INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Cemburu


__ADS_3

"Ke caffe," kata Daru sambil berjalan setelah Ian mengambil alih tas hitamnya saat Daru keluar dari ruangannya.


"Baik Tuan," balas Ian, patuh.


"Hentikan mobilnya."


Ian langsung menginjak rem secara mendadak mendengar perintah Daru yang tiba-tiba tersebut.


"Maaf Tuan."


Ian merasa bersalah dengan tindakannya.


"Hmmm."


Daru hanya menjawab demikian lalu keluar dari mobil tanpa menunggu Ian membukakakan pintu.


'Bukankah, besok baru mau di ambil?' Ian bingung namun tetap ikut turun dan menyusul Tuannya yang sudah duluan masuk di dalam.


Hiks ....


Srot! Sroottt ...!


Inayah yang baru dari kamar kecil terkejut melihat keadaan Indri yang menangis. Apalagi ingusnya sampai separah itu. Jangan lupakan hidungnya yang sudah memerah dan sepertinya sedikit sobekan tisue masih tertinggal di atas hidungnya.


Inayah hanya mendekap mulutnya, ingin tertawa namun kasihan juga.


Ia mulai mendekati Indri yang belum menyadari kehadirannya, karena masih fokus terus memandangi handpone pintarnya.


"Kenapa?" tanya Inayah setelah duduk di samping Indri karena telah menguasai rasa lucunya.


"Inayah ...," lirih Indri dan memeluk temannya itu dengan tangis yang masih sesegukan.


"Ssttt ..., sudah, ya."


Inayah mengusap punggung Indri karena ikut sedih juga jika melihatnya sesedih itu.


"kenapa, ada yang menyakitimu?" tanya Inayah kembali setelah menenangkan Indri. Indri hanya menggeleng pelan dengan pertanyaan Inayah.


"Lalu kenapa?" tanya Inayah lagi dengan lembut dan tenang.


"Aku cuma sedih. Idolaku baru di campakkan sama pacarnya."


'Lah! Hanya karena itu, dia semenyedihkan ini?'


Inayah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Apa benar cuma karena seorang idola? Jika idolanya meninggal, mungkin Inayah bisa maklumi. Tapi ini ..., hanya karena idolanya putus cinta!


"Memangnya idolamu itu siapa sih, sampai kamu sesedih ini?"


Inayah penasaran dengan idola Indri yang bisa membuat wanita unik di sampingnya ini sampai separah ini.


"Namanya Kainah," jawab Indri pelan.


'Kainah? Kaya pernah dengar deh, namanya'


Inayah mencoba mengingat lagi dimana pernah mendengar nama itu, tapi ia tidak bisa mengingat dengan pastinya siapa pemilik nama tersebut.


"Kainah?" tanya Inayah penasaran.

__ADS_1


"Iya. Kainah ditinggal nikah, padahal mereka pacarannya udah lama banget," kata Indri berapi-api.


"Kalau aku nemu cewek genit itu pasti aku geprek-geprek mukanya!"


Inayah menggeleng melihat gaya Indri yang mengekspresikan ucapannya dengan gerakan tangan.


"Memangnya Idolamu yang bernama Kainah itu, artis?"


Inayah masih penasaran dengan perkataan Indri dan juga sosok Kainah itu.


"Bukan. Dia itu model terkenal, tau! Aku mengikutinya di Sosmed. Makanya, kamu itu main Sosmed, biar tau," jelasnya sembari mengomeli Inayah dan menyalakan handponenya.


Inayah hanya memperhatikan saja saat Indri mulai menggeser-geser handponenya.


"Aku juga punya Akun kok," kata Inayah membela diri.


"Halah ...! Akunmu itu cuma Facebook doang. Nih, lihat."


Indri menyerahkan handponenya di depan Inayah yang sudah menampilkan sebuah video pada layar benda pintar tersebut.


"Cantikkan? Apalagi dia itu model terkenal sampai luar negri! Uuhhggg ...! Kalau aku secantik dia pasti pengen jadi model juga," tambah Indri.


Raut sedih pada wajah Indri sudah hilang entah kamana, sekarang ia tengah berfantasi membayangkan jika dirinya menjadi cantik dan seorang model terkenal seperti sang idola.


Inayah tengah menonton video yang Indri perlihatkan dengan seksama. Di layar itu Kainah tengah bersedih menceritakan yang di alaminya hari ini saat menemui kekasihnya setelah dari luar negeri, ternyata malah menduakannya dengan wanita lain, bahkan kekasihnya itu sudah menikahi wanita yang telah merebut posisi Kainah.


Padahal Kainah sudah menjalin hubungan dengannya hampir lima tahun.


Inayah juga nampak melow mendengar cerita Kainah. Pasti sangat sakit dan hancur perasaannya jika berada di posisi Kainah.


"Kenapa?" tanya Indri yang bingung dengan tanggapan Inayah.


"Tidak ..., bukan apa-apa."


