
Aqlan melihat istri nya yang baru keluar dari kamar mandi memakai pakaian tidur, hingga Zimah sudah berbaring di sebelah nya Aqlan tetap menatap istri nya yang tampak lebih diam setelah tadi pulang dari pondok putri.
"Kamu kenapa?"
Zimah menggeleng sambil tersenyum.
"Kamu sakit?"
Zimah menggeleng lagi.
"Yakin?"
"Iya mas, aku gak apa-apa."
Aqlan mendekati Zimah, lalu memeluk nya.
"Kalau ada apa-apa bilang ya."
"Iya mas."
"Sekarang kita tidur udah malam"
Zimah mengangguk dan segera menutup mata nya karna mendapat usapan dari Aqlan di kepala.
...----------------------------------------...
Zimah berulang kali menghela nafas nya pelan untuk menghilang kan ke gugupan nya.
Ini bukan pertama kali nya Zimah makan bersama keluarga Aqlan. Tapi makan kali ini ada saudara-saudara dari Ayah mertua nya.
Zimah tidak tau apa tanggapan dari bibi dan paman suami nya ketika nanti melihat nya untuk pertama kali.
Aqlan menggenggam tangan istri nya menuju ke meja makan yang sudah ramai keluarga nya.
Aqlan menarik kursi di sebelah umi nya untuk istri nya duduk, lalu menarik kursi untuk nya di sebelah istri nya.
Semua mata tertuju pada Aqlan dan Zimah dari sedari mereka memasuki ruang makan, terutama tiga orang paruh baya yang berbeda jenis, memandang Zimah dengan intens, Zimah memberi kan senyuman untuk ketiga orang paruh baya yang Zimah yakin paman dan bibi suami nya.
"Ini mantu ku istri nya Aqlan" umi memperkenal kan Zimah pada paman dan bibi nya Aqlan.
"Maa syaa Allah. Ayu tenan istri mu le." puji wanita paruh baya yang terlihat paling muda di antara orang paruh baya lain nya, yang ada di ruang makan.
Aqlan tersenyum menanggapi pujian bibi nya, tapi mata tertuju menatap istri nya yang memang selalu terlihat cantik.
"Siapa nama mu ndok?" lanjut nya bertanya.
"Zimah tante." jawab Zimah sopan, bingung ingin memanggil apa.
"Panggil budeh Sarah aja, seperti suami mu." kata nya dengan senyuman
__ADS_1
Zimah balas tersenyum. "Iya budeh."
"Ini pakde dan budeh nya Aqlan juga, mereka kembar." Zimah mengangguk dan memberi senyum pada budeh dan pakde suami nya yang sedari tadi diam menatap nya.
"Panggil aja budeh Salma dan pakde Salim."
Zimah tersenyum membalas budeh budeh Sarah yang sangat ramah dan antusias memperkenal kan saudara nya.
"Sekarang kita mulai makan."
Semua nya mengangguk mendengar perintah mbah lanang, dan langsung mencuci tangan.
Zimah melihat mbah memimpin do'a makan, setelah nya mereka mulai makan dengan khidmat, tanpa ada dentingan suara sendok atau garpu yang bersahutan dengan piring.
"Kata nya orang tua ning Ais mau datang?" tanya budeh Salmah memulai obrolan
Saat ini mereka berada di ruang tamu, setelah makan tadi umi Halimah dan abi Ahmad meminta mereka untuk berkumpul.
"Iya" jawab mbah lanang singkat
"Apa mau bahas perjodohan Aqlan dan ning Ais"
Semua nya bungkam mendengar pertanyaan dari budeh Salmah.
Zimah diam, hati nya tiba-tiba berdegub terasa nyeri ketika mendengar nama yang pernah ia dengar dari dua orang santri putri kemarin, dan mendengar perjodohan yang pernah ia bahas dengan suami nya.
Hingga tidak menyadari semua orang menatap nya.
Zimah tersadar merasakan genggaman suami nya, menatap suami nya lalu melihat di sekitar nya lalu tersenyum menyadari ia sedang di tatap.
