
Perjalanan yang menurut Inayah sangatlah panjang akhirnya berkesampaian pada tujuan mereka, sepanjang perjalanan Inayah hanya diam dalam duduknya tanpa berminat memandangi perubahan yang berangsur mulai terlihat semakin jauhnya mobil meninggalkan Desa.
"Ina. Kita sudah sampai," tegur Darsih menyadarkan Inayah dari kebengongannya.
"Ayo kita turun."
"Iya, Bi."
Darsih dan Inayah perlahan mulai menuruni mobil Mang Darto satu-persatu. Saat menginjakkan kaki pada tanah Kota dan melihat keadaan sekitar, barulah Inayah sadar jika ia tengah berada di tempat yang begitu asing baginya. Suasana Kota dan Desa sangatlah berbeda dari segi manapun. Jika di Desa ia sering melihat rumah panggung yang menjulang tinggi di bopong oleh tiang-tiangnya, maka di sini Inayah di suguhi dengan rumah-rumah yang hampir sama rata bersama tanahnya.
Di Desa, rumah-rumah seperti ini memang tidak asing, tetapi rata-rata rumah-rumah yang berjejer masih dimenangkan oleh rumah panggung, hanya orang yang terbilang beradalah yang bisa membangun rumah yang seperti penglihatannya sekarang.
"Ina. Ayo," ujar Darsih karena Inayah hanya berdiri terdiam setelah turun dari mobil. Inayah menoleh pada Darsih dan mengambil barangnya yang sudah mang Darto keluarkan lalu mengikuti langkah Darsih yang sudah pergi lebih dulu sebelum berbalik dan berkata.
" Terimakasih mang,"
"Iya neng Inayah," kata Mang Darto membalas ucapan Inayah.
Inayah tersenyum dan melanjutkan langkahnya lalu terdengar mesin mobil yang mulai menyalah di belakang. Darsih mengeluarkan kunci dari dalam tasnya lalu membuka pintu yang terkunci.
"Mari Ina, Kita masuk. Kamu duduk dulu, Bibi masih mau bebersih. Debunya sudah banyak karena Bibi pulang ke Desa selama 1 bulan."
Darsih menyuruh Inayah untuk duduk lebih dulu sebelum ia menyiapkan tempat untuk Inayah, untunglah kontrakannya itu memiliki dua kamar, sehingga bisa Inayah gunakan salah satunya yang kosong.
" Ina mau bantu Bi," kata Inayah yang ingin membantu.
" Tidak usah. Kamu pasti cape dalam perjalanan, biar Bibi siapkan kamar kosong untuk kamu istirahat."
"kalau begitu, Bibi bebersih yang lain saja. Bibi tunjukkan saja kamarnya pada Ina, biar Ina sendiri yang membersihkannya."
Inayah akan semakin merasa tidak enak bila membiarkan Darsih yang menyiapkan untuknya kamar yang akan Inayah tempati.
"Baiklah."
Akhirnya Darsih membawa Inayah pada ruangan yang berdekatan dengan pintu masuk. Inayah menatap ruangan yang akan menjadi kamarnya itu dari sudat ke sudut, besarnya hampir sama dengan kamarnya yang ada di Desa, mungkin lebih besar yang ini beberapa puluh CM.
"Kama langsung istirahat kalau sudah membersihkannya. Nanti akan Bibi panggil kalau masakan Bibi sudah masak, soalnya Bibi akan langsung memasak setelah bebersih nanti."
"Iya, Bi."
__ADS_1
Darsih keluar meninggalkan kamar Inayah, sepeninggal Darsih, Inayah langsung membersihkan debu-debu yang lebih banyak dari pada ruang lain, mungkin karena kamarnya ini tidak pernah Darsih tempati, mengingat Darsih hanya tinggal seorang diri.
Setelah Inayah membersihkan kamarnya, ia langsung terduduk dan membaringkan diri untuk beristirahat tetapi seketika ia terbangun seperti terkejut lalu menyambar tas punggungnya, Inayah segera membukanya dan mengeluarkan sebuah kotak persegi yang memanjang.
"Ini isinya apa ya? Kenapa Mak' menyuruh untuk dibuka setelah sampai di Kota," tanyanya pada diri sendiri. Tidak tahan dengan rasa penasarsnnya, Inayah membuka kotak itu dengan sangat hati-hati.
Klik
Bunyi kotak yang terlepas satu sama lain dari salah satu yang mengaitkannya. Inayah menemukan sebuah kertas yang mungkin surat dari Ibunya dan sebuah kotak persegi berwarna biru tua yang lebih kecil lagi, menurut Inayah kotak persegi yang ada dalam kotak itu sangatlah indah. Inayah mengambil kertas lebih dulu, Surat! Ternyata isinya benar-benar sebuah surat. Inayah mulai membaca tulisan tangan yang sangat rapi dan cantik itu.
'Assalamualaikum, Inayah. Putriku ....
Pasti kamu sudah selamat sampai di Kota, jagalah baik-baik dirimu disana Ina. Doa Ibu akan selalu terpanjatkan untukmu'
Air mata Inayah menetes, tidak! Tidak ada yang akan mendoakannya lagi, Ibunya sudah tidak bisa memanjatkan doa untuknya lagi. Sudah tidak bisa ... Inayah kembali melihat deretan tulisan setelahnya.
