INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Sudah Musnah


__ADS_3

"Bukan! Bukan seperti itu."


Inayah menjaukan diri ke belakang dan menggerakkan kedua tangannya cepat, bahwa ia tidak membela Karim.


'Apa yang harus ku katakan? Matanya menakutkan sekali ...,"


Inayah berpikir keras, apa yang harus dilakukannya saat Daru sudah terlihat semenakutkan itu, haruskah dia memohon?


"Suamiku. Aku tidak membelanya, aku hanya tidak ingin orang-orang berpikir tentang apa-apa jika terjadi sesuatu. Aku mohon Suamiku," kata Inayah dengan memelas selemas mungkin.


"Kalau begitu jangan bekerja. Masalah selesai ...."


'Enak sekali dia bilang selesai!' geramnya dalam hati saat Daru malah sesantai itu mengucapkan kata selesai.


"Suamiku. Aku suka bekerja, aku akan menjadi malas jika hanya duduk saja seharian," kata Inayah lagi masih tetap ingin bekerja.


"Baiklah. imbalan apa yang akan kamu berikan padaku, hhmmm?" Daru tersenyum miring.


'Imbalan! Ini apalagi maksudnya?' rasanya kepala Inayah ingin meledak! Kenapa makhluk satu ini sangat banyak kemauannya.


"Suamiku ..., aku mau tanya sesuatu," kata Inayah mencoba mengajak Daru untuk berbicara akan kecurigaannya sembari memikirkan imbalan yang tepat untuk Daru.


"Hmmm?"


"Apa kamu tau aku menyanyi untuk apa, Suamiku?" tanya Inayah hati-hati.


"Ya."


"Juga yang memesan caffenya?" tanyanya lagi dengan ekspresi kaget dan ingin tahu.


"Aku mau imbalanku, Istriku."


Inayah kesal mendengar ucapan Daru saat Inayah tengah serius bertanya.


"Aku akan memberikannya. Tapi jawab dulu," kata Inayah sedikit menekan.


"Berani memerintahku? Awas saja jika aku tidak mau menerima imbalannya," ancam Daru lagi.


'Kapan dia mau jawab sih!' Inayah kesal juga dengan ucapan Daru.


"Jawab dulu!"


Daru malah tertawa mendengar perkataan Inayah.


"Menurutmu, apa aku akan membiarkan adikku begitu saja?" tanya Daru menatap inteks ke dalam mata kecoklatan Inayah.


Inayah mendekap mulutnya sendiri, bagaimana Daru bisa mengetahui hal itu?


"Jadi, apa mereka direstui?" tanya Inayah kembali membuat Daru jengkel dengan Inayah yang tidak berhenti bertanya.


"Tanya jawab di tutup. Aku mau imbalanku," kata Daru bernada tanpa bantahan.


"Se_sekarang?" tanya Inayah lagi. Bagaimana ia memberikannya sekarang? Inayah juga belum tahu harus memberikan apa untuk imbalannya.


"Ya, aku menginginkannya sekarang."


'Masa sekarang. Kira-kira imbalan apa yang cocok untuk orang satu ini?' Inayah masih membeku, tidak tahu apa yang bisa Daru terima, apalagi ia sudah di ancam agar Daru bisa menerimanya.


Cup!


Tiba-tiba Inayah menyambar pipi Daru dan memgecupnya demgam cepat.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Daru masih tanpa ekspresi apapun.


"Imbalan."


"Imbalan?"


Inayah memgangguk mengiyakan.


"Aku mau di sini, baru mau menerimanya." Daru menunjuk bibirnya sendiri.


'Maksudnya aku harus mencium bibirnya, gitu?'


Dengan ragu Inayah kembali mendekatkan kepalanya dan ingin memgecup singkat bibir tipis itu. Saat Inayah akan menarik kepala, Daru menahan tengkuk Inayah dengan cepat dan menguasai ciuman itu.


Daru mengambil sebuah remot dan melihat apa yang terjadi diluar ruangannya. Setelahnya Daru menggunakan handponenya.


"Biarkan dia masuk," katanya memerintah.


"Baik Tuan," balas di balik telepon.


Dan pintu yang tertutup tidak lama mulai terbuka. Ian masuk bersama seorang wanita yang ikut bersamanya.


"Sudah ku katakan, Ian. Kenapa kau terus menahanku di pintu!" kata wanita itu, berkata dengan nada tidak bersahabat kepada Ian.


Ian melihat Daru dan Daru mengibaskan tangannya meminta Ian untuk keluar.


"Jangan biarlam siapapun masuk."


Wanita itu kembali berkata saat Ian hampir hilang diluar pintu.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Daru pada Kainah setelah pintu tertutup.


Kainah tersenyum dan melangkah mendekati Daru yang masih setia di kursinya.


Kainah duduk di atas pangkuan Daru dengan posisi menyamping dan menatap wajah kekasihnya itu, yang hanya diam dengan apa yang Kainah lakukan.


