
"Uhukk"
Semua atensi orang yang ada di meja makan mengarah pada zimah yang tiba-tiba tersedak, dengan cepat dira menyerah kan air yang ada di dekat nya langsung di teguk hingga tersisa setengah
"Alhamdulillah" ucap zimah lega
"Lo makan sambil ngelamunin apa sih zi sampe keselek gitu?" tanya chessy heran dengan nada khawatir
"Gak ada kok, tadi mau masukin suapan terakhir tiba-tiba aja begitu" jawab zimah menjelas kan
"Mungkin ada yang lagi ngomongin kakak" celetuk tiba-tiba risha yang berada di samping chessy beseberangan dengan dira dan zimah
"Ya ada lah" sahut dira yang baru menyelesai kan makan nya dan langsung menatap ke tiga orang yang juga menatap nya menunggu kelanjutan ucapan dira "Zimah kan bakalan menghadiri acara stasiun televisi untuk pertama kali nya" lanjut dira setelah meneguk air putih dan meletakan gelas yang sudah kosong di samping piring nya memandang kearah tiga orang yang mengangguk kan kepala
"Tumben banget lo sendiri yang langsung menghadiri undangan zi, biasa nya juga mbak dian?" tanya chessy penasaran di ikuti anggukan dari risha dan dira yang sedang menatap zimah menunggu jawaban
"Mbak dian mau pulang kampung, di suruh orang tua nya" jawab zimah memandang ke belakang risha dan chesay di ikuti ke tiga orang yang masih berada di tempat nya masing-masing dimana dian berjalan menghampiri mereka
"Assalamu'alaikum" ucap dian ketika sudah menghenti kan langkah nya berdiri di samping risha dan memberi senyuman ramah pada ke dua sahabat dan adik dari atasan nya
"Wa'aaikumussalam" jawab semua nya
"Berkas-berkas yang kemarin bu zimah minta sudah saya simpan di meja ruang kerja ibu" lapor dian pada zimah
"Makasih ya mbak" yang diangguki dian "Ini belum jam kerja loh mbak, gk usah pake embel-embel ibu lagi, kek kelihatan tua banget aku tuh" omel nya dengan sedikit candaan pada dian yang terkekeh sambil menggaruk kepala nya yang tak gatal "duduk mbak" lanjut zimah di angguki dian yang langsung duduk di sebalah risha "Udah makan mbak?" tanya zimah
"Sudah non, di apartemen sebelum ke sini" jawab dian di angguki zimah
"Kata kak zimah mbak dian mau pulang kampung ya?" timpal risha menoleh ke dian
"Iya non risha, ibu saya tiba-tiba meminta saya untuk pulang kata nya ada keperluan penting" jawab dian menjelas kan
"Jangan-jangan mau di jodohin kali mbak" celetuk dira yang di angguki chessy
"Betul tuh mbak, tiba-tiba di suruh pulang apalagi coba kalau bukan di suruh nikah" timpal chessy mendukung dira
"Saya kurang tau juga non" jawab dian sopan
"Kayak yang pernah di jodohin aja" cibir zimah pada ke dua sahabat nya yang sok tau
"Ya kan cuma nebak aja zi" bela dira yang di angguki chessy cepat
"Aku berangkat kuliah dulu ya kak" pamit risha pada zimah yang langsung menatap nya tanpa membalas ucapan chessy
"Iya, pulang jam berapa?" tanya zimah setelah risha selesai menyalami nya
"Mungkin sore kak, soal nya mau jalan sama airin dan loli" jawab risha menjelas kan selesai menyalami semua nya "Boleh gak kak?" lanjut nya menghadap zimah meminta izin
__ADS_1
"Boleh, Tapi pulang nya jangan kesorean" di jawab anggukan dari risha dan tersenyum senang lalu bergegas keluar dari rumah
"Gue juga pamit ya zi mau ke kantor papa" ujar dira bangkit dari duduk nya di ikuti chessy
"Barengan dir keluar nya gue juga mau kebutik di suruh mama" pinta nya di angguki dira
"Iya, kalian hati ya di jalan" balas zimah yang di jawab dengan memberi tanda ok oleh kedua sahabat nya
Setelah kepergian semua nya tersisa zimah dan juga dian yang sudah berdiri dari duduk nya
"Kita berangkat sekarang mbak" ajak zimah diangguki dian
"Baik"
...----------------------------------------...
"Kapan pulang nya mbak?" tanyak zimah pada dian yang duduk di kursi kemudi melihat kearah lampu merah
"In syaa allah besok pagi non" balas nya menoleh sedikit pada zimah yang duduk di kursi belakang
"Aku boleh titip sesuatu untuk adik ku yang di pesantren gak mbak?" tanyak zimah meminta izin
"Boleh banget non, nanti saya mampir kepondok adik non zimah" jawab dian tersenyum
"Sesempat mbak dian aja"
...----------------------------------------...
"Permisi bu" suara dari wanita berjilbab memakai seragam khusus pelayan restoran menghentikan langkah zimah dan dian yang baru saja keluar dari lif khusus untuk zimah dan siapa saja yang di perboleh kan oleh nya.
