INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Keuntungan


__ADS_3

"Inayah. Jelaskan maksud semua ini."


Indri sudah seperti seseorang yang menanyai kekasihnya yang tengah selingkuh dengan orang lain.


"Indri. Ini tidak seperti yang terlihat. Aku dan ...,"


'Suamimu' kata suamiku Inayah ucapkan dalam diam.


Indri pasti mengetahui bahwa Daru adalah kekasih dari idolanya, Kainah. Inayah juga baru mengetahuinya tadi jika idola Indri adalah Kainah, Indri bahkan sampai ingin menggeprek wanita yang menjadi istri Daru yang berarti adalah dirinya.


Sedangkan, jika Inayah menyebut Daru dengan Tuan Daru, pasti pria aneh itu akan kembali menciumnya di depan orang lain.


"Istriku tidak perlu menjelaskan apa-apa. Semuanya terlihat seperti yang kau lihat."


Daru menyambung perkataan Inayah lalu merangkul Istrinya itu.


"Benarkan, Istriku?" tanya Daru pada Inayah yang hanya diam.


'Bagaimana ini?' Inayah tidak tahu harus berbuat apa.


"Istriku, benarkan?" Daru kembali mengajukan pertanyaan yang sama namun dengan kata terbalik dengan pertanyaan yang sebelumnya.


'Pasti harus di iyakan ucapannya' Inayah ingin berkata 'tidak' namun ucapan itu tersengal di tenggorokan saat melihat tatapan Daru.


"I_iya," jawab Inayah, tergagap.


"Jadi_"


"Maaf Tuan Daru dan Tuan Ian. Apa ada masalah?"


Karim yang tiba-tiba datang memotong ucapan Indri yang ingin kembali berkata.


"Bos?"


"Indri, Inayah. Saya ingin memberitahu kalian, sebelumnya saya sudah menyampaikannya pada Andi dan Rudi. Semalam juga sudah saya sampaikan pada yang lain," tutur Karim.


"Tentang apa Bos?" tanya Inayah dan Indri bersaan.


Daru merangkul kuat bahu Inayah saat Istrinya itu bertanya pada Karim.


Sebenarnya Karim juga ingin bertanya kenapa Inayah dan Daru sedekat itu, tapi di urungkannya saat berhadapan dengan Daru dan Ian.


"Saya tidak lagi menjadi Bos kalian," kata Karim.


"Apa!" kaget Indri dengan teriakannya. Inayah hanya tersentak saja mendengarnya, tidak seperti Indri yang sampai berteriak.


"Bararti kami di pecat ya, Bos?" tanya Indri dengan suara lemahnya.


Bagaimana ia harus menjelaskan pada sang Ibu jika dia sampai kehilangan pekerjaan. Kepalanya mungkin akan terpisah dari badannya jika hal itu benar-benar terjadi.


Inayah juga mulai gelisah akan pekerjaannya saat mendengar ucapan Indri, ia akan lebih lama lagi berada di sisi Daru jika kehilangan pekerjaan. Haruskan dia mencari pekerjaan baru?


Karim tersenyum semenawan biasanya mendengar pertanyaan Indri.

__ADS_1


"Kalian masih bisa bekerja disini jika pemiliknya masih mau mempekerjakan kalian," kata Karim.


Indri sedikit lega saat mendengarnya, namun di detik berikutnya ia melihat Karim dengan tanya lagi.


"Kenapa Bos tidak lagi menjadi Bos di caffe ini? Apa jangan-jangan ..., Bos banyak utang dan menjual caffenya ya?!" kata Indri yang mulai lagi dengan ketidak sopanannya pada Karim saat menanyai pria pemilik senyum menawan itu.


Karim tidak ingin memperpanjang masalah ini.


"Saya tidak suka punya utang. Tuan Daru telah membeli tempat ini beserta isinya."


Indri langsung beralih melihat Daru.


Seperti yang Karim katakan tadi, ia bisa tetap bekerja di sini jika pemiliknya mengizinkan dan berarti pemiliknya adalah orang yang baru saja ia katai dengan sebutan pria brensek.


Oh Tuhan! Sepertinya Indri akan benar-benar kehilangan kepalanya hari ini.


Daru tidak mungkin mau mempekerjakannya jika mengingat kata-kata yang keluar dari mulut Indri tadi.


'Untuk apa Tuan Daru membeli tempat ini?' Inayah bertanya dalam hati dan mendongak ke samping dengan wajah penuh tanya melihat Daru.


