
'Rasanya ingin mati' keluh Inayah saat terbangun.
Dilihatnya jam yang menempel dalam kamar itu.
"Hampir subuh ya?" gumamnya dengan suara lemah.
Ia memindahkan tangan yang pemiliknya masih terlelap melingkari pinggangnya. Hal seperti itu sudah menjadi rutinitas di setiap paginya.
Setelah berhasil membebaskan diri dan ingin berdiri dari kasur, tangan Inayah tertahan. Inayah menoleh dan mendapati Daru tengah menatapnya sembari memegangi pergelangan tangan Inayah.
"Suamiku, aku mau ke kamar mandi. Bisa lepaskan tanganku?" katanya.
Jika sudah seperti ini takutnya akan ada hal aneh lagi.
"Aku juga mau mandi," kata Daru ikut beranjak dari pembaringannya.
'Eh! Bisa mati benaran kalau dia juga ikut mandi' Inayah berpikir keras ingin menghindari mandi bersama Daru.
"Suamiku. Kamu duluan saja, aku akan mandi setelahnya."
Inayah kembali duduk.
Tampak Daru menuruni ranjang dari sisi yang berlawanan lalu berjalan mendekatinya dengan senyum yang entah mengapa seperti senyum terbaik dari Daru yang pernah Inayah lihat.
"Eh! Suamiku?!" kaget Inayah saat Daru malah mengangkatnya dalam gendongan.
"Kenapa malah menggendongku? Suamiku, aku mau mandi setelah kamu mandi."
Inayah ingin di turunkan namu Daru tidak menghiraukannya dan tetap melanjutkan apa yang ingin ia lakukan.
Dibukanya pintu kamar mandi menggunakan kaki dan mereka berdua menghilang di balik pintu.
15 menit kemudian, pintu yang tadinya di tutup kembali terbuka menampakkan sepasang manusia yang keluar dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya. Fenomena itu merupakan peristiwa pertama yang memakan waktu secepat itu saat kedua orang tersebut memasuki kamar mandi bersama.
Inayah melangkah ingin mengambil dan memakai alat shalatnya. Langkahnya terhenti saat menyadari sesuatu dan menoleh ke belakang.
"Suamiku, aku mau shalat. Kamu kalau mau pakai bajunya di sebelah sana, bukan di sini."
Inayah menunjukkan salah satu pintu yang terletak di tengah, sebelumnya ia sudah mengambil baju sendiri di pintu samping yang ditunjuknya tadi. Sedangkan tempatnya untuk mengambil mukena dan sajadah terletak di sebelah ujung dari sisi yang berseberangan dengan sebelumnya.
"Kamu tidak lihat, aku sudah pake ini."
__ADS_1
Daru menunjuk baju dalamnya sendiri serta celana pendek yang ia kenakan.
'Apaan sih, biasanya bajunya mau dilapis lagi' Inayah tidak ingin mengambil pusing dan kembali pada tujuan awalnya. Saat tangannya akan membuka daun pintu lemari tersebut, tangan lain sudah lebih dulu meraih dan membukanya.
'Eh!'
"Suamiku, aku bisa mengambilnya sendiri," ucap Inayah yang telah menoleh pada Daru.
"Mmm. Kamu bisa ambil sendiri, aku cuma mau ambil ini."
Daru menunjukkan baju kokoh yang di ambilnya, jangan lupakan peci dan juga sarung beserta sajadahnya.
'Kapan itu ada di sana ...?' Inayah diam sejenak. Setahunya di sana tidak ada baju kokoh untuk laki-laki.
Apa mungkin kemarin? Karena ia hanya membuka lemari itu di waktu pagi saat hendak shalat subuh dan setelah kembali dari makan malam, peralatan shalat yang di ambilnya dan di letakkan di luar lemari telah hilang entah kemana.
Inayah tidak tahu, harus bersyukur atau apa. Selama tinggal di rumah itu, Inayah bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya ke dapur. Jika di kontrakan, pasti setiap pagi ia akan membuat sarapan untuknya dan Darsih. Tapi di sini ..., Inayah hidup sudah bagaikan putri raja.
Ya, hanya sebatas itu. Hubungannya dengan anggota keluarga Daru tidak bisa dibilang akrab, bahkan terkesan dingin sampai sekarang.
"Suamiku, kamu ...?" Inayah tidak tahu harus bertanya apa, dan lagi pula, apa itu mungkin?
"Ya, cepatpakai. Kita shalat bersama. Atau mau ku pakaikan?" kata Daru dengan gerakan ingin memakaikan apa yang akan Inayah pakai.
Inayah segera memghindar setelah mengambil cepat peralatannya.
'Ini benaran? Ya Allah, semoga suamiku benar-benar mendapatkan hidayahmu' syukurnya dan berdoa atas apa yang telah akan akan terjadi.
