
"Zain, besok pagi kakak pulang kejakarta jaga diri kamu baik-baik ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak" ujar Zimah memperingati adik nya
"Iya kak, kakak hati-hati ya pulang nya jangan lupa do'a dan dzikir terus selama perjalanan" balas Zain juga mingingati sang kakak
"In syaa Allah iya, yaudah kakak pamit ya, kasian kak Dira dan kak Chessy udah nungguin di mobil" ujar Zimah menunjuk mobil hitam tidak jauh dari mereka berdiri
"Iya kak" balas Zain menyalami tangan kakak nya
"Assalamu'alaikum" ucap Zimah sambil mengusap kepala Zain sebentar dan langsung bergegas pergi masuk kedalam mobil yang di dalam ada kedua sahabat nya yang sedari tadi memperhatikan interaksi Zimah dan adik nya dari jendela mobil
"Wa'alaikumussalam" balas Zain menatap kepergian sang kakak hingga masuk mobil dan membalas lambaian kakak nya dan kedua sahabat kakak nya hingga mobil keluar dari gerbang pesantren Roudhotul Jannah
Dari kejauhan terlihat seorang lelaki yang sedari tadi memperhati kan interaksi seorang gadis dan seorang lelaki remaja yang tidak di sadari mereka hingga mobil yang di naiki gadis tadi keluar dari gerbang pesantren
"𝘜𝘮𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘏𝘢𝘻𝘪𝘮𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘶𝘮𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘲𝘭𝘢𝘯?"
"𝘋𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘦"
"𝘔𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘮𝘪?"
"𝘓𝘦 𝘥𝘪𝘢 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘴𝘩𝘰𝘭𝘦𝘩𝘢𝘩, 𝘶𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘻𝘪𝘮𝘢𝘩, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘥𝘦𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘬 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩, 𝘐𝘯 𝘴𝘺𝘢𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘪𝘻𝘪𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘮𝘪 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢"
"𝘕𝘫𝘪𝘩 𝘶𝘮𝘪 𝘐𝘯 𝘴𝘺𝘢𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘈𝘲𝘭𝘢𝘯 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘥𝘰'𝘢 𝘯𝘺𝘢"
"Assalamu'alaikum gus" salam dari lelaki di belakang Aqlan menyadar kan Aqlan dari keterdiaman memandang gerbang yang sedari tadi sudah di lewati mobil berwarna hitam
"Wa'alaikumussalam" jawab Aqlan membalikan badan nya menghadap lelaki yang ternyata kang abdul "Ada apa kang" tanya Aqlan
"Gus Aqlan di panggil mbah yai ke ruang kluarga ndalem" ujar kang abdul menyampai kan amanah nya
"Ada siapa saja di sana kang" tanya Aqlan
"Seperti nya ramai gus, tapi saya kurang tau ada siapa saja" tutur nya sopan
Aqlan menghela nafas pelan seolah mengerti kenapa ia di panggil dengan banyak nya keluarga
__ADS_1
"Yowes saya ke ndalem dulu kang, Assalamu'alaikum"
"Njih gus, wa'alaikumussalam" jawab kang abdul melihat kepergian gus nya
...----------------------------------------...
