INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Kotoran


__ADS_3

Dahi seorang gadis yang tengah terpejam mengernyit dan perlahan kelopak matanya mulai terbuka pelan.


"Aduh!" gumamnya sembari memegangi kepala yang seakan masih berputar dan agak terasa sakit.


"Bagus ya? Kau pura-pura pingsan agar tidur di kasurku dan membiarkanku tidur tidak nyaman semalaman."


Inayah langsung melihat asal suara dan mendapati Daru berdiri dan sebelah tangannya bertolak pinggang serta tatapan menusuk ia berikan untuk Inayah.


'Aku tidak berniat seperti itu. Aku juga tidak berjalan sendiri di sini' Inayah segera turun dari kasur yang selembut air itu.


"Harun!"


Tidak lama setelahnya Harun segera datang, Inayah hampir berpikir, mungkinkah Harun berada di balik pintu besar itu? Ia yakin dari semalam setiap Daru memanggil pasti mereka datang dalam sekejap.


"Saya Tuan."


"Bersihkan kotorannya," kata Daru sambil terduduk di atas sofa dengan santai. Harun mengikuti arah mata Daru yang melihat kasur dengan sekilas.


"Baik Tuan."


'Kotoran? Kotoran apa? Sepertinya disini tampak bersih dan mengkilat. Mataku bahkan rasanya sakit melihat kilauan ruangan ini' Inayah melihat Harun menginstrusikan dua orang yang ikut bersamanya dengan bahasa isyarat yang Inayah tidak mengerti maksudnya.


'Mereka bicara apasih? Si Daru itu juga! Kotoran apa yang dia maksud' Inayah terus berbicara dan bertanya dalam diam. Ia melihat dua orang yang ikut bersama Harun semalam mulai membuka dimana Daru mengambil pakaiannya semalam, namun dengan pintu yang berbeda. Dari kejauhan Inayah bisa melihat pintu yang seorang pria itu buka dipenuhi dengan lipatan yang rapih dan indah, orang itu lalu berjalan ke arahnya dan melewatinya untuk menuju kasur bersama rekannya.


'Mereka mau ganti sepreinya?' Inayah menoleh pada Daru yang tampak tenang, apa yang Daru maksud kotoran tadi adalah yang itu?


"Sudah selesai Tuan."


Harun mendekati Daru dan berkata demikian setelah dua orang lainnya selesai dengan pekerjaan mereka, salah seorang wanita memegang seprei dan sarung bantal yang tadi mereka lepaskan.


"Hmmm."


Daru mengibaskan tangannya menyuruh mereka keluar. Harun dan dua orang yang mengikutinya berjalan keluar saat Daru menginstrusikan demikian.


"Tuan. Bukankah seprei itu tidak kotor atau ada kotorannya? Kenapa harus diganti."


Inayah berani bertanya dan bersuara setelah Harun keluar. Daru membuka matanya yang terpenjam dan menatap rendah pada Inayah.


"Sepertinya kau melupakan sesuatu. Kasurku baru saja di tiduri oleh kotoran sepertimu! Seharusnya bukan cuma seorenya yang diganti, tetapi dengan ranjangnya sekalian," kata Dwru dengan kasar.


'Jadi maksudnya kotorannya itu aku? Apa-apaan dia. Aku memang orang miskin, tapi tidak perlu di umpamakan dengan kotoran!' Inayah tidak suka dengan kata-kata Daru yang menganggapnya seperti itu, jika memang tidak suka suruh saja Inayah pergi, maka Inayah akan melakukannya dengan senang hati.


"Saya bukan kotoran Tuan. Saya ini manusia."


"Manusia?" tanya Daru dengan nada menghina.


"Manusia tidak sepertimu! Apa yang Hendra berikan sampai orang sepertimu mau menggantikan putrinya? Uang? Berapa dia menggajimu?"


Inayah terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa, dirinya memang harus bersalah di mata Daru yang menjadi korban penipuan.