"Putriku. Kota itu sangatlah besar pengaruhnya, biarpun begitu tetapi Ibu harus merelakanmu pergi sendiri tanpa ada Ibu disisimu. Jika kamu menemukan seorang pria yang ingin serius denganmu di Kota, segeralah kabari Ibu, Ibu akan menanti kabar itu disini dengan sabar'
Inayah tersenyum sedih setelah kalimat itu, bisakah Dahlia mendengarnya jika hari itu benar-benar datang? Akan seperti apa reaksi Dahlia jika ia memberitahunya nanti. Inayah hanya menangis tertahan mendekap mulutnya membayangkan semua itu tidak akan pernah terjadi, Dahlia sudah tidak bisa mendengar kabar darinya begitu juga sebalik karena telah terpisah.
Inayah menghapus air matanya dengan kasar untuk melanjutkan membaca tulisan tangan Dahlia.
Tiba-tiba hati Inayah bergetar melihat kata terakhir dalam kalimat itu.
" Ayah," gumamnya.
'*Ayahmu ada di Kota sayang, sekarang dia pasti sudah sangat merindukanmu. Kamu juga mempunyai seorang kakak perempuan yang Ibu tinggalkan bersama Ayahmu, maafkan Ibu Ina .... Semua ini karena keegoisan Ibu yang tidak bisa menahan tekanan batin yang selalu nenekmu berikan pada Ibu.
Maafkan Ibu untuk semua deritamu selama ini. Maaf ....
Sampaikan juga maaf Ibu kepada Ayah dan kakakmu jika kalian bertemu nanti. Pergilah ke alamat XXXX untuk bertemu dengan mereka, bawalah cincin Ibu yang berada dalam kotak untuk Ina tunjukkan pada Ayahmu. Suamiku pasti mengenalinya*'
Inayah membolak balik kertas yang dibacanya, berharap ada tulisan lain. Tidak ada! Tulisannya sudah habis. Dahlia bahkan tidak mengatakan siapa nama Ayah dan kakaknya selain alamat dan juga cincin. Inayah segera membuka dan melihat cincin yang dimaksud oleh Dahlia.
'Mak' batinya, mengingat wajah sang Ibu yang seakan ada di pelupuk matanya.
Cincin itu sangatlah indah, Inayah baru pertama kali melihat cincin yang bertahtahkan sebuah batu kecil berwarna biru, mungkinkah itu sebuah permata?
"Bibi. Bibi Darsih!"
__ADS_1
Inayah melompat keluar dari kamar lalu memanggil Darsih yang kini tengah berada di dapur, wanita paruh baya itu terkejut dan hampir memotong tangannya yang tengah memotong sayuran saat Inayah meneriakkan namanya.
"Bibi disini, Ina."
Inayah menuju asal suara dan mendapati Darsih tengah memasak, terbukti dari kompor yang menyala bersama panci di atasnya dan juga Darsih yang memegang pisau di tangannya bersama loyan berisi bahan masakan di dalamnya.
"Bibi, Bi Darsih tau alamat XXXX dimana?" Inayah bertanya.
"Bibi tidak terlalu yakin. Tapi, sepertinya alamat itu berada di komplek elite. Sepertinya tidak terlalu jauh dengan alamat majikannya Bibi bekerja," jawab Darsih.
"Benarkah, Bi?" tanya Inayah lagi. Tidak bisa disembunyikan, bahwa kini Inayah sangat berharap Darsih mengetahui letak keberadaan Ayah dan kakak perempuannya.
"Iya. Besok Bibi sudah mau kembali bekerja, Bibi akan memastikannya lagi mengenai alamat yang kamu tanyakan tadi."
Darsih ingin bertanya untuk apa Inayah menanyakan alamat itu, tetapi ia urungkan tidak ingin bertanya lebih lanjut.
"Bisakah aku ikut saat Bibi akan pergi besok? Ina akan langsung pulang begitu memastikannya," kata Inayah lagi.
"Memangnya ada apa?"
Darsih tidak tahan lagi untuk tidak bertanya melihat Inayah begitu ingin mengetahui tentang alamat yang ia tanyakan tadi, bibirnya seakan bergerak sendiri tanpa dorongan dan mengajukan pertanyaan pada Inayah.
Inayah menyondorkan surat yang Dahlia berikan tanpa menjawab pertanyaan Darsih, Darsih yang melihat benda yang ada pada Inayah segera mengelap tangannya yang agak lembab agar tidak membuat kertas itu rusak saat menyentuhnya. Setelahnya, Darsih mengambil dan membuka lipatan kertas itu.
"Ini dari Dahlia?" tanyanya saat membaca kata pembuka.
"Iya, Bi," balas Inayah di ikuti anggukkan.
Darsih mulai membaca berderet kata dan kalimat yang Dahlia bubuhkan di atas kertas putih bertinta hitam itu, ekspresi wajahnya berubah-ubah membaca tulisan yang tertera di atas kertas, sesekali ia mendongak untuk melihat wajah Inayah.
"Apa, Bibi mengenal Ayahku?" tanya Inayah setelah melihat Darsih kembali melipat suratnya.
"Ibumu tidak pernah mengenalkan Bibi pada Ayahmu, pertama kali Bibi mengenal Ibumu adalah saat kami akan sama-sama pergi ke Desa, saat itu kamu masih kecil," kata Darsih
"kalau nama Ayahku, Bibi tidak tau juga?" tanyanya lagi, berharap Darsih bisa memberitahukan nama Ayahnya sebelum bertemu langsung sebelum besok ia pergi ke alamat yang Dahlia tuliskan.
"Ibumu tidak pernah bercerita pada Bibi, hanya saja ...."
Darsih tidak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1