Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Bangkai tikus dan ayam


__ADS_3

"Zi. Ini beneran kita bersihin got?." Chessy memelas memandang Zimah yang tampak bahagia. Lalu berganti memandang santri-santri yang sedang membarsih kan got yang berada di samping ndalem.


Zimah mengangguk antusias. "Iya. Itung-itung selain nurutin ponakan kalian. Kalian juga sedekah tenaga sama santri-santri." Ujar Zimah enteng.


"Kak. Kakak kan tau aku gak pernah bersihin kek gini, jangan kan ini, bersihin kamar aja aku gak pernah." Rengek Risha ikut memelas. Berusaha membujuk sang kakak.


"Zi. Ini kemauan keponakan gue?, atau lo emang mau ngajarin kita cara nya jadi wanita." Ucap Dira frustasi dengan tingkah sahabat nya yang sedang hamil.


"Gak tau. Pengen aja liat kalian bertiga ikut kegiatan santri-santri." Jawaban yang membuat ketiga gadis yang memakai hijab itu menghela nafas pasrah.


"Mimpi apa sih, gue, kemarin-marin. Liat tingkah Zimah yang nyebelin gini." Ungkapan dengan suara tertahan dari Chessy membuat Zimah tertawa.


Zimah tidak membalas gerutuan sahabat nya, ia melangkah menghampiri santri-santri yang di dekat got. "Ini got nya kenapa kotor banget mbak?." Tanyak nya terkejut melihat di sekitar got dan di dalam got yang banyak sampah yang berserak.


"Gak tau Ning. Tadi kami di suruh kerja bakti sama musyrifah (𝑆𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑖𝑜𝑟)." Jawab sopan santri putri.


"Seperti nya ini bukan sampah dari pondok deh." Ujar Zimah mengernyit. Melihat sampah plastik, dedaunan dan masih banyak lagi. "Sampah nya seperti dari luar dan sengaja di buang di sini." Sambung Zimah melihat tembok yang tinggi.


"Kenapa Zi?." Tanya Dira yang menghampiri Zimah.


"Heran aja. Banyak banget sampah nya." Zimah tidak melepas pandang dari sekitar tembok dan got.


Mengernyit, Dira melihat tembok yang ada bercak jari. "Ini tembok nya pembatas antara apa?. "Tunjuk nya pada tembok yang sedari tadi di perhatikan Zimah.


"Pembatas kebun pisang milik pesantren mbak." Jawab salah satu santri lain.


"Apa bisa tembus kejalan umum?."


"Njih. Bisa mbak."


"Fixs. Ini ada orang yang iseng, karna gak suka dengan pesantren ini." Tutur Dira yakin.


"Masa sih?, ini kan tempat untuk belajar ilmu agama. Masa mereka tega kek gitu." Timpal Chessy heran.


"Dalam menuntun ilmu, dan menyebar kan nya, hal semacam ini memang ada Ches. Mereka yang tidak menyukai santri dan ulama-ulama. Tidak segan atau takut berbuat seperti ini. Bahkan lebih dari ini pun mereka berani." Jelas Zimah.


"Coba liat di tembok itu ada bercak jari." Tunjuk Dira. "Seperti nya mereka manjat mengguna kan tangga dan memegang tembok itu, yang dimana tangan mereka terkena tanah atau apa gitu." Sambung nya menjelas kan. Mereka ikut melihat mengangguk menyetujui tebakan Dira, diman bukan hanya satu bercakan jari-jari di atas tembok, tapi lebih.


"Apa umi sudah tau?." Tanya Zimah menatap santri-santri.


"Seperti nya belum tau mbak."


"Kalian lanjut lagi kerja nya, biar saya yang bilang masalah ini ke Abi dan Umi."


Mereka semua mengangguk sopan.


Zimah memutar badan nya dan hendak melangkah. Namun berhenti ketika mengingat sesuatu.


Dira, Chessy, Risha. Yang hendak mengikuti langkah Zimah pun mengurung kan niat nya melihat Zimah yang tiba-tiba berhenti. "Kenapa Zi?." Tanya Chessy mewakili.


"Aku masih ngidam loh, pengen liat kalian kerja bakti sama santri-santri." Ucap nya setelah memutar badan menghadap ketiga gadis yang kebingungan.


"Bersihin got?." Tanya Risha.


Zimah mengangguk dengan wajah memelas, berharap ketiga gadis di depan nya menuruti kemauan nya.


"Yang bener aja kak?." Tanya nya lagi memastikan.


Sedang kan Dira dan Chessy hanya pasrah.


