
"Siapa namamu?" tanya Daru.
"Salim Tuan!" jawab Salim cepat sangking gugupnya.
"Kau ingin aku kembali bertanya?"
Salim menegang melihat tatapan tajam dari Daru seakan ingin menusuknya.
"Ti_tidak perlu Tuan."
Salim segera menuju buku-buku yang mereka bawa untuk memilihkan judul yang cocok untuk Tuannya.
'Benarkah Pak Direktur ingin belajar agama? Rasanya tidak mungkin dengan wajah segalak dan sedatar itu' batinnya tidak percaya sembari melihat buku satu-persatu.
'Apa mungkin pengaruh istrinya? Kalau tidak salah, setelah Pak Direktur menikah jumlah karyawan yang di pecat mulai berkurang' tebaknya dengan jiwa penasaran akan sosok istri Daru.
"Hanya dua buku ini?" Daru memandangi buku yang Salim pilihkan dan diletakkan di depannya.
"Benar Tuan."
Daru mengambilnya dan membaca sampul buku yang hanya ada beberapa halaman itu di dampingi dengan buku yang paling tebal.
"Sabaiknya Tuan menghafal tata cara shalat dulu agar bisa melaksanakan shalat lima waktu. Setelah itu Tuan bisa mempelajari Al-Qur'an. Tuan bisa mengenal agama Islam dengan membca Al-Qur'an," jelas Salim, berusaha tegar berbicara dengan Daru.
"Lalu, untuk apa buku yang menumpuk di sana?"
Salim menoleh pada tumpukan buku dan kembali menghadap Daru.
"Isi dari buku-buku itu kurang lebih penjelasan kandungan dalam Al-Qur'an. Seperti larangan dan perintah dalam agama Islam yang harus di kerjakan manusia. Karena, kandungan dalam Al-Qur'an itu begitu besar, sehingga dengan adanya buku-buku itu bisa mempermudah seseorang yang ingin belajar Islam dengan baik melalui buku."
Salim melirik Daru yang nampak biasa saja mendengarkan ucapannya.
'Apa Direktur tidak percaya?' takutnya.
"Jika Tuan kurang yakin atau mungkin penjelasan saya tidak meyakinkan, Tuan Direktur bisa bertanya pada seorang Ustad," lanjut Salim.
"Ustad?" Daru menaikkan sebelah alisnya saat bertanya.
"Benar Tuan. Seorang Ustad akan lebih paham akan ilmu agama dari pada saya. Tuan juga bisa mempelajari Islam melalui Handpone. Misalnya lewat Google, Youtube dan melalui Media Sosial dan pencarian lainnya," tutur Salim kembali.
"Ian, berikan 5× lipat bulan ini untuk mereka. Kalin bisa keluar."
Daru mengibaskan tangannya pertanda Salim dan temannya di suruh untuk keluar dari ruangannya.
"Terima kasih banyak Tuan."
Mereka begitu senang mendengar gaji yang akan didapatkan bulan ini, tidak terbayangkan jika sampai 5× lipat dalam sebulan.
"Ian, bawa Ustadnya di sini," kata Daru setelah Karyawan tadi keluar.
"Baik Tuan."
Ianpun meninggalkan ruangan Daru dan Daru kembali melanjutkan pekerjaannya dengan pikiran yang selalu terbayang akan seseorang.
"Aku bisa gila!" teriaknya dan melepaskan folpen yang di pegangnya lalu bersandar pada kursi kebesarannya dan bertumpu pada kedua tangan.
"Apa yang kulakukan?!" Daru mengusap wajahnya dengan kasar dan kembali duduk tegak.
__ADS_1
"Suamiku?"
Daru segera menjauhkan bibirnya dari kening Inayah setelah mendengar panggilannya.
'Kelakuannya tidak biasa dan menakutkan' batin Inayah yang merasa takut dengan sikap Daru yang tidak biasa.
"Aku mau ciuman. Cium aku."
Inayah tersentak mendengarnya.
'Dia kembali aneh. Tapi karena kelakunnya pagi ini tidak begitu aneh walau menakutkan, aku akan membemberikan ciuman'
Inayah mendekatkan wajahnya dan
Muach ...!
Satu kecupan di pipi kanan Inayah berikan, dan entah kenapa kedua pipi Inayah seperti terbakar setelah melakukannya.
"Di sini juga." Daru menunjuk pipi kirinya.
Dengan malu-malu Inayah kembali mendekatkan wajahnya
Muach ...!
