
"Baru pulang?"
Inayah membeku di tempatnya mendengar suara Daru yang seakan mengatakan 'hukuman' padahal Daru cuma bertanya.
'Tenang Inayah .... Tenang' Inayah mencoba menenangkan dirinya lalu mendekati Daru yang kini berada di atas kasur dengan perasaan was-was dan hati tak menentu serta pikiran yang terus membayangi akan kata hukuman.
"Tuan, saya_" Inayah tidak tahu harus berkata apa. Daru melirik jam lalu tersenyum setan membuat Inayah meremang melihat senyuman itu.
"20 menit. Kemarin hampir telat dan hari ini telat 20 menit?" tanya Daru masih dengan gaya santainya dan entah mengapa hal itu semakin membuat Inayah bergidik.
Apa dia akan memijat Daru semalaman seperti malam sebelumnya yang sampai tengah malam? Atau, mungkinkah lebih parah dari itu? Bagaimana kalau Daru memenggal kepalanya?! Inayah menggeleng keras dengan semua halusinasinya. Jangan ngelantur Inayah, Daru bukan seorang pembunuh hanya karena telat pulang. Katanya berusaha menghilangkan pikiran-pikiran menakutkan yang tersemat dalam kepalanya. Tapi bagaimana jika memang Daru berani melakukan itu ..., tentu tidak akan ada yang memarahinya kan? Suaminya ini sangatlah berkuasa.
Tetapi, seberapa berkuasakah Daru ini? Inayah bahkan tidak mengetahuinya.
"Tu_Tuan. Apa Tuan, Tuan akan memberi saya hukuman?" Inayah bertanya dengan sangat hati-hati serta tergagap. Ayolah Inayah, kenapa kamu setakut itu? Kamu hanya telat pulang. Hanya telat pulang! Bukan melakukan tindak kriminal.
Daru turun dari tempatnya dan berjalan mendekat Inayah yang kini dilanda ketakutan. Daru menyukai ini, semua orang memang harus takut padanya.
"Menurutmu? Kira-kira hukuman apa yang pantas kau dapatkan. Hmmm?"
Telunjuk Daru bergerak menelusuri wajah pucat pasi Inayah.
"Maaf. Maafkan saya, saya tidak akan mengulanginya lagi."
Bibir Inayah bergetar saat mengucapkan kata, ditambah jari Daru yang ikut menyentuh bibirnya menambah rasa takut Inayah semakin meningkat. Kenapa Inayah melihat tingkah yang aneh? Apa Daru akan memperkosanya lalu di bunuh dan dibuang dalam hutan serta dijadikan santapan hewan buas? Inayah belum mau mati.
Inayah memang sudah sangat merindukan Ibunya, tapi ia tidak mau mati dengan membawa hutang yang tidak sedikit.
"" Kau harus tau. Yang berani melanggar ucapanku tidak akan bisa mendapatkan maaf."
Kata-kata Daru terngiang-ngiang dalam benak Inayah.
'Apa hamba benar-benar akan mati? Hamba pasrah ya Allah'
Sepertinya Inayah memang tidak memiliki pilihan lain selain menerima hukuman apapun dari Daru.
"Baiklah Tuan. Saya mau menerima hukumannya," pasrahnya.
__ADS_1
"Apa hukuman saya Tuan?" tambahnya, mempertanyakan hukuman apa yang akan Daru berikan padanya. Sebenarnya Inayah ingin menepis jari Daru yang terus mengelilingi area wajahnya, apalagi mata hitam itu seakan ingin menusuk dan menyedot Inayah.
"Aku akan berbaik hati untuk menghukummu beberapa jam lagi. Sebaiknya kau mandi yang bersih, makan yang banyak, dan siapkan diri untuk menerima hukuman."
Setelah berkata demikian Daru segera berlalu dan keluar dari kamar meninggalkan Inayah yang diam membeku ditempatnya berdiri.
"Ternyata memang putrinya ya? Aku memang di takdirkan untuk menjadi menantunya."
Daru membuka lembar demi lembar pada seperangkat kertas yang baru Ian berikan setelah masuk dalam ruang kerjanya.
"Jangan ada kesempatan yang bisa mempertemukan mereka. Aku tidak mau berbagi milikku dengan orang lain," katanya setelah menutup lembaran kertas itu.
