INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Menjadi pengantin pengganti


__ADS_3

Hari demi hari terus berganti seiring berjalannya waktu, Inayah mengikuti ucapan Dahlia yang memintanya untuk melanjutkan kuliah. Namun, sepertinya Inayah harus menghentikan kuliahnya yang telah dijalaninya yang hampir 4 semester, uangnya tidak cukup untuk membayar lagi, gajinya sudah ia gunakan untuk membeli obat Darsih yang mulai dari setahun terakhir mulai sakit-sakitan karena penyakit kanker yang dialaminya.


Sebelum memulai kuliah, Inayah mencari pekerjaan dan diterima bekerja di sebuah caffe, pekerjaan itulah yang bisa memenuhi kebutuhannya yang kadang kala, sebelum Darsih belum berhenti bekerja, wanita paruh baya itu juga membantu dengan memberikan sebagian gajinya kepada Inayah.


Sudah tidak terhitung berapa kali banyaknya Inayah selalu pergi ke alamat yang Ibunya berikan dan hasilnya adalah pengusiran yang sama oleh satpam tempo hari. Inayah sudah ingin menyerah pergi ke rumah megah itu, mungkin Ayahnya memang sudah tidak tinggal disana lagi seperti harapan Ibunya yang menyuruhnya untuk ke alamat itu.


"Kita harus segera mengambil tindakan operasi untuk penyembuhan Ibu Darsih, walau saya sendri tidak bisa menjamin langkah ini akan berhasil atau tidak, tetapi jika dibiarkan pasien terus mengonsumsi obat-obatan dapat merusak organ-organnya yang lain. Dan hal itu akan semakin memperparah kondisi pasien, serta kemungkinan terburuknya dapat memperpendek nyawa Ibu Darsih."


Inayah mendengarkan dengn cermat penjelasan dari Dokter yang menangani Darsih, Sore tadi, saat Inayah pulang dari caffe ia mendapati Darsih tergeletak tak sadarkan diri di pintu dapur.


"Lakukan yang terbaik untuk Bibi saya Dok," pinta Inayah, Darsih sudah bagaikan Ibu untuknya. Darsih selalu membantu hari-harinya serta menemani semenjak Dahlia meninggalkannya.


"Silahkan mengurus administrasi lebih dulu sebelum tindakan operasi dilakukan."


"Baik Dok."


Dengan langkah cepat Inayah berjalan menuju bagian administrasi.


"Mbak, saya mau mengajukan operasi untuk pasien atas nama Darsih."


"Tunggu sebentar ya, saya cek dulu ... biaya operasinya 325 juta, mau langsung dibayar cas?"


Inayah terkejut mendengar nominal yang harus dibayarnya. Jangankan 325 juta, 5 juta saja ia tidak memegang uang sebanyak itu apalagi memilikinya.


"Saya belum memiliki uang sebanyak itu, apakah tidak bisa jika dibayar nanti?"


Walau Inayah tahu itu hal yang tidak mungkin terjadi sebelum administrasi terselesaikan, tapi Inayah ingin berharap diberi keringanan.


"Tidak bisa, biaya administrasi harus dilunasi jika ingin melakukan opersai. Itu sudah menjadi kebijakan yang berlaku di rumah sakit ini. Maaf."


Inayah mundur perlahan, Darsih harus di operasi. Inayah harus mencari uang sebanyak itu dimana? Menjual tanah di Desa? Tapi itu hanya berapa saja, hasil jualnya mungkin hanya dapat 100 juta dan jika ingin dapat uang cepat bisa saja berkurang menjadi 90/80 juta saja, belum tentu ada yang ingin membelinya juga. Inayah harus apa?


'Apa aku pinjam saja? Tapi uang sebanyak itu bisa ku lunasi dengan apa? Aku harus mencobanya'


Inayah keluar dari rumah sakit dan pergi ke caffe tempatnya bekerja.


"Ada apa Inayah, kenapa balik lagi?" tanya Indri, temannya bekerja.


"Indri, Bos sudah pulang?"


Inayah malah balik mengajukan pertanyaan pada Indri temannya itu.


"Belum. Kayanya Bos masih sibuk tuh, di ruangannya. Memangnya kenapa kamu cari si Bos?" jawabnya sembari kembali mengajukan pertanyaan yang sama, kenapa!


"Nanti aku cerita. Aku mau temui Bos dulu."


Inayah pergi meninggalkan Indri untuk menemui Bos Caffe itu.

__ADS_1


"Maaf Inayah, kamu adalah karyawan yang bisa dipercaya dapat melunasi hutang itu. Tetapi saat ini caffe sedang sangat membutuhkan dana besar."


Inayah menutup wajah dengan kedua telapak tangannya saat mengingat kembali kata-kata terakhir dari Bosnya. Kemana lagi Inayah harus mencari pinjaman untuk operasi Darsih yang saat ini sedang berbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.


Tiba-tiba Inayah membuka tangan yang menutupi wajahnya serta menghapus air mata yang telah memasahi kedua pipinya.


'Masih ada, majikannya Bibi! Aku harus kesana'


Inayah segera bangkit dan pergi menaiki ojek untuk sampai di kompleks elite yang sudah 3 bulan ini tidak pernah ia datangi lagi. Namun, tujuannya bukan di rumah yang sama melainkan di rumah tempat Darsih bekerja, Inayah sudah kenal dengan pemilik rumahnya karena Darsih pernah membawanya saat masih bekerja dulu.


"Cari siapa?" Inayah di beri pertanyaan oleh salah seorang pelayan yang di tahunya setelah pernah ke sana sebelumnya sebanyak tiga kali.


