INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Tidak seperti kamar pada umumnya


__ADS_3

"Inayah, tadi siang kamu nglakuin apa sampai dicari sama pengunjung?"


Inayah yang ingin pergi mengganti baju seragamnya tertahan karena panggilan Andi, apalagi mendengar kalimat setelahnya.


"Dicari? Aku?" tanyanya menunjuk diri sendiri.


Andi mengangguk mengiyakan.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Siapa memangnya?" tanyanya sedikit kaget karena ada yang mencarinya, karena hal itu belum pernah terjadi sebelumnya.


"Mana aku tahu! Tadikan kamu antar pas aku buang air dulu, lalu yang mesan kopi di meja 17 itu nyari kamu."


Inayah langsung teringat kedatangan Daru dan Ian.


'Kenapa mereka mencariku ya?'


"Yang nanyanya orang yang mana? Di sanakan ada 2 orang?" tanya Inayah ingin memastikan siapa yang mencarinya.


"Pokoknya yang pake jas hitam. Kamu kenal dimana orang ganteng-ganteng itu? Kayanya mereka itu orang kaya deh."


"Orangnya benaran ganteng? Andi, kamu jangan bohong!" Indri yang dari tadi diam kini bersuara. Sekarang caffe tidak ada pengunjung karena istirahat dan pergantian pekerja siang dan malam, jadi mereka leluasa bercerita.


'Tadi yang pake jas hitam itu kan Tuan Daru'


Inayah mengingat lagi warna apa yang Daru dan Ian kenakan.


"Aku tidak bohong. Sudah ya, aku mau duluan. Pacarku udah nunggu."


Andi langsung pergi dari hadapan mereka setelah mengatakan apa yang terjadi tadi siang.


"Yah ... dianya pergi. Siapa Inayah? Kata Andi cowok kan? Katanya ganteng juga! Kok kamu nggak pernah cerita."


Sekarang Inayah bingung harus jawab apa pada Indri, masa dia harus berbohong lagi. Sudah sangat sering Inayah berbohong, apalagi kepada Darsih yang sampai sekarang selalu ia bohongi, sekarang ditambah dengan Indri.


'Maafkan hamba Ya Allah' batinnya memohon sebelum mengarang cerita lagi.


"Bukan siapa-siapa. Mungkin karena kemarin kami pernah bertemu," bohongnya yang nyatanya sudah dari 5 hari yang lalu mereka bertemu.


"Wah! Dimana?"


Inayah melihat bingung temannya yang malah kegirangan itu.


"Kamu kenapa sih! Masa cuma itu tanggapannya berlebihan?"


Sebetulnya itu cuma jalan Inayah untuk mengalihkan pembicaraan.


"Soalnya kamu itu jarang banget ada hubungan dengan yang namanya cowok. Makanya kekepoanku meningkat ingin tau. Cerita dong!"


Inayah tidak ingin bercerita ataupun memberitahu Indri, masalahnya menurut Inayah pernikahan ini tidak jelas atau mungkin bukan pernikahan, jadi tidak perlu di ceritakan.


"Bukan siapa-siapa. Aku ganti baju dulu ya."

__ADS_1


Inayah pergi dan juga menghindari pertanyaan Indri, sebaiknya jangan sekarang, Inayah masih belum tahu harus beralasan apa tentang Daru pada Indri.


"Kok dia malah pergi juga. Inayah!"


Inayah seolah tidak mendengarkan panggilan Indri yang lengking itu.


"Ish! Mereka semua kenapa sih? Malah ninggalin!" kesalnya pada Andi dan Inayah.


"Ekhem!"


Indri langsung menoleh ke sumber suara.


"Eh! Bos ...."


Karim berdiri di pintu sambil geleng kepala.


"Janga teriak-teriak. Suaramu terdengar sampai diruanganku," katanya mendengar teriakan Indri.


'Apa iya begitu?' batinnya bertanya, padahal menurutnya suaranya tadi tidak kencang, dan memang nyatanya Karim mendengarnya setelah sampai di pintu, hanya saja dia masih melihat kekesalan Indri baru berdehem.


"Baik Bos, maaf."


"Sebelum kamu pulang, bisa tolong buatkan saya capuccino?" tanyanya dengan nada menyuruh dan tersenyum.


"Bisa Bos."


"Bawa keruanganku."


"Bilang aja kalau mau dibuatin kopi! Pake tegur segala dulu. Jengen teyek-teyek. Suayamu teyjenger syampe yanganki(jangan teriak-teriak. Suaramu terdengar sampai ruanganku). Pret!" gerutu Indri mengejek gaya bahasa Karim dengan memonyongkan bibirnya sembari tangannya bergerak membuat apa yang Karim minta. Karim yang masih berada dibalik dinding hanya menggeleng kepala dan tersenyum lalu melanjutkan langkah menuju ruangannya.


"Aduh! Kayanya tidak sempat pergi ke kontrakan Bibi ini," kata Inayah saat melihat jam tangan murahan yang dikenakannya hampir jam 5 sore, Daru sudah memperingatkannya untuk tidak terlambat barang semenitpun.


"Ini gara-gara Andi. Pake ajak cerita! Perut juga! Kenapa pake sakit segala," Inayah menggerutu tetapi mengelus perutnya saat ia menyalahkannya.


