INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Belum pandai berciuman


__ADS_3

"Ah. Leganya."


Inayah keluar dari toilet dan tanpa sadar ia berkata demikian, Inayah langsung mendekap mulutnya dengan tangan sendiri kala mengetahui Daru mendengar dan masih berada di dekat pintu itu.


"Kenapa Tuan masih berdiri di situ?" Inayah sengaja bertanya untuk menghilangkan rasa malunya yang ingin meledak.


"Kenapa? Terserah aku mau berada dan berdiri dimana, kau tidak berhak mengaturku. Sebaliknya, kau harus mematuhi semua ucapanku tanpa terkecuali," tegas Daru


'Jadi maksudnya, walaupun dia menyuruhku untuk bunuh diri aku harus patuh? Yang benar saja!' Inayah hanya kesal dalam diam dan tersenyum memamerkan gigi putihnya untuk menghilangkan malu dan kesalnya yang besamaan.


"Tuan. Saya mau mandi," kata Inayah setelah menghilangkan senyumnya berganti raut tak terbaca.


"Tapi di dalam kamar mandi tidak ada air," tambahnya


"Saya mau pulang saja agar bis_"


"Jangan harap!" Inayah kaget dan terkejut kala Daru memojokkannya di antar pintu kamar mandi dan toilet sampai punggung Inayah terbentur dengan keras.


"Kau pikir setelah berani mempermainkanku, aku akan melepaskanmu begitu saja?" tambah Daru dan tangannya mencengkram Dagu Inayah sampai kepala gadis itu mendongak ke atas dan bertatapan dengan Daru.


"Sakit ... Tuan," lirih Inayah.


"Harusnya kau sudah memperkirakan semua rasa sakitnya sebelum mau menggantikan putri Hendra, kau pikir dengan memperlihatkan wajah menderitamu bisa membuatku tertipu? Hah!"


Daru menghempaskan dagu Inayah dengan keras membuat wanita itu meringis menahan sakit.


"Ikut!" bentak Daru menarik Inayah memasuki kamar mandi.


"Lepaskan tangan saya Tuan."


Inayah ingin menarik tangannya tatapi tarikan Daru begitu kuat dan memaksa.


"Ah!"


Daru melempar Inayah di bawah sower dan menyalakan airnya yang dibgin.


'Ternyata selang aneh itu untuk mengeluatkan air?' batin Inayah saat melihat Daru memutar sesuatu dan kekuar air dari atas seperti aliran hujan yang deras.


"Apa yang mau anda lakukan Tuan?" takut Inayah karena Daru mengikat kaki dan tangannya ke belakang lalu Inayah terduduk di atas lantai kamar mandi.


"Diam! Aku sedang memberitahumu dimana kau bisa mendapatkan air."


Inayah mulai merasakan air yang berjatuhan di atas kepalanya berangsur semakin panas.


"Tolong Tuan. Airnya panas," paniknya berusaha melepaskan kain di tangannya dengan menggigitnya. Daru hanya tersenyum puas melihat semua itu, dengan begitu Inayah tidak akan mencoba-coba untuk mengatakan pulang dan tidak akan membatah ucapannya.

__ADS_1


Aliran air kembali dingin, Daru berjongkok dan mengangkat dagu Inayah dengan mencengkramnya kuat. Inayah merasakan rahangnya akan temuk karena cengkraman itu.


"Ini hanyalah sebuah contoh hukuman yang kau dapatkan. Akan semakin berat hukumannya jika kamu berani melanggar atau tidak mematuhi perintahku. Aku juga tidak mau bibirmu mengatakan kata pulang, semua yang menjadi milikku tidak akan pernah lepas dari genggamanku. Mengeti!" kata-kata Daru begitu menusuk pendengaran Inayah.


'Aku memang sudah tidak memiliki tempat kembali lagi, hanya Bibi Darsih yang mungkin akan bersedih jika mngetahui semua ini dan mengkhawatirkanku'


Inayah hanya terdiam saat Daru melepaskan dagunya, jika aliran air tidak membasahi seluruh tubuhnya mungkin Daru bisa dapat melihat aliran air mata yang tidak pernah Inayah tunjukkan lagi setelah kematian Dahlia kepada orang lain, hanya matanyalah yang nampak memerah menahan tangis yang selaku keluar walau ia sudah berusaha untuk mencegahnya.


"Kau tidak ingin meminta maaf?" tanya Daru tanpa rasa bersalah setelah apa yang telah dia lakukan pada Inayah.


'Dia malah mengharapkan maaf dariku?'


Inayah tidak mngerti dengan jalan pikiran Daru, Inayah tidak akan pernah meminta maaf. Tidak akan!


"Jadi kau hanya mau diam saja? Baiklah," kata Daru sembari meraih dagu Inayah lagi dengan cengkramannya lalu ia hempaskan lagi. Daru berdiri dan mengikat badan Inayah agar tidak bisa kemana-mana.


"Tuan ...," lirih Inayah ingin memberontak namun kekuatan Daru lebih kuat. Daru hanya tersenyum jahat akan raut takut Inayah. Setelahnya Daru kembali mengubah suhu airnya agar yang kembali mengalir adalah air panas, walau tidak sepanas air yang mendidih, tetapi putihnya kulut Inayah telah memerah karena air itu.


