INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
01. Maaf ku harus pergi


__ADS_3

Seorang pria berjalan gontai karena lelah fisik dan fikiran memasuki kamarnya memikirkan sang istri yang kini entah kemana.


pandangannya tertuju pada kertas yang di tindih oleh vas bunga kesukaan istrinya di atas meja, matanya menyipit tajam memandangi lalu tangannya bergerak lemah mengambil kertas putih tersebut, perlahan ia membukannya dengan tangan bergetar saat melihat tulisan yang terterah di atasnya.


'Untukmu yang membaca tulisan ini ... suamiku tercinta.


Kamu pasti mencariku dan menemukan kertas ini. sudahilah, janganlah mencariku lagi suamiku, aku begitu sangat mencintaimu dan kutau kamupun memiliki perasaan yang sama sepertiku, janganlah membuat dirimu lelah dengan mencariku.


Aku tidak sedang bersamamu jika lelah mencariku, untuk menghilangkan lelahmu mas.


Maaf ... maafkan keegoisanku ini mas. Tapi aku begitu lelah, lelah dengan beban batin ini. Aku tau, mas pasti tidak bisa memilih antar aku dan mama, maka jalan ini adalah yang terbaik untuk menghilangkan resahmu akan pilihan itu.


Jagalah dengan baik putri kita mas, jadilah Ayah serta sosok Ibu untuknya, dan tolong sampaikan maafku padanya karena rasa egoisku ini. Ina ada bersamaku mas, aku akan mempertemukan kalian suatu saat nanti, tapi sekarang aku harus bersamanya, hanya Ina yang bisa menjadi obat rinduku pada kalian berdua, aku sangat menyayangi kalian.


Maaf ....


Waalaikumussalam.


Dariku, Istrimu'


Tes. Tes.


Tanpa terasa air mata berjatuhan membasahi kertas putih bertinta hitam yang ada di gengaman yang kian mengerat.


"Ayah."


Pria itu mengangkat kepala dari tertunduk mendengar suara yang berasa dari pintu, matanya memanas dengan semua ini apa lagi melihat kedatangan putrinya yang tengah mendekap boneka dengan mata polos memandang dirinya.


Seorang Ayah itu mengusap air matanya dengan cepat lalu tersenyum dan mengampiri putri kecilnya.


15 tahun kemudian ....


"Mak! Mak dimana?!" teriakan seorang gadis seakan memenuhi lahan perkebunan kecil tersebut, kakinya terus melangkah sembari terus mencari titik keberadaan sang Ibu saat matahari bahkan belum menampakkan sinarnya.


Embun pagi pada dedaunan seakan ikut menyapanya disetiap pergerakan gadis yang berteriak itu.


"Mak!" panggilnya lagi yang selalu menerbitkan senyum sayang pada wanita paruh baya yang berada di balik pagar berupa bongkahan bebatuan yang tersusun rapi memanjang dan menjulang 100CM ke atas.


"Ina! Mak' di sini!" teriak wanita paruh baya membalas teriakan sang putri yang semakin dekat dengannya dan terhalang oleh pagar pembantas.

__ADS_1


Mendengar suara yang dikenalnya, gadia itu berjalan cepat memastikan keberadaan Ibunya. Menyadari ternyata sang Ibu berada di balik pagar, gadis itu berjalan lagi mengikuti pagar memanjang itu untuk menemukan pagar yang bongkahan batunya telah dibuka sebagian untuk bisa berada di wilayah keberadaan Ibunya.


Dialah Inayah, gadis yang tumbuh dan besar di sebuah Desa bersama Ibunya yang bernama Dahlia. Gadis yang hampir mencapai umur 17 tahun itu berlari ceria setelah berada di balik pagar yang sama bersama Dahlia.


"Sudah banyak Mak'? Ina bantu cabutin sebelah sana ya?" kata Inayah setelah berada di dekat Dahlia.


"Tidak perlu Ina. Biar Mak' yang mencabut singkong-singkongnya, lebih baik kamu bawa saja singkong yang sudah tercabut itu ke pasar."


Inayah mengurungkan niatnya saat akan mencabut umbi singkong yang masih tertanam dalam tanah, ia beralih mengisi singkong dalam keranjang agar lebih mudah dibawanya nanti.


"Ini mau di antar ke siapa aja Mak'" tanyanya setelah beberapa keranjang sedang telah terisi oleh singkong.


"antar ke Mbak Delsi satu keranjang saja katanya, tiganya antarkan ke rumah temanmu yang katanya akan ada acara besok itu. Sisanya biar Mak' yang bawa sendiri ke pasar," ucap Dahlia pada Inayah tidak ingin membuat putrinya terlambat ke sekolah bila harus mengantarkan sisanya juga ke pasar.


