
"Saya tau anda menyukai gus Aqlan." ucap Dira to the point. "Bisa terlihat dari tatapan anda, sedari tadi memandang suami sahabat saya." lanjut Dira menjelas kan ketika melihat wajah terkejut dari wanita yang belum ia ketahui nama nya.
"Saya Dira. Sahabat Zimah." ucap Dira memperkenal kan diri, dan mengulur kan tangan nya di depan wanita yang duduk di kursi taman.
"Saya Aisyah." jawab nya menerima uluran tangan dari wanita yang sudah duduk di samping nya.
Dira mengangguk. Melepas kan jabatan tangan mereka, kedua nya sama-sama terdiam, sambil memandang kedepan, hamparan bunga-bunga yang menghiasi sekitar nya.
"Saya yakin kamu wanita baik, wanita terhormat. Dan tidak akan mungkin ada pemikiran untuk menikung sahabat saya." ucap Dira tiba-tiba memecah kan keheningan, memandang Aisyah dengan segaris senyuman.
Aisyah terkejut mendengar ucapan dari wanita yang duduk di sebelah nya. Tidak langsung menjawab, Aisya mengalih kan pandangan nya kedepan lagi.
"Menikung tidak ada dalam pemikiran saya." jelas Aisyah tanpa menoleh.
Dira tersenyum tipis dengan masih memandang kedepan. "Saya harap begitu." Ujar Dira.
"Apa maksud mu?." Tanya Aisyah mengernyit memusat kan pandangan pada Dira di samping nya.
"Rasa sakit bisa mengalah kan keyakinan yang selama ini kita pegang." Segaris senyuman lagi-lagi menyertai kalimat Dira yang tidak di mengerti Aisyah.
"Saya memang berharap perjodohan kemarin, terjadi. Karna saya memang sudah lama menaruh hati pada gus Aqlan. Namun beliau tidak menyadari. Qodarullah gus Aqlan lebih memilih wanita pilihan nya dari pada saya, wanita yang di jodoh kan sedari lama oleh kakek kami masing-masing."
Dira mendengar kan dengan serius cerita dari Aisyah yang memandang kedepan, seperti membayang kan.
"Kembali lagi, saya, bukan jodoh nya gus Aqlan." Aisyah menoleh tersenyum memandang Dira. "Ning Zimah wanita yang baik, sholehah. Pantas gus Aqlan memilih nya." Lanjut Aisyah mengutara kan pendapat nya.
Dira tersenyum menanggapi.
"Maaf, saya, jadi bercerita tentang hati saya." Sambung Aisyah dengan kekehan nya.
"Gak apa-apa. Gak baik juga di pendam." Ujar Dira ikut terkekeh.
"Ning Zimah beruntung ya, dikelilingi, orang-orang baik. Selain mendapat kan suami yang sholeh, ternyata juga memiliki sahabat yang pengertian, dan melindungi nya." Aisyah mengutarakan apa yang ia tau.
Senyuman tipis, Dira, menanggapi perkataan Aisyah. "Zimah wanita yang berprinsip, tidak ada dalam kamus nya mengharap belas kasih dari orang lain. Sehingga orang yang belum mengenal nya akan menganggap hidup nya sempurna." Ucap Dira penuh kagum pada sahabat nya, Zimah.
Aisyah tersenyum, kali ini langsung mengerti apa maksud dari ucapan Dira.
Suasana kembali hening. Karna kedua nya kembali diam, sambil memandang langit yang cerah dan sinaran bulan terang benderang, di hiasi kerlipan bintang-bintang di sekitar nya.
"Astaghfirullah." Ucap Dira segera berdiri, di ikuti Aisyah yang reflek karna terkejut.
"Kenapa?." Tanya nya heran, masih dengan keterkejutan nya.
__ADS_1
"Tadi gue pamit nya mau bantu-bantu santri. Eh malah mendarat disini." Refleks Dira mengeluar kan logat jakarta nya. Namun tidak dihirau kan Aisyah karna fokus nya pada kekesalan Dira.
"Kayak nya bersih-bersih nya di lanjutin besok deh. Soal nya tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan para santri." Jelas Aisyah, menenang kan Dira.
Dira menghela nafas lega. "Yaudah besok aja gue bantu-bantu nya. Gue izin masuk dulu ya, ngantuk. Udah malam juga." Dira menguap dengan menutup mulut.
"Iya, silahkan." Jawab Aisyah
Dira segera melangkah menuju penginapan nya yang masih berada di kawasan pesantren.
...------------------------------------...
ππΆπ¦π¬
ππΆπ¦π¬
ππΆπ¦π¬
Aqlan tersadar mendengar suara dari arah kamar mandi. Meraba di samping nya, di rasa kosong, Aqlan membuka mata, dan tidak melihat istri nya. Aqlan langsung bangun dan bergegas menghampiri istri nya, yang ternyata berada di depan wastafel.
"Muntah lagi." Ujar Aqlan sambil membantu memijit tengkuk istri nya.
"Mual banget mas." Adu Zimah manja, langsung memeluk suami nya setelah membasuh mulut.