__ADS_1


"Cepat bersihkan dirimu yang bau itu, aku mau muntah bila mencium bau kotoran sepertimu," tambah Daru yang masih setia duduk di sofa. Ianayah mengendus bau tubuhnya, tidak bau! Bahkan bau parfun yang disemprotkan ke tubuhnya saat di rumah Dinda semalam masih menyengat tercium di indranya.


"Mau kau bersihkan sendiri atau kumasukan kau dalam mesin cuci! Baumu itu bisa mencemari kamarku ini."


Inayah hanya terdiam mendapat hinaan demi hinaan yang dilontarkan Daru, ingin membela diri namun disini dirinyalah yang bersalah.


"Cepat!" tambah Daru lagi.


"Anu Tuan. Itu, saya."


Inayah tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana.


"Anu, anu! Kau itu bahkan tidur semalaman tanpa mandi. Dan kau masih tidak ingin mandi juga?!"


Daru tidak mengerti dengan gadis tolol ini, wanita apa yang sudah Hendra berikan. Awas saja setelah ia memberinya pelajaran nanti! Lelaki itu tidak akan pernah mencoba lagi atau berpikir untuk berurusan dengannya kembali.


"Saya bukannya tidak mau mandi. Saya tidak bawa baju ganti," kata Inayah dan memelankan suaranya pada kalimat terakhir, ia sebenarnya juga tdak nyaman dengan pakaian yang membuatnya sesak napas itu, tetapi kalu dia keluar dari kontrakan Darsih dengan membawa-bawa pakian ... apa yang akan Bibinya itu pikirkan.


'Harusnya aku bawa saja dan beralasan untuk kugunakan di temoat kerjaku!' Inayah menepuk jidatnya sendiri.


"Bodoh!" gumamnya.


"Kau berani mengataiku bodoh?! Rupanya nyalimu hebat juga ya?"


Daru langsung berdiri dari duduknya saat mendengar gumaman Inayah, ia melangkah mendekati gadis itu dengan tatapan nyalang membuat Inayah berangsur mundur menghindari Daru yang semakin mendekat. Pikirannya mengatakan untuk menjelaskan dengan cepat kalau Daru telah salah paham dengan kata bodoh yang didengarnya.


"Tidak Tuan. Saya tidak berani mengatakan anda seperti itu, tadi saya cuma mengatakan pada diri saya sendiri karena tidak membawa baju ganti. Sungguh! Percayalah Tuan," Inayah berkata dengan satu tarikan nafas dan cepat.


Inayah langsung terdiam tanpa berani melangkahkan kakinya yang terus bergerak mundur. Setiap kali mendengar suara Daru yang menusuk dan menguasai, Inayah merasa tidak akan pernah bisa menolak kata-katanya yang selalu akan memerintah. Inayah melihat ke belakang, ternyata Daru menyuruhnya berhenti karena ia hampir menyentuh bibir ranjang yang tinggal beberapa centi lagi.


'Dasar! Padahl aku tidak sekotor itu' kesalnya.


"Minggir! menjauh dari sana, aku mau tidur. Satu hal yang perlu kamu ingat, aku ini bukanlah orang miskin sampai tidak akan mampu hanya membeli beberapa pakaian untukmu yang miskin itu. Semuanya ada dalam lemari kau cari saja. jangan mengganguku!"


Lalu Daru memosisikan dirinya berbaring di atas kasur yang lebar itu.


"Satu lagi, jangan membuat kamarku berantakan atau kau akan mendapatkan hukuman!"


Inayah masih terdiam dengan semuanya, perlahan ia berjalan mendekati lemari yang tidak wajar menurutnya itu setelah Daru membelakanginya untuk tidur. Satu persatu pintu lemari yang ada 7 lembar dan terbelah itu dibukannya. Semua isi didalamnya membuat mata Inayah sakit karena tidak berhenti membola karena apa yang ada di sana.


'Semuanya sangat indah, akut tidak sanggup bila mengambil an memakinya'


Inayah mulai mencari di antara yang tergantung untuk mendapatkan minimal yang paling jelek, tetapi tidak ada dan semuanya nampak baru dan indah dengan bentuknya yang berbeda-beda. Ia biasa melihat orang yang memakai baju dengan model sebagus itu hanyalah orang-orang cantik saja.