"Iya Mak'. Kalau selesai antar yang empat keranjangnya ini masih ada waktu, biar aku saja yang bawa lainnya ke pasar. Biar Mak' tinggal jual saja," kata Inayah dengan salah satu keranjang singkong sudah berada di atas kepalanya, setelah berkata demikian, Inayah segera pergi dengan cepat mengejar waktu sebelum matahari terbit.


itulah rutinitas Inayah disetiap paginya pada hari sekolah, jika bertepatan dengan hari libur, Inayah akan membantu Dahlia untuk menjajakan isi kebun mereka ke pasar bersama Dahlia atau juga seorang diri bila Dahlia ada kepentingan lain.


"Sudah Nak. Terimakasih, sekarang Ina pulang dan bersiap untuk ke sekolah, katanya hari ini adalah hari ujian terakhir kan?"


sekarang mereka sudah berada di pasar setelah dari kebun dan Inayah mengantarkan singkong yang telah terbeli.


"iya Mak', Ina pergi dulu."


setelah Inayah pergi, Dahlia mulai menata dagangannya untuk di jual dengan berbagai porsi yang ditentukan.


Inayah berjalan dengan langkah cepat karena matahari mulai terlihat sedari ia mengantar barang dagangan ke pasar tadi, dan sekarang sinarnya mulai penuh bersinar di ufuk timur.


jarak pasar dan rumahnya bisa memakan waktu 20 menit bila berjalan biasa. jadi, dengan mempercepat langkahnya Inayah berharap bisa sampai dengan cepat lalu mandi dan berangkat ke sekolah.


"Assalamualaikum," ucap Inayah setelah pulang sekolah, Dahlia yang mendengar salam putrinya menjawab cepat.


"Waalaikumussalam!" teriaknya karena berada di belakang rumah tengah mengangkat air di sumur yang ada di belakang.


Di Desa itu, rata-rata semua rumah memiliki sumur sendiri atau juga mengambil air yang ada di sumur tetangga.


"Ina pulang Mak'!" teriaknya agar di dengar sang Ibu.


Inayah lalu memasuki kamar kecilnya yang berukuran 2×2 M persegi untuk berganti pakaian. Setelah selesai, Inayah keluar untuk membantu Dahlia memasak untuk makan siang mereka. Biasanya Inayah langsung makan setelah pulang sekolah karena Dahlia sudah memasak, tapi karena ujian dan pulang cepat, Dahlia belum memasak karena baru pulang dari pasar.

__ADS_1


"Inayah."


Inayah menoleh ke samping mendapati Dahlia ada di sana.


"Mak' mau bicara," kata Dahlia.


"Iya Mak'."


Inayah melirik benda yang Dahlia pegang sebelum ikut duduk bersama Ibunya di atas tikar. Rumah mereka sangat sederhana, dengan ukuran 4×6M membuat mereka berdua nyaman tinggal di rumah itu.


"mau bicara apa Mak'?" tanyanya setelah duduk berhadapan.


"Tidak lama lagi Ina akan lulus sekolah, kamu harus ke Kota untuk melanjutkan pendidikanmu."


Dahlia tersenyum dan mengelus rambut sang putri yang di ikat ekor kuda dan menjulang lurus serta panjang.


"Tapi kalau Kuliah biayanya mahal Mak'."


Inayah tidak ingin merepotkan Ibunya dengan membiayai kuliahnya yang bisa mengeluarkan uang banyak. Dahlia sudah kesulita dengan hidup mereka berdua, bagaiman lelahnya ia jika Inayah menambahkan beban yang lebih berat lagi.


Lagi-lagi Dahlia tersenyum mendengar suara berat Inayah, ia lalu memasukkan tangannya dalam kantung baju dan mengeluarkan isinya.


"Ibu cuma punya uang lima juta, ini untuk pendaftaran kuliah kamu, sisanya untuk ongkos dan biaya beberapa hari di sana."


"Tapi Mak', itu pasti semua tabungan yang Mak' punya, dan lagi, aku tidak mau pergi jauh dari Mak'. Biaya kuliah juga harus terus di bayar setiap semesternya."


Inayah tidak mau mengambil uang yang Dahlia sondorkan padanya.


"Mak bisa jualan lagi untuk Mak' sendiri. Uang ini Inayah yang simpan."


"Daftarnya masih lama Mak'_"


Dahlia memberikan uangnya dalam genggaman Inayah dengan sedikit paksaan sampai Inayah tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Dan juga. Ini untuk Inayah, tapi bukanya setelah Ina sampai di Kota, jangan di sini!" peringat Dahlia dengan sedikit penekanan mengharuskan Inayah mengangguk pelan memegang sebuah kotak persegi panjang yang diberikan padanya, walau di benaknya penuh tanya akan isi kotak itu, tapi Inayah tidak berani melanggar ucapan sang Ibu yang memintanya untuk di buka setelah sampai ke Kota nanti.


"Sampai di Kota, Ina tidak perlu memusingkan biaya kuliah. semuanya akan baik-baik saja setelah Ina sampai di sana."


"Iya Mak'," jawabnya dengan pelan, merasa berat akan berpisah lama dengan Dahlia. Dalam hati Inayah bertanya-tanya maksud dari ucapan Dahlia.

__ADS_1


__ADS_2