Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Tentang Zain


__ADS_3

Saat ini Zimah berada di sebuah ruangan di ndalem, ruangan privasi yang tidak boleh siapa pun masuk kecuali atas izin dari keluarga ndalem.


Zimah duduk di samping suami nya, menatap Zain yang duduk di depan mereka yang terhalang meja bulat di tengah-tengah mereka.


"Jawab kakak Zain, kenapa selama kakak di sini kamu gak mau nemuin kakak, padahal kakak sudah mengabari kamu, kalau kakak akan kepesantren sama suami kakak, Apa kakak ada salah sama kamu. Sehingga membuat kamu enggan bertemu kakak?." Zimah menatap Zain sedih dan kecewa.


Zain menunduk tidak sanggup melihat tatapan kecewa dari kakak nya.


"Jawab Zain." perintah Zimah tegas


Aqlan diam tanpa mau ikut campur masalah istri dan adik ipar nya.


"Karna Zain bukan adik kakak."


Zimah terkejut menatap Zain yang sudah balik menatap nya, pancaran mata yang kosong membuat hati Zimah sakit melihat nya.


"Siapa yang bilang, kamu adik kakak Zain" ucap Zimah meyakin kan


"Apa kakak ingat perkataan paman sebelum ijab qobul kakak dan gus Aqlan.?"


Zimah mengangguk


Aqlan tetap diam.


"Paman bilang tidak ada yang bisa menjadi wali kakak kecuali paman." Zain menarik dan menghembus nafas nya pelan. "Karna aku anak angkat.


Zimah terkejut lagi, menggeleng tak percaya mendengar perkataan Zain.


" Kakak akan menelpon paman, pasti paman bohong, dari dulu paman dan keluarga gak suka sama kita, mereka selalu menjatuh kan mental kita, termasuk mentak kakak."


Perkataan Zimah penuh emosi tatapan nya menyirat kan luka yang dalam, Aqlan yang menyadari langsung menggenggam tangan sang istri untuk menenang kan.


"Istighfar" ucap Aqlan setengah berbisik


Zimah menutup kedua mata nya mengikuti perintah suami nya.


"Kemarin aku juga mikir gitu, aku sempat gak percaya, karna dulu Almarhum ayah dan Almarhumah bunda gak pernah membeda kan aku dan saudara yang lain nya."


Zimah membenar kan apa yang di kata kan Zain, sedari dulu orang tua nya selalu adil terhadap mereka, hingga akhir hayat kedua nya.


"Aku di angkat sewaktu masih bayi saat bunda melahirkan lia, bunda mengatakan jika aku dan lia kembar" jelas Zain menatap sang kakak sendu.


"Apa kamu percaya begitu saja?"

__ADS_1


Zain mengangguk lemah.


"Karna bik Dinda membenar kan nya" kata Zain dengan suara parau, menahan tangis


Zimah menggeleng frustasi, dia benar-benar tidak bisa percaya apa yang barusan di dengar nya.


Aqlan mengusap bahu istri nya, dia juga terkejut mendengar kebenaran yang sedari kemarin menjadi pertanyaan di benak nya, kenapa paman dari istri nya sangat mengotot ingin menikah kan ia dan Zimah segera, walaupun Sewaktu hari akad nya, Zain menawar kan diri untuk menjadi wali Zimah tapi di tolak, beliau marah dan segera mengajak Zain ke ruang keluarga.


Menyisa kan Aqlan dan keluarga nya, dan Zain kembali di hadapan mereka dengan wajah yang suram dan tatapan kosong.


Zimah bangkit dari duduk nya, melangkah menghampiri Zain, dan duduk, langsung memeluk Zain, Zimah tersedu-sedu dalam dekapan Zain.


"Kakak gak perduli kalau kamu anak angkat ayah dan bunda atau bukan, yang harus kamu tau, kamu tetap adik kakak, kesayangan kakak, pahlawan kakak, kita di besar kan dengan kasih sayang yang sama dari ayah dan bunda, di dalam diri kamu mengalir asi yang sama seperti kakak, lia, dan icha." Zimah mengusap pipi Zain lembut menatap dalam mata adik nya yang tampak terpuruk.


