Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Menangkap pelaku teror


__ADS_3

Langit malam yang cerah, tampak indah, di hiasi bintang-bintang dan cahaya bulan menyinari penduduk bumi. Seperti mendukung kegiatan santri putra dan putri pesantren Roudhotul Jannah. Berkumpul di lapangan yang luas di pesantren itu. Duduk secara terpisah dengan pembatas di tengah santri putra, dan santri putri. Mendengar kan dengan khidmat, musyawaroh dadakan yang di adakan di lapangan utama pesantren.


Zimah dan ketiga sahabat nya, duduk di barisan santri putri, ikut mendengar kan musyawaroh pada malam ini. Melihat kedepan, ada suami, mertua dan pengurus pesantren lain nya. Sedang kan kakek suami nya tidak ikut, karna kondisi nya yang tidak mendukung.


"Hidup di masyarakat, kita harus pandai membawa diri, harus menjaga adab, akhlaq, perkataan kita sebisa mungkin jangan menyakiti orang lain. Pesantren ini sudah lama didirikan oleh kakek saya. Kiyai Malik Riddaudin. Bukan hanya sekali ujian yang datang untuk pesantren ini." Suara Aqlan terdengar tegas, dengan wibawa nya.


"Seperti tadi pagi, bukan hanya sekali kejadian seperti itu, terjadi, dan selalu di sekitaran ndalem. Sampah-sampah, bahkan, bangkai binatang pun di buang oleh orang yang iseng. Saya sudah bertanya pada pengurus-pengurus pondok yang lain nya, bahwa mereka tidak melihat dalang dari semua itu." Sambung Aqlan.


"Perkuat amalan lagi, dan perketat penjagaan."


Aqlan terus memberi wejengan, dan sesekali menoleh pada Abi nya, meminta pendapat apa. Walaupun tanggung jawab kali ini, diserah kan pada nya. Seluruh santri menerima musyawaroh sekaligus wejengan dari gus nya.


Namun. Dalam musyawaroh yang sedang berlangsung, sesekali para pengurus dan santri-santri, berbincang dengan teman di sebelah nya, berdiskusi, pendapat apa yang harus mereka ajukan pada kiyai mereka, untuk masalah yang selalu terjadi belakangan ini. Tiba-tiba dua orang santri putra yang bertugas menjaga pos, berlari tergesa-gesa menghampiri kiyai Ahmad.


"Assalamu'alaik. Maaf kiyai kami mengganggu. Ada hal penting yang ingin kami sampai kan." Ucap salah satu nya mewakili, berusaha sesopan mungkin, mendengar nafas nya yang tidak beraturan.


"Njih. Silahkan." Tutur Kiyai Ahmad.


"Tadi santri yang bertugas hirosah (berjaga) keliling pondok, menemukan orang yang membuang sampah di dekat ndalem, kami yakin mereka orang yang selama ini kita cari." Beritau nya, yang sudah mengatur nafas dengan baik.


"Dimana sekarang mereka?." Tanya Kiya Ahmad berusaha tenang.


"Di pos, Kiyai, tapi kami hanya bisa menahan dua orang, selebih nya mereka berhasil kabur."


Kiyai Ahmad mengangguk lalu menoleh pada putra nya. "Kamu ikut Abi, biar mereka yang membubar kan semua santri."


Aqlan mengangguk patuh. "Tapi sebelum nya, Aqlan mau bicara dulu sama Zimah, Abi."


"Yowes. Abi duluan, nanti kamu nyusul, suruh istri mu istirahat, biar kesehatan nya terjaga." Tutur Kiyai Ahmad.


"Njih Abi." Jawab Aqlan ta'dzim.


Setelah melihat Abi dan santri yang memberi kabar tadi pergi. Aqlan langsung memerintah kan pada semua pengurus, untuk membubar kan semua santri, dan kembali kedalam asrama mereka. Lalu Aqlan akan mengahampiri istri nya.

__ADS_1


Menyapu pandangan pada barisan santri putri, Aqlan mencari keberadaan istri nya, dan melihat sang istri yang duduk di barisan tengah, para santri putri.


Zimah yang sedari tadi melihat suami nya yang melihat barisan santri putri, belum berniat untuk bergerak mengahampiri, hingga tatapan mereka bertemu, Zimah mengangkat sedikit dagu nya, memberi kode bertanya pada sang suami.


"Tolong panggilin Istri saya ya mba." Perintah Aqlan pada santri putri yang tidak jauh dari nya.


Walaupun santri putri itu terlihat masih muda, namun tetap Aqlan memanggil dengan sebutan mbak, karna peraturan dari pesantren ini.


"Njih gus." Ucap nya.


Bagaiman pun, dan dimana pun Aqlan, selalu menjadi topik curi pandang beberapa santri putri.


Selagi menunggu istri nya, Aqlan menjauh dari barisan santri putri, berhenti, lalu mengeluar kan hp dari kantong koko putih nya.


