INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Sesak


__ADS_3

"Sudah ku katakan, kesempatannya sudah habis. Biar polisi yang mengurusmu."


"Jangan Tuan! Jangan serahkan saya pada polisi."


Inayah beralih menahan leher Daru dengan kedua tangannya agar pria itu tidak beranjak.


"Bukankah kau tidak mau? Dan lagi pula aku tidak berselera lagi."


Daru tersenyum miring penuh kemenangan, semua orang memang harus memohon kepadanya, terutama gadis yang kini meminta padanya dengan wajah ketakutan.


"Saya mau melakukannya! Tolong maafkan saya Tuan, tadi saya hanya ingin mengetahui pilihan yang akan Tuan berikan," bibir Inayah bergetar mengucapkan kata-katanya. Kenapa dia malah menyerahkan dirinya sendiri serta memohon untuk Daru menjamahnya.


"Begitukah?" tanya Daru setelah menciptakan jejak pada leher Inayah dan berpindah ke sisi lainnya.


"I_iya Tuan."


Mata Inayah ia pejamkan dengan rapat saat bibir hangat itu terus menjelajahinya, ingin mencegahnya namun dia sendiri yang meminta agar Daru berlaku seperti itu.


"Tuan."


Inayah menahan kepala Daru yang mulai turun ke bawah leher.


"Hmmm."


Daru tidak membiarkan tangan kecil itu menghentikannya dan ia genggam dengan sebelah tangan serta melanjutkan permainan yang belum di mulai.


Baju tidur Inayah mengganggu kegiatannya.


'Baju sialan ini harus dimusnahkan' Daru membawa tubuh mereka sempurnah ke atas kasur.


"Tu_tunggu Tuan," cegah Inayah saat Daru hendak melepaskan kain yang menutupi tubuhnya.


"Tunggu dulu."


Inayah menahan bajunya karena Daru tidak berhenti saat Inayah mencegahnya.


'Bagaimana ini ..., bagaimana menghentikannya? Apa setelah ini aku akan ....'


"Kenapa, hmmm?"


Karena bajunya Inayah tahan, Daru kembali menciumi Inayah bahkan sampai di leher bagian belakang.


"Tuan_ Tu_Tuan tidak akan menghubungi polisikan?"


Tidak tahu harus mencegahnya bagaimana, Inayah hanya bisa mengulur waktu yang mungkin tiada berarti karena semua itu hanya sia-sia.

__ADS_1


"Tidak jika kau diam."


'Ya Allah ....'


Inayah ingin kembali bersuara tapi takut jika benar-benar Daru akan menghubungi polisi. Bukankah Daru tidak akan menghubungi polisi jika Inayah diam?


"Tua_"


Daru segera membungkam mulut yang ingin berbicara itu. Inayah sampai kehabisan nafas dan hampir berhenti bernafas jika Daru tidak melepaskan bibirnya yang sudah membengkak, apalagi Daru tidak membiarkannya bernafas normal dan langsung menaggalkan atasan Inayah yang menyisakan bra penghalang tubuh Inayah.


"Tunggu!"


Inayah kembali menahan kepala Daru yang akan menjalar ke bawah perut telanjangnya, tapi suara Inayah tetap tidak menghentikan aksi Daru.


"Lampu Tuan. Tolong matikan dulu lampunya."


Inayah belum berani jima harus terang-terangan melihat tubuh Daru tanpa busana di hadapannya. Walau sudah pernah menyaksikan serta memandikan tubuh itu, tapi sekarang ini dihadapkan dengan situasi yang berbeda.


"Aku mau melihat milikku dengan jelas. Jadi tidak perlu mematikan lampu."


Daru melepaskan bibirnya sejenak untuk membalas ucapan Inayah.


"Ta_ hhmppp."


Suara Inayah terhalang oleh bibir yang kembali membungkamnya.


Haaah!


Inayah menarik dan menghembuskan nafasnya dengan kasar setelah bibirnya terlepas.


"Tu_ hhhmpppp."


Sebelah tangan Daru menanggalkan apa yang ada pada tubuh mereka tanpa membiarkan Inayah yang terus ingin berbicara dan mencegahnya.


'Sesak'


Seperti bermimpi, Inayah merasa sesak dalam tidurnya, matanya terbuka dengan oksigen yang seakan terhambat untuk masuk.


"Aduh ...," gumamnya mengadu akan sesak yang ia rasakan, dan menyadari ternyata tengah berada dalam pelukan Daru.


