
Inayah menaiki anak tangga dengan sedikit berlari mengejar Daru yang sudah menghang dari pandangannya. Setelah sampai di lantai atas, Inayah memandang sekilas ikan-ikan yang ikut menatapinya. Setelah tiba di depan pintu yang telah terbuka, tepatnya di sisi samping yang hampir menggapai pintu. Inayah mengintip lebih dulu dengan memasukkan sebelah kepalanya untuk melihat keadaan yang berada di dalam.
"Kau ingin lehermu ku patahkan?!"
Dengan cepat Inayah memasuki kamar seperti kilat, ia takut ucapan Daru benar-benar terjadi dan ingin mematahkan lehernya yang hanya ada satu itu.
"Maaf Tuan," ucapnya setelah berada di dalam.
"Tutup pintunya."
Inayah masih bergeming mendengar perintah untuk menutup pintu, kenapa pintunya harus di tutup? Jangan-jangan ... Inayah menggeleng cepat dengan segala perkiraannya.
'Kata Nona Dinda pernikahan ini tidak seperti pernikahan pada umumnya'
"Sepertinya telingamu itu memang tersumbat ya? Harus selalu berapa kali kau diberitahu!"
Inayah tidak menunggu lama dan langsung kembali berbalik untuk menutup pintu seperti yang Daru suruhkan. Setelah menutup pintu Inayah berbalik dan menatap Daru dengan takut.
"Jangan menatapku seperti kau akan dinodai. Aku tidak bernafsu melihat tampangmu apalagi siang hari seperti ini."
Setelah berkata seperti itu Daru meninggalkn Inayah dan naik di atas kasur, pikirannya kembali memikirkan Kainah yang bahkan tidak menghubunginya membuat matanya mengantuk memikirkan semua itu. Kenapa Kainah tidak menghubunginya, kenapa? Daru segera bangun karena tidak tahan dengan sikap ketidak pedulian dari Kainah terhadapnya.
Daru langsung meraih handponenya sebelum melihat dimana Inayah berada.
'Dimana dia?' Daru tidak lagi melihat Inayah berada di tempatnya tadi, memaksa Daru untuk melihat keadaan sekekliling dan mencari keberadaan Inayah, telinganya mendengar gemericik air yang berasal dari kamarandi.
'Dia mandi?' tanyanya dalam batin dengan dahi berkerut. Daru tidak menghiraukannya lagi dan segera menghubungi Kainah yang sudah membuatnya geram.
"Angkat Kainah!"
Dari nada suaranya terdengar jika pria itu sangat marah dan emosi karena Kainah tidak kunjung menjawab panggilannya.
"Aku bersumpah akan menghancurkanmu jika tidak menjawabnya juga!"
Seperti orang bodoh, Daru hanya marah dan geram sendiri dengan benda pipih yang di genggamnya begitu erat dan hampir retak dari cela-celanya yang rapat sangking marahnya, kesal, kecewa, serta ketidak sabarannya dengan Kainah yang tidak menjawab panggilannya sebanyak dua kali.
Panggilan tersambung, Daru menyeringai jahat karena Kainah seperti menyaksikkannya dan sengaja untuk mempermainkn emosinya, jika saja! Jika saja panggilan ketiganya tidak tersambung pastilah Kainah beada dalam masalah besar.
"...,"
Daru tertawa terbahak-bahak mendengar omelan dari seberang telepon, Inayah jadi mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar mandi saat mengengar tawa yang sangat menakutkan itu.
'Dengan siapa dia berbicara sampai tawanya semengerikan itu?' batin Inayah yang masih menguping dari balik pintu.
"Ternyata kamu lebih mementingkan kontrak murahanmu dari pada diriku! Aku tidak pernah main-main Kainah. Kesempatanmu sudah habis."
'Kainah?Itu nama pacarnya kan? Apa aku menjadi wanita jahat karena menikah dengan pacar wanita lain?"
__ADS_1
Inayah yang menguping suara Daru merasa tidak enak hati pada wanita yang berbicara dengan Daru.
"Aku sudah menikah. Mulai hari ini hubungan kita berakhir."
Itulah kata yang Inayah dengar lagi setelah beberapa saat dengan kalimat sebelumnya.
"Kamu tidak perlu kembali lagi. Aku tidak memungut sampah yang sudah menjadi sampah!"
Inayah tidak tahu masalah apa yang Daru dan pacarnya itu alami. Tapi, mendengar kata-kata Daru yang sekasar itu membuat hatinya serasa ngilu dan ngeri, apalagi jika Kainah kekasihnya yang mendengar ucapan Daru, pastilah perasaannya akan begitu sakit.