Membuka aplikasi instagram dan menscrol, banyak yang menandai postingan, ke akun nya. Kebanyakan tentang pernikahan ia, dan Zimah. Tidak satu pun yang Aqlan like. Hanya menscrol, tanpa membaca caption dari status yang ia lalui.


"Mas." Menepuk pelan bahu sang suami. "Ada apa Mas?, Mas gak nemenin Abi ke pos santri?." Tanya Zimah.


Aqlan mengangguk. "Tadi Abi udah ngajak Mas, Cuma mas izin mau nemuin kamu dulu." Tutur Aqlan, setelah tadi memutar badan menghadap istri nya.


"Mas cuma mau bilang, kalau mau tidur, tidur aja dulu, jangan nungguin mas, kayak nya, mas lama, larut malam baru selesai nya, melihat kasus ini yang lumayan berat. Jadi, kamu harus tidur awal, jaga kesehatan kamu dan bayi kita." Tutur Aqlan lembut, tatapan nya mengarah pada jilbab istri nya yang sedikit berantakan, Aqlan mengulur tangan nya kedepan merapi kan jilbab wanita nya.


Instraksi mereka tidak luput dari santri yang berlalu lalang.


"Tapi kayak nya Zimah gak bisa tidur awal deh mas, soal nya tadi siang tidur nya pules banget. Kalau Zimah main di kamar sahabat Zimah, boleh gak?, hitung-hitung nemenin sebelum mereka pulang ke jakarta." Tanya Zimah berharap, hingga memasang wajah memelas di depan suami nya.


Dengan kekehan nya, melihat tingkah sang istri, Aqlan mengangguk berkali. "Boleh, kalau udah ngantuk, tidur di sana juga boleh, takut nya mas selesai larut banget."


"Baik mas. Mudah-mudahan masalah nya cepat selesai ya. Do'a Zimah selalu menyertai mas." Ucap Zimah tulus, dengan senyuman manis nya.


Aqlan menutup pelan mulut istri nya, karna mereka menjadi pusat perhatian, dan Aqlan tidak mau, santri-santri putra yang berlalu lalang melihat senyuman istri nya yang wajah berkali lipat lebih cantik.


"Kenapa sih Mas?." Tanya Zimah heran, dengan tingkah Aqlan.

__ADS_1


"Mereka liatin kita."


"Wajar dong. Kan kita lagi di tempat umum santri."


"Tapi kamu jangan senyum gitu."


"Kenapa?, Mas gak suka?."


"Suka. Hanya saja, mas gak mau berbagi." Ucap Aqlan mendatar kan wajah nya, saat santri-santri, melihat kearah nya.


Tawa Zimah hampir lepas. Tapi segera menutup mulut nya dengan kedua tangan. "Mas aneh ih, istri senyum di bilang berbagi." Ujar Zimah geleng kepala.


"Yaudah Mas cepetan susul Abi, pasti Abi dan yang lain nya, udah nungguin Mas." Sambung Zimah mode serius.


"Iya. Mas pergi dulu ya." Mengelus kepala istri nya dengan lembut.


Zimah mengambil tangan kanan Aqlan, lalu di tempel kan di bibir ranum nya, mencium tangan suami nya dengan ta'dzim.


...---...


Ruangan yang tidak terlalu besar, hanya ada beberapa fasilitas. Kipas angin, meja, kursi, pengeras suara, dan beberapa lain nya, yang di gunakan untuk kebutuhan di dalam pos santri.


Duduk secara berhadapan. Abi Ahmad, dan Aqlan memandang dua orang pria yang menunduk kan kepala, seperti tengah di adili.


"Apa kalian yang selalu meneror pesantren kami, dengan sampah-sampah, dan bangkai-bangkai binatang?." Pertanyan to the poin dengan suara yang tegas dari Aqlan. Abi Ahmad mempercayai sepenuh nya masalah ini pada sang anak, walaupun ia masih harus mendampingi.


Dua pria yang menunduk, belum berani menampakan wajah nya, hanya mengangguk dengan kakuk, dan gemetaran. Tampak dari masing-masing tangan mereka, yang saling bertautan kuat.


"Apa salah satu santri kami ada yang mengganggu ketenangan kalian?, sehingga kalian membalas denga cara yang seperti itu?." Tidak ada jawaban dari kedua pria itu. Tidak di jelas kan pun, kedua pria itu tau, apa maksud dari kata, 𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒊𝒕𝒖. Aplagi kalau bukan masalah teror sampah dan bangkai.


"Jika kalian merasa terganggu, tolong bilang secara baik-baik, biar kami para pengurus yang akan menasehati mereka." Aqlan berusah sabar, karna tidak ada tanggapan dari dua pria di depan nya.


Jika ia memakai emosi, maka masalah ini tidak akan selesai, dan pasti akan ada masalah baru lagi. Jadi Aqlan berusaha tenang.

__ADS_1


"Tolong keluar kan ayah saya dari penjara."


Aqlan diam, menatap satu pria yang mendongak kan kepala nya.


__ADS_2