Air mata yang sedari tadi Zain tahan akhir nya runtuh ketika mendengar perkataan Zimah yang tulus.


Zain mengangguk dengan senyuman


"Terimakasih kak."


Zimah tersenyum


"Kakak gak mau kamu menjauh dari kakak seperti kemarin." peringat Zimah, Zain mengangguk.


"Sekarang kamu kembali ke pesantren, jangan di fikirin masalah ini, anggap saja kamu gak pernah mendengar nya." pinta Zimah


"Zain balik dulu kak, gus, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam"


Setelah mendengar jawaban dari kakak dan guru nya, Zain langsung melangkah keluar.


Zimah menatap kepergian adik nya dengan sedih, dia tau tidak mudah untuk Zain melupakan kebenaran ini, Zimah merasakan kesedihan adik nya itu.


"Kenapa bisa begini" ucap Zimah menatap suami nya


Aqlan diam menatap istri nya.


"Kenapa paman cerita nya ke Zain, jika ingin memberi tau rahasia ini, cerita saja ke aku, jangan Zain, biar aku bisa menutup rapat-rapat rahasia ini." Zimah mengeluar kan unek-unek nya, menatap Aqlan dengan sendu.


Aqlan menghampiri dan duduk di sebelah istri nya, merangkul istri nya yang tampak kacau.


"Serapat apapun kamu menyimpan nya pasti akan ketahuan, lebih baik Zain mengetahui sekarang, dari pada nanti, yang akan membuat nya semakin hancur." nasehat Aqlan

__ADS_1


Zimah diam mendengar kan sambil menahan tangis nya


"Jika ingin menangis, menangis saja, jangan di tahan."


Zimah menumpah kan air mata nya langsung memeluk Aqlan, kebenaran ini membuat nya kembali mengingat masalalu, saat masih ada orang tua nya, dari bahagia hingga terpuruk, dari memiliki semua nya hingga tidak memiliki apa-apa, dan mereka tetap bersama mendapat kan kasih sayang yang sama walaupun di jauhi semua orang yang dulu nya menganggap mereka ada.


"Tugas kita sekarang merangkul Zain agar tidak mengingat kesedihan nya." kata Aqlan karna mendengar suara tangis istri nya yang sudah mereda.


Zimah mengangkat kepala nya menatap Aqlan dan mengangguk.


"Terimakasih mas" ucap Zimah tersenyum


"Sama-sama" balas Aqlan dan mencium kening istri nya.


Zimah menutup mata, menikmati sentuhan suami nya yang menenang kan.


...----------------------------------------...


"Assalamu'alaikum warohmatullah"


Aqlan mengucap salam dua kali menoleh ke kanan dan ke kiri setelah nya mengusap wajah dengan kedua tangan, lalu membalikan badan menghadap istri nya.


Aqlan mengulur kan tangan kanan dan di terima Zimah, Zimah menciun tangan suami nya dengan khidmat.


Mereka berdzikir dan berdo'a sehabis sholat.


"Sekarang kita ngaji ya." ajak Aqlan


Zimah mengangguk lalu berdiri melangkah mengambil qur'an dan meja kecil.


Zimah duduk di hadapan Aqlan seperti seorang murid yang ingin belajar.


"Mas mau dengar kamu ngaji." Zimah mengangguk ragu dan gerogi, karna ini pertama kali nya dia mengaji di depan Aqlan.


"Aku malu mas nanti banyak salah nya." Zimah menatap Aqlan memelas


"Kalau salah mas benerin sayang."


Bukan nya tenang, Zimah malah semakin gerogi mendengar perkataan manis Aqlan yang lembut.


Zimah mulai membaca qur'an dengan Aqlan yang mendengar sesekali membetul kan bacaan istri nya yang salah.


Aqlan mencubit hidung mancung istri nya pelan.

__ADS_1


"Lumayan bagus loh bacaan kamu." puji Aqlan


Zimah tersenyum malu-malu.


__ADS_2