
Inayah terus terduduk sampai waktu menunjukkan angka 12:00
'Kayanya udah waktunya adzan zuhur, aku wudu dulu'
Saat Inayah akan beranjak tiba-tiba pintu diketuk.
Tok, tok, tok.
"Masuk."
Inayah kaget mendengar suara Daru.
'Jadi dia tidak tidur?'
Tentu saja, Daru hanya istirahat saja dengan mata terpejam walau tidak terlelap. Ia tidak memperdulikan Inayah yang juga ada disana bahkan terus menunggunya bangun yang entah sampai kapan.
"Makan siang sudah siap Tuan," kata Harun setelah berada dalam kamar dan melaporkan perihal alasannya mengetuk pintu.
'Makan siang? Tadikan baru habis makan'
Inayah langsung menoleh pada Daru.
"Hmmm."
Daru membuka mata dan mengibaskan tangannya menyuruh Harun untuk keluar, setelah itu Daru berdiri tanpa wajah kantuk yang terlihat di auranya. Setelah Harun keluar, Inayah ingin mengatakan kalau dia masih kenyang jika harus makan lagi.
"Tuan, say_"
"Turun."
Kata turun dari Daru menghentikan Inayah yang ingin menolak. Daru mulai melangkah lebih dulu dan hampir menggapai pintu.
"Kenapa kau hanya diam di sana. Ku bilang turun, berarti kau harus turun untuk makan!"
"Ba_baik Tuan."
Inayah tidak berani lagi dengan niat menolaknya, ia langsung menyusul Daru yang sidah hampir keluar.
"Kemari," perintah Daru, Inayah mendekat mendapat panggilan dari Daru.
"Iya Tuan?"
Inayah sudah dekat namun masih berjarak dengan Daru.
"Mendekat."
Inayah mendekatkan dirinya dengan pelan.
"Se_seperti ini Tuan?" katanya setelah jarak mereka tinggallah se siku. Tiba-tiba Daru menarik pinggangnya sampai badan Inayah menempel pada Daru.
"Seperti ini," ujar Daru setelah berhasil menarik Inayah mendekat padanya.
__ADS_1
"Tuan? Apa yang anda lakukan. Lepaskan saya."
Inayah berusaha melepaskan diri dengan mendorong badan Daru menggunakan kedua tangannya tapi lengan Daru tidak terlepas dan tetap melingkari pinggangnya.
'Apa-apaan ini, kenapa ada kaya gininya?'
"Kau harus menjadi istri yang patuh setelah sampai di bawah nanti," bisik Daru pada telinga Inayah.
"Baik Tuan. Tapi ... bisakah Tuan melepaskan saya dulu."
Inayah tidak nyaman bila terus berada dalam situasi itu.
"Bukankah kau baru menyetujuinya? Maka patuhlah."
Daru tidak menghiraukan Inayah yang meminta untuk dilepaskan, ia melanjutkan langkahnya tanpa melepaskan Inayah yang telah pasrah mengimbangi langkah Daru.
"Katanya sampai dibawah baru jadi istri yang patuh! Harusnya tidak usah dekat-dekat kaya gini kalau belum sampai. Memangnya di bawah nanti ada apa?' batinnya bertanya-tanya mengapa ia harus patuh setelah berada di lantai bawah.
Daru dan Inayah menuruni tangga bersama dan melangkah menuju meja makan yang besar dan penjang.
'Siapa mereka?' tanyanya saat pandangannya menatap jauh ke meja makan dan telah duduk beberapa orang di masing-masing kursi. Inayah lalu menoleh ke samping untuk melihat wajah Daru, Daru bahkan tidak meliriknya maupun memperlihatkan ekspresi apapun dan tetap memeluk pinggang Inayah.
'Apa mereka keluarga Tuan Daru?' tanyanya lagi dan belum mendapat jawaban yang tidak ada.
" Maaf, aku terlambat."
Daru menghentikan langkahnya, begitupun dengan Inayah yang ikut terhenti.
'Kaya kenal' batinnya akan sosok berjas putih itu.
"Silahkan Tuan."
Harun mempersilahkan Daru untuk duduk di kursi sebelumnya yang pernah ia duduki, kursi sebelahnya sudah ada yang menduduki sehingga Inayah hanya berdiri saja.
"Nona," panggil Harun pada wanita yang menduduki kursi di samping Daru. Namun, nampak orang itu seolah tidak mendengarnya.
"Sesil!" Daru ikut bersuara menegur adiknya yang bernama Sesil itu.
"Apa?" tanyanya menjawab ucapan Daru.
"Kakak iparmu mau duduk," katanya, secara tidak langsung menyuruh Sesil untuk berpindah kursi.
"Iya!" jawabnya ketus lalu berdiri dan duduk di sebelahnya lagi yang masih ada kursi kosong di antaranya dengan Inayah.
"Silahkan duduk Nyonya Inayah," kata Harun
"Terimakasih."
Inayah duduk dengan perasaan yang tidak enak.