"Oje mang!"


Kebetulan Inayah melihat tukang ojek yang bertempat tinggal masih dalam lingkungan kontrakan Darsih. Inayah mengenalnya, jadi tidak perlu memesan lagi.


"Terimakasih Mang."


Inayah mengembalikan helm yang ia kenakan serta membayar biaya ojek.


"Pak ucup, Tuan Daru sudah pulang?" tanya Inayah setelah pria yang membukakan pintu itu kembali menutup gerbang. Inayah hampir terlambat kalau tidak menyuruh tukang ojek tadi mempercepat lajunya.


"Belum Nyonya. Tuan Daru belum pulang," jawab Ucup akan pertanyaan Inayah. Setelah Ucup berkata demikian mereka mendengar suara mobil mendekat.


"Itu sepertinya mobil Tuan Daru, Nyonya," kata Ucup yang sudah hafal dengan semua mobil di kediaman itu.


'Aduh!' batin Inayah nampak khawatir akan ketahuan masih berada di luar rumah.


"Saya masuk dulu pak!"

__ADS_1


Inayah tidak membalas lagi perkataan Ucup dan langsung berpamitan untuk masuk, ia bahkan berkata sudah sambil berlari karena jarak rumah dengan gerbang lumayan jauh.


"Selamat sore Tuan," ujar Ucup saat Ian nampak membuka kaca mobil bagian kemudi sewaktu mobil melintasi Ucup setelah gerbang terbuka. Ian tidak membalas sapaan Ucup dan hanya berekspresi datar saja sembari tetap fokus mengemudi.


'Nyonya Inayah, kenapa dia berlari seperti itu? Apa dia baru pulang?' Ian melihat Inayah yang berlari kencang dan segera memasuki pintu. Ian melihat spion dan melirik Tuannya yang duduk di kursi belakang, pasti Daru juga melihat kelakuan Inayah yang berlari tadi.


'Kenapa dia tidak terlambat saja' Daru tampak mulai berpikir untuk mempermainkan Inayah yang sudah hilang di balik pintu. Ian bisa melihat kilatan aya yang terpancar dari mata Tuannya.


"Tidak perlu menemaniku, Ian. Kamu bisa langsung pulang dan beristirahatlah."


Daru mencegah Ian yang ingin ikut masuk dan menemaninya sampai di dalam seperti biasa.


"Baik Tuan."


Ian mengangguk patuh lalu menyerahkan tas kerja Daru pada Harun yang menyambut kedatangan mereka.


Setelahnya Ian segera berbalim untuk pulang.


"Tunggu Ian."


Ian yang hendak pergi menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menghadapa Daru.


"Ya Tuan."


"Perintahkan untuk tidak sembarangan mengizinkan ojek atau semacamnya untuk masuk," katanya.


"Baik Tuan."


"Pulanglah."


Akhirnya merekapun meninggalkan tempat tersebut, Daru diikuti Harun menaiki tangga dan Ian yang berjalan keluar.


"Langsung bawa saja tasnya keruang kerja, tidak perlu masuk," kata Daru setelah berada didepan pintu kamar, tidak mengizinkan Harun masuk seperti biasa.


"Bain Tuan."


Harun menunggu Daru memasuki kamar dan menutupnya sebelum dia berbalik dan pergi ke ruang kerja yang sudah mereka lewati sebelumnya.


Daru sudah berada dalam kamar dan tidak melihat Inayah di dalamnya.


"Mandi rupanya," katanya saat mendengar gemericik air dari kamar mandi. Daru lalu melangkah memasuki wc, di dalam kamar itu memabg tidak seperti tata kamar pada umumnya yang langsung di gabung, dan itu hanya berlaku pada kamar Daru saja dari sekian banyaknya kamar di kediaman yang besar itu yaitu kamar mandi dan wc atau pembuangan kotorannya terpisah. Entahlah, hanya Daru yang tahu mengapa harus begitu.


"Ya Allah, tolong sampaikan pada Mak' kalau aku sudah menikah. Tapi ... mungkin pernikahan ini tidak akan menjadi pernikahan selamanya. Maafkan hamba ya Allah, hamba tidak bermaksud untuk mempermainkan pernikahan. Tapi hamba tidak punya pilihan lain, tolong bantu hamba untuk cepat keluar dari masalah ini. Ya Allah, sampaikan juga maafku pada Mak' karena aku belum bisa menemukan pria seperti amanahnya, tempatkanlah selalu Mak' dalam surgamu. Amin," bisik Inayah berdoa setelah salamnya.


Doa yang selalu sama selalu ia bisikkan di akhir shalat karena rasa bersalahnya, ia akan merasa tenang sampai terbebas dari pernikahan ini. Tapi sampai kapan?


Inayah melipat alat shalatnya yang diberikan oleh Harun atas perintah Daru saat melihatnya shalat 4 hari yang lalu sewaktu shalat asar, karena Di dzuhur Inayah hanya mengenakan kain seadanya yang bisa menutupi aurat.


"Tuan!" Inayah kaget saat berbalik dan mendapati Daru tepat di depan wajahnya.


"Doa apa yang kau minta pada Tuhan?"

__ADS_1


__ADS_2