"Tuan. Tolong lepaskan saya," kata Inayah dengan pelan namun pelukannya tidak melonggar sedikitpun.


'Ini kenapa kencang sekali sih?!' Inayah ingin terlepas tapi juga tidak mau Daru sampai terbangun dan melihat tubuh polosnya.


Daru menahan Inayah melebihi guling dan mungkin sama seperti mendekap Bayi agar tidak terlepas, namun lebihnya Inayah bahkan tidak bisa bergerak serta melekat pada tubuh Daru yang besar dan kekar, kakinya terhimpit oleh kaki lain dalam selimut.

__ADS_1


'Tenang Inayah. Tarik napas dengan pelan dan hembusan perlahan juga' Inayah mencoba melakukan intruksinya sendiri dan menghirup aroma tubuh Daru yang tetap harum walau sudah tidur semalaman.


Haaah ..., hembusan nafas Inayah menerpa leher Daru serta menggelitik si pemilik leher yang masih tetap menutup matanya.


"Kita lepasin perlahan," katanya seperti berbisik, berusaha menyingkirkan kulit beserta tulang dan dagingnya yang membuatnya terhimpit itu dengan pelan.


"Kenapa susah sekali sih?" gerutunya masih dengan nada yang pelan. Kepalanya mendongan dan mendapati dagu si pemilik.


"Kau ini, tidur saja masih tetap menguasaiku begini!"


Ingin rasanya Inayah meneriakkan kata-kata itu agar orang ini terbangun tapi keberaniannya tidak sampai seujung kuku sehingga hanya berani berbisik saja.


'Hah, akhirnya' Inayah bernafas lega setelah terlepas dari Daru yang masih tetap terpejam.


"Kalau saja jariku ini bisa menjempitnya tanpa terbangun sampai mati! Sebaiknya aku menghindar sebelum dia terbangun."


Cepat-cepat Inayab menjauhkan jempol dan telunjuknya dari hidung Daru yang mancung sebelum pemilik hidung terbanggu dan terbangun.


"Eh!"


Inayah hampir keluar dari selimut dan tersadar jila ia sedang tanpa baju. Ia mengambil kemeja hitam Daru yang tergeletak di bawah kasur lalu memakainya dengan pelan takut orang yang masih tidur itu terbangun.


Inayah bergerak dengan pelan saat turun dari kasur dan berlari pelan serta susah payah dalam kamar mandi.


"Menggemaskan."


Mata Daru terbuka dengan sempurna setelah Inayah hilang di balik pintu.


"Astagfi_" Inayah menutup mulutnya yang hampir beristigfar dalam kamar mandi setelah melihat penampilan wajahnya di depan cermin, apalagi di bagian tubuhnya yang lain. Inayah menunduk dan melihat keadaan lain selain leher dan bagian atasnya yang lain, menyibak sedikit kemeja hitam yang kepanjangan dan melihat paha serta betisnya yang tidak ketinggalan walau bagian atas lebih banyak.


"Kenapa tidak sekalian dia memakanku sampai habis saja!" geram demgan semuanya namun tidak berani melawan apalagi betul-betul di makan oleh Daru.


"Inayah, kenapa seragamnya kamu lapis gitu? Ini juga nggak di ikat kaya biasa," tanya Indri sembari memegang rambut Inayah yang hanya di jepit kiri-kanan ke belakang, tidak ekor kuda seperti biasa di tambah baju yang sampai leher dan hampir menelan kepalanya.


Sebelum ke caffe tadi, Inayah membeli baju yang membuatnya sesak nafas itu untuk menutupi ulah Daru tadi malam.


"Soalnya leherku bintik-bintik karena alergi, jadi aku pake baju kaya gini. Bos bolehin kok, tadi aku udah izin," kilah Inayah dengan mau bohongnya.


"Alergi? Emang kamu punya alergi?" tanya Indri lagi.


Setahu Indri, Inayah itu tidak punya alergi. Sudah hampir 2 tahun ia mengenal Inayah dan selama itu pula tidak melihat kalau Inayah punya alergi.


Ya, semenjak Inayah datang ke Kota, Indri sudah mengenal Inayah dengan pertemuan yang tanpa di sengaja dan terjadi berulang-ulang yang membuat mereka tampak akrab sampai Indri mengajak Inayah untuk meminta kerja bersamanya di caffe pada Karim.


"Ak_"

__ADS_1


"Inayah."


Mereka berdua menoleh ke asal suara yang memanggil Inayah


__ADS_2