Merasa gelengan kepala dari istri nya, Aqlan kembali bertanya. "Terus mau apa?, bilang sama mas." Tutur Aqlan lembut.
"Mau peluk mas aja." Suara Zimah yang terpendam di dada nya, tapi Aqlan masih bisa mendengar nya.
Aqlan mengangguk walaupun istri nya tidak melihat. "Peluk nya sambil tiduran aja ya. Kalau gini entar kaki kamu pegel." Ajak Aqlan.
Zimah memundur kan sedikit kepala ny, dan mendongak memandang Aqlan. Lalu mengangguk seperti anak kecil, membuat Aqlan terkekeh kecil, gemez dengan tingkah istri nya.
"Gemez banget sih." Ujar Aqlan mencubit sedikit pipi istri nya. Membuat Zimah cemberut dan mengusap pipi nya yang tadi di cubit Aqlan.
"Maaf sayang. Lagian kamu gemez banget sih." Di elus nya pipi yang tadi ia cubit. Lalu mengajak istri nya naik ke tempat tidur.
"Aku kok merasa makin hari, semakin manja ya mas." Kata Zimah merasa kan perubahan diri nya yang akhir-akhir ini berbeda.
Aqlan membalas pelukan istri nya, di usap nya kepala belakang istri nya, sambil tersenyum lembut.
"Iya kamu manja." Jujur Aqlan dengan kekehan kecil.
Zimah hendak membalik kan badan, berbaring membelakangi suami nya. Namun Aqlan segera menahan, dan tertawa karna istri nya merajuk.
__ADS_1
"Tapi mas suka kamu manja kek gini sayang." Sambung Aqlan tersenyum manis.
Pipi Zimah merah merona, dan tersenyum malu, mendengar perkataan suami nya. Namun seketika wajah nya langsung berubah, memandang Aqlan datar, bibir nya cemberut.
Aqlan bingung dengan perubahan drastis istri nya. "Kenapa?." Tanya nya bingung.
"Jadi kemarin-kemarin aku gak manja, mas gak suka?." Kata Zimah menatap suami nya yang seperti orang kebingungan.
Aqlan cengok mendengar perkataan istri nya. "Bukan seperti itu sayang." Jawab Aqlan cepat, takut-takut istri nya salah faham dengan perkataan nya tadi.
"Terus?." Tidak mengubah mimik wajah nya, sambil menunggu jawaban dari Aqlan.
"Maksud mas, kalau kamu manja gini mas gak masalah, asal kan manja nya cuma sama mas. Kalau suka sih udah dari dulu. Nih, bukti nya kita udah mau punya anak." Jelas Aqlan, mengusap perut istri nya.
Zimah tertawa melihat mimik wajah suami nya yang memelas.
"Udah gak marah?." Ujar Aqlan senang.
"Aku gak marah mas. Ini efek bawaan dedek bayi nya kali, gak boleh kalau ayah nya ngomong yang salah-salah untuk bunda nya." Kilah Zimah terkekeh kecil memandang suami nya, tapi tangan nya mengelus perut nya yang masih rata.
"Masa sih?." Aqlan pura-pura memasang wajah tak percaya nya.
Zimah tertawa pelan, memegang wajah suami nya, dengan tangan yang bersisihan di pipi kiri, dan kanan. Lalu mencium seluruh wajah sang suami dengan bertubi-tubi secara bergantian.
Aqlan tertawa di sela ciuman istri nya. Tidak mau kalah, Aqlan segera mendekap istri nya, lalu mengubah posisi menjadi di atas istri dengan tangan kanan dan kiri sanh istri, sehingga tidak menimpa Zimah. Aqlan mendekat kan wajah nya, sehingga hidung mereka bersentuhan.
Mata Zimah membola, dada nya berdegub kencang, terkejut dengan aksi tiba-tiba suami nya. "Mas mau apa." Tanya Zimah takut-takut.
"Mau balas dong, kan gak adil kalau cuma kamu yang ciuma mas." Balas Aqlan enteng, menikmati wajah gugup sang istri. Setelah nya, Aqlan langsung balas mencium wajah istri nya. Persis seperti apa yang Zimah lakukan. Malah lebih-lebih dari Zimah, sehingga membuat Zimah tertawa geli.
"Geli mas." Ujar Zimah di sela tawa nya.
Aqlan berhenti dan memandang wajah cantik Zimah yang berada di bawah nya. Segera mengubah posisi seperti semula, baring di samping istri nya, lalu mendekap.
"Sekarang tidur lagi ya, udah jam dua belas nih. Gak baik ibu hamil tidur larut begini." Kata Aqlan.
Zimah mengangguk, dan masuk kedalam pelukan suami nya.
Aqlan memundur kan sedikit kepala nya, melihat istri nya yang berusaha memejam kan mata. Aqlan tersenyum melihat nya.
Sebelum mengatakan sesuatu Aqlan berusan mengulum senyum.
"Kalau setiap hari, sebelum tidur, dapat ciuman dari bidadari, kayak nya mas bakalan mimpi indah terus nih."
__ADS_1