INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Rumah istana


__ADS_3

Inayah tidak berani berbicara selama perjalanan, ia merasa suasana jalan semakin sunyi dari sebelumnya.


'Apa aku akan dibunuh, dibuang di tebing jurang lalu mati?'


Inayah takut dengan kemungkinan itu.


Keadaannya sangat berbeda, sebelumnya perjalanan itu dipenuhi dengan cahaya yang berasal dari rumah-rumah atau tempat orang mengrais rezeki dengan jualan dan usaha mereka. Perjalan mereka sekarang sangatlah sepi, hanya tiang- tiang lampu jalan yang menemani kegelapan malam itu, di belakang dan depan tidak ada kendaraan yang melintas.


Inayah melirik pria di sampingnya, kemana pria itu akan membawanya? Mungkinkah ke hutan! Lalu diberikan pada hewan buas untuk di jadikan santapan?


Setelah mengalihkan pandangannya dari Daru dan melihat ke arah depan, Inayah membeku bukan main dengan apa yang dilihatnya. Mobil berhenti sebentar dan kembali berjalan, Inayah mengucek matanya tanpa sambil membuka kain yang menutupi wajahnya merasa gatal pada hidungnya karena melihat pemandangan di depannya.


Tok. Tok. Tok.


"Silahkan keluar."


Inayah menoleh ke sumber suara, ternyata Ian suadah berdiri di luar pintu dan membuka pintu serta menyuruhnya keluar. Inayah menoleh ke samping kanan.


'Dimana dia?'


"Tuan sudah keluarebih dulu," ucap Ian, Ian nampak kaget melihat wajah Inayah, apa ini hanya sebuah kebetulan?


"Oh. Terimakasih Tuan Ian." Inayah tersenyum pada Ian setelah turun dari mobil.


"Mari ikuti saya."


"Baik."


Ian sudah berjalan lebih dulu di ikuti Inayah dari belakang.


'Sepertinya ini bukan rumah. Ini istana! Aku tidak percaya bisa melihat langsung bentuk istana yang lebih indah dilihat langsung dari pada di Televisi


Inayah terus memuji apa-apa yang dilihatnya, ia sampai tidak sadar Daru keluar dari mobil karena memuji keindahan tempat yang mereka datangi. Ternyata setelah keluar dari mobil lebih menakjubkan lagi, padahal sekarang sudah gelap dan hanya disinari oleh cahaya lampu yang tersebar di mana-mana.


"Tuan Ian?"


Ian menghentikan langkahnya mendengar panggilan Inayah, melihat Ian yang berhenti, Inayah segera berhenti juga sebelum hampir menabrak punggung Ian dan melanjutkan perkataan saat Ian tak kunjung berseru akan panggilannya.


"Apa ... ini istana, eh! Maksudnya rumah Tuan Daru?" tanyanya.


"Benar."


'Apa tidak bisa jawabannya lebih panjang lagi? Singkat sekali' gerutu Inayah dalam hati namun tetap tersenyum saat Ian berbalik dan melihatnya.


"Lalu, apa Tuan Ian juga tinggal disini?" tanya Inayah lagi. Ian sangat malas berbicara dengan orang yang terlalu mengajukan banyak pertanyaan tetapi karena Inayah adalah istri Tuannya, ia harus menjawab pertanyaan gadis yang menikah dengan Tuannya ini.


"Tidak."


"Jadi_"


"Ian! Apa yang kamu bicarakan dengan wanita itu?"


Daru berteriak dari atas, ia tidak bisa melihat wajah Inayah kerena terhalang oleh badan Ian.


"Suruh dia ikut denganku."


Daru segera pergi setelah berkata demikian, ia tidak suka Ian malah berbicara dengan Inayah.


"Silahkan Nyonya Inayah," Ian mempersilahkan Inayah untuk mengikuti Daru yang sudah hampir menghilang di tingkat atas.


"Eh! Tuan Ian. Sebut Inayah saja, tidak perlu pake Nyonya itu."


Inayah agak aneh jika mendengar kata itu tersemat di balik namanya.


"Jangan membuat Tuan menunggu lebih lama lagi." Ian tidak mengindahkan ucapan Inayah.


"Tuan Ian, saya_"

__ADS_1


"Silahkan naik ke atas Nyonya."


Inayah terpaksa menaiki tangga yang melengkung itu, Inayah tetap selalu takjub melihat rumah itu, ia mengelus tangga sepanjang kakinya terus bergerak naik, tangannya merasakan kesejukan saat bersentuhan dengan benda dingin nan halus itu.


