
Ting, tong. Ting, tong.
'Siapa itu?!'
Ian meninggalkan ruang olahraganya dengan kesal, siapa yang berani mengganggunya di hari minggu dan hari kebebasannya ini.
Ceklek.
Ian membuka pintu rumahnya dan mendapati seorang gadis berpakaian lusu berada di depan rumahnya sembari menenteng sebuah tas besar. Gadis itu nampak tidak berkedip saat memandanginya.
"Cari siapa?" tanya Ian dengan dingin, ia tidak suka jika berhadapan dengan seorang wanita apa lagi yang berpenampilan seperti di depannya ini.
"Aaa ... saya_saya mencari alamat. Apa benar ini alamatnya?"
Gadis itu menyondorkan sebuah kertas pada Ian. Ian enggan mengambil kertas itu dan hanya membaca alamat rumahnya yang tertera di sana. Gadis itu semakin kikuk kala pria di depannya hanya menatap kertas tanpa mengambil untuk membacanya. Si gadis kembali menarik tangannya.
'Mungkin aku salah alamat' batinnya bersamaan dengan tangannya yang ia tarik kembali.
"Ada perlu apa kau mencari alamat itu?" tanya Ian lagi yang tetap dengan wajah datarnya membuat sang pencari alamat semakin gugup.
'Kayanya benar disini alamatnya' itulah prediksinya karena Ian kembali menanyakan kenapa dia mencari alamat tersebut.
'Memangnya dia sudah baca? Sepertinya tadi aku memberikannya terbalik. masa dia bisa baca tulisan tangan yang sambung-sambung dan terbalik ini' gadis itu menatap kertas di tangannya lalu memutarnya agar bentuk tulisannya terbalik.
'Ih! Tulisannya tidak jelas' gerutunya dalam hati.
Ian menatap aneh orang di depannya yang malah bertingkah bodoh itu. Ian merasa orang tidak di undang itu hanya mengganggu waktunya.
"Silahkan pergi jika tidak ada kepentingan."
Ian berbalik dan akan menutup pintu. Gadis itu tersadar setelah mendengar ucapan Ian dan saat Ian akan menutup pintu ia buru-buru mencegahnya.
"Eh! Eh! Paman, tunggu dulu."
Ian tidak melanjutkan kegiatan menutup pintunya, bukan karena cegahan dari gadis itu, melainkan panggilan dari gadis yang tidak dikenalnya itu. Siapa dia berani menyebutnya Paman!
"Apa kau bilang!" tanya Ian dengan mata nyalangnya setelah kembali berhadapan dengan si gadis.
"Tu_tunggu dulu."
Yang ditatap tergugup melihat mata menusuk dari Ian.
"Sebelum itu," ujar Ian dengan dingin.
'Maksudnya apa?' bingungnya.
"Yang saya mencari alamat?" tanya si gadis setelah mengingat-ingat kata apa yang telah ia lontarkan.
__ADS_1
"Jangan coba berlolucon denganku! Ulangi ucapanmu yang lancang tadi."
Ian melangkah maju membuat orang di depannya bergerak mundur untuk menghindari pria yang ia tidak tahu kenapa harus segarang itu.
"Ya_ yang, Eh! Paman, tunggu dul_ aaa ...."
Gadis itu menutup matanya saat akan terjatuh ke belakang karena menghindari orang yang ditanyainya alamat itu. Ia ingat, tadi ia menaiki anak tangga yang mungkin ada tiga, kalau dia jatuh dengan posisi berbalik pasti bokongnya akan sangat kesakitan.
'Kok tidak sakit?' bingungnya tidak merasakan sakit apapun, ia memberanikan diri untuk membuka matanya dan akan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Eh! Paman."
Bruk!
"Awww ...!"
Ringisan gadis itu tetap mendatarkan raut Ian yang tadi sempat menahannya namun ia lepaskan saat wanita itu kembali menyebutnya Paman yang membuat telinga Ian kesemutan mendengarnya. Ia masih muda, umurnya masih 28 tahun untuk di sebut dengan kata Paman oleh gadis yang tidak di tahunya siapa itu.
Ian melihat gadis itu mengusap bokongnya sembari berdiri dan masih meringis.
"Paman, kalau mau nahan saya jatuh jangan di lanjutin dong! Kan jadinya, jadi sia-sia, pantatku tetap sakit!"
Ian hanya diam dan berniat untuk kembali masuk ke dalam, setidaknya gadis itu sudah hengkang dari terasnya.
"Mbak Mila gimana sih! Ini alamatnya dimana sebenarnya. Masa aku nyasar."
Gadis itu terdengar ketakutan. Ian menghentikan langkah dan tangannya yang akan memegang pintu lalu kembali berbalik.
Gadis itu mengalihkan pandangannya kepada Ian.
