu?" ujar Aqlan meminta izin
Setelah mendapat izin dari Zimah, Aqlan langsung mengeluar kan kotak segi empat dalam saku kanan nya dan langsung membuka, terlihat cincin putih yang elegan.
__ADS_1
Ketika Aqlan mengambil tangan kanan Zimah membuat Zimah menatap tangan nya dalam genggaman tangan Aqlan, kemudian menatap Aqlan yang juga menatap nya.
Kedua nya saling menatap dengan debaran jantung yang kuat dan tangan yang sama-sama terasa dingin.
Terasa cincin yang sudah di semat kan di jari manis nya membuat Zimah tersenyum haru memandang tangan nya dan langsung mengambil tangan Aqlan untuk di cium, Aqlan langsung meletakan sebelah tangan nya di kepala depan Zimah, dan membaca do'a
...Allaahumma innii as-aluka khairahaa wa khaira maa jabaltahaa wa a'uudzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa 'alaih....
...Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa saja yang Engkau tetapkan padanya....
"Aamiin"
Ucap kedua nya mengusap wajah masing-masing dengan kedua tangan mereka
"Kamar mandi nya dimana?" tanya Aqlan memulai pembicaraan setelah keterdiaman mereka
"Disana" tunjuk Zimah menggunakan ibu jari kearah kamar mandi di dalam kamar nya.
Setelah Aqlan masuk ke dalam kamar mandi Zimah kembali mendudukan diri nya di tepi kasur sambil memegang pasmina yang masih di pakai nya sedari tadi
Zimah masih malu untuk membuka nya walaupun dia tau kalau ia dan Aqlan sudah sah menjadi suami istri
Pakaian pun Zimah tidak memakai pakaian tidur, dia masih memakai rok dan baju potongan yang biasa iya pakai
𝑘𝑟𝑒𝑡
Pintu kamar mandi terbuka mengalih kan pandang Zimah memandang Aqlan yang keluar dari kamar mandi sambil mengusap kepala nya yang basah oleh air wudhu semakin membuat wajah Zimah memerah.
"Kenapa?" tanya Aqlan menyadari Zimah yang sedari tadi memandang nya hingga ia sudah berdiri lumayan dekat dengan Zimah.
"gpp" kata Zimah geleng kepala dan langsung memandang kearah lain
Aqlan hanya tersenyum melihat tingkah Zimah
"Wudhu dulu" perintah Aqlan langsung di angguki Zimah dan bergegas masuk ke kamar mandi tanpa fikir panjang
Aqlan geleng kepala dan tersenyum lucu melihat wajah Zimah yang memerah karna ketahuan memandang nya tadi.
Aqlan memandang keseluruh kamar Zimah yang luas tampak elegan dan sederhana seperti pemilik nya
Berjalan menuju di mana foto sebuah keluarga yang tampak bahagia, Aqlan tersenyum melihat nya,
Dan melihat ada beberapa bingkai foto yang berjejer dengan foto keluarga bahagia
Aqlan mengalih kan atensi nya memandang Zimah yang keluar dari kamar mandi masih dengan pasmina yang di pakai nya dan wajah yang basah terkena air wudhu, Aqlan tersenyum memandang Zimah yang bejalan kearah nya.
__ADS_1
"Mari kita sholat" ajak Aqlan pada Zimah
"Maaf saya sedang haid ustadz" kata Zimah meringis malu memandang Aqlan yang nampak sedikit terkejut.