Kecupan kedua kembali terdengar Dalam ruangan sunyi itu.
'Kenapa dia baru memperlihatkan wajah seimut ini?'
Rasanya Daru ingin segera menciumi Inayah yang memperlihatkan wajah malunya itu.
'Eh!' Inayab mulai merubah raut wajahnya menjadi kesal.
'Dia sebenarnya mau berapa ciuman?!' Dasar!'
"Cepatlah," kata Daru karena Inayah hanya diam tanpa menciumnya.
"Tadikan sudah," balas Inayah dengan nada cemberut.
"Apa yang tadi kuminta?" tanya Daru dan Inayah mencoba mengingat kembali.
"Cium," jawabnya.
"Mak cium aku di sini."
Inayah masih belum mau melakukannya karena ia sudah menciumnya dua kali.
'Dia aneh lagi'
"Tapi tadi sudah dua kali," kata Inayah tidak mau menciumnya lagi, apalagi jika di bibir.
"Aku minta cium, bukan kecupan."
Daru menerbitkan senyum kemenangannya.
'Ya, ya ...! Aku memang selaku di rugikan. Dasar!' gerutu Inayah dalam hati.
"Cepat. Atau mau kucium, kamu taukan kalau aku yang memulai?"
__ADS_1
Daru meraih tengkuk Inayah.
"Tidak."
Tangan Inayah mencegah bibir Daru yang hampir menyentuh bibirnya.
"Biar aku yang memulai ciumannya. Tapi benar hanya ciuman! Bagaiman?" pinta Inayah. Dari kebiasaan Daru Inayah harus memastikannya dulu walau memulai duluan.
"Cium aku."
"Iya dulu!" tuntut Inayah belum ingin menciumnya.
"Baiklah. 20 menit tanpa lepas," kata Daru.
"Tidak, 5 menit. Kita bisa mati kalau ciuman sampai 20 menit," tolak Inayah dan mengurangi temponya.
"Ya atau langsung ke kasur."
Tidak ada pemawaran sama sekali untuk Inayah selain menyetujuinya atau berlanjut hal lain.
'Orang ini!' geramnya.
"Tapphhhmmmm ...."
"Kenala bibirmu sangat manis?" tanya Daru bersama kening mereka yang bertabrakam serta nafas Inayah yang memderu.
"Katakan."
Inayah masih menormalkan nafasnya dan belum ingin menjawab perkataan Daru. Mata mereka saling beradu dalam keadaan mukena Inayah yang sudah miring tak beraturan dan peci Daru yang sudah terjatuh.
"Suamiku. Kamu jahat!" Inayah tambah geram dengan nafas tersengal. Biarlah ia berkata kasar, siapa suruh kelakuan Daru seperti tadi.
Daru malah tersenyum menampilkan semua gigi rapi dan putihnya, sebelah tangan Daru yang tidak menahan kepala Inayah mengusap bibir Inayah yang bengkak karena ulahnya.
"Aku memang jahat dalam hal ini. Maka teruslah bersiap untuk dijahati."
Daru melepaskan penyatuan kening mereka lalu mengecupnya.
'Benar-benar jahat!' Inayah menghapus kecupan Daru pada keningnya dengan kasar tapi Daru kembali mengecupnya lalu Inayah menghapusnya lagi, dan begitu seterusnya sampai Inayah kalah dan berhenti menghapus kecupan Daru.
'Capek!' keluhnya
"Hari ini Kakak akan datang dari Spanyol bersama suami dan putrinya untuk merayakan ulang tahun keponakanku," kata Daru sambil menatap Inayah yang bingung.
"Kakak?" tanyanya.
'Sebenarnya dia ini punya berapa saudara? Suami dan putrinya, berarti Kakaknya perempuan'
Inayah tidak tahu jika ada saudara Daru yang lain selain Fiza dan Sesil.
"Iya, Kakak Iparmu. Mereka akan menetap di Indonesia."
Inayah hanya diam mendengarnya. Entahlah, ia harus senang atau biasa saja, semua anggota keluarga Daru selalu dingin padanya selain beberapa orang seperti Darwin yang masih mau menyapanya atau membalas sapaannya.
"Kakak pasti akan menyukaimu," Daru berkata sembari memperbaiki mukena Inayah.
'Mau menyukaiku atau tidak, suatu saat kita akan tetap berpisah dan kamu kembali pada cintamu serta begitu juga denganku yang akan menemukan cintaku' Inayah menatap Daru yang masih sibuk dengan mukena.
__ADS_1