"Cepatlah. Kamu bisa berlama-lama jika ingin ketinggalan waktu subuh."
Mendemgar ucapan Daru yang terkesan memerintah dan tidak ketinggalan kalimat ancamannya namun lembut saat terdengar.
Inayah melakukan setiap gerakan shalatnya dengan badan yang sedikit bergetar.
Benarkah ini? Ia semakin takut jika Daru mulai bersikap seperti ini. Ya, Inayah takut jatuh cinta.
'Tidak Inayah!' batinnya memperingati diri.
Inayab bahkan hampir keliru dalam melafalkan doa-doanya lantaran jiwa dan pikirannya tengah berkecambuk, untunglah suara takbir dan takbiratul ihram dari suara Daru selalu menyadarkannya dari lamunan yang melalang buana.
Sampai salam terakhir Inayah di imami Daru.
__ADS_1
'Apa aku bermimpi? Mimpinya begitu indah ya Allah, tapi sadarkanlah hamba dari mimpi ini agar tidak terjerumus' pintanya.
Inayah senang dengan apa yang baru saja terjadi, impiannya setelah menikah adalah di imami oleh suaminya seperti pagi ini. Namun, Inayah tidak pernah membayangkan semua itu dalam pernikahan yang harus di sebut dengan apa, terpaksakah? Tapi hanya Inayah yang terpaksa di sini, ia tidak tahu apa anggapan Daru dengan hubungan mereka.
Inayah yang hanya fokus menunduk berdoa tidak menyadari jika Daru sudah berbalik menghadapnya.
Saat ia mengusap wajah dan mengamini doanya dengan pelan, barulah tersadar bahwa Daru tengah menatapnya dengan tatapan aneh, terkesan datar namun begitu mendalam dan tajam.
"Mmmm."
Inayah mengikuti arah tatapan Daru saat pria itu bersuara, ternyata Daru tengah mengukurkan tangan kanannya.
Dengan ragu Inayah meraih dan mengecup punggung tangan tersebut, lalu setelahnya Inayah di kagetkan dengan bibir hangat yang menempel di keningnya.
'Apa lagi setelah ini?' Daru melupakn apa lagi yang harus ia lakukan saat bibirnya masih tetap menempel di kening Inayah
10 hari sebelumnya, ruangan Daru terbuka memunculkan Ian bersama dua orang pria yang mengikutinya dari belakang dan tangan kedua orang itu di penuhi dengan buku dari yang tebal sampai yang tipis serta ukurannya yang beragam.
"Letakkan buku-buku itu di sana," perintah Ian pada pemegang buku.
"Kalian tetap di sini." Ian kembali berkata setelah kedua orang itu meletakkan buku yang mereka pegang. Kedua orang tersebut saling tatap dengan wajah tanya sebelum menjawab.
"Baik Tuan," jawab mereka bersamaan dengan sedikit kaku, untuk apa mereka ditahan di ruangan itu?
"Mana yang harus di pelajari lebih dulu dari semua buku itu?" tanya Daru dengan ekspresi tanpa tanyanya membuat kedua orang itu hanya terdiam, tapi berbeda dengan Ian yang mengenal betul Tuannya.
"Kalian berdua, cepat jawab. Jangan membuat Tuan Daru bertanya dua kali," kata Ian dengan dinginnya membuat kedua orang itu tersentak. Apa artinya Direktur bertanya pada bawahan seperti mereka?
"Kau saja, aku tidak terlalu paham. Apalagi tentang ilmu agama. Shalatku putus nyambung," bisik salah seorang di antara mereka setelah menyenggol pelan teman di sampingnya.
"Tapi bagaimana kalau aku mlah memberi jawaban yang salah, istri dan anakku mau makan apa?" balas temannya ikut berbisik juga.
Mereka tau apa yang Daru tanyakan namun bila mereka memberikan jawaban yang salah sudah pasti pekerjaan mereka akan menjadi taruhannya.
"Silahkan keluar dan jangan pernah kembali jika kalian hanya akan diam berdiri saat diberi pertanyaan."
Perkataan dingin dari Ian membuat salah seorang yang berbisik pertama mendorong paksa temannya agar maju ke depan. Karena dorongan dari temannya itu membuatnya tidak bisa mundur lagi untuk menghindari pertanyaan.
Ia hanya bisa berdoa semoga Tuhan membantunya dan menyelamatkan pekerjaannya.
Dalam perusahaan sudah tidak menjadi hal langkah jika ada pekerja yang membangkang kehilangan pekerjaan walau seorang OB sekalipun, apalagi dirinya yang seorang Karyawan.
__ADS_1
Tidak ketinggan susahnya kembali mendapatkan pekerjaan jika di pecat langsung oleh Ian yang memegang kendali atas mereka.