
Cuaca yang cerah, matahari bersinar tidak menyengat, terasa menenang kan, seperti mendukung acara yang penuh keberkahan.
Suara gendangan hadroh saling bersahutan, sholawat yang di lantun kan dengan merdu, mengiringi setiap langkah tamu-tamu yang hadir di acara yang di nanti itu.
Dengan antusias, senyuman, mereka berbondong-bondong melangkah , memasuki gerbang yang di atas terpampang tulisan besar, PESANTREN ROUDHOTUL JANNAH. Juga terpampang baleho besar, AHLAN WASAHLAN BIDHUYUUFI ROSULULLAH (selamat datang tamu Rosulullah). Di setiap sudut di hiasi baleho, MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SHOLALLAHU'ALAIHI WASSALAM.
Di sambut santri-santri senior yang menjadi panitia di malam ini, menyambut para tamu dengan sopan, mengiringi mereka ketempat jama'ah pria dan wanita yang terpisah, di halangi pembatas di tengah-tengah.
Sedang kan di ndalem, semua keluarga mengumpul termasuk sahabat-sahabat Abi Ahmad. Mereka saling bercengkrama, bertukar kabar karna lama tak jumpa. Tampak Kiyai Ali bersama sang istri yang juga turut di undang dalam acara, oleh abi Ahmad.
Langkah kaki dari arah tangga tidak menghenti kan pembahasan semua paruh baya yang duduk di sofa terbagi dua kelompok. Wanita dan Pria, di ruang tamu ndalem yang luas itu.
Aqlan yang merasa istri nya menghenti kan langkah, juga ikut menghentikan dan berdiri di samping sang istri, Zimah melihat kearah kumpulan wanita dan pria paruh baya, secara bergantian. Senyum nya merekah melihat tepat sepasang suami istri yang sedang bercengkrama dengan orang-orang di sekitar nya.
Aqlan yang mengerti kemana arah pandangan istri nya, mengerti bahwa, kiyai Ali yang ada di depan nya itu guru yang di maksud sang istri dulu, ketika mereka berada di kalimantan. "Samperin gih," bisik Aqlan di sebelah Zimah.
"Takut ganggu mas," balas Zimah juga berbisik.
"Enggak. Sama mas kesana nya," Aqlan menarik tangan Zimah pelan, membawa istri nya di tengah-tengah, antara kumpulan pria paruh baya, dan kumpulan wanita paruh baya.
"Assalamu'alaikum."
Mereka yang tadi tidak menyadari kehadiran sepasang suami istri itu, segera menghentikan pembicaraan ketika mendengar salam dari anak sulung kiyai Ahmad.
"Wa'alaikumussalam," jawab semua nya serentak.
"Ini Aqlan ya?" sapa pria paruh baya yakni 'kiyai Ali' yang duduk tidak jauh dari Aqlan dan Zimah berdiri.
"Iya kiyai," Aqlan menghampiri kiyai Ali yang menyapa nya, kemudian menyalami dengan ta'dzim. Lalu bergantian menyalami tamu-tamu pria yang duduk juga di sekitar nya.
Umi Halimah yang tadi melihat kehadiran menantu nya, segera menghampiri. "Duduk sama umi yuk nduk."
Zimah yang sedari tadi memperhatikan suami nya, segera menoleh, karna bahu nya di rangkul oleh umi mertua. "Njih umi."
__ADS_1
Umi Halimah hendak membawa Zimah bergabung dengan yang lain nya. Tapi Zimah menghentikan langkah, dan berbisik di telinga umi mertua nya. Umi Halimah mengangguk dan membiar kan menantu nya, melangkah menghampiri istri dari Kiyai Ali.
Semua mata tertuju pada Zimah yang bersimpuh di depan istri nya Kiya Ali. Mereka bingung melihat perlakuan Zimah, kecuali Aqlan yang tau maksud istri nya.
Umi Fatimah yang melihat menantu dari sahabat suami nya mengambil tangan nya lalu di cium, hanya tersenyum walau tadi bingung, di usap nya kepala Zimah dengan lembut. "Kamu istri nya nak Aqlan ya?, maaf kemarin saya tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian."
Mendengar perkataan dari guru nya, Zimah segera mendongak menatap wanita paruh baya, yang berjasa memberi ilmu untuk nya, wanita cantik, yang Zimah kagum dan sayangi.
Mereka saling bertatap, Zimah menatap dengan penuh rindu, Umi Fatimah menatap seperti memikir kan sesuatu. "Saya seperti gak asing sama wajah kamu nak," Umi Fatimah membelai wajah Zimah dengan lembut.
Zimah berusaha menahan air mata nya. "Saya Zimah Umi."
