INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
02. Pergi ke Kota


__ADS_3

Kakkura'aoo.


Samar-samar telinga seorang gadis menagkap suara ayam yang berkokok dalam tidurnya, mata Inayah perlahan terbuka pelan saat kesadaran mulai mengusik jiwanya.


Inayah menyibak sarung serta melipatnya dan menyusun bantal guling yang ia kenakan, tangannya bergerak mengucek mata agar rasa kantuk melayang jauh, di ambilnya sisir berwarna biru yang terletak di atas meja kecil yang menjadi tempat peralatan pribadinya, Inayah mulai menyisir rambutnya yang telah kusut setelah bangun tidur dengan penuh hati-hati agar rambut panjangnya tidak rontok percuma.


"jam berapa sih?" tanyanya pada diri semdiri.


Setelah menyisir dan mengikat rambutnya, Inayah mengambil telepon tombol bermerek Nokia yang menjadi alat komunikasi mereka, ia memencet warna merah pada tombol telepon itu untuk menyalakan telepon agar bisa melihat waktu.


"Sudah hampir subuh," gumamnya lalu berdiri untuk pergi mensucikan diri.


"Mak'!" panggilnya pada Dahlia.


Saat membuka pintu kamar Dahlia, wanita paruh baya itu sudah tidak ada dalam kamarnya. Inayah hanya melanjutkan langkahnya, karena ia tahu dan sering terbiasa dengan Dahlia yang pasti sudah pergi menuju kebun di jam seperti ini.


Inayah membuka pintu dan mulai menuruni tangga sambil berpegangan pada salah satu kayu yang memang disediakan untuk berpegang bila akan naik dan turun tangga.


Setelah sampai di tanah, kakinya mulai melangkah mendekati sebuah drum yang ada di bawah kolong untuk ditimba airnya. Setelah Inayah berwudu, ia kembali ke atas rumah dan membentangkan sajadah untuk memulai shalatnya.


Seperti biasa, setelah selesai dengan ibadahnya Inayah selalu pergi ke kebun untuk menyusul Dahlia yang sudah pergi lebih dulu.


Dalam perjalanan, tenggorokkan Inayah serasa haus, langkahnya ia belok menuju rumah kecil yang ada di kebun untuk meminum air dan menghilangkan hausnya.


"Alhamdulillah," ucapnya bernafas lega setelah dinginnya air melewati tenggorokkannya.


Sore ini matahari tidak bersinar terik, awan hitam nampak menghiasi awan biru yang jauh di atas menutupi keindahannya.


Tiba-tiba guntur bergemuruh mengagetkan Inayah dari tidur siangnya dan seketika hujan turun.


"Hujan!" teriaknya dengan tergesa keluar dari rumah.


Dengan cepat Inayah mengangkat semua jemurannya yang tergantung di jemuran. Setelah sampai di atas rumah, barulah Inayah bernafas lega dan melipat semua pakaian yang telah kering, terutama seragam sekolahnya yang sudah menemaninya selama menempuh pendidikan. Inayah melipat dengan rapih seragamnya dan memasukkannya ke dalam plastik merah yang juga menjadi tempat seragamnya waktu SD dan SMP lalu kembali memasukkannya ke dalam lemari.


Saat akan melanjutkan lipatan pada kain yang lain, Dahlia datang dan ikut duduk di samlingnya.


"Ina akan ikut ke Kota bersama Mbak Darsih. Ibu sudah berbicara dengannya."


Inayah menoleh ke samping mendengar ucapan Dahlia.


"Kapan Mak'?" tanyanya.


"Katanya minggu depan."


"Ina perginya sendiri saja Mak', tapi jangan minggu depan. Dekat pendaftaran dulu," ucap Inayah seakan enggan berpisah dengan sang Ibu, Minggu depan terlalu cepat untuknya, paling tidak beberapa minggu lagi.


Dahlia menggeleng dan berkata.

__ADS_1


"Sebaiknya minggu depan saja, ini adalah perjalanan pertama Ina pergi ke Kota. Ibu tidak akan cemas jika Ina pergi bersama Darsih yang sudah terbiasa dengan keadaan Kota, Darsih bisa menunjukkan jalan pada Ina, yang Ina tidak tau," jelasnya panjang lebar begitu khawatir mendengar ucapan putrinya yang ingin pergi sendiri. Bukan apa-apa, perjalanan ini adalah pengalaman pertama Inayah meninggalkan desa di luar Kecamatan. Dahlia begitu mengenal bagaimana maraknya suasana Kota dengan berbagai peristiwa dan kejadian.


"Baiklah Mak'," ucapnya lirih dengan detak jantung yang seakan melemah.


"Inayah! Inayah! Mbak Inayah!"


Seorang bocah berkepala botak berlari kencang sambil meneriakkan nama Inayah. Penghuni pasar sampai menoleh kepada bocah botak tersebut rantaran kerasnya suara saat berteriak.


"Terimakasih," ucap Inayah setelah bertransaksi dengan salah seorang pembeli, setelah pembeli itu pergi, bocah botak bernama Dedi itu menghampiri Inayah dengan terengah-engah.


"Hah. Hah. Mbak Ina, Mak' .... Mak'. Hah," kata bocah itu dengan ngos-ngosan.


"Mak'nya Mbak Ina, hah," lanjutnya dengan masih tersengar lantaran paru-parunya berusaha menghirup dan mengeluarkan oksigen dengan cepat.


"Atur nafas dulu, Dedi. Sini duduk."


Inayah menarik Dedi untuk duduk dan mengatur nafasnya, setelah dirasa Dedi telah bernafas normal, Inayah mulai mengajukan pertanyaan.