"Tolong lepaskan Tuan," pintanya merasa kepanasan.


"Ingin dilepaskan? Kata apa yang perku kau ucapkan agar ikatan itu terlepas. Hmmm?"


'Tidak akan!' Inayah tidak akan pernah mau meminta maaf setelah apa yang telah Daru lakukan padanya.


"Pikirkanlah. Kau akan terbebas jika menumukan katanya."


Inayah mulai mengetahui bila air dalam kamar mandi itu bisa di dapatkan seperti yang Daru lakukan tadi, tetapi bukan itu yang menjadi masalahnya sekarang, tubuh Inyah semakin panas dan merah.


'Sabar Inayah. Kamu harus meminta maaf atas deritamu agar dilepaskan' air mata Inayah terus mengalir bersama aliran air panas yang terus menetesinya, rasanya kepalanya ingin mendidih sekarang. Inayah tidak mampu bertahan dengan egonya lagi.


"Tu_Tuan. Maafkan saya, saya bersalah Tuan, tolong lepaskan saya," kata Inayah disela menahan panas. Daru membuka matanya yang semula terpejam, ia keluar dan menemui Inayah tanpa busana. Inayah memejamkan matanya mlihat hal yang tidak sepantasnya itu, ia merasakan airnya mulai menghangat serta dagunya kembali merasakan sakit namun Inayah tetap menutup matanya.


"Buka matamu! Jangan sok suci."


Karena tidak kunjung melihat Inayah membuka matanya, Daru mencium paksa bibir basah itu dan seketika membuat mata Inayah melotot dengan kedua bola matanya yang terbuka lebar karena apa yang Daru lakukan pada bibirnya.


"Yepasykan (lepaskan)."


Inayah memberontak dengan ciuman Daru yang tidak kunjung melepaskan ciumannya yang terasa sakit.


"Ternyata kau belum pandai berciuman ya? Tidak masalah. Ulangi kata yang kamu ucapkan sebelumnya," kata Daru setelah melepaskan bibirnya.


Tangan Daru masih tetap mencengkram dagu itu, Daru kembali menjilati bibir yang terus di aliri air itu karena tidak kunjung bersuara.


'Menjijikan! Dia begitu tidak tahu malunya mencium orang?!' Inayah masih setiap menutup rapat bibirnya, ia memasukkan ke dua bibirnya ke dalam agar Daru tidak berulah lagi.

__ADS_1


"Jangan coba-coba mengataiku. Atau kau ingin kepanasan. Hmmm?"


Inayah takut akan hak itu.


'Tenang Inayah ... tenang' Inayah berusaha menenagkan diri sendiri.


"Maaf," lirihnya


"Ulangi. Aku tidak mendengarnya."


Inayah geram mendengarnya, ia hanya bisa mengepalkan tangan dalam ikatan.


"Maaf."


"Lagi."


"Maaf."


"Lebih lengkap."


"Maafkan saya Tuan."


"Orang yang meminta maaf padaku tidak pernah menunjukkan ekspresi sepertimu. Lebih tulus lagi."


'Maunya apa sih?' Inayah mengatur nafasnya yang sesak dan berusaha tersenyum.


"Maafkan saya Tuan." Daru hanya mengangkat sebelah alisnya.


"Tersenyumlah lebih tulus lagi dalam meminta maaf."


'Sangat menyenagkan mempermainkan gadis penurut sepertinya' Daru tidak akan pernah berhenti bermain-main dengan Inayah sampai ia merasa puas.


"Tuan."


Inayah memberanikan diri dengan segala kebenciannya dan mendekati wajah Daru yang memang hanya berjarak satu kepalan dengan wajahnya lalu mengecup singkat bibir pria yang ikut basah itu.


"Maafkan semua kesalahan saya," lanjutnya setelah kembali ke posisi semula.


'Andalah yang harus meminta maaf padaku. Harusnya anda bisa menuntutku dengan hal lain saja karena pernikahan ini, tapi kenapa harus menyiksaku? tambahnya dalam diam.


"Ternyata kau pandai merayu dan dengan mudah mencium seorang pria."


Daru tersenyum miring.


"Kali ini aku bebaskan. Apa kau juga merayu Hendra seperti tadi agar mau menikahi calon suami putrinya yang kaya raya sepertiku?" tambahnya dengan segala tuduhan yang begitu menusuk dan menancap dalam hati Inayah.

__ADS_1


"Apa maksud anda Tuan?"


Inayah tidak terima dengan kata tuduhan Daru. Inayah bahkan tidak pernah sekalipun berpapasan dengan Hendra untuk merayunya, apalagi Hendra adalah majikan Darsih yang telah beristri dan memiliki anak . Anaknya bahkan Lebih tua dari pada umur Inayah sendiri. Inayah tidak semurahan itu sampai harus berbuat demikian, merayu pria beristri! Yang harusnya lebih pantas menjadi ayanhya dari pada harus menggodanya. Inayah ingin mengatakan kalau semua itu tidak benar, tapi sudahlah.


__ADS_2