"Tidak akan! Kau akan melihat sendiri jika aku akan bahagia dengan istriku tanpa ada dirimu."
Kalimat terakhir yang di tangkap oleh telinga Inayah seyelah sekitar dua menit tidak ada suara lagi.
'Apa mereka sudah selesai?" tanyanya pada diri sendiri.
Perlahan Inayah membuka pintu dan tidak mendapati Daru di dalam.
'Dia pergi?' batinnya.
Tidak ingin menunggu lebih lama, Inayah segera mencari alat yang bisa dia gunakan untuk shalat, tapi Inayah tidak menemukan apa yang dicarinya, akhirnya dia mengambil kain yang bisa menutupi auratnya serta untuk alasnya bersujud.
"Akhirnya, aku melihatmu lagi! Jangan meminta libur lagi Inayah."
Inayah tertawa melihat sambutan Indri yang kelewat girang dan berakhir dengan raut memelas seakan Inayah harus mengiyakan.
Indri hanya menanggapi sindiran Inayah dengan memperlihatkan giginya yang gincu.
"Kamu tau aja."
Mereka mulai jalan berdampingan memasuki Caffe yang masih sunyi pengunjung itu.
"Yang lain belum datang?" tanya Inayah setelah selesai memakai seragamnya dan menghampiri Indri yang sudah siap dengan posisinya.
"Jika wujudnya belum terlihat berarti belum datang, begitupun sebaliknya."
Inayah gemas dengan jawaban Indri yang bernada entahlah itu. Inayah ingin membalas ucapan Indri tetapi terhenti saat pintu caffe terbuka dan memunculkan wajah Bos mereka.
"Pagi Bos," sapa mereka saat Karim melewati mereka berdua.
"Pagi. Dimana yang lain?" tanya Karim tidak melihat karyawannya yang lain selain Indri dan Inayah.
"Itu mereka Bos," jawab Indri melihat salah satu rekan prianya yang membuka pintu dan di susul seseorang yang datang belakangan.
"Oke. Kerjakan dengan baik tugas kalian."
"Baik Boa."
__ADS_1
Setelahnya, Karim berlalu dari hadapan mereka karena caffe akan di buka 10 menit lagi.
Ian menekan tombol lif saat mereka akan menaiki lantai atas.
"Dimana pria tua itu?" tanya Daru.
"Hendra sudah berada dalam ruangan Tuan," jawab Ian dengan cepat.
"Hmmm."
Ting.
Suara lif telah sampai pada tujuannya. Daru beserta Ian keluar dan berjalan memasuki ruangan Daru yang orang di dalamnya sudah menanti kehdirannya dengan keringat terus bercucuran membasahi kulit Hendra.
Hendra segera bangkit melihat kedatangan Daru namun pergerakannya di tahan oleh orang-orang yang membawanya dalam ruangan itu. Daru tidak melihat atau melirik Hendra dan tetap berjalan lurus untuk menduduki kursinya.
"Lepaskan," kata Ian.
Dua orang yang berbadan kekar itu menuruti perintah Ian lalu melepaskan Hendra yang mulai terduduk dengan bertumpu pada kedua lututnya di depan meja Daru, Daru hanya memandanginya tanpa ekspresi.
"Silahkan utarakan apa yang ingin anda katakan."
Hendra tahu, jika Ian sudah berbicara maka itu merupakan suatu perwakilan dari Daru yang kini hanya menatapnya dengan tatapan yang membuat Hendra semakin keringat dingin.
"Maaf Tuan. Semua itu diluar sepengetahuan saya, Istri dan Putri saya merencanakan semuanya tanpa memberitahu saya lebih dulu. Tolong ampuni saya Tuan. Tolong kembalikan semua aset-aset saya, saya sekarang hanya bisa menumpang di rumah orang tuan saya Tuan. Saya tidak diterima lagi di perusahaan lain. Tolong untuk
meminjamkan saya kembali dananya, serta Tuan tidak menarik saham Tuan."
Hendra sampai menangis saat memohon pada Daru yang tetap tidak bergeming akan permohonan ampunannya.
"Berterimakasihlah pada Istri dan Putrimu."
Hendra tidak mengerti dengan maksud ucapan Daru.
"Apa maksudnya Tuan," tanyanya dengan sedikit rasa takut, takut karena tidak bisa mengerti arah ucapan Daru.
"Uang yang kita sepakati tempo hari akan kau dapatkan menjadi empat kali lipat."
"Apa!"
Hendra langsung berdiri dari terduduknya sangking tidak mengerti mengapa dan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ian, Urus sisanya."
"Baik Tuan."
Ian segera menjalankan perintah Tuannya.
__ADS_1