Langkah Inayah terhenti di ujung tangga, ia sudah sampai di lantai atas tetapi ia tertarik dengan apa yang ada di kedua sisi tangga itu.


"Kalian cantik sekali," pujinya, telunjuknya ia arahkan pada kaca sampai ikan-ikan itu bergerak cepat menyambut tangannya yang terhalang oleh kaca. Inayah melakukan hal yang sama pada sisi sebelahnya.


Inayah baru pertama kali melihat hal yang seperti itu, ikan-ikan yang berwarna-warni dan berada dalam kotak kaca yang memanjang serta tetpisahkan oleh ujung tangga.


"Apa yang anda lakukan?"


Inayah terkejut bersama fantasinya bersama ikan-ikan itu, ia menoleh dan mendapati Ian yang berada di tangga memandanginya.


'Aku terkejut' Inayah mengus dada sebelum menjawab Ian.


"Saya hanya melihat ikan-ikan ini. Kenapa mereka dikurung dalam kaca ini?" tanyanya.


Ian agak kaget, apakah gadis ini tidak tahu aquarium atau semacamnya?


"Masuklah ke dalam Nyonya, jangan membuat masalah dengan tetap berada di sini."


Inayah merasa bersalah mendengarnya, apa dia bisa mendatangkan masalah.


"Maaf Tuan. Saya permisi ke dalam."


Inayah berlalu dari hadapan Ian dan berjalan mengarah ke pintu yang tadi Daru masuki, Inayah terdiam sejenak sebelum membuka pintu yang besar itu.


'Apa pintunya itu tidak berlebihan? Lalu, apa yang akan aku lakukan jika sudah sampai di dalam' Tanya Inayah pada pikirannya sendiri.


Setelah cukup terdiam dengan pertanyaannya, akhirnya Inayah membuka perlahan pintu yang lebar dan menjulang itu lalu masuk ke dalam.


Menyaksikan Inayah sudah masuk, Ian melangkah menuruni tangga menuju dapur.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya seorang pelayan yang melihat kedatangan Ian.


Ian membuka kulkas dan mengambil air dingin darinya.


"Baik Tuan."


Ian tidak menanggapi lagi dan mulai menuang air dalam gelas lalu meneguknya.


'Apa jalan yang akan di ambil Tuan Daru dengan masuknya Nyonya Inayah hari ini? Mungkinkah Tuan akan tetap menggunakan Inayah sebagai alatnya? Nona Kainah bahkn tidak terlihat sampai sekarang, Ia seolah tidak peduli pada Tuan Daru!' Ian bertanya-tanya akan kelanjutan dari peristiwa hari ini.


"Apa yang kau bicarakan dengan Ian sampai membuatku menunggu terlalu lama! Apa kau pikir aku punya banyak waktu untuk hanya menunggu kau? Hah!"


Inayah menunduk merasa bersalah, padahal tadi ia hanya bertanya singkat saja pada Ian.


"Maaf Tuan. Tadi saya han_"


"Tidak penting! Aku gerah melihat tampangmu, cepat siapkan untukku mandi," pitong Datu.


'Apa yang harus ku siapkan?'


"Saya harus apa Tuan?" tanyanya.


"Kau bertanya harus apa? Apa kau tidak pernah mandi?! Tentu saja siapkan air untukku mandi, cepat lakukan!" kata Daru dengan nada yang tidak rendah.


'Oh'


Inayah kemvali ke pintu yang tadi ia masuki.


"Hey! kenapa kau malah mau keluar? Aku bilang siapkan air untukku mandi. Kau ini suka sekali membuatku marah ya?" kata Daru lagi saat Inayah hampir membuka pintu.


"Saya mau ke dapur Tuan. Ini sudah malam, baiknya Tuan mandi air hangat," jelas Inayah.


Daru memijat pelipisnya, apa yang harus dia perbuat pada wanita yang mengganti Dinda ini? Merepotkan!

__ADS_1


"Tidak perlu menyiapkannya ke dapur, kau cukup menyiapkannya ke kamar mandi," Daru berkata dengan penuh kesabaran, awas saja jika gadis itu belum juga paham!


"Oh. Baik Tuan."


Inayah melanjutkan lagi hal yang tertundanya, pintu terbuka sebagian yang cukup untuk ia gunakan keluar kamar.


"Hey! Apa kau bodoh?! Hah? Cepat pergi ke kamar mandi!"