"Iya kenapa?" tanya zimah memandang wanita yang menunduk kan sedikit kepala nya
"Saya di perintah kan oleh bu ririn bagian keuangan untuk menyampai kan kalau ada tiga orang pria yang ingin bertemu ibu" jelas nya sopan
"Pria, siapa nama nya?" tanyak zimah heran
"Saya kurang tau bu" jawab nya diangguki zimah
"Yasudah, siapa nama dan berapa umur mu?" tanya zimah bruntun
"Saya ririn bu, umur saya 26" jelas nya takut-takut jika dia berbuat kesalahan
"Oke mbak ririn, nanti tolong suruh antar tamu nya keruangan khusus tamu saya ya" ujar zimah meminta tolong dengan senyuman lalu melangkah pergi ke ruangan khusus tamu nya di ikuti dian
"Baik bu" jawab ririn tersenyum senang melihat langsung keramahan zimah dan langsung melangkah pergi
"Mana ya mbak tamu nya?" tanya zimah pada dian yang duduk di sofa samping nya
__ADS_1
"Apa mau saya aja yang menemui tamu nya bu?" tawar dian melihat zimah yang menatap jam berwarna biru di pergelangan tanyan nya
"Kita tunggu sebentar lagi mbak" jawab zimah diangguki dian
𝘛𝘰𝘬, 𝘵𝘰𝘬, 𝘵𝘰𝘬, 𝘵𝘰𝘬
"Itu tamu nya bu, saya buka pintu nya dulu" diangguki zimah
Dian bangkit dari duduk nya menuju pintu yang tadi di ketuk dari luar lalu membuka nya dan tampak tiga orang lelaki jangkung memakai celana jeans dan baju kaos dan dian tampak heran pada lelaki yang berdiri di antara ke dua teman nya, memakai pakaian serba hitam topi dan juga masker penutup wajah
"Boleh kami masuk?" tanya lelaki di sisi kanan lelaki berpakaian serba hitam
Seakan tersadar dian menggesar tubuh nya ke sisi pintu "Silahkan masuk" tutur dian sopan
"Assalamu'alaikum" ucap lelaki yang memakai masker melangkah kan kaki nya masuk di ikuti kedua lelaki di belakang nya
"Wa'alaikumussalam" jawab zimah berdiri menyambut tamu yang di maksud "Silahkan duduk" sambut zimah ramah mempersilahkan duduk menunjuk sofa menggunakan ibu jari kanan nya
Mereka semua duduk besebrangan dengan zimah di samping dian dan ketiga lelaki di depan nya
"Maaf ada keperluan apa kalian ingin menemui saya?" tanya zimah setelah tadi hening beberapa saat
"Assalamu'alaikum" ucap orang yang berdiri di ambang pintu yang sedari tadi tidak tertutup membawa nampan yang berisi air minum dan beberpa cemilan
"Masuk mbak ririn" perintah zimah di angguki ririn
"Permisi" tutur nya sopan sedikit mendudukan badan nya meletak kan satu persatu gelas di hadapan orang-orang yang duduk di sofa
"Saya keluar dulu bu" pamit nya yang di angguki zimah dengan senyuman tipis
"Ustadz harith" cicit zimah terkejut melihat lelaki yang sedari tadi memakai topi dan masker wajah kini telah di buka, juga dian tak kalah terkejut nya saat melihat dan mendengar ucapan zimah menyebut nama ustadz muda yang jadi pembicaraan hangat di semua kalangan terutama kalangan gadis remaja
"Saya yang ada keperluan dengan kamu" jawab harith atas pertanyaan zimah yang tadi sempat tertunda karna kedatangan ririn
"Dengan saya?" tanya zimah bingung menunjuk diri nya dengan pandangan kearah ke tiga lelaki di depan nya dan baru menyadari jika ia pernah bertemu dengan ke dua lelaki yang sedari tadi tidak memakai masker seperti harith "Ada keperluan apa ustadz?" tanya zimah sopan tapi percayalah bahwa dia sedang menahan deguban jantung nya yang berdetak tidak seperti biasa
"Bagaimana jawaban istikhoroh mu?" tanya harith to the point
"Jawaban?, istikhoroh?, maksud ustadz jawaban istikhoroh apa ya?" ujar zimah menunjukan ekspresi wajah yang bingung, alis mengkerut, mata sedikit di sipit kan membuat harith berdehem kecil mengalih kan pandangan karna tak sengaja bersitatap dengan zimah beberapa detik
"Pembicaraan kita dua minggu yang lalu di depan masjid raya, sebelum kamu bertemu dengan saya dan ke dua sahabat saya saat menolong ziyah dan adik-adik nya beberapa hari yang lalu" jelas harit dalam satu tarikan nafas
Seketika otak cerdas zimah lambat memproses setiap penjelasan dari harith
"Aqlan?, jadi itu ustadz harith?" tanyak zimah terkejut saat otak cerdas nya sudah bisa memproses cepat
Anggukan dan senyuman tipis sebagai balasan dari harith "Jadi apa jawaban kamu?" tanya harith lagi tanpa menatap zimah
__ADS_1