"Ya Allah Zi,,,. Mudah-mudahan aja anak lo jodoh nya anak gue." Celetuk tiba-tiba Dira, memutar badan dan bergabung bersama santri yang membersih kan got. Di ikuti Chessy dan Risha yang tadi sempat mengamini Celetukan Dira. Yang entah di sengaja atau tidak.

__ADS_1


Zimah tertawa pelan melihat kepasrahan sahabat nya.


"Hitung-hitung belajar mandiri." Monolog Zimah sendiri dengan kekehan kecil.


...---------------...


Setelah mendengar apa yang di sampai kan oleh menantu nya, Umi Halimah segera menuju tempat yang di maksud Zimah. Zimah ikut melangkah di samping ibu mertua nya. "Suami mu sudah tau Ndok?." Tanya Umi disela langkah mereka.


"Belum umi. Nanti kalau sudah pulang dari mengisi ceramah, Zimah, akan beri tau."


Umi Halimah hanya mengangguk, karna mereka sudah sampai, di mana lokasi santri-santri gotong royong.


"Astaghfirullah." Ucap umi ketika memandang sampah-sampah berserakan. Walaupun sudah banyak yang di masukan kedalam karung.


"Ini kenapa bisa begini?, siapa yang pertama kali melihat nya?." Mengedar kan pandangan nya kesemua.


"Ndak tau bunyai." Jawab salah satu santri putri mewakili semua teman nya.


Umi Halimah melihat kearah menantu nya. "Gimana cerita nya ndok?."


"Zimah juga kurang tau umi. Tadi, sewaktu Zimah duduk di pondopo." Tunjuk nya mengguna kan ibu jari pada pondopo yang berada di halaman depan ndalem. "Zimah kira mereka hanya kerja bakti biasa. Tapi ketika Zimah menghampiri mereka, ternyata sampah nya bertebaran hingga di samping rumah ndalem." Jelas apa yang di ketahui nya. "Dira sahabat Zimah juga melihat ada bercak tanah di tembok itu." Lanjut ny menunjuk kearah tembok pembatas kebun pisanh itu. "Dan kami tebak itu jari beracak jari manusia tidak hanya satu orang." Sambung nya lagi dengan sopan.


Umi Halimah menyipit kan mata nya, melihat tembok yang di tunjuk oleh menantu nya. Jika melihat tidak dengan teliti maka bercakan itu tidak akan terlihat.


"Assalamu'alaikum bunyai.."


Umi Halimah mengalih kan pandangan nya menatap santri yang tampak sehabis berlari. Karna terdengar suara nya yang tidak beraturan.


"Wa'alaikumussalam. Kenapa ndok?."


"Di samping, ndalem, ada bangkai tikus dan bangkai ayam." Beritau nya.


"Di samping rumah Bunyai."


Dengan tergesa wanita paruh baya itu melangkah ketempat yang tadi di bilang oleh santri putri. Di ikuti Zimah dan yang lain nya.


"Astaghfirullah. Ya Allah gusti. Siapa yang tega ngelakuin seperti ini."


Tidak hanya sampah plastik-plastik dan dedaunan yang berserakan. Bangkai tikus dan ayam pun, menjadi keisengan seseorang yang entah siapa itu.


"Astaghfirullah." Helaan nafas Umi Halimah, tidak ada sedikit pun emosi dari suara wanita paruh baya yang selalu memancar kan kelembutan itu.


"Apa wc dan kamar mandi kalian saluran nya sumbat semua?."


"Njih Bunyai. Tadi shubuh sudah sumbat, tapi karna kami mengejar waktu shubuh, jadi ndak sempat memeriksa nya. Dan baru tadi pagi kami memeriksa, ternyata got nya banyak tertimbun sampah." Jelas santri wati tidak jauh dari tempat berdiri nya Umi Halimah, berbicara dengan logat jawa nya terdengar sopan. "Dan saluran nya tersumbat sampah." Sambung nya lagi.


"Bukan hanya saluran tempat santri putri, tapi tempat santri putra juga bunyai." Timpal satu nya lagi memberi tau.


"Astaghfirullah" Ucap umi Halimah memejam kan mata, untuk menghilang kan rasa sakit di kepala yang tiba-tiba.


Zimah yang melihat Ibu mertua nya memegang kepala, segera merangkul. "Umi istirahat aja ya. Biar Zimah dan Salsa yang menangani ini semua sampai kepulangan Abi dan Mas Aqlan.


Salsa yang nama nya di sebut segera mendekat dan ikut merangkul seperti kakak ipar nya. "Bener kata mbak Zimah umi. Umi istirahat njih."


"Kamu kan lagi hamil ndok, ndak boleh terlalu capek." Tutur umi lembut pada menantu nya.


"Ndak capek umi. Kan, ada Dira, Chessy, Rhisa, juga santri-santri.