'Orang ini maunya apa sih? Tidak mungkin aku bisa jalan ke kamar mandi tanpa berjalan? Aku buka manusia bersayap yang bisa terbang begitu saja!' gerutu Inayah dalam hati.


"Ini saya masih mau pergi Tuan, nanti saya akan panggil Tuan jika airnya sudah siap," jawab Inayah sambil tersenyum.


Daru merasa semakin pusing melihat tingkah Inayah, apa lagi Inayah yang dengan gampangnya tersenyum saat suara Daru meninggi dalam berbicara dengannya.


"Harun!" panggil Daru dengan suara lantang, Inayah sampai harus menutup mata saat suara besar itu menggema. Tidak lama setelahnya, seorang pria datang dengan berlari kecil di ikuti dua orang lagi pria dan wanita di belakangnya.


"Saya Tuan."


Orang yang bernama Harun itu berujar setelah melewti Inayah yang masih berada di pintu.


"Aku mau mandi."


"Baik Tuan."


Setelahnya Harun berbicara dengan dua orang yang ikut dengannya dan ia mendekati Daru. Harun mulai membuka jas, jam tangan, sepatu serta membantu membuka ikat rambut, lalu Harun terlihat mengoleskan sesuatu pada rambut sebahu itu. Tidak lama stelahnya, dua orang pria dan wanita ke luar dari pintu yang tadi mereka masuki dan mulai berdiri di dekat Harun berada.


"Sudah siap Tuan," Kata Harun.


"Hmmm," Daru hanya berujar demikian dan Daru mulai melangkah ke pintu yang tadi dua orang tadi masuki.


"Tunggu Tuan Harun."


Harun berhenti saat Inayah mencegahnya.


"Kalian boleh pergi," Harun berkata lebih dulu pada dua orang di belakangnya.


"Baik Pak," jawab mereka serempak dan pergi.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


Inayah telihat malu sebelum bertanya, wajahnya dipenuhi dengar rasa ingin tahu.


"Emm ... Tuan, apa menyiapkan mandi yang Tuan Daru maksudkan adalah seperti yang Tuan Harun lakukan tadi, dan bukan ke dapur untuk menyiapkanya? Ke dapur lalu ke kamar mandi. Tadi saya mau pergi ke dapur untuk memasakkan air, tapi Tuan Daru melarang dan saat saya akan ke daour untuk menyiapkannya ke kamar mandi, Tuan Daru bilang saya bodoh. Dimana kebodohannya?" tanyanya dengan sedikit malu karena ia merasa tidak tahu apa-apa.


"Kamar mandinya ada di sebelah sana Nyonya. Kenapa Nyonya malah ingin keluar?"


Harun menunjuk pintu yang tadi Daru masuki.


'Eh! Kamar madinya di situ? Kamar mandinya bukan di dapur atau di luar?' kagetnya.


"Jadi maksudnya saya tidak perlu menyiapkannya di dapur?" tanyanya lagi.


"Tidak perlu Nyonya, semua kamar di rumah ini memiliki kamar mandi," jelas Harun.


'Berarti aku yang salah' Inayah merasa senang bertanya pada Harun, Harun tidak menertawakan kebodohannya yang kelewat tolol.


'padahal kalau di Desa mandinya di luar rumah, di kontrakan bibi juga di dapur letak kamar mandinya. Ternyata orang kaya bisa langsung mandi dalam kamar ya?'


"Terimakasih, Tuan Harun. Maaf merepotkan."


"Tidak mengapa Nyonya, saya izin undur diri."


"Iya."


setelah Harun pergi, Inayah masih berdiri di tempatnya, tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya menatap seluruh sudut-ke sudut kamar besar itu, bahkan kamar Dinda yang pernah dia masuki tidak seberapa dengan kamar yang menjadi temoatnya berdiri saat ini.


Kalau di kamar Dinda terlihat cantik karena banyaknya barang-barang cantik yang tertata di dalamnya, apalagi lukisan-lukisan yang hampir memenuhi semua dinding. Tetapi di sini, semua tampak luas, dinding-dinding hanya dipenuhi dengan warna gelap dan terang tanpa ada aksesoris atau semavamnya yang bisa membuatnya berwarna cerah seperti di kamar Dinda yang dipenuhi warna kuning dan biru muda. Tetapi ke eleganannya tidak bisa dibandingkan dengan kamar milik Dinda.

__ADS_1


__ADS_2