Akhirnya pilihan Inayah jatuh pada sepasang baju berlengan panjang dan kaki panjang juga serta polos tanpa warna lain selain warna merah, hanya itu yang menurtnya tidak bergaya dan mencolok tetapi saat menyentuh bahan kainnya! Lembut kulitnya saja mungkin lebih unggul kain halus itu.


'Sudahlah, aku akan semaki kesiangan untuk shalat subuh kalau berlama-lama terus' Inayah lalu mengambil handuk yang ada di pintu lemari lainnya dengan sangat pelan, pelan takut semua lilatan berceceran kalau sampai ia menariknya dengan keras. Inayah memilih lipatan teratas sampai kakinya menjinjit.


"Akhirnya."

__ADS_1


Inayah bernafas lega setelah berhasil dengan perjuangannya yang hanya nengambil handuk saja harus menahan nafas.


Inayah menutup pintu lemari dan pergi ke pintu yang semalam Daru masuki. Setelah Inayah hilang di balik pintu kamar mandi Daru membuka mata terpenjamnya lalu tersenyum saat mengingat kelakuan lucu Inayah yang ia saksikan sambil berbaing.


'Dasar bodoh!


Daru sudah tidak sabar menunggu untuk melihat gadis bodoh itu keluar, ia tidak bisa lagi memejamkan matanya yang telah hilang dari kantuk.


Inayah masih terdiam setelah menutup pintu kamar mandi, dalam dekapannya ada handuk dan satu set pakian yang lengkap dengan **********.


'Ini mau mandinya bagaimana? Tidak ada ember, timba, atau bak mandi yang bisa di gunakan untuk di ambil airnya' Inayah bingung, tapi dia harus cepat mandi.


"Apa mubgkin ini embernya?" tanyanya pada diri sendiri. Inayah menayakan tentang bat up yang kosong isinya.


"Tapi airnya ambil di mana?" tanyanya lagi.


"Aku tanya Tuan Daru saja."


Inayah langsung berbalik dan membuka pintu, setelah sampai dalam kamar Inayah ragu untuk membangunkan Daru saat tadi Daru memperingatinya untuk tidak mengganggunya. Terpaksa Inayah kembali memasuki kamar mandi yang cerah itu.


"Aduh!" pusingnya tidak tahu apa yang harus dia lakukan, Inayah jadi ingin kencing karena pusingnya itu.


"Toiletnya dimana ya?" tanyanya dengan gusar, ia kembali keluar dan mendapati Daru masih dengan posisi yang sama.


" Apa yang harus ku lakukan? Mungkin di dapur!"


Daru kembali membuka matanya saat Inayah keluar kamar dan masih mengenakan pakian yang sama.


"Kanapa lagi wanita itu?"


Daru turun dari atas kasur dan berjalan memasuki kama mandi, tidak ada perubahan dan semuanya nampak kering selain kain yang Inayah bawa tadi tergantung dan mencolok dalam nuansanya yang putih.


"Tuan!" kaget Inayah setelah kembali masuk dan mendapati Daru keluar dari kamar mandi.


'Tidak ada orang lain yang bisa menolongku selain dia' Inayah tidak mementingkan lagi hukuman yang akan ia dapatkan, yang terpenting adalah melegakkan kantung kemihnya dulu.


"Tuan. Dimana toiletnya, saya tidak tahan lagi."


Daru menatao tingkah Inayah yang agak aneh seperti menahan sesuatu.


"Apa kau lupa? Jangan menggangguku, kau terus berisik dari tadi!"


Inayah rasanya ingin mengutuk bibir Daru.


"Nanti dulu Tuan, tolong katakan dimana toiletnya, saya mau kencing."


Sesungguhmya Inayah malu bila mengungkapkan hal yang pribadi itu pada laki-laki apalagi itu adalah Daru, tetapi itu harus di kesampingkan dulu sekarang.


"Dipintu sebelah kamar mandi itu."

__ADS_1


Inayah langsung berlari kencang membuka pintu sebelah kamar mandi. Daru hanya tersenyum samar dengan tingkah Inayah.


__ADS_2