
Daru selesai dari kamar kecilnya dan mendapati Inayah tengah melakukan sujud. Ia yang awalnya ingin mempermainkan Inayah saat melihat gadis itu, tertahan sewaktu menonton gerakan shalat dari belakang.
'Untuk apa dia membuang waktunya hanya untuk gerakan-gerakan aneh itu? Cih!"
Walau seperti itu komentarnya tetapi masih tetap menyaksikkan gerak-gerik Inayah yang sama. Mengangat tangan, membungkuk, duduk, lalu menyium kain yang entah apa namanya. Sampai terakhir Daru melihat tangan Inayah di depan dada. Ia tahu gerakan itu adalah yang namanya berdoa. Sampai akhirnya ia mendekat saat Inayah selesai shalat dan melipat kain putih beserta alasnya shalat tadi.
Saat berbalik dan yang masih mengenakan mukena sedangkan rok dan sajadahnya sudah dia lilat, terkejut mendapati wajahnya.
'Cantik' Daru tidak bisa memungkiri kalau wajah Inayah sangat cantik bila dilingkari oleh kain putih itu, sampai ia mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh Inayah.
"Saya mendoakan Mak' saya yang telah tiada dan memohon maaf pada Tuhan," jawab Inayah yang juga ingin bertanya pada Daru namun tidak berani.
"Cih! Memangnya Mak'mu itu akan masuk surga dengan kau mendoakannya?" kata Daru
"Kalau sudah mati berarti sudah mati. Untuk apa kau menghabiskan waktu hanya untuk hal yang membosankan itu," tambahnya lagi
Inayah mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Daru, Daru seperti berkata hal buruk untuk Ibunya.
'Apa orang ini tidak punya orang tua sampai mengatakan semua itu dengan mudahnya!' marahnya tertahan.
"Menurut saya ini adalah cara dan bentuk bakti saya pada orang tua saya Tuan."
Inayah menjawab masih dengan nada lembut walau dadanya naik turun menahan amarah. Matanya memanas bila mengingat Dahlia, tapi dia tidak ingin menangis di depan orang lain.
"Begitukah? Baiklah, untuk itu aku tidak akan melarangmu karena itu urusanmu dengan Tuhan."
Setelah itu Daru meninggalkan Inayah dan memasuki kamar mandi.
'Hah ..., akhirnya. Dia tidak mengetahui kalau kami hampir datang bersamaan' Inayah mengusap dadanya bernafas lega setelah Daru menghilang di balik pintu. Inayah hanya tidak tahu saja apa yang akan terjadi nanti.
Inayah belum pernah bertegur sapa atau bahkan akrab apalagi bercengkrama dengan anggota keluarga Daru. Mungkin hanya Darwin yang pernah menyapanya beberapa kali atau memberika seutas senyum padanya.
Seperti malam ini, suasana makan malam hanya ada keheningan yang tercipta. Inayah hanya mengikuti Daru, begitu suaminya itu selesai dengan makannya maka diapun ikut selesai pula. Inayah tidak enak makan kalau selalu mendapat tatapan-tatapan benci dari beberapa pasang mata, makanannya seakan tersangkut di tenggorokkan setiap kali ia akan menelannya.
"Rupanya kau tidak mendengar ucapanku ya? Kenapa kau pulang terlambat."
Seketika langkah Inayah terhenti di belakang punggung Daru.
'Dia tau?' batinnya, mulai merasa was-was. Ia kembali mengingat kejadian dalam kamar mandi tempo hari. Walau setelah itu Daru tidak pernah lagi berlaku kasar padanya karena Inayah hanya menurut dengan semua ucapan Daru selama beberapa hari ini.
"Hukuman apa yang pantas kau dapatkan."
Daru berbalik dan berhadapan dengan Inayah yang nampak mematung dan memandanginya dengan sorot mata meminta belas kasihan.
"Saya tidak terlambat Tuan, hanya hampir terlambat," ucapnya pelan membela diri.
"Begitukah? Lalu siapa yang tadi berlari?"
Mata Inayah berkedip tak tahu harus berkata apa.
Langkahnya beangsur mundur dengan Daru yang melangkah maju dan menatap Inayah dengan mata hitamnya yang seakan menusuk.
__ADS_1
'Padahal aku sampai di rumah tepat jam 5' Inayah merasa ia tidak bersalah dalam hal ini tetapi ia juga takut dengan tatapan Daru padanya.
"Maaf Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi."
Inayah menunduk dan tidak menatap Daru lagi saat dia mulai terpojok.
"Lalu bagaimana jika kau mengulanginya?"
"Tuan bisa memberikan saya hukuman apa saja," pasrah Inayah. ia berharap kali ini Tuhan menyelamatkannya dari keadaan yang begitu mencengkam seperti sekarang.
Daru berlalu dari hadapan Inayah lalu membuka bajunya dan naik ke atas kasur serta berbaring tengkurap.
"Pijat punggungku maka aku akan menganggap kesalahanmu selesai."
