
"Zimah" panggil perempuan yang sedari tadi berdiri, sebelum sepupu nya itu melangkah keluar.
Zimah berhenti tanpa membalikan badan nya.
"Maafin papa ku" ujar nya memohon
Zimah membalikan badan
Zimah menatap dingin perempuan yang menjadi sepupu nya.
"Nuri" paman Bagus menggeleng mengisyarat kan pada anak nya agar berhenti menghampiri Zimah.
Zimah melihat semua itu.
Nuri mengikuti isyarat sang papa, dia memandang sendu Zimah, sepupu yang dulu selalu ia abai kan.
Zimah memandang paman nya. Apa keputusan nya untuk memaaf kan sudah benar?.
Paman nya memang salah, karena berusaha untuk menghancur kan keluarga nya yang bahagia dengan memfitnaj sang ayah.
Tapi hati kecil Zimah mengatakan jika iti semua masalalu antara paman dan ayah nya.
"Paman tidak akan memaksa kamu untuk memaaf kan paman. Tapi paman mau minta maaf lagi, waktu kamu mau nikah paman maksa kamu biar paman yang jadi wali nya. Itu semua pesan terakhir ayah mu di dalam surat meminta paman untuk menjadi wali mu, karna Zain bukan saudara kandungmu."
Zimah terdiam.
...-----------------------------------------...
Berulang kali Zimah menghela nafas, hari ini banyak orang di masalalu yang ia temui, dan banyak kebenaran yang ia dapat kan.
Zimah memegang kepala nya yang pusing, sedari tadi dia belum ada memakan apapun, banyak yang ia fikir kan, tentang paman nya, tentang adik nya, dan tentang diri nya yang sekarang mudah sekali lelah, dan sensitif.
"Ikuti kata hati mu, ayah dan bunda mu berpesan agar kamu tidak menyimpan dendam dengan paman dan keluarga mu yang lain."
Zimah tersenyum memandang bik Dinda di samping nya, selepas tadi pulang dari rumah paman nya, Zimah mencerita kan pada bibi nya tanpa ada yang di tutupi.
"Iya bik, Zimah sudah memaaf kan paman dan semua nya, hanya saja Zimah butuh waktu lagi."
"Wajah kamu pucat Zimah."
Menyadari senyuman keponakan nya yang berbeda, mebuat bik Dinda khawatir.
Bugh.
"Zimah,,,," teriakan panik bik Dinda membuat Aqlan dan kedua adik Zimah berlari menghampiri mereka di ruang tamu
"Zimah" kata Aqlan panik, segera meminda kan kepala istri nya di pangkuan nya, sambil menepuk-nepuk pelan pipi Zimah.
"Zimah kenap bik?" tanya Aqlan khawatir.
"Bibi juga gak tau, wajah nya sedari tadi pucat. Setelah kalian pulang dari rumah paman Bagus."
Aqlan mengangguk mengerti.
"Tolong telponin dokter ya bik, Aqlan bawa Zimah kekamar dulu."
Bik Zimah mengangguk, dan Aqlan membawa istri nya ke kamar di ikuti Icha dan Lia yang juga khawatir sedari tadi melihat kakak nya.
Sembari menunggu dokter, Aqlan memberi minyak angin di kening istri nya. Icha dan Lia memijat kaki kakak nya.
Tak lama bik Dinda masuk bersama dokter wanita paruh baya yang berhijab.
Mereka semua memandang dokter memeriksa, gelisah melihat raut wajah dokter yang berubah-ubah kadang serius tersenyum, dan menghela nafas.
"Bu Zimah hanya kelelahan, dan tubuh nya belum ada terisi cairan apapun, juga seperti nya banyak fikiran, sehingga tubuh nya melemah dan berakibat pingsan." jelas dokter, membuat mereka lega, tapi Aqlan memandang sedih istri nya.Dia tau apa yang menjadi beban fikiran istri nya.
"Sebaik nya bu Zimah tidak boleh banyak fikiran, dan makanan nya harus teratur, kasihan janin nya juga ikut melemah."
