
"Berikan tanganmu," pinta Daru setelah mobil mulai Ian jalankan.
"Tangan? Tangan saya?" tanyanya bingung.
Tangan siapa yang Daru maksud untuk di berikan?
"Aku akan mematahkannya jika kau berani bertanya lagi."
Kata-kata dingin dan menyeramkan Daru membuat Inayah tersadar kalau orang ini tengah meminta tangannya. Inayah yang tidak ingin kehilangan salah satu atau kedua tangannya segera mengulurkan sebelah tangan ke samping seperti yang Daru minta, takut Daru benar-benar mematahkannya jika ia kembali bertanya.
"Satunya."
Inayah menarik tangan kanannya, namun masih tertahan. Terpaksa sebelah tangannya lagi ikut ia sondorkan dan memaksa badannya hampir menghadap Daru yang semula berdampingan.
'Ini tanganku mau di apain sih?' batin Inayah mulai risih saat jari-jarinya mulai di mainkan oleh tangan yang lebih besar dari tangannya satu-persatu dari ke-sepuluh jarinya.
"Tuan, tangan saya_"
"Ssssttt .... Diam saja jika kau tidak ingin kehilangannya."
Inayah kembali terdiam tanpa berani bersuara lagi. Walau risih dengan kelakuan Daru yang kelewat aneh menurutnya, tapi mereka sampai di Kediaman tanpa tangannya terlepas dari tangan Daru. Perjalanan panjang dan melelahkan menurut Inayah.
Kepanjangan karena ingin segera sampai dan melelahkan karena menunggu kapan Daru melepaskan tangannya. Yang akhirnya Inayah terselamatkan dengan sampainya mereka di Kediaman.
Ternyata Inayah yang mengira kejadian di perjalanan tadi sudah berakhir hanya berlaku sementara saja. karena sekarang Daru kembali berulah.
"Tuan. Bisa tolong lepaskan tangan saya?"
Inayah tidak tahan lagi, waktu istirahatnya malah digunakan Daru untuk hanya memegang-megang jarinya saja sedari tadi.
"Kenapa?" tanya Daru yang masih fokus terus menatapi wajah Inayah dengan kedua tangan yang terus bergerak, tepatnya jari-jari Daru bergerak-gerak bersama sepuluh jari lainnya yang ada di antara mereka.
'Ini kalau aku salah bicara, pasti di ancam lagi' Inayah mengehela nafas tidak tahu harus berkata apa tanpa mendengar ucapan bernada ancaman dari Daru.
"Jangan bernafas seperti itu. Tapi lakukan saja jika kamu mau, aku akan berikan nafas buatan jika tiba-tiba kamu kehabisan nafas."
Wajah tanpa ekspresi Daru sekarang bersuara dengan baik tanpa nada tinggi walaupun ancamannya tetap terselip dalam kalimat.
Rasanya Inayah semakin sesak jika bernafas saja ia harus di atur untuk seperti apa gaya bernafasnya. Hal itu semakin menambah kata-kata Inayah tertahan di kerongkongan.
"Kenapa, hhmmm?" Daru kembali bertanya sembari mengecupi jari-jemari Inayah yang pasrah, dari jempol sampai ke kelingking begitupun sebaliknya.
'Ya Allah .... Sebenarnya cobaan ataukan musibah yang engkau berikan pada hambamu ini? Jika memang cobaan tolong akhiri secepatnya dan jika memang musibah tolong berikan hamba jalan keluar agar menjauh dari musibah ini'
__ADS_1
Hanya kepada Tuhan saja tempatnya berbicara tanpa harus terancam walau dalam diam jika situasinya seperti sekarang ini.
"Tuan. Kenapa tangan saya terus anda pegang dari tadi? Anda hanya membiarkan saya mandi, shalat, dan makan saja."
Akhirnya Inayah mengeluarkan maksud ketidak yang tidak ia katakan sedari tadi.
"Kenapa kamu terus memanggilku Tuan? Ganti panggilannya."
Bukan ucapan itu yang Inayah inginkan. Kenapa Daru malah beralih ke topik lain setelah bertanya 'kenapa' pada Inayah?
"Saya harus memanggil Tuan apa? Bukankah itu memang panggilan Tuan?" tanyanya. Inayah seperti tidak bisa memanggil Daru dengan sebutan nama, entah kenapa. Mungkin karena ia sering mendengar Daru di sebut dengan panggilan Tuan.
"Sudah ku katakan jangan panggil aku Tuanmu."
Daru melepaskan tautan bibirnya setelah Inayah hampir kehabisa nafas.
'Aku akan kehabisan nafas bukan karena menghela nafas! Tapi karena mulut anda yang melebihi hewan buas itu!'
Ingin rasanya Inayah mengeluarkan kata-kata itu sacara lantang di depan Daru. Inayah mengatur nafasnya yang masih memburu memaksa semua oksigen memasuki hidung dan mulutnya yang rasanya jika tidak di paksa masuk untuk menghirupnya bisa menghentikan nafas Inayah.
"Lalu Tuan. Sa_"
Mulut Inayah kembali di tutup oleh bibir tipis yang menguasai bibir mungil berisinya sebelum Inayah sempat menyelesaikan kata-katanya.
Inayah kembali mengatur nafasnya yang seakan ingin membunuhnya. Kedua tangannya tetap di tahan oleh tangan besar yang sedari tadi menguasai tangannya, mempersulit Inayah menjauhkan Daru dari hadapannya.
Daru membawa tubuh mereka berbaring yang semula terduduk di tengah kasur dan mengurung Inayah dalam kuasanya.
"Cepat sebut suamimu!" tuntut Daru yang tidak hanya menuntut dengan kata-kata, melainkan tangan dan bibirnya juga ikut dalam tuntutan hal lain.
"Su_ suamiku ...."
Inayah geli sendiri mendengar suaranya yang menggelitik telinga.
"Katakan lagi," pinta Daru yang kini tangannya terlepas dari tangan Inayah dan beralih untuk memegang hal lain yang masih terbungkus oleh kain penyelamat.
"Suamiku."
"Hhmmm. Katakan lagi."
'Ini orang kenapa sih?' Inayah mulai risih dengan Daru yang sudah kemana-mana.
Jangan bilang hukuman selama sebulan itu tetap ia dapatkan selama 30 hari penuh?!
__ADS_1
Mata Inayah membulat memikirkan hal menakutkan itu akan terjadi pada dirinya.
"Suamiku. Tunggu dulu, kita harus berbicara."
Seperti sebelumnya, Daru tidak menghiraukan ucapan Inayah dan tetap pada permainannya.
"Suamiku. Kita perlu bicara."
Inayah menahan kepala Daru yang berhasil melihatnya walau tidak beranjak dari Inayah.
"Anda harus menjawab pertanyaan saya dulu tentang yang tadi," lanjutnya.
Walau tidak ingin tahu lagi kenapa Daru bersikap seperti itu, tetapi Inayah ingin Daru menyingkir darinya.
Ia hanya ingin Daru menjauh dulu walau mungkin hanya dapat berlaku untuk beberapa saat selama mereka berbicara yang nyatanya Daru tidak beranjak sedikitpun, selain cuma berhenti dengam permainannya dan menatap inteks wajah Inayah serta jarinya mencapit bibir Inayah, membuat wanita itu tersentak dengan kekagetannya.
"Siapa kamu?" tanya Daru
Inayah bingung dengan pertanyaan Daru yang mempertanyakan siapa dirinya.
'Apa lagi maksudnya?'
Inayah takut salah jawab lagi dengan pertanyaan-pertanyaan aneh Daru.
"Suamiku, saya adalah Istrimu."
Daru tersenyum, membuat Inayah merinding dengan bulu kuduknya yang sepertinya sudah berdiri tegak melihat senyum penuh pesona di depannya ini. Apakah dia salah bicara?
"Istriku? Apa seperti itu cara seorang Istri berbicara pada suaminya? Jangan bicara formal padaku," kata Daru sembari jari telunjuknya menelusuri area bibir Inayah, membuat pemilik bibir merasa kaku untuk ia gerakkan, takut bibir lain ikut mengancam jika bibirnya bergerak.
"Kenapa tidak berbicara? Cepat tanya kembali dengan benar."
Inayah tetap diam dan Daru tidak tinggal diam.
"Cepat!" desak Daru lagi.
'Ini kalau nggak di turuti, bibirnya pasti gitu terus' kesal Inayah yang mulai geram dengan hisapan di lehernya. Segera ia mendogakkan kepala yang ada di bawah dagunya dengan kedua tangan, karena jika cuma satu tidak akan terangkat sama sekali.
"Suamiku. Ada apa dengan tanganku? Kenapa kamu terus memainkan jari-jariku. Apa ada yang salah?" tanya Inayah yang sudah sangat ingin menghindari pertanyaan itu tapi Daru terus mendesaknya untuk bertanya.
Kalaupun bertanya hal lain pasti akan di bawa sampai ke pertanyaan itu juga. Jadi, Inayah percepat saja, agar cepat terhindar dari Daru.
'Itu kan?!'
__ADS_1
Seperti dugaannya, Daru kembali meraih kedua tangan Inayah yang masih berada di kepala Daru. Padahal Inayah ingin menghindari itu. Bisa-bisa seperti orang bodoh lagi yang cuma diam saat jari-jarinya di usap, di kecup dan kelakuan yang tidak jelas lainnya.
"Aku cuma mengobati."