Daru sudah siap dengan posisinya serta mata terpejam. Inayah melangkah ragu untuk naik di atas kasur karena ia biasa tidur di sofa selain saat ia pingsan.
"Apa yang kau tunggu? Cepat!"
"Baik Tuan."
Inayah memberanikan diri dan duduk bersila di depan Daru yang kini berbaring.
'Berarti besok kasurnya pasti di ganti. Terserah dialah, siapa suruh dia malah berbaring di atas ini'
"Lama sekali kau ini! Cepat."
Dadu menarik sebelah tangan Inayah lalu ia arahkan di belakang punggung dan kembali membawa tangannya sendiri untuk menjadi tumpuan kepala yang beralaskan bantar.
Inayah membawa sebelah tangannya lagi pada punggung Daru dan mulai memijatnya.
Daru menikmati pijatan tangan kecil Inayah, kesegarannya seakan menjalar sampai ke ubun-ubunnya yang terasa pusing dan berangsur tenang.
'Ini kapan selesainya sih? Kesenangan sekali dia. Aku ngantuk!' gerutunya mulai tak tahan melawan kantuk yang mendera, apalagi kesunyian serta Daru yang mungkin terlelap itu semakin menambah mata sayu Inayah ingin tertutup.
"Tuan," panggilnya pelan berharap Daru tidak menyahut agar dia bisa meninggalkan pekerjaannya.
"Hmmm."
Inayah mengerucutkan bibirnya memdengar sahutan Daru. Kenapa tidak tidur saja sih?! Biasanya kalai Inayah memijat Dahlia, Ibunya itu tertidur dengan cepat dan sampai terlambat bangun. Kenapa pijatannya tidak berpengaruh pada Daru!
"Tuan," panggilnya lagi setelah selang beberwpa saat. Ia terkejut saat tiba-tiba Daru bangun dan terduduk, Inayah langsung menarik kedua tangannya. Kantuknya bahkan sedikit berkurang sangking kagetnya.
"Kau berisik sekali! Jangan berhenti sampai aku menyuruh."
Daru kembali tengkurap setelah berujar demikian.
"Maaf Tuan."
Inayah merasa lelah dan mengantuk namun tetap harus mematuhi permintaan Daru dan tetap melanjutkan legiatan memijatnya. Jari- jemarinya sudah terasa mengempes dan kebas, apalagi dibagian kedua ujung jemporlnya.
"Stop! Turun kau."
__ADS_1
Inayah langsung bersemangat.
"Terimakasih Tuan."
Inayah seakan terbang, turun dari kasur karena tidak ingin berada didekat Daru lagi dan langsung mengambil bantal dan selimut dalam lemari secepat kilat.
Inayah masih sempat melihat jam yang tergantung di dinding sebelum membaringkan tubuhnya.
"Hampir jam 12," gumamnya, pantas saja matanya sudah terasa perih. Ternyata sudah selarut ini. Inayah mengusap wajah dengan kedua tangan setelah melafalkan sesuatu lalu menutup mata bersamaan dengan usapan di wajahnya.
Daru hanya tersenyum tipis saat menyaksikkan tingkah Inayah itu.
'Setelah ini kau tidak akan lolos lagi. Bersiaplah!'
Daru menatap Inayah yang sudah memdengkur halus.
"Secepat itu? Kupastikan besok kau tidak akan tidur semalaman."
Lalu Daru ikut tertidur setelah ia merasa nyamannya pijatan Inayah tadi.
"Assalamualaikum, Bi. Bibi?"
Sore ini I ayah menyempatkan waktu untuk melihat keadaan Darsih yang sudah 2 hari tidak dilihatnya.
"Bibi?"
Inayah membuka kamar Darsih saat masuk tadi tidak melihat kehadiran Bibinya itu dan Darsih juga tidak ada dalam kamar. Inayah mulai khawatir, apalagi saat masuk tadi pintu depan tidak terkunci.
Inayah kebelakang dan semoga saja Darsih ada di sana.
"Bibi."
Inayah merasa lega saat melihat Darsih ternyata sedang menyuci. Pantas saja Darsih tidak mendengar panggilannya, karena suara air mengalir dari kran ke dalam ember dan gesekan sikat pada kain yang begitu menguasai pemdengaran Darsih.
"Ina!"
Darsih nampak kaget melihat kemunculan Inayah. Darsih segera mencuci tangannya yang berbusa dan meninggalkan cucian tersebut.
"Inayah lanjutkan ya, Bi."
Inayah hendak masuk namun Darsih mencegahnya.
"Tidak usah. Kamu pasti lelah setelah bekerja seharian. Sebaiknya kita duduk saja."
Darsih dan Inayah duduk di atas kursi plastik yang ada di depan pintu masuk.
Uhuk. Uhuk.
"Bi! Tunggu Bi. Aku ambilkn minum."
Inayah lalu berlari ke dapur setelah menepuk pelan punggung Darsih.
__ADS_1