Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Penjelasan


__ADS_3

Aqlan menggenggam tangan Zimah dan menatap istri nya dengan tersenyum. Zimah merasa tenang melihat senyuman suami nya. menghela nafas sebentar dan memandang semua orang.


"Saya harus pergi" Zimah langsung melangkah keluar dari kerumunan, di ikuti Aqlan yang menggenggam tangan nya.


Sepanjang berjalan menuju rumah paman nya, Zimah melamun memikir kan kejadian barusan, dia sudah mengira, pasti akan bertemu dengan orang-orang di masa lalu nya.


"Ini rumah nya" tanya Aqlan


Zimah tersadar dan melihat rumah di depan nya.


"Seperti nya iya, letak nya sama persis dalam ingatan aku waktu dulu." Zimah melihat rumah yang terbilang mewah di antara rumah-rumah penduduk di sini. "𝐵𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑛𝑦𝑎." fikir Zimah


Setelah mengetuk dan mengucap kan salam, pintu terbuka, dan keluar wanita paruh baya yang Zimah kenali.


"Orang kaya baru, datang nih."


Bukan nya di sambut dengan ramah, Zimah malah mendapat sindiran, Zimah hanya menampil kan wajah dingin nya.


"Saya ingin bertemu paman."


Wanita paruh baya itu memandang Zimah dan Aqlan dari atas kebawah.


Aqlan mengernyit melihat wanita yang ia tau istri dari paman nya Zimah.


"Apa paman bagus nya ada?, saya dan Zimah ada keperluan dengan beliau


Wanita paruh baya itu memandang Aqlan tak suka.


"Masuk" ajak nya melangkah masuk


Zimah dan Aqlan mengikuti dari belakang.


Tak lama datang pria paruh baya duduk bergang bersama mereka di sofa ruang tamu.


"Tanggal tiga acara walimahan saya dan mas Aqlan di pesantren. Saya harap paman dan keluarga bisa hadir." Zimah to the point tanpa basa basi setelah melihat paman nya sudah duduk.


"Kamu apa kabar Zimah"


Bukan mendapat respon, Zimah malah mendapat pertanyaan yang membuat hati nya nyeri, sudah lama ia tidak mendapat kan pertanyaan seperti ini dari kerabat yang dulu paling dekat dengan nya.


Paman Bagus menatap sendu ponakan nya, ponakan yang dulu selalu manja pada nya, namun hilang seketika karna keserakahan nya.


Lagi-lagi Aqlan hanya bisa diam melihat situasi antara istri nya dan keluarga.


"Jangan di tanyain mas, dia udah kaya, emang begitu kali, sombong." sinis wanita paruh baya yang duduk di samping paman bagus.


"Diam kamu." sentak nya melihat marah pada istri nya.

__ADS_1


Membuat wanita paruh baya itu terkejut tak menyangka akan di bentak seperti ini.


Zimah ikut terkejut mendengar bentakan paman nya.


"Baik" jawab nya datar.


"Maafin paman"


Zimah mengalih kan pandangan dari paman nya, mendongak keatas untuk menahan air mata nya agar tidak jatuh, saat mendengar suara pelan dengan nada memohon dari paman nya.


Sudah lama sekali ia tidak mendengar suara tanpa bentakan dari pria yang sudah ia anggap seperti ayah nya.


"Kenapa?" suara Zimah bergetar menahan tangis


"Kenapa dulu paman gak mau bantu ayah dan bunda?, padahal paman tau bisnis ayah bangkrut, keluarga kami lagi kesusahan, ayah dan bunda kecelakaan, tidak mempunyai biaya untuk oprasi mereka, apa orang tua Zimah ada salah sama paman?."


"Apa mereka pernah menyakiti paman dan keluarga?, apa mereka pernah melakukan nya tanpa Zimah tau, sehingga membuat paman sangat membenci mereka, dan paman membenci Zimah, seakan Zimah ini kotoran yang harus paman dan keluarga hindari."


Zimah mengeluar kan semua unek-unek nya yang selama ini ia tahan, tak mudah bagi nya menghadapi permasalahan di usia nya yang dulu masih terbilang kecil.


"Jawab Zimah paman." suara dan tatapan Zimah dingin.


Fikiran nya benar-benar kacau, dada nya terasa sesak, sehingga tidak menghirau kan Aqlan yang menggenggam tangan nya.


Istri paman Bagus diam tak berkutik.


"Kamu tidak bersalah Zimah, paman yang salah, harta membuat paman gelap, rasa iri membuat paman benci dengan ayah mu, paman iri melihat kebahagian ayah mu, sedari dulu paman selalu di bandingin oleh kakek mu, ayah mu sempurna dia bisa mendapat kan segala nya, termasuk mendapat kan ibu mu, perempuan yang dulu nya paman cintai."