"Kamu dari rumah sampai sini terus berlari?" tanyanya.


"Iya Mbak."


"Memangnya ada apa Dedi, kamu bisa jalan pelan-pelan tanpa berlari."


Inayah pernah mencoba berlari dari pasar sampai rumah, dan hasilnya adalah ... tidak sampai setengah jalan, seakan Inayah tidak sanggup lagi. Sekarang ia mengerti mengapa Dedi tersegal-sengal seperti tadi.


"Bi Darsih nyuruh untuk nyampeinnya dengan cepat ke Mbak Inayah, makanya aku berlari sampai sini."


"Mak'nya Mbak Inayah jatuh dari tangga," ucap Dedi.


"Apa!"


Jantung Inayah naik turun dengan cepat mendengar ucapan Dedi.


'Mak'


"Dedi. Mbak minta tolong, tolong jagakan jualannya dulu. Mbak mau lihat kondisi Mak'nya Mbak dulu," ujarnya dengan tergesa-gesa dan memakai sandalnya yang selalu ia lepas takut menginjak barang dagangan.


"Iya Mbak. Ini harganya berapa Mbak!" teriak Dedi di akhir kata karena Inayah sudah pergi berlari.


"Terserah, kamu atur saja!" balas Inayah juga dengan teriakan, ia tidak menghiraukan pandangan penjual lain dan pembeli yang mendengar dan melihatnya berlari dengan membabi buta.


'Ya Allah, perasaan apa ini?'


Inayah sudah berada di depan rumah dengan nafas tersengal, setelah melepaskan sendalnya Inayah langsung menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa.


Setelah sampai di atas, Inayah terdiam di depan pintu, kakinya seakan berat untuk melanjutkan langkahnya saat banyaknya warga sudah memenuhi ruangan rumahnya.

__ADS_1


Jantung Inayah berdegup kenjang melihat sebuah tumpukan yang di lapisi oleh sarung dan dikelilingi oleh banyak orang.


"Ina," panggil Darsih saat melihat kedatangan putri temannya, ia berdiri dan menghampiri Inayah di depan pintu untuk menguatkan gadis yang sudah di banjiri air mata itu.


"Bi_bibi, i_ini?"


Inayah tergagap saat bertanya pada Darsih.


"Ina. Ibu mu jatuh dari tangga, dan tetangga menemukannya sudah tidak bernafas lagi."


Darsih ikut sedih melihat keadaan Inayah, ia juga sangat merasa kehilangan dengan meninggalnya teman yang ia kenal dari 15 tahun yang lalu.


"Mak'!"


Inayah ambruk terduduk di samping kepala Dahlia.


Tangisannya sangat memilukan terdengar di telinga parah pelayat.


"Jangat tinggalkan Ina sendiri Mak'. Ina tidak punya siapapun selain Mak' lagi," pintanya sambil menggoyangkan bahu wanita yang telah terdiam kaku tak bernyawa.


"Mak'."


"Ina. Relakan Ibumu, biarkan dia pergi dengan tenang dengan kerelaanmu Ina," lirih Darsih menahan isak tangis, Inayah hanya terdiam dan terus memandangi wanita yang kini tengah berbaring dengan mata tertutup rapat.


'Kenapa Mak'? Ina hanya punya Mak' di dunia ini ....


Sampai pemakaman selesai dengan lancar, Inayah terus terdiam tanpa berbicara dengan air mata yang tiada henti mengaliri pipinya.


"Ina, kamu makan dulu. Nanti kamu sakit kalau tidak makan dan terus menangis."


Pelayat lain telang pulang, hanya Darsih yang masih tinggal sampai menjelang malam menemani Inayah.


Melihat makanan dalam piring yang Darsih bawakan, Inayah tidak ingin memakannya. tapi, kalau dia sampai sakit bisa membuat Darsih kerepotan. Teman Ibunya itu sudah seperti Bibi yang sesungguhnya untuknya selama ini, Darsih sangat perhatian padanya. Setiap Darsih lulang dari Kota, tidak pernah sekalipun Darsih melupakan oleh-oleh untuknya.


4 hari sudah semenjak Dahlia dikebumikan, Inayah mendongak menatap pintu rumahnya yang telah ia kunci bersama sebuah tas dalam genggamannya.


'Hari ini aku akan pergi ke Kota. Mak' Ina merindukanmu'


"Ina. Ayo, mang Darto sudah mau berangkat," ajak Darsih memaksa Inayah menolehkan kepalanya pada Darsih.


"Iya Bi."


Inayah memandang rumah itu sekali lagi lalu berbalik mengikuti langkah Darsih untuk pergi ke Kota. Inayah tidak berharap lebih untuk pendidikannya setelah sampai ke Kota nanti, dengan perginya ia ke Kota, Inayah berharap bisa memulai hidup baru tanpa adanya sang Ibu disisinya seperti selama ini.


"Apa sudah tidak ada yang tertinggal?" tanya Darsih saat mereka siap untuk memasuki mobil.


Inayah ingin menjawab bila Dahlia yang tertinggal, inayah ingin mengatakan bila ia ingin pergi bersama Dahlia ke Kota, tetapi itu adalah suatu hal yang tidak akan mungkin bisa terjadi.

__ADS_1


"Sudah semua Bi." jawabnya.


"Baiklah, kita masuk sekarang. Tasnya Ina simpan di luar saja, biar mang Darto yang memasukkannya dalam bagasi," kata Darsih, Inayah patuh dan memasuki Mobil meninggalkan barangnya di luar selain tas jinjing yang sering ia gunakan untuk ke sekolah.


__ADS_2