Daru hanya semakin mempererat rangkulannya melihat wajah imut yang berkerut Inayah, alisnya hampir menyatu sangking penasarannya.


"Be_banarkah?" tanya Indri tidak ingin percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Benar, Nona! Tidak ada yang melarang anda jika ingin kehilangan pekerjaan."


Kata-kata tegas Ian membuat Indri kehilangan kata. Tamatlah riwayat pekerjaannya, tadi dia bahkan sudah di peringatkan untuk menjaga ucapannya dan sekarang apa yang harus ia lakukan.


"Suamiku .... Jangan keluarkan Indri ya. Pasti dia akan susah mencari pekerjaan baru," pinta Inayah memelas. ia tau, Indri yang hanya seorang tamatan SMP pasti akan sangat kesulitan mencari pekerjaan.


"Dia pantas mendapatkannya," kata Daru dengan nada dinginnya.


"Suamiku. Kumohon ...."


Inayah mengatupkan kedua talapak tangannya memohon pada Daru agar tidak memecat Indri yang banyak membantunya selama ini.


Daru hanya tersenyum setan melihat gaya memohon Inayah. Kenapa ia repot-tepot memohon untuk orang lain?


Tapi Daru suka itu. Inayah memang harus ketergantungan pada sosok dirinya, kuasanya, dan segala apa yang ada padanya.


"Apa untungku jika melakukannya?"


Daru meraih kedua tangan yang terangkat itu dan mengecupnya dengan tatapan yang tidak lepas pada sosok wanita yang kini memohon padanya.


'Hah! Tidak ada cara lain' kata Inayah dalam hati.


Hanya itulah satu-satunya cara agar Daru mau untuk dibujuk. Untunglah mereka ada dalam ruangan Karim yang kini telah berpindah kepemilikan. Itu artinya Inayah akan bekerja pada suaminya, bukan pada Karim lagi.


"Apapun," kata Inayah.


"Tidak ada apapun yang bisa menguntungkanku dari temanmu itu."


Daru menatal Inayah dengan mata mencengkamnya.

__ADS_1


"Ambillah keuntungan dariku. Tapi jangan keluarkan Indri dari pekerjaannya."


Kata penuh percaya diri Inayah membuat Daru sampai tertawa senang mendengarnya.


"Aku menginginkan keuntungan lain."


'Pasti itu lagi!' Inayah dapat menebak apa yang Daru inginkan saat melihat tatapan pria itu.


"Aku akan berusaha memenuhinya."


"Bagitukah?"


"Iya."


Inayab ragu dengan ucapannya.


"Buktikan."


Daru menghimpit badan Inayah sampai Inayah terhenti oleh sisi meja dalam setiap langkah mundurnya.


"Tunggu! Apa harus di sini?" tanya Inayah.


"Bagaimana menurutmu, bukankah di sini lebih baik?" Daru malah kembali bertanya.


"Tidak."


Inayah menahan dada Daru yang hampir menempel padanya.


"Disini banyak orang."


Inayah mencari alasan yang tepat.


"Orang? Lihat, pintunya terkunci. Tidak akan ada yang berani masuk."


Darj mengarahkan dagunya ke arah pintu agar Inayah melihat. Inayah menoleh singkat ke pintu.


"Tapi ..., tapi mereka bisa mendengar."


Inayah menggigit bibir bawahnya, malu sendiri dengan kata yang baru saja keluar dari bibirnya.


"Apa Istriku berpikir aku melupakan itu? Sepertinya akan lebih baik jika mereka mendengar."


"Tidak!" kata Inayah cepat.


' Dasar! Anda mungkin tidak punya rasa malu. Tapi aku memilikinya!' gerutunya.


"Tidak ada kata, tidak. Aku ma_"


Inayah membungkam cepat mulut yang di penuhi ancaman itu menggunakan bibirnya sebelum Inayah tidak bisa lolos lagi dari kata-katanya yang tersesat.


"Suamiku. Nanti malam, ya? Aku tidak akan bisa membuktikannya jika di sini," pinta Inayah setelah melepaskan apa yang di mulainya.


'Kumohon ...! Katakan, ya' doa Inayah dalam hati, menunggu kata dari mulut Daru yang serasa begitu lama.

__ADS_1


"Baiklah. Temanmu akan kehilangan pekerjaannya jika keuntungan ku sedikit." Daru menantikan apa yang akan terjadi malam nanti.


__ADS_2