INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Pergi menemui Ayah


__ADS_3

"Hanya apa, Bi?" tanya Inayah tidak sabar.


"Dahlia hanya mengatakan ia harus pergi dan tidak tahu kapan akan kembali lagi," lanjutnya dengan pelan, mengingat kala itu Dahlia duduk di sampingnya dalam angkutan bersama gadis kecil dalam gendongannya yang tidak tahu apa-apa tentang derita Ibunya.


"Mak' tidak akan kembali lagi, Bi."


Darsih membawa Inayah dalam pelukannya melihat gadis itu mulai menangis saat menyebutkan Ibunya yang telah tiada.


Debaran jantung Inayah seakan tidak ingin berhenti berdetak kencang, semