
"Kenapa Tuan?" tanya Inayah setelah berada didekat Daru.
"Keringkan rambutku."
Inayah melihat lebih dulu keadaan Daru, pria itu masih tetap mengenakan handuknya dan belum berpakaian sama sekali selain lilitan handuk, dari rambutnya sudah tidak di tetesi air lagi namun masih nampak basah terlihat dari rambutnya yang masih berlengketan.
"Emmm ... apa, pake pengering rambut? Atau_"
Inayah menatap ragu handuk di tangannya, jika juga harus pakai pengering rambut Inayah tidak tahu cara menggunakannnya dan kalau harus bertanya pada Daru sepertinya ia akan mendapatkan masalah. Inayah bahkan baru pertama pernah melihat dan memakai benda itu saat ia tengah bersiap untuk di dandani waktu akan menikah kemarin, itupun bukan dirinya yang mengeringkan rambut sendiri melainkan para penata rias yang disediakan oleh Karmila.
"Handuk."
'Syukurlah' Inayah bernafas lega dan berniat mendekati Daru yang duduk di bibir ranjang untuk memulai tugasnya.
"Apa yang mau kau lakukan?!"
Inayah menggantung tangan di udara bersama dengan handuk yang hampir menyentuh rambut Daru. Sebelum menjawab pertanyaa Daru yang meninggi itu, Inayah menarik tangannya lebih dulu.
'Padahal tadi aku disuruh untuk mengeringkan rambutnya, bagaimana sih!' kesalnya namun tidak memperlihatkan raut kekesalan itu.
"Saya mau mengeringkan rambut Tuan," kata Inayah.
"Apa kau gila! Kau ingin mengeringkan rambut berhargaku ini dengan bekasmu itu? Ganti!"
Inayah sampai harus memundurkan langkahnya mendengar suara Daru yang melengking di depan wajahnya. Setelah Daru berkata, Inayah membawa handuk di tangannya untuk di endus.
'Harum kok. Lagipula aku kan pake sampo yang wangi tadi' Inayah tidak tahu menahu, yang penting saat di bacanya untuk rambut, maka ia gunakan pada rambutnya seperti saat ia memandikan Daru tadi.
'Ini wangi Tuan' ingin Inayah mengatakan itu. Tapi sudahlah, tadi saja ia sudah di anggap gila oleh orang jahat itu, jadi lebih baik Inayah menurut saja sebelum kata umpama lain kembali keluar untuknya.
"Baik Tuan."
Inayah berjalan menuju lemari tanpa membantah perintah Daru yang berkuasa itu. Inayah ingin membela diri, tetapi ia tidak punya kuasa untuk semua itu. Semua ini Inayah lakukan hanya untuk Darsih, jika mundur atau menolakpun sudah tidak berlaku lagi, Darsih sudah sembuh berkat dana dari Karmila. Tetapi Inayah berharap semoga Daru mau untuk menyuruhnya pergi dan menganggap pernikahan mereka semalam seolah tidak pernah terjadi.
"Turun sarapan, aku tidak mau membawa orang yang kelaparan dalam kamarku."
Inayah tersenyum malu mendengar suara yang berasal dari perutnya serta kata-kata Daru barusan. Sebelum bunyi itu datang Inayah hanya berdiri dibtengah ruangan setelah mengeringkan rambut Daru karena ia kebingungan harus bagaimana, kakinya bahkan sudah kram karena lamanya ia berdiri, Daru bahkan tidak menyuruhnya untuk duduk atau semacamnya dan malah sibuk dengan telepon di tangannya tanpa merasa kasihan padanya sedikitpun.
__ADS_1
"Maaf Tuan."
Daru tidak menjawab dan hanya keluar dari kamar di ikuti oleh Inayah di belakangnya. Kebetulan hari ini hari minggu, jadi Daru tidak pergi ke kantor untuk bekerja namun ia tetap berpakaian formal.
"Selamat pagi Tuan," sapa Harun yang melihat Daru menuruni tangga bersama Inayah, para pelayan secepat kilat menyiapkan menu pagi dan di tata di atas meja.
"Selamat pgi Tuan," Ianpun ikut menyapa melihat kedatangan Daru yang hampir habis waktu pagi.
'Katanya dia tidak tinggal di sini. Tapi kok bisa ada di sini hari minggu?' batin Inayah.
"Hmmm," balas Daru akan sapaan mereka. Harun menggeserkan kursi untuk Daru duduki dan setelah Daru duduk Harun kembali menggeser kursi di samping Daru.
"Silahkan Nyonya," katanya mempersilahkan Inayah untuk duduk.
"Saya?"
Inayah menunjuk diri sendiri dengan wajah bingung dan penuh tanya.
"Iya Nyonya, anda. Silahkan," ujar Harun mengiyakan dan kembali mempersilahkan untuk Inayah duduk.
"Terimakasih."
'Ini yang makan cuma kami berdua?" Inayah melirik dengan tidak enak hati semua orang yang berada di ruangan itu, tangan Inayah bahkan seakan berat setaip menyendokkan makanan ke mulutnya kala begitu banyak mata dan senyum yang dilihatnya. Inayah melirik pria di sampingnya yang makan dengan tenang tanpa merasa terganggu seperti dirinya sedikitpun.
' Apa dia sudah terbiasa makan dengan suasana seperti ini? Rasanya leherku saja susah menelan, tapi dia bahkan hampir selesai' Inayah kembali menatap nanar pada makanan-makanan lezat yang sebagian baru pertama kali dilihatnya dan ingin menyantap semua hidangan itu satu persatu, tetapi makanan dalam piringnya saja susah masuk walau perutnya terasa lapar setiap melihat semua pelayan beserta Ian dan Harun yang juga ikut berdiri di sana.
"Ikut denganku," kata Daru setelah beranjak dari kursinya di ikuti Inayah yang juga berdiri saat melihat Daru berdiri.
"Baik Tuan," jawab Ian yang dipanggil oleh Daru. Inayah juga akan mengikuti langkah mereka saat Ian mengikuti langkah Daru.
"Nyonya Inayah."
Inayah menghentikan langkahnya dan menoleh pada Harun yang memanggilnya.
"Selesaikan makanan anda."
"Oh ... baik."
__ADS_1
Inayah patuh dan kembali duduk di kursinya menghadap piring makanannya tadi.
'Ini tidak apa-apa kan? Tuan Daru tidak mencegahku' Inayah takut Daru akan marah bila ia malah makan saat Daru telah pergi.
"Nyonya tidak menyukai hidangannya?" tanya Harun melihat Inayah hanya diam tanpa melanjutkan makan.Inayah kaget dan menoleh pada Harun lalu tersenyum canggung.
"Suka Tuan Harun. Semua makanannya enak."
Semua makanannya memang nampak enak dan menggiurkan tetapi Inayah yang merasa tidak enak bila makan sendiri.
"Baik Nyonya."
Inayah memaksa sendok itu memasuki mulutnya lalu mengunyahnya dan menelannya dengan susah payah.
Ian terus mengikuti langkah Daru bersama dengan map yang ada di tangannya. Saat pintu semakin dekat, Ian melangkah cepat untuk mendahului Daru lalu membuka pintu untuk di masuki Tuannya dan disusul olehnya. Daru menduduki kursi hitam dengan elegant menunggu Ian membuka dan menyampaikan informasinya. Ian yang pahampun mulai akan berbicara tanpa membuka lembaran-lembaran itu.
"Namanya Inayah Tuan. 2 tahun lalu Nyonya datang ke kota ini bersama dengan Bibinya empat hari setelah kematian Ibunya. Nyonya Inayah sempat kuliah selama empat semester dan terpaksa berhenti karena harus mencari biaya untuk operasi Bibinya yang menderita penyakit."
Ian melihat Tuannya tampak tenang mendengarkan kata-katanya sebelum kembali melanjutkan.
"Karmila, Ibu Nona Dinda, mengatakan bahwa Nyonya Inayah datang kepadanya untuk meminjam uang biaya operasi Bibinya, dan Karmila memberikannya cuma-cuma dengan syarat Nyonya Inayah harus menggantikan Nona Dinda."
Daru tampak menaikkan sebelah alisnya seakan isyarat untuk Ian, dan pria itupun mengerti makaud dari Tuannya.
"Karmila adalah majikan Darsih, Bibi Nyonya Inayah, sebelum Darsih menderita penyakit, oleh karena itu Nyonya Inayah beranggapan Karmila bisa membantu," jelas Ian.
"Ibunya?" tanya Daru.
"Nama Ibunya Dahlia, menurut informasi yang di dapat. Dahlia adalah tulang punggung untuk Nyonya Inayah dengan berkebun di kampung mereka."
"Ayahnya?"
"Menurut warga kampung, Dahlia datang bersama putrinya di kampung saat Nyonya Inayah masih kecil dan tanpa seorang suami Tuan. Dan juga, sejak pergi ke kota ini Nyonya Inayah selalu pergi ke alamat XXXX dan selalu mengatakan untuk bertemu dengan Ayahnya tetapi mereka selalu mengatakan bila Nyonya Inayah salah tempat dan tidak ada Ayahnya di sana."
Saat Ian menyebutkan nama Ibu Inayah Daru sempat mengerutkan keningnya, dan setelah mendengar penjelasan mengenai Ayah Inayah Daru menerbitkan senyum dibibirnya.
"Sepertinya dia memang menjadi target yang sesungguhnya. Suruh Hendra untuk menghadapku besok, pria itu tua itu pasti sedang berada dokolong jembatan bersama keluarganya."
__ADS_1
"Mereka berada di rumah orang tuanya Tuan," lapor Ian.
"Cih! Ternyata dia tidak memegang kata-katanya."