"Mbak Mila kakak sepupu saya, kata Mbak Mila saya ke alamat ini saja untuk menggantikannya," jelas gadis itu.
'Jadi orang ini yang Mila rekomendasikan untuk menggantikannya? Awas saja kalau kerjanya tidak becus!'
"Masuk!"
"Saya?" tanya gadis itu.
"Siapa orang lain di sini selain dirimu."
Setelah mengatakan itu Ian berlalu masuk dalam rumah.
'Tidak ada siapa-siapa, berarti aku kan?' tanyanya setelah menatap sekeliling halaman luas dan asri itu, hanya ada jalan sepi yang di lihatnya. Dengan ragu ia mulai menaiki lagi tangga yang sempat ia naiki dengan tenang dan turun dengan cara yang sangat mengagumkan, yaitu terjatuh. Cih!
"Ambil."
Inayah mengambil kertas itu dengan ragu saat Daru menyondorkannya.
__ADS_1
"Ini apa Tuan?" tanyanya setelah kertas berpindah tangan.
"Baca."
Dengan sedikit penasaran Inayah mulai akan membaca kertas tersebut, matanya sampai membulat saking yang tidak bisa di utarakan dengan kata-kata lagi.
'Banyak sekali. Ini triliun kan? 0 nya ada 12! Ya Allah'
Inayah harus mengedipkan matanya beberapa kali agar lingkaran-lingkaran Nol yang baru dilihatnya menghilang dari pelupuk mata. Bahkan nafasnya terasa sesak kalau dia harus melunasi uang sebanyak itu, sepertinya Inayah harus memiliki pekerjaan tambahan.
"Tuan, 8.000.000.000.000,00 itu terlalu banyak. Bagaimana saya harus membayarnya? Tolong beri saya waktu."
Tentu saja uang sebanyak itu bukanlah jumlah yang sedikit untuk Inayah, 1.000.000,00 saja bagi Inayah sudah paling banyak, apalagi kalau 8.000.000.000.000,00.
"Gampang. Tinggal tanda tangan saja maka semuanya selesai," ujar Daru mempermudah kegundahan Inayah.
'Tapi kalau aku tanda tangan harus menuruti semua ucapannya. Hari ini saja sudah tidak sanggup, apalagi kalau setiap hari' batinnya merasa berat untuk tanda tangan.
"Tuan. Kapan Tuan akan menceraikan saya jika saya menandatanganinya?" tanyanya, hal itu adalah hal yang harus Inayah ketahui untuk hari kebebasannya.
"Tergantung seberapa kau mematuhi ucapannku."
Inayah tampak senang mendengarnya, ia yang selalu menurut pada Dahlia saat Ibunya itu masih hidup dan Darsipun menganggap tantangannya bukanlah hal yang sulit. Inayah hanya belum tahu saja seberapa berkuasa dan berpengaruhnya Daru, tentu saja Daru akan berbeda dengan Dahlia dan Darsih.
"Benarkah? jika saya menurut, berapa lama Tuan akan menceraikan saya?" tanyanya kembali.
"Sampai aku mau."
'Sampai kapan kalau sampai dia mau. Bikin bingung saja!' kesalnya mendengar tanggapan tidak menentu dari Daru.
"Tuan, jika saya sudah tanda tangan dan ternyata saya bisa membayarnya, apa Tuan akan menceraikan saya?" tanyanya lagi sebelum ia membubuhkan tanda tangannya.
"Jika kau membayarnya sekarang maka kau cukup menandatangani surat cerai," kata Daru dengan ekspresi dingin.
'Itu hanya berlaku untuk hari ini!' batinnya menatap tajam Inayah.
"Sungguh Tuan! Baiklah, saya akan tanda tangan dan berusaha untuk melunasinya."
Inayah cukup senang dan langsung menandatangani kertas tersebut.
'Setidaknya aku bisa cerai darinya. Tapi ... sampai kapan aku bisa melunasi semua itu? Semoga dia cepat berinisiatif untuk menceraikanku! Aku hanya perlu patuh atas semua perintahnya'
"Tapi Tuan, ini tidak bercanda kan? Saya akan menerima uang 10 juta jika mau tanda tangan."
Inayah ingin memastikan lagi, jika apa yang tertulis itu benar maka ia akan dengan cepat melunasi denda dan ruginya. Ia akan menghemat yang mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun, Inayah harus bersabar. Itu lebih baik dari pada ia harus kehilangan Darsih yang telah seperti sosok orang tua untuknya.
"Hmmm," sahut Daru tidak melihat Inayah lagi dan kembali seperti semula sebelum Inayah mengganggunya.
__ADS_1
'Hmmm? Kok cuma hmmm, itu artinya iya atau tidak?'
Inayah ingin kembali bertanya namun ia takut kejadian seperti sebelumnya terulang, akhirnya ia hanya duduk dan melihat jam yang ternyata sudah mau hampir jam 11.