"Bain Tuan."
Seperti biasa, Ian tentu mengikuti kemauan Tuannya.
"Pulanglah Ian, ini sudah malam. Atau menginaplah disini."
Ian tidak langsung menjawab, ia tampak masih berpikir dan menjawab setelah hampir semenit.
"Saya akan pulang Tuan."
"Baiklah."
Ian berdiri dari duduknya setelah mendengar persetujuan dari Daru.
"Saya permisi Tuan," pamitnya sebelum pergi.
"Hmmm."
Ian berbalik menuju pintu dan saat akan membuka pintu.
"Ian."
Tangan Ian terjeda membuka pintu saat Daru memanggil namanya dan ia langsung berbalik tanpa mendekat pada keberadaan Darh.
"Iya, Tuan."
__ADS_1
"Tidak ada pernikahan atau menjalin hubungan sebelum aku memberi izin," kata Daru seakan menangkap gelagat Ian yang nampak ke sana.
"Baik Tuan. Hal itu tidak akan pernah terlanggar oleh saya," jawab Ian dengan pasti tanpa keraguan.
"Hmmm. Pulanglah."
Sekali lagi Ian berpamitan untuk pulang dan langsung meninggalkan ruang kerja Daru.
"Jalanmu lambat sekali. Kau pikir dengan berjalan seperti siput itu bisa menghilangkan hukuman yang akan kau dapatkan," kata Daru menghentikan langkah setelah menaiki anak tangga bersama Inayah yang masih berada dalam deretan anak-anak tangga namun suaranya itu masih Inayah dengar dengan jelas yang baru menaiki setengahnya.
"Jika aku sampai lebih dulu, maka hukumanmu akan berjalan selama satu bulan," tambah Daru tanpa berbalik dan melanjutkan langkah lebarnya memasuki kamar yang berjarak 30 meter lagi. Mata Inayah membesar dengan pelipisnya yang ikut naik mendengar penuturan Daru. Ini saja Inayah belum tahu akan dihukum seperti apa, akan seperti apa jika sampai satu bulan lamanya?
Inayah menaiki tangga dengan tergesa, bahkan melewati beberapa anak tangga, Inayah melepas alas kakinya dan di pegangnya masing-masing dari kedua tangannya lalu berlari mengejar Daru yang hampir sampai di pintu kamar.
"Terlambat."
Satu kata dari mulut Daru seakan menembus indra pendengaran Inayah sampai terngiang-ngiang. Padahal tinggal beberapa senti lagi ia akan membuka pintu namun tangannya di dahului oleh tangan lain.
'Seandainya aku tidak melepas sendal yang ada di tanganku' sesalnya dengan apa yang telah terjadi. Karena kedua tangannya memegang sendal membuatnya harus melepas itu lebih dulu sehingga Daru mendahului gerakan tangan Inayah.
"Tuan, kita sampai bersama-sama," ujar Inayah setelah pintu terbuka sebelum Daru berkata yang bukan-bukan tentang hukuman.
"Begitukah?"
Daru malah tersenyum setan dengan ucapan Inayah lalu mengunci pintu setelah mereka berada di dalam.
"Iya! Berarti saya tidak akan mendapat hukuman sampai satu bulan kan?" tanya Inayah harap cemas. Daru selalu mengeluarkan kata-kata yang menyudutkan Inayah serta memgejutkannya.
"Bukankah kita sampainya bersama-sama?"
Daru mengangkat Dagu Inayah dengan jari telunjuknya dan membuat kepala gadis itu mendongak bertemu pandangan dengan wajah Daru.
"I_iya, Tuan. Berarti cuma hari ini saja dapat hukuman kan?"
Entah mengapa Inayah memiliki firasat buruk dengan pertanyaan yang sudah jelas dari Daru. Apalagi Daru yang kini menyeringai dengan senyum mahalnya yang baru Inayah lihat untuk pertama kali.
"Berarti kita akan saling menghukum untuk sebulan lamanya," kata Daru sembari tangannya yang lain menarik pinggang Inayah dengan cepat.
__ADS_1
'Saling menghukum? Apa maksudnya itu?' Inayah bingung dengan maksud perkataan Daru yang 'saling menghukum' dan terkejut dengan pinggangnya yang tertarik ke depan sehingga menempel pada tubuh tegap Daru.