Aqlan menghela nafas nya pelan melihat keluarga nya yang sudah berkumpul di ruang pribadi ndalem
"𝐵𝑖𝑠𝑚𝑖𝑙𝑙𝑎ℎ" 𝑢𝑐𝑎𝑝 𝐴𝑞𝑙𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑘𝑖 𝑛𝑦𝑎 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑔𝑎𝑏𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎
"Assalamu'alaikum" ucap Aqlan mengalih kan atensi semua orang kearah nya
"WA'ALAIKUMUSSALAM" jawab semua nya
"Sini le" panggil mbah kakung pada Aqlan yang masih berdiam diri
"Njih mbah" jawab Aqlan langsung melangkah kan kaki nya mendekati mbah kakung nya
"Duduk dulu le, sebelum kita bicara" perintah mbah di angguki Aqlan "Mbah mau menanyakan keputusan kamu tentang perjodohan kamu dengan cucu dari Almarhum sahabat mbah?" lanjut mbah menatap teduh sang cucu
Aqlan memposisi kan tubuh nya menghadap sang kakek yang tampak tua namun tampan di umur nya di pegang kedua tangan yang sedikit keriput lalu menghela nafas pelan
"Mbah, Aqlan mintak maaf ndak bisa menerima perjodohan ini karna Aqlan sudah punya pilihan sendiri" ucap Aqlan dengan satu nafas
Tidak mendapat jawaban Aqlan hanya diam sambil menutup pelan mata nya
"Kamu itu penerus abi mu le" celetuk salah satu pria paruh baya yang umur nya di bawah abi Aqlan
"Perjodohan ini sudah lama mbah mu dan sahabat nya rencana kan le, ini untuk memperkuat persaudaraan" timpal wanita paruh baya yang duduk di samping pria paruh baya yang berbicara tadi
"Kenapa toh le kamu ndak mau di jodohin sama ning Ais, ning Ais itu sholehah loh cantik lagi"
Aqlan hanya mendengar apa yang di bicara kan oleh adik-adik dari abi nya Aqlan hanya menunggu keputusan dari mbah nya yang sedari tadi terus menatap nya tanpa Aqlan tau apa arti dari tatapan yang di berikan mbah nya
"Siapa nama nya" tanya sang kakek masih menatap Aqlan menghenti kan semua pertanyaan dan pernyataan dari anak-anak nya
__ADS_1
"Hazimah mbah" jawab Aqlan tau siapa yang di maksud oleh mbah nya
"Dari keluarga mana Hazimah berasal?" introgasi kakek membuat Aqlan terdiam sebentar
"Hazimah anak angkat dari keluarga Raeesh mbah" jawab Aqlan dengan tenang
"Mbah tidak tau nama keluarga yang kamu sebutkan"
"Njih mbah, mereka dari keluarga pembisnis dan kedua orang tua angkat Hazimah telah di panggil gusti Allah"
"Kamu penerus abi mu le, jadi sesuai peraturan keluarga ndalem kamu harus mencari yang sekufu jika dia bukan dari keturunan kiyai setidak nya dia pernah nyantri, pernah merasakan pahit manis nya menuntut ilmu" jelas mbah dengan lembut
Aqlan terdiam mendengar penjelasan dari mbah kakung nya, Aqlan tau kalimat ini yang akan Aqlan dengar jika Aqlan melamar Hazimah
"Maaf abah apa tidak boleh Aqlan menentukan pilihan nya sendiri, Hazimah gadis yang baik in syaa allah sholehah pembawaan nya yang tenang membuat Halimah (𝒖𝒎𝒊 𝑨𝒒𝒍𝒂𝒏) merasa nyaman berbicara dengan nya" bela uminuntuk sang anak yang tampak serba salah untuk masa depan nya dan masa depan pesantren yang akan di pimpin untuk kedepan nya
"Apa kamu sudah bertemu dengan gadis pilihan Aqlan ndok?" tanya mbah kakung pada sang menantu
"Njih, sudah abah" jawab umi Halimah lembut
"Apa kamu juga sudah bertemu le?" tanya mbah kakung menatap abi Aqlan yang duduk di samping istri nya
"Belum abah" jawab abi nya Aqlan yang sedari tadi menatap sendu sang anak tertua "Abah menurut Ahmad (𝒂𝒃𝒊 𝑨𝒒𝒍𝒂𝒏) in syaa Allah Aqlan tidak salah memilih untuk pendamping hidup nya Ahmad sebagai abi Aqlan yakin Aqlan sudah memikir kan untuk nya dan pesantren ini" lanjut abi Ahmad menatap abah nya dan juga putra nya yang menatap ia dan sang istri
"Tapi mas, Aqlan itu kan bakalan mimpin pondok kedepan nya jadi yo Aqlan harus mendapat kan istri yang bisa menyeimbangi nya" sahut pria paruh baya yang umur nya di bawah abi Ahmad
"In syaa Allah mas yakin Aqlan sudah mempertimbang kan semua nya" jawab Abi Ahmad tenang
"Saya setuju sama mas ahmad, anak kami Aqlan sebelum memutus kan untuk mengkhitbah Hazimah dia sudah melaksana kan sholat istikhoroh" tutur umi Halimah lembut mendukung sang suami
Aqlan hanya diam memikir kan apa yang harus ia ambil agar tidak ada perselisihan keluarga untuk masa depan nya
Mbah kakung mendengar kan setiap perkataan anak-anak nya agar apa yang ia putus kan baik untuk semua nya, baik untuk masa depan cucu dan untuk pesantren Roudhotul Jannah
"Mbah akan mengizin kan kamu menikah dengan pilihan mu" jedah mbah sebentar menatap sang cucu yang juga menatap nya penuh harap "Tapi...."
__ADS_1