Mereka yang ada di ruang tamu itu terkejut, termasuk beberapa pasang mata yang sedari tadi mendengar percakapan mereka dari jarak jauh, tanpa di sadari oleh mereka yang duduk di sofa.


Wanita paruh baya yang duduk di samping nya, manatap tak percaya pada suami nya.


"Tapi kenapa dulu paman selalu baik sama kami, termasuk sama Zimah?"


"Dulu paman berusaha melupakan semua nya termasuk melupakan ibu mu, karna kebaikan ayah mu, yang tidak pernah memandang paman sebelah mata, ayah mu selalu berusaha membahagia kan paman. Dan pada ketika usaha ayah mu sukses, keluarga kalian semakin bahagia dan ayah mu selalu di puji dan di sanjung dimana pun dia berda, paman yang selalu berada di samping ayah mu hanya di anggap bayangan oleh semua orang." paman Bagus menghela nafas nya


Air mata Zimah semakin mengalir mendengar cerita paman nya, dia jadi merasa bersalah menuduh paman nya yang selama ini jahat, tanpa ia cari tau apa sebab nya.


"Dan kebencian itu timbul kembali, sehingga paman menyuruh orang-orang memfitnah ayah mu, pada akhir nya usaha ayah mu bangkrut, dan semua orang membenci ayah mu karna fitnahan itu."


Paman bagus terus melanjut kan cerita nya, walaupun dada nya sesak mendengar tangis pilu keponakan nya.


"Waktu itu paman tidak menyesal, karna setelah fitnahan itu dan usaha ayah mu bangkrut, orang-orang tidak lagi memandang paman seperti bayangan ayah mu."


Zimah menatap tak percaya paman nya.


"Jahat"

__ADS_1


Paman Bagus menunduk dalam mendengar suara pilu keponakan nya.


"Maaf" ucapan pelan namun masih bisa di dengar orang-orang di sekitar nya.


Sedang kan istri paman Bagus yang duduk di sebelah nya, dan dua orang anak nya yang sedari tadi memandang mereka dari jauh, tak percaya dengan cerita yang mereka dengar.


"Paman tau? atas perbuatan paman itu pendidikan Zimah terputus, dan Zimah harus merantau di usia Zimah yang masih kecil"


"Maaf" hanya itu yang bisa pria paruh baya itu ucap kan


"Apa kecelakaan ayah dan ibu ada sangkut paut nya dengan paman?"


Pria paruh baya itu menggeleng cepat.


"Itu rencana dari rekan bisnis ayah mu, yang tidak menyukai beliau." jawab paman cepat, takut keponakan nya memikir yang tidak-tidak tentang nya.


Zimah menghela nafas lega.


"Tentang kenapa paman tidak membantu biaya ayah dan bunda mu, karna paman di ancam." ujar paman bagus memberani kan diri


Zimah menatap paman nya menunggu jawaban dari pria paruh baya itu.


"Mereka mengancam akan memberi tau ayah mu dan akan menghancur kan bisnis paman yang sudah paman jalani tanpa sepengetahuan ayah mu." pria paruh baya itu semakin menunduk dalam tidak berani memandang Zimah.


Zimah bengong menatap paman nya tak percaya.


"Maaf, karna keegoisan paman, kamu kehilangan orang tua mu."


Zimah tidak menggubris omongan paman nya, dia memeluk Aqlan yang sedari tadi setia duduk di samping nya. Zimah menumpahkan tangis nya dalam dekapan suami nya.


Aqlan mengusap belakang istri nya membiar istri nya menumpah kan semua kesedihan nya, sehingga membuat baju Aqlan basah oleh air mata Zimah, tapi Aqlan tidak memperduli kan itu.


Bayangan saat kedua orang tua nya menahan sakit, Zimah minta pertolongan dengan orang-orang yang ia kenal, namun tidak ada yang menggubris, dan puncak kehancuran Zimah ketika kedua orang tua nya menghembus kan nafas terakhir.


Dunia Zimah hancur, melihat mata dua orang yang amat berarti dalam hidup nya tertutup untuk selama-lama nya.


Adik-adik nya yang menangis pilu di tenang kan oleh bik Dinda. Satu-satu nya keluarga yang mendekap nya dengan kasih sayang.


"Istighfar, jangan sampai emosi menguasai mu." bisik Aqlan di telinga istri nya, karna menyadari kepalan erat di tangan Zimah.


Zimah mengikuti perkataan suami nya, melepas kan kepalan tangan dan melepas pelukan nya, dia memandang suami nya sendu. dan tersenyum, bersyukur Aqlan selalu ada dan mengingat kan nya.


"Zimah mau pulang" ucap nya pada Aqlan, tanpa menoleh paman yang sedari tadi memandang nya sendu.


Aqlan mengangguk dan menarik istri nya untuk berdiri.


"Zimah" panggil perempuan yang sedari tadi berdiri, sebelum sepupu nya itu melangkah keluar.

__ADS_1


__ADS_2