"Kamu juga pasti sangat merindukanku kan?" tanyanya penuh percaya diri menarik sedikit dasi yang Daru kenakan membuat Daru menunduk dan Kainah langsung mencium kekasihnya itu untuk melepaskan rindu yang sudah lama menyiksanya.


"Kenapa kamu tidak membalas ciumanku, Aru?" tanya Kainah demgan wajah yang terlihat kecewa karena Daru tidak seperti biasanya saat mereka berciuman.


"Aru ..., tolong jangan menatapku seperti itu."


Kainah rasa tatapan yang Daru berikan berbeda dengan terakhir kali mereka bertemu. Kainah membelai wajah Daru agar tatapan matanya kembali melembut seperti yang pernah dilihatnya.


"Kenapa tidak langsung menemuiku setelah datang ke Indonesia?"


Kainah bernafas lega mendengar pertanyaan Daru. Ternyata kekasihnya ini sedang marah padanya karena baru menemuinya selama hampir sebulan ini setelah ia tiba di Indonesia.


"Apa kamu serindu itu padaku?" tanyanya tersenyum dan kembali mencium Daru, namun tanggapan Daru tatap sama dan tanpa membalas ciumannya.


"Maafkan aku sayang. Aku hanya ingin memberikan sedikit waktu agar kamu tahu bahwa hanya akulah, Kainah seorang yang ada di dalam hatimu," kata Kainah sambil menunjuk dada Daru, tepat di bagian hati Daru dengan yakin.


Yakin bahwa hanya dirinya seorang yang tetap ada di hati prianya walaupun Daru mencoba untuk bermain-main dengan wanita lain.


Daru tertawa kencang mendengar ucapan Kainah itu.


"Kau yakin?" Daru bertanya dan menatap Kainah yang juga menatapnya.


"Y_ya ..., aku tidak meragukan cintamu padaku."


Kainah tidak meyakini kata-katanya sendiri saat Daru memberikan tatapan seperti itu.

__ADS_1


"Bagaimana jika ketidakraguanmu itu salah?"


Kepercayaan diri Kainah sedikit goyah saat Daru bertanya seperti itu.


"Tidak. Itu tidak akan terjadi."


Kainah masih berusaha tenang saat menjawabnya.


"Tapi itu telah terjadi."


"Apa maksudnya Aru?"


Daru tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Kainah.


"Kepercayaanmu terhadap cintaku padamu ternyata salah Ain. Aku tidak secinta itu."


"Tidak sayang ...! Itu tidak mungkin. Kamu mencoba untuk membohongiku kan?"


Suara Kainah mulai serak saat bertanya.


"Apa wajahku terlihat berbohong di matamu?"


Kainah segera turun dari pangkuan Daru dengan tampang marah.


"Kenapa?! Apa karena wanita sialan itu? Katakan Aru, katakan!"


Kainah menarik kerah kemeja Daru dan Daru berdiri dengan tenang saat kerah kenejanya di tarik.


"Jangan coba menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri, Ain. Apalagi pada Istriku. Jangan pernah ...!"


Daru menghempaskan kedua tangan Kainah sampai wanita itu terduduk sangking kuatnya hempasan Daru.


Kainah tidak percaya dengan apa yang terjadi, Daru menyakitinya? Biasanya Daru akan menghabisi siapa saja yang mencoba untuk hanya membuatnya merengek. Tapi ini ..., apa semua ini?


"Aku sudah memintamu kembali dan kamu tidak dengar. Saat itulah perasaanku mulai goyah."


Daru berjongkok menyamakan tingginya dengan Kainah yang terduduk di atas lantai.


"Hari terakhir aku terus menunggumu dan kamu tidak datang. Maka hari itu cintaku padamu tinggal seujung kuku."


Kainah menagis mendengarnya, apalagi mengingat apa yang baru saja Daru lakukan padanya.


"Kamu masih mencintaiku Aru .... Kamu masih mencintaiku."


Kainah menatap Daru, ia yakin Daru masih memiliki perasaan padanya walau kata Daru tinggal seujung kuku.


"Aku akan membuatmu mencintaiku kembali dengan sisa cinta yang kamu punya," lanjutnya dan meraih sebelah tangan Daru.


Daru hanya tertawa mendengarnya.


"Biar kuberitahu, Kainah. Perasaanku padamu sudah musnah saat kau malah mengabaikanku setelah sampai di sini."


"Ku pikir juga begitu, memulai kisah cinta baru. Tapi, kau membuatnya lenyap dengan baru datang hari ini."


Daru segera berdiri, kembali menghubungi Ian.


"Bawa dia keluar."


Pintu ruangan langsung terbuka, bahkan tidak sampai sedetikpun setelah sambungan terputus.


"Aru! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku. Aru ...! Lepaskan sekretaris sialan!"

__ADS_1


Daru kembali bekerja tanpa menghiraukan teriakan Kainah. Biarlah Ian yang mengurus di luar.


__ADS_2