"Bener umi. Gak apa-apa, ada kita yang bantuin." Sahut Dira di angguki Risha dan Chessy.


"Yowes. Kalau begitu umi istirahat sebentar ya, nanti kalau sudah mendingan umi lia kalian lagi."

__ADS_1


Mereka semua mengangguk semangat. Meyakin kan umi Halimah jika mereka menyetujui.


Setelah kepergian umi Halimah mereka kembali bekerja bersama-sama membersihakan semua nya. Termasuk Zimah dan yang lain nya.


"Mbak. Mbak jangan di bagian got." Ujar Salsa.


"Di temapt yang mudah-mudah aja kak." Timpal Risha.


"Kalau perlu kamu duduk aja Zi." Dira ikut bersuara.


"Ingat. Gak boleh capek ZI." Tekan Chessy.


Zimah tersenyum melihat sahabat-sahabat, dan adik-adik nya mengkhawatir kan diri nya.


"Iya. Gak capek, cuma bantu masukin sampah kedalam karung aja." Ucap nya dengan senyuman.


Keempat nya serentak memberi ibu jari tanda, setuju. Dan kembali mengerjakan pekerjaan yang tadi terhenti sebentar.


Dira, Chessy, Risha, yang tetap memebersih kan got. Walaupun menahan rasa, tapi demi janji. Dan Salsa juga ikut membantu ketiga nya dan santri-santri, namun tidak menunjuk kan expresi seperti ketiga gadis kota itu.


"Ning Salsa bahagian banget ya?, padahal kita bukan lagi liburan." Tutur Risha dengan sopan. Seperti apa yang di bilang kakak nya. Heran melihat adik ipar kakak nya yang menunjukan expresi tanpa beban.


"Sudah biasa mbak, bagi kami santri, melakukan hal seperti ini tidak masalah. Itung-itung ngarep barokah nya guru." Jawab Salsa lembut dengan senyum manis nya.


"Ning Salsa kan anak kiyai. Gak apa-apa kali kalau gak ikut kek gini." Timpal Chessy.


"Anak kiyai bukan berarti harus santai saja mbak. Kami juga butuh ilmu. Kata umi, kalau mau jadi orang sholeh, ya, harus berusaha, seperti mujahadah, qona'ah, ada kala Salsa dan saudara menjadi anak umi dan abi, ada kala nya juga kami menjadi murid disini." Jelas Salsa, sambil mengait sampah mengguna kan garpu besi.


Dira yang mendengar adik ipar dari sahabat nya tersenyum, sungguh didikan yang bagus dari wanita seperti umi Halimah.


Kerja bakti Zimah dan sahabat-sahabat nya, bersama para santri di penuhi canda tawa. Sehingga tidak terasa lelah nya. Mereka saling membantu, tidak ada yang terasing kan. 𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯.


"Simpan disini aja mbak." Ujar Zimah


"Njih ning." Tiga orang santri meletakan karung yang berisikan sampah dari got.


"Terimakasih ya." Ucap Zimah.


Tiga orang santri itu mengangguk dan mundur lalu menunduk sedikit. "Gus." Sapa mereka melihat pria jangkung di belakang Ning Hazimah.


Zimah menoleh, dan tersenyum, melihat suami nya sudah berdiri dan memandang keseluruhan lalu kembali, menatap nya. "Mau salam.Tapi tangan Zimah lagi kotor mas." Ujar Zimah menunjuk kedua tangan nya lada Aqlan.


Aqlan tersenyum dan memegang kepala istri nya, lalu mencium ujung kepala Zimah. "Ini kenapa jadi kerja bakti sebelum hari jum'at?." Tanya Aqlan dengan tampang bingung.


"Ada orang yang iseng mas, yang buat ini semua." Jawab Zimah menghela nafas.


"Maksud nya gimana?."


Zimah langsung menjelas kan semua nya.


Aqlan melihat tembok yang di tunjuk istri nya. Dan menghela nafas.


"Kata nya, di kawasan santri putra juga saluran nya sumbat mas." Beri tau Zimah.


Berulang kali Aqlan mengucap istighfar mendengar penjelasan istri nya.


"Sehabis dzuhur ini mas mau mengusul kan pada abi, agar mengajak semua santri putra dan putri untuk musyawaroh. Supaya kejadiin seperti ini gak ada lagi. Karna ini bukan hanya pertama kali nya." Ucap Aqlan.


Zimah mengangguk, mendukung suami nya.


"Mengamal dan menyampai kan kebaikan, pasti ada ujian nya. Jadi kita sebagai hamba bersabar dalam menjalani nya."

__ADS_1


__ADS_2