'Ternyata dia adik Tuan Daru. Berarti mereka memang keluarga Tuan Daru' Inayah lalu melihat mereka satu-persatu dan barakhir pada pria yang juga baru duduk tadi, kebetulan pria itu juga melihat ke arahnya dan ia nampak terkejut melihata Inayah begitupun dengan Inayah yang juga masih mengingat wajah orang itu.
__ADS_1
'Dia kan orang yang waktu itu' Inayah tidak berlarut-larut dan langsung duduk karena mendapat tatapan memerintah dari Daru.
"Sekarang Inayah sudah menjadi istriku. Dia adalah Nyonya di sini, ku harap kalian bisa memosisikan diri."
'Apa harus dijelasin kaya gitu? Kan tinggal bilang aku istrinya saja. Mereka jadi memandang aku dengan aneh setelah mendengarnya berbicara'
Inayah merasa bersalah, seharusnya Dindalah yang diperkenalkan sebagai istri Daru kepada keluarganya itu.
'Eh, tunggu. Kata Nona Dinda, Tuan Daru ini sudah punya kekasih kan? Kenapa kalau sudah punya pacar dia malah menikah dengan orang lain. Ya Allah, ampuni hambamu ini'
Inayah semakin merasa bersalah kala mengingat ucapan Dinda yang mengatakan Daru mempunyai kekasih. Bagaimana perasaan kekasihnya nanti bila mengetahui orang yang dicintainya malah menikah dengan orang lain.
"Daru, bukankah kamu mengatakan akan menunggu Kainah? Nenek sempat terkejut saat kamu mengatakan akan menikahi sepupunya. Tapi apa ini? Siapa wanita ini?" tanya seorang wanita yang telah tua dan menyebit dirinya Nenek itu.
Yang lain nampak diam namun memiliki pertanyaan yang sama di wajah mereka yang dilenuhi dengan tanya.
"Aku tidak mengulangi perkataan yang sama. Ku rasa kalian sudah jelas mendengarnya."
Setelah berkata seperti itu Daru melanjutkan makannya tanpa terusik sedikitpun.
'Kenapa dia secuek itu pada Neneknya?' Inayah mendapat tatapan sini dari orang-orang yang ada di meja itu, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa di depan Daru.
'Kalau tidak salah wanita ini adalah gadis yang menangis di taman tempo hari. Bagaimana dia bisa menjadi istri Daru?' batin Darwin bertanya-tanya, ia yang kembali bertemu Inayah meresa terkejut apalagi sebagai istri Daru, namun ia hanya diam tanpa berani bersuara.
Inayah merasa asing dengan orang-orang itu, ia kira mungkin tidak terlalu banyak keluarga Daru di rumah itu. Tapi pemikiran itu adalah hal yang tidak mungkin, untuk apa membangun rumah yang besar jika tidak memiliki banyak keluarga, rumah bak istana itu bahkan bisa ditempati oleh 1000 orang.
"Aku selesai."
Daru langsung berdiri setelah selesai makan, Inayah langsung mengikutinya saat Daru mulai pergi dan sebelum itu ia menatap orang-orang yang masih ada di meja makan.
"Saya juga sudah selesai. Maaf, saya harus mengikuti suami saya ke atas."
Inayah pergi menyusul Daru setelah berpamitan pada keluarga Daru walau tidak mendapat tanggapan apa-apa dari mereka selain Darwin yang memberikan senyumnya pada Inayah.
"Kenapa Daru harus menikah dengan wanita itu. Bukankah dia mengatakan akan menikah dengan Dinda? Aku tidak mengerti jalan pikirannya," kata Arini, Nenek Daru, setelah Daru dan Inayah pergi berlalu.
"Jangan terlalu banyak pikiran Nek. Nanti Nenek sakit lagi. Daru memang selalu tidak mau mendengar pendapat orang lain." Fiza menjawab ucapan Neneknya yang mempertanyakan mengapa Daru menikah dengan Inayah.
"Nenek tidak bisa tidak memikirkannya. Adikmu itu menikahi wanita yang kita tidak tahu asal-usulnya. Bagaimana kalau dia itu wanita miskin?! Reputasi Daru akan berpengaruh kalau sampai orang luar mengetahinya."
Arini memijat pelipisnya yang serasa berdenyut saat melihat istri Daru.
"Pasti Daru akan menceraikannya Nek. Nenek tahu sendiri kan? Daru sangat mencintai Kainah yang seorang model itu," jawab Fiza lagi.
"Apalagi tadi Daru tidak seperti punya perasaan pada wanita itu, walau turunnya bersama tetapi setelahnya Daru malah meninggalkannya," tambahnya masih menenangkan Arini.
"Nenek tenang saja. Aku akan mencaritahu mengenai istri Daru tanpa sepengetahuan Daru untuk Nenek," sahut Aldi, suami Fiza menambahkan kalimat istrinya.
"Iya Aldi. Tolong kamu cari tahu, dan langsung beritahu Nenek setelah kamu mengetahuinya."
"Baik Nek!" Aldi begitu senang mendapat kepercayaan dari Arini. Mereka melupakan sesuatu, dinding di rumah itu memiliki mata dan telinga sehingga tidak ada satupun rahasia yang bisa disembunyikan dari Daru.
__ADS_1