Tidak ada respon mendengar lanjutan penjelasan dokter wanita itu.
__ADS_1
"Janin?" tanya Aqlan masih dengan keterkejutan nya.
Dokter itu mengangguk dengan wajah bingung.
"Keponakan saya hamil dok?" tanya bik Dinda senang karna sudah mengerti apa maksud doktor berhijab itu.
Doktor itu mengangguk dan terkekeh, mengerti kenapa mereka terkejut.
"Iya. Selamat istri anda hamil, kehamilan nya memasuki dua minggu." ucap dokter tersenyum.
Seketika wajah Aqlan berubah bahagia dan langsung menghampiri istri nya yang sudah sadar, entah sejak kapan. Seperti nya Zimah mendengat apa yang di sampai kan dokter, terlihat wajah nya yang terkejut.
"Terimakasih sayang" Aqlan mencium seluruh wajah Zimah bertubi-tubi, menyalur kan perasaan bahagia nya.
"Kamu kenapa?" tanya Aqlan panik, melihat istri nya menangis dalam pelukan nya.
"Aku bahagia mas, di sini ada amanah dari Allah untuk kita." kata Zimah bahagia mengusap parut nya yang masih datar.
Aqlan bahagia mendengar jawaban istri nya. Dia bahagia, sangat-sangay bahagia.
Dan kebahagiaan itu di rasa kan oleh semua orang yang ada di dalam kamar ini.
Bik Dinda menghampiri keponakan nya. Aqlan yang melihat pun melepas kan pelukan ia dan istri, dan membiar kan bik Dinda memeluk keponakan nya.
"Selamat sayang, bentar lagi bibi jadi nenek." kekeh bik Dinda mengutara kan kebahagiaan nya.
Zimah mengangguk. "Iya bik, bibi jadi nenek, mas Aqlan dan Zimah jadi orang tua, Icha dan Lia jadi aunty." kekeh Zimah memandang adik nya dan meminta mereka memeluk Zimah.
Dokter berhijab itu terharu memandang keluar di depan nya ini bahagia, dengan amanah yang Allah titip kan di rahim wanita cantik yang tadi ia periksa.
"Terimakasih dokter." Ucap Zimah melihat dokter yang menatap nya
"Sama-sama, kalau begitu saya pamit." dokter memberi vitmin untuk Zimah, dan melangkah keluar di temani bik Dinda yang mengantar nya.
"Sekarang kamu makan ya, kata dokter kamu gak boleh telat makan dan gak boleh banyak fikiran." Aqlan duduk di sisi ranjang Zimah memegang sepiri makanan yang ia ambil tadi, ketika yang lain nya sedang berpelukan.
"Tapi aku mau muntah mas kalau masukin makanan." adu Zimah memelas
Aqlan berusaha membujuk istri nya. Icha yang melihat kakak nya manja jadi aneh.
"Kak Zimah kek anak kecil ih, makan aja harus di paksa." ejek Icha
𝘗𝘭𝘢𝘬
Lia yang di samping nya pun langsung memukul pelan bibit Icha.
"Anak kecil diam aja kalau gak tau apa-apa." cebir Lia pada adik nya
Icha memberenggut, lagi-lagi kakak nya yang ini selalu menindas nya, jika Icha menimbrung orang dewasa.
Zimah dan Aqlan terkekeh.
"Itu faktor dedek bayi nya cha." jelas Aqlan
Icha mengangguk, tidak berselera lagi untuk bicara, takut salah, nanti di tindas kakak nya yang galak ini lagi.
"Makan sedikit aja, biar perut kamu gak kosong." bujuk nya mengalah.
Zimah mengangguk menerima suapan dari suami nya. Dengan Aqlan yang terus mengajak nya bicara di sela menyuapi Zimah, hingga tanpa sadar, nasi di piring yang Aqlan pegang habis tak tersisa.
"Alhamdulillah habis" ucap Aqlan bangga
Zimah melihat kepiring yang sudaj kosong, dan melihat suami nya, dia tidak sadar kalau bisa menghabis kan semua nya tanpa rasa mual.