Zimah tidak sakit hati, karna Umi Fatimah seperti tidak ingat dengan nya, karna Zimah berfikir, yang pernah nyantri di pesantren beliau bukan hanya diri nya, tapi ada banyak, apalagi seperti Zimah yang lama tidak berjumpa.
"Maa syaa Allah. Zimah, ternyata kamu nak?,"
Ungkapan terkejut Umi Fatimah semakin membuat yang lain nya bingung, Zimah yang tak percaya jika ia masih diingat oleh guru nya, tersenyum haru, dan mengangguk antusia.
"Alhamdulillah kabar umi baik nak, kabar mu bagaimana?," usapan di kepala dari umi Fatimah, dan senyuman lembut. Membuat Zimah tidak bisa menahan pancaran kebahagian nya.
"Alhamdulillah. Zimah juga baik umi,"
Tampak Kiyai Ahmad yang sedari tadi melihat interaksi antara istri dan wanita yang tadi ia tau istri dari pria yang duduk di samping nya, langsung tersenyum setelah menyadari bahwa itu santri nya.
"Apa kabar Hazimah."
Suara berwibawa dari kiyai Ali menambah kebingungan semua orang, termasuk kiyai Abdurrahman beserta istri, dan saudara abi Ahmad. Tampak jelas kebingungan di wajah mereka, mendengar pertanyaan dari kiyai besar di kalimantan. Zimah memutar badan nya masih dengan bersimpuh di depan umi Fatimah, ketika mendengar suara yang ia kenal.
"Alhamdulillah baik Abi," jawab Zimah dengan senyuman bahagia nya.
Melihat kerutan kebingungan yang terpancar di wajah sahabat-sahabat nya. Kiyai Ali segera menjelas kan dengan senyuman yang tidak lepas dari bibir nya, ketika tadi mengetahui itu santri nya.
"Zimah santri saya. Gadis yang dulu ingin kita jodoh kan dengan Aqlan," di akhir kata pandangan kiyai Ali menatap kiyai Ahmad.
__ADS_1
Abi dari suami Zimah itu tampak terkejut mendengar perkataan sahabat nya. Ia ingat, dulu pernah meminta santri yang mencuri perhatian nya untuk di jadi kan istri dari anak sulung nya.
Di atas panggung yang besar, duduk kiyai-kiyai, habib, ustadz, dan para tertua di kampung tempat berdiri nya pesantren Roudhotul Jannah, juga para jama'ah yang antusias mendengar kan ceramah yang di sampai kan oleh habib yang di undang dari luar negri, yang berdiri di atas panggung, sehingga memudah kan jama'ah melihat nya.
Zimah yang duduk bersama umi mertua dan para istri kiyai-kiyai, merasa gerogi, sedari tadi ia menggenggam tangan Salsa yang duduk di samping nya, dan tatapan nya mengarah keatas panggung, Aqlan merasa bahwa sang istri memandang nya, sehingga membuat senyuman tipis gus tampan itu terukir.
"Jangan di pandangi mbak, Mas Aqlan nya salting, entar tarjim (terjemahkan) nya gak fokus," bisik Salsa di teling Zimah, setelah nya gadis manis itu terkikik kecil dengan menutup mulut nya mengguna kan tangan yang tidak di genggam oleh Zimah.
Zimah heran mendengar bisikan dari adik ipar nya, di pandang nya sang suami yang menyampai kan kepada jama'ah, setelah habib yang dari yaman itu menyampai kan ceramah mengguna kan bahasa arab. Dan setelah nya memandang diri nya sekilas, Zimah geleng kepala melihat tingkah suami nya. Wanita berbadan dua itu memberi kode agar suami nya fokus.
"Mbak tadi, gak mandang mas Aqlan loh dek, mbak lagi dengerin ceramah," balas Zimah berbisik.
"Mas Aqlan nya aja keedean mbak."
Zimah terkekeh mendengar ejekan Salsa yang tertuju untuk suami nya.
Mereka kembali mendengar kan ceramah.
Istri-Istri kiyai yang duduk dengan anggun dan terpancar wibawa nya, juga anak-anak dari mereka, termasuk juga ning Ais yang duduk bersama wanita-wanita sholehah itu.
Sesekali ning Ais mencuri pandangan pada Zimah yang tampak akrab dengan adik nya gus Aqlan. Seolah-Olah semua mata tertuju pada wanita yang berstatus istri dari pria yang pernah mengisi hati nya.
...------------------------------...
π΄πππ ππππ πππ πππ ππππππππ,
π΄ππππ π π ππππππππ ππ.π€
π»πππππ ππππ ππππππ ππππ πππππ πππππ πππ.
π±πππππ ππππ πππππππππ πππππ ππ!!!
πΊπππππ πππ πππππ ππππππππ πππππ
__ADS_1