"Ahmad dan Halimah rencana nya ingin mengada kan acara walimahan Aqlan dan Zimah di pesantren ini, biar semua orang tau kalau mereka suami istri." abi Ahmad mengubah topik, memberi tau abah nya dan yang lain.
"Acara?" tanya Aqlan dan Zimah serentak.
"Iya. ini baru rencana umi dan abi mu, mumpung kita ngumpul, jadi sekalian aja kita beri tau." umi mewakili suami nya
"Aqlan sih setuju." Aqlan bersemangat dan memandang istri nya.
"Apa sebaik nya jangan dulu mas, mbak?, keluarga nya ning Ais belum tau loh tentang pernikahan Aqlan." kata budeh Salmah mengusul kan.
"Biar besok mas beri tau mereka." jawab abi Ahmad tegas
"Pasti mereka sedih mas, mereka tau nya Aqlan di jodohin sama ning Ais, kalau tiba-tiba denger Aqlan nya sudah menikah apa mereka gak sakit hati.?"
Semua nya bungkam.
Zimah diam mendengar perkataan budeh Salmah.
"Kalau Aqlan mau menikahi ning Ais sih mungkin mereka terima, toh ini perjodohan dari abah kita dan Almarhum Abah nya kiyai Abdurrahman."
__ADS_1
Mereka semua menatap Salmah tak percaya.
"Aqlan gak akan menikah lagi, istri Aqlan cuma satu, yaitu Zimah." jawab Aqlan dingin dan tegas menatap budeh nya dengan sangat datar.
Menarik dan menghela nafas pelan. "Aqlan sama Zimah izin undur diri dulu."
Walaupun dalam keadaan emosi dengan perkataan budeh nya, Aqlan berusaha menjaga adab nya.
Aqlan menarik tangan Zimah menuju kamar mereka, Zimah masih diam dengan mengikuti langkah suami nya.
"Itu sudah menjadi pilihan Aqlan." abi Ahmad menatap adik nya dengan tatapan sulit di arti kan.
Salma yang di tatap langsung menunduk kan kepala nya, dia tau apa arti tatapan dari mas nya.
"Sesuatu yang baik harus segera di laksana kan, lakukan apa yang menurut mu baik, abah yakin kamu tidak gegabah dalam mengambil keputusan." mbah yang sedari tadi diam, bersuara mendukung keputusan sang anak.
Abi Ahmad mengangguk membalas tatapan sang ayah.
...---------------------------------------------...
"Astaghfirullah."
Aqlan berulang kali menghela nafas dan beristighfar setelah sampai di kamar tadi
Zimah sedari tadi diam duduk di tepi kasur, menunjukan raut yang tidak bisa di gambar kan.
Aqlan bangun dari duduk nya di sofa dan melangkah mendekati istri nya, yang menunduk.
Duduk perlahan di samping istri nya, Aqlan memegang sebelah pundak Zimah dan memegang dagu Zimah lalu di angkat nya perlahan. Menatap wajah istri lekat-lekat.
Zimah tersenyum melihat Aqlan yang menatap nya.
"Kenapa?" tanya Zimah seperti tidak terjadi apa-apa
"Kamu nangis?" bukan nya menjawab, Aqlan malah bertanya balik.
"Emang nya ada air mata aku yang keluar?" tanya Zimah memegang kedua mata nya bergantian.
"Tidak semua nya menangis mengeluarkan air mata, air mata bukan lambang kesakitan."
Zimah bungkam
"Mas minta jangan terlalu di fikir kan omongan budeh Salmah ya" pinta Aqlan berharap
Zimah mengangguk. "In syaa Allah mas."
"Mas tidak akan memberi janji untuk mu, seperti yang kamu mau, tapi mas akan selalu berusaha menjaga apa yang sudah mas miliki." Aqlan membelai pipi istri nya lembut.
"Zimah tidak akan mundur walau di luar sana banyak perempuan-perempuan yang lebih dari Zimah. Zimah akan mundur jika mas yang meminta, atau ada nya poligami."
__ADS_1
Zimah tersenyum tipis.
Aqlan menggeleng kuat tak terima langsung memeluk istri nya erat.