"Karna di suapin mas" Zimah nyengir
Aqlan terkekeh melihat istri nya yang nyengir lucu. Icha dan Lia saling berpandangan melihat sepasang suami istri yang saling membalas tatapan.
"Sudah makan?."
__ADS_1
Zimah mengangguk melihat bibi nya yang menghampiri nya.
"Sekarang kita minum vitamin dari dokter tadi ya" Aqlan memberi kan satu vitamin untuk istri nya. Dan Zimah langsung meminum nya.
...------------------------------...
"Beneran Zi?"
Zimah mengangguk dengan senyuman yang terpancar bahagia.
"Aaaa,,, selamat sahabat ku, bentar lagi jadi ibu" ucapan tak kalah bahagia nya dari kedua sahabat Zimah dalam panggilan vidio call. Zimah terharu melihat antusias kedua sahabat nya, ketika Zimah memberi kabar tentang kehamilan nya.
"Berapa umur kandungan mu Zi?" tanya Dira
"Baru dua minggu."
"Jaga kesehatan nya Zi, jangan telat makan, jangan banyak fikiran, kalau ada apa-apa bilang ke suami kamu, atau ke kita juga boleh."
Dira tau bagaimana sahabat nya itu kalau banyak fikiran apalagi kalau kerja, tidak ingat waktu.
Zimah tersenyum sahabat nya tidak pernah berubah sedari dulu, Zimah bersyukur akan hal itu.
"Iya aku bakalan ingat selalu nasehat kamu."
"Nanti anak lo manggil aku aunty ya Zi" celetuk Chessy antusias.
"Terserah kalian mau di panggil apa." kekeh nya
"Gak nyangka banget aku bakalan punya ponakan dan nanti di panggil aunty" Dira terkekeh membayang kan nya.
Zimah dan Chessy juga ikut terkekeh.
"Sampai sekarang kalau aku dengat Dira panggil aku kamu masih ganjel, kek ada yang aneh gitu." tawa Chessy
Dira mendengus
"Nama nya juga udah kesepakatan kita sebelum Zimah nikah." kata Dira
"Oh iya, nanti yang jemput kalian di bandara kang santri ndalem ya, mereka ada dua orang diperintah kan dari mas Aqlan."
Dira mengangguk, sedang kan Chessy berhinar.
"Ganteng gak Zi?" tanya Chessy semangat.
Zimah mengangguk dengan kekehan nya, tau bagaiman tabiat sahabt nya yang satu ini.
Dira yang melihat Chessy menghayal langsung mengusap wajah sahabat nya itu kuat, membuat Chessy menepis tangan Dira.
"Sakit dir" delik Chessy
"Lagian ngayal terus kalau udah dengat ganteng
Tawa Zimah pecah melihat perdebatan sahabat nya, yang sudah lama tidaj ia saksi kan.
"Yasudah, aku matiin dulu ya, nanti kite ketemu di pesantren."
Zimah mengakhiri panggilan vidio call nya setelah mendapat balasan dari kedua sahabat nya.
"Sudah selesai vc an nya?" tanya Aqlan yang baru masuk ke dalam kamar dan menghampiri istri nya di atas kasur.
Zimah mengangguk membalas pelukan suami nya dengan manja, Aqlan terkekeh lalu mencium kening istri nya.
"Besok mas mau ngajak kamu sowan di pondok sahabat abi"
Zimah mengangguk. "Tapi sebelum nya kita ke kuburan ayah dan bunda boleh gak?"
Aqlan mengangguk "Boleh dong, mas sekalian mau berterimakasih sama bunda karna sudah melahirkan anak secantik ini, dan berterimakasih sama ayah, karna sudah mendidik wanita setangguh ini" Aqlan mencolek hidung istri nya.
Zimah tertawa mendengar kata yang menurut nya romantis dari Aqlan.
__ADS_1
"Apaan sih" kata nya tersipu malu.