Inayah mengembalikan handpone Indri dengan tangan yang sedikit gemetaran.


'Ya Allah ....' batinnya masih merasa kaget.


'Hahh ...! Apa yang sudah aku lakukan?' Inayah merasa telah menjadi wanita terjahat, setelah mendngar cerita pilu dari video yang baru saja di tontonnya.


"Inayah, kamu kenapa?"


Indri takut melihat Inayah yang terdiam dan bengong setelah mengembalikan handponenya.


Inayah hanya terduduk diam di samping Indri tanpa mendengar tertanyaan Indri.


'Bagaimana ini? Pacarnya ternyata secantik itu. Bagaiman caranya agar Tuan Daru segera menceraikanku. Pasti model yang bernama Kainah tadi sangat sedih setelah mengetahui pacarnya sudah menikah dengan wanita lain, setelah pulang dari luar negri'


Inayah mengingat lagi gambar yang Kainah bagikan di Instagram tadi.


Dimana, dalam gambar itu terdapat foto-foto mesra Daru dan Kainah yang berpelukan, Kainah yang mngecup pipi Daru dan gambar terakhir adalah mereka yang saling menatao dengan pancaran cinta yang sama-sama ada dalam mata mereka.


"Inayah!"


"Ah! Kenapa?" Inayah kaget saat Indri menepuk bahunya dan menyadarkannya dari segala ingatan yang baru saja terlintas dalam benak Inayah.


"Kenapa, kenapa! Kamu yang kenapa? Aku tuh udah manggil-manggil kamu dari tadi, tau."

__ADS_1


"Oh. Maaf," kata Inayah meminta maaf karena terlena dengan pikirannya tanpa mendengar Indri yang memanggil.


"Kamu kenapa sih?" tanya Indri penasaran.


Biasanya jika Inayah bengong dan hilang dengan keadaan sekitar, itu pasti karena ada masalah.


Seperti terakhir kali Inayah seperti ini karena ada masalah Darsih yang sakit.


"Aku cuma kasihan mendengar cerita cinta Idola kamu tadi."


Inayah mencoba untuk menutupinya.


"Yakin, cuma itu?" tanya Indri penuh selidik dengan matanya yang melotot seakan mengatakan 'katakan yang sebenarnya sebelum aku menelanmu'. Inayah hanya menoleh ke tempat lain tanpa melihat wajah Indri sama sekali.


"Yakin. Ini kenapa tidak ada pengunjung, ya?" tanyanya berusaha mengalihkan topik dan berpura-pura melihat kursi-kursi yang kosong.


"Iya, soalnya kata si Bos, ada yang mau datang dan tidak boleh ada orang lain selain orang itu," jelas Indri.


"Siapa?" tanya Inayah penasaran. Indri hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu-menahu.


"Kayanya kamu dekat banget ya? Sama si Bos. Aku tidak diberitahu loh .... Kalian ada apa-apa ya?"


Sudah lama Inayah ingin menanyakan hal itu dan Indri nampak salah tingkah melihat keadaan sekitar sebelum menjawab ucapan Inayah.


"Kamu ngomong apa sih?"


Kedua pipi Indri ingin memerah dengan wajahnya yang tampak malu-malu.


"Ngaku aja. Kalau iya, ini aku rahasia in deh, beneran!"


Inayah mengangkat kedua jarinya sebagai bukti ia akan benar-benar merahasiakan hubungan Karim dan Indri jika itu memang benar adanya hubungan spesial di antara mereka.


"Kamu apa-apaan sih? Nggak ada ya! Si Bos itu ngeselin banget orangnya. Suka ngancam!"


Indri menepis tangan Inayah yang terangkat agar di turunkan karena memang tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka.


"Di ancam ...! Di ancam ngapain. Hah, hah," tanya Inayah dengan tampang lucu membuat Indri tertawa.


"Kenapa malah tertawa."


Inayah malah bingung sendiri, padahal dia serius bertanya walau ingin menggoda orang di sampingnnya ini juga.


"Maaf, maaf. Inayah, aku kasih tau ya."


Inayab menanti kelanjutan dari kalimat Indri.


"Kamu itu nggak cocok dengan tampang ngegodain orang. Pokoknya jelek bangat dan tambah lucu deh mukamu itu."


Indri kembali tertawa setelah berkata demikian dan mengingat wajah Inayah tadi.


"Tapi benaran Inayah. Aku sama Bos nggak ada apa-apa, kamu nggak usah cemburu," kata Indri dengan wajah serius walau berakhir menggoda Inayah juga. Inayah menghilangkan wajah kesalnya sebelum berkata.


"Bos itu cuma Bos saja. Yang menyita waktu dan memberi gaji setiap bulan. Tidak ada perasaan apa- apa, apalagi cem_"


"Siapa yang cemburu?"


Inayah dan Indri yang tengah asik bercerita menoleh ke asal suara yang ikut menyahuti perbincangan mereka dan memotong kalimat Inayah.

__ADS_1


__ADS_2