"Saya mau bertemu dengan Nyonya Kartika," jawabnya.


"Kamu keponakannya Darsih kan? Bagaimana kabar Bibimu sekarang?"


Pelayan bernama Sulis itu berusaha mengingat siapa Inayah dan dalam ingatannya, gadis di depannya ini adalah gadis yang Darsih pernah kenalkan sebagai seorang komonakan, saat itu Inayah datang dan mengikuti Darsih untuk membantu pekerjann Bibinya.


"Benar, Bi Sulis," jawab Inayah tersenyum.


"Saya ke sini karena keadaan Bi Darsih yang memburuk. Bibi harus menjalani operasi."


"Astagfirullah." ujar Sulis mengusap dada terkejut dan merasa kasihan dengan kabar Darsih.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sulis lagi.


"Berapa biaya operasinya?"


Dengan sabar Inayah terus menjawab pertanyaan Silis yang membuka pintu itu.


"325 juta, Bi."


" Ya Tuhan. Banyak sekali! Kamu tunggu dulu di sini, Bibi mau melapor Nyonya bila kamu ingin bertemu. Semoga Nyonya mau meminjamkannya."


"Makasih, Bi."


Inayah tersenyum saat Sulis ber inisiatif untuk membantunya memberitahu Karmila bila dia ingin bertemu. (sebenarnya itu sudah menjadi salah satu tugas Sulis untuk memberitahu majikannya bila ada yang bertamu atau bertemu seperti Inayah.


Sekarang Inayah tengah berhadapan dengan Karmila bersama dengan seorang wanita yang mungkin adalah putrinya setelah Sulis menyuruhnya masuk, ia baru melihat wanita itu selama pernah ke tempat Darsih bekerja.


"Ada perlu apa kau mencariku?" tanya Karmila.


Inayah tersenyum mendengar pertanyaan Karmila, menurutnya memberikan senyum pada lawan bicara dapat memberikan ketenangan tersendiri untuknya maupun pandangan yang baik dari lawan bicara.


"Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri. Saya adalah Inayah, keponakan Darsih yang pernah bekerja di rumah ini dan telah berhenti karena penyakit kanker yang menderanya selama setahun terakhir_"


"Apa! Jadi Darsih hilang karena sakit? Mama kok nggak pernah bilang sih."

__ADS_1


Inayah agak kaget sampai bicaranya terhenti saat wanita di samping Karmila menyela.


"Kamu tidak pernah bertanya," Karmila menjawab dengan santai.


"Ih! Biarpun begitu harusnya mama kasih tahu Dinda dong kalau Darsih sudah keluar karena sakit!" kesal wanita bernama Dinda itu.


"Jadi, apa yang membawamu datang ke sini?" Karmila mengabaikan perkataan putrinya yang selalu manja itu, ia beralih memberikan pertanyaan pada Inayah.


"Kalau bisa, tolong pinjamkan sayang uang untuk biaya pengobatan Bibi saya, saya akan bekerja di sini tanpa di gaji sampai hutang itu lunas."


"Berapa yang kamu butuhkan, kalau mendengar nomonalnya pantas, saya akan membantu tapi kalau tidak kau bisa cari pinjaman ke tempat lain."


"Saya membutuhkan 325 juta."


"Sebanyak itu a_"


Tangan Karmila digenggam membuatnya berhenti berkata dan menoleh pada Dinda yag kini memberilan bisikan ke telinga Ibunya, Inayah tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Jangan main-main Dinda! Itu berlebihan, papamu bisa berada dalam masalah." kata Karmila setelah mendengar bisikan Dinda.


"Ma ... plis," Dinda memelas.


Karmila tidak bisa menolak permintaan putri semata wayangnya yang selalu ia manjakan itu. la lalu memandang Inayah untuk mengikuti keinginan putrinya yang menurut Karmila bisa mendatangkan masalah untuk mereka.


"Ikutlah dengan kami di atas. Saya ingin berbicara, tetapi bukan di sini," ucap Karmila melihat seorang pelayannya tengah mengelap meja di ruangan itu.


"Baik Nyonya."


Inayah mengikuti langkah Karmila dan Dinda dari belakang, dan mereka memasuki sebuah kamar seperti kamar seorang gadis namun lebih modern dan berkelas dari bayangan Inayah, ia sempat terpesona melihat kamar yang luas, indah, rapi dan juga elegant itu.


"Silahkan duduk."


Inayah mengikuti ucapan Dinda dan duduk di atas soffa dalam kamar itu bersama dua orang wanita beda generasi di depannya.


"Saya bisa memberi kamu uang 500 juta bila perlu tanpa kamu bekerja di sini maupun membayarnya."


Inayah terkejut mendengar perkataan Karmila.


"Apa saya tidak salah dengar nyonya?" tanyanya tidak percaya, apa mungkin karena Darsih bekerja dengan baik di rumah ini sampai majikannya akan memberikan uang secara cuma-cuma?


'Terimakadih ya Allah' syukurnya dalam hati.


"Tentu saja. Asal kamu bisa menggantikan putriku di hari pernikahannya nanti. Saya akan membayarmu 500 juta untuk hal itu," jelas kartika dan melihat senyum kebahagiaan di wajah putrinya.


"Apa?"


'Apa maksud semua ini ya Tuhan' Inayah ingin keluar dari kamar itu mendengar perkataan Karmila, tetapi jika dia keluar dan tidak memenuhi permintaan Karmila ... bagaimana dengan Darsih?

__ADS_1


"Saya rasa pendengaranmu berfungsi dengan baik."


__ADS_2