INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Tidur sekamar namun terpisah.


__ADS_3

Ceklek


Inayah langsung menoleh ke sumber suara saat pintu kamar mandi terbuka. Daru keluar, Inayah merasa malu melihat pemandangan itu.


'Apa dia tidak malu hanya mengenakan handuk di depan seorang wanita? Aku yang melihatnya saja sudah malu' komentarnya tanpa suara.


Daru menuju lemari besar nan panjang serta lebarnya mungkin hampir 6 atau 7 meter mengikuti dinding! Entahlah, Inayah belum mengukurnya apalagi lemari itu sangat tinggi. Apa itu bisa di sebut lemari? Tetapi Daru mengeluarkan pakaian dari dalamnya.


"Tutup pintunya," ujar Daru sebelum mengambil salah satu set pakaian yang Inayah tidak bisa melihatnya dengan jelas bentuk pakaian apakah itu karena saat ini ia masih berada di dekat pintu, ia pun tidak ingin memperjelasnya.


'Tutup? Dia bicara padaku atau pintu di depanya yang harus di tutup? Memangnya pintu bisa bicara dan mengerti bahasa manusia?' ekspresi Inayah dipenuhi tanda tanya.


"Kubilang tutup pintunya! Sepertinya pendengaranmu itu harus ku perbaiki agar normal. Cepat tutup."


Sekarang Daru berkata sambil berbalik ke samping dan agak mencondong ke arah pintu agar bisa dimengerti oleh gadis bodoh itu bila ia tengah berbicara dengannya.


"Baik Tuan."


Inayah langsung menutup pintu dengan rapat dan kembali di tempatnya berdiri.


Daru mulai melepaskan handuknya dan mengenakan pakaian yang di ambilnya, Inayah sampai harus menutup mata saat adegan singkat tertangkap di penglihatannya.


'Aku saja kalau pake baju itu handuknya masih tetap ku kenakan. Tapi orang ini ... padahal ada orang selain dirinya, apa dia pikir aku tidak punya mata?'


Inayah terus menutup matanya rapat-rapat dengan tubuh tegap dan tegak, sekitar kulang lebih lima menit barulah Inayah berani mengintip dengan menyipitkan sebelah matanya.


'Hilang! Dimana dia? tanyanya dan membuka matanya secara menyeluruh, ternyata Daru berada di atas ranjang dan duduk menyandar dengan mata tertutup.


"Kau tetap mau berdiri di situ?" kata Daru dengan mata masih terpejam.


'Aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Cepatlah! Suruh aku pulang saja!'


" Emm. Saya mau pulang saja Tuan. Boleh?"


Seketika mata Datu terbuka lebar mendengar ucapan Inayah.


"Pulang?" tanyanya penuh penekanan.


"I_iya ...," kata Inayah dengan pelan dan agak tergagap, bibirnya seakan seperti bergeta dengan sendirinya mendengar pertanyaan Daru.


"Pulanglah."


"Benarkah Tuan? Terimakasib banyak Tuan."


Inayah sangat senang serta bahagia dan langsung berterima kasih juga mau membuka pintu kembali setelah ia membalikkan lagi badannya, saat tangannya hampir menyentuh pintu itu, suara Daru kembali terdengar.


"Berani kau membukanya ... maka, besok siapkan tubuhmu untuk dimakamkan."


Seketika bulu kuduk Inayah langsung berdiri tegak, ia merasa kata-kata dingin Daru bisa mengambil nyawanya kapan saja jika tangannya menyentuh pintu itu, Inayah menarik kembali tangannya dengan tubuh bergetar, ingatannya kembali ke saat ia pulang dari pasar dan mendapati tubuh ibunya sudah barbaring tak bernyawa, badan Inayah semakin kuat berguncang dan bergetar.


Bruk!

__ADS_1


Inayah terjatuh seketika dari pijakannya sendiri, Inayah tidak sadarkan diri! Daru kaget melihat reaksi gadis itu akan kata-katanya, Tanpa sadar Daru langsung melompat dari atas tempat tidur dan berlari melihat kondisi Inayah.


"Hey!"


Daru meneouk pipi Inayah namun tidak mendapatkan reaksi apapun. Daru menatap inteks wajah gadis itu, sejak dari tadi saat Inayah masuk tanpa menutupi wajahnya Daru tertarik ingin melihatnya lebih jelas bentuk wajah wanita yang sudah berani menggantikan Dinda.


Daru kembali meletakkan badan Inayah di atas benda dingin nan mengkilat itu, ia kemudian berdiri dari jongkoknya.


'Kau harus terima dengan penderitaan yang akan kau dapatkan karena berani bermain-main denganku'


"Ian!"


Tidak lama setelah teriakannya, terdengar pintu di ketuk.


"Masuk."


Ian masuk dan hamoir terkejut kala melihat Inayah berbaring di atas lantai.


"Urus dia," kata Daru.


"Apa saya perlu menyiapkan kamar lain Tuan?"


"Tidak perlu, letakkan saja dia di atas ranjang itu, nanti dia akan sadar sendiri, lalu kamu keluar dan pulanglah."


"Baik Tuan."


Saat Ian akan mengangkat tangan dengan meletakkan kepala Inayah di sebelah tangan kanannya dan lutut sebelah kiri.


"Memindahkan Nyonya Inayah Tuan."


"Jangan pegang."


Ian langsung kembali menarik kedua tangannya.


'Bagaimana aku akan memindahkannya?' Ian tampak berpikir keras sampai kesunyian tercipta cukup lama.


"Apa yang kamu lakukan Ian? Cepat urus wanita ini," ujar Daru tanpa ekspresi melihat diamnya Ian.


"Baik Tuan."


Ian kembali ingin melakukan hal yang sama seperti seblumnya dan tiba-tiba ...


"Minggir!"


Daru langsung mengambil alih gerakan Ian dan mengangkat tubuh Inayah dengan ledua tangannya membuat Ian mematung di tempatnya melihat kelakuan aneh Tuannya, Tuannya itu bisa dibilang anti perempuan selain Kainah dan keluargannya, itupunya saat semuanya masih baik-baik saja.


"Kamu bisa keluar," katanya saat melangkah bersama Inayah dalam gendongannya menunu kasur.


"Baik Tuan."


Ian keluar dan menutup pintu dengan pelan.

__ADS_1


'Sepertinya Tuan Daru tidak akan melepaskan Nyonya Inayah semudah itu. Kenapa wanita itu berani bermain-main dengan semua ini? Apa yang sudah Hendra berikan padanya?' Ian langsung keluar dan meninggalkan Kediaman megah itu.


Daru langsung duduk di atas sofa setelah membaringkan Inayah yang tidak sadarkan diri.


'Menyusahkan' umpatnya seyelah menyandarkan bahu kekarnya, tidak lama setelahnya Daru mulai memejamkan matanya membiarkan Inayah yang tetap dengan tidak sadarnya, ia tidak mengerti mengapa membiarkan Inayah di kasurnya dan tidak membiarkan Ian menyiapkan kamar lain.


"Apa yang telah kamu lakukan Dinda?! Kenapa kamu berani melakukan ini?"


Hendra ingin melayangkan tamparannya pada Dinda setelah memgetahui kelakuan putrinya itu, ia hanya bisa menarik geram semua rambut-rambutnya smpai kukunya memutih memahan amarah untuk melampiaskannya pada putri semata wayangnnya itu.


Dinda hanya terisak dan tergugu dalam pelukan Karmila yang terus mengelus punggungnya.


"" Sudah pah. Dinda melakukan ini karena tidak mau menikah dengan Tuan Daru," kata Karmila yang tidak mau putrinya disalahkan.


"Ya! Semua ini adalah salahku. Salahku! Dan kalian ingin melihatku sekarat di tangan Tuan Daru. Kalian jangan mnyesali apa yang telah terjadi!"


Prang!


Hendra membanting kursi yang sebelumnya ia duduki sebelum terkejut dengan kebeadaan Dinda, lalu ia keluar dengan keadaan kacau balau. Harusnya kalau Dinda menolak saja, jika ia menolak pasti Hendra tidak akan memaksanya. Tapi kalau sudah begini? Dengan berani mempermainkan Daru karena mengganti pengantin wanitanya, apa yang akan terjadi dengan keluarga mereka? Apa?!


"Maafin Dinda ma. Maaf," lirih Dinda setelah kepergian Hendra.


"Tidak sayang, kamu tidak salah. Mama dan Papa yang harusnya minta maaf karena memintamu untuk menikah dengan Tuan Daru. Harusnya kami tidak melakukan itu."


"Kainah sahabatku Ma ... sahabat sekaligus sepupuku. Kenapa Papa tidak memikirkan perasaan Paman dan Kainah sebelum menyetujui permintaan Tuan Daru. Kenapa Mah?"


"Iya sayang, iya. Sudah ya? Semuanya sudah selesai."


Karmila masih tetap menenagkan putrinya, mereka hanya tidak tahu saja apa yang telah terjadi dengan Daru dan Hendra sampai kesepakatan itu terjadi.


Dengan emosi dan kemarahan yang hanya bisa tersalurkan dengan umpatan dan terus memukul setir mobil, seorang lelaki paruh baya terus menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata yang mencegah kesunyian malam. Tidak lama setelahnya mobilnyapun berhenti di sebuah rumah besar.


Tiiin.


Satpam terkejut dari tidurnya mendengar klason itu, ia segera berlari di depan gerbang dan membukakan gerbang untuk mobil itu masuk, padahal dia baru saja terlelap setelah sebelumnya juga melakukan hal yang sama untuk majikannya.


Mobil terhenti dalam bagasi dan Hendra keluar dengan keadaan lunglai dan tak bersemangat dari dirinya, ia memasuki rumah yang telah tertutup tanpa aba-aba seketika mengagetkan orang yang berada di dalam.


"Kak Hendra!" ujar seorang pria paruh baya yang mungkin berada di bawah umur Hendra. Hendra berjalan mendekati pria yang menjadi adiknya itu, tatapannya lalu beralih pada wanita tua yang kini duduk di atas kursi roda yang segera menghentikan makan malamnya saat melihat kedatangan Hendra.


"Kakak kenapa ke sini? Kamikan baru pulang dari rumah kakak saat pernikahan Dinda tadi."


Karman menambah nasi dalam piringnya setelah berkata demikian, istrinya cemberut kala sang suami tidak mengizinkannya untuk melayaninya dalam mengambil makanan.


"Bu, Dinda belum menikah," kata Daru.


"Apa?Jangan main-main kak, apanya yang belum menikah. Tadi baru saja selesai, Dinda juga sudah pergi dengan Tuan Daru yang kaya raya itu."


Bukan sang Ibu yang menyahut, melainkan Karman sang adik yang merasa konyol dengan perkataan Hendra.


"Aku tidak berbohong Bu, Dinda masih di rumah, itulah megapa aku ke sini," ujar Hendra dengan pelan membuar Karman tersedat makanan yang ingin telannya.

__ADS_1


"Apa maksud semua ini Hendra?" tanya sang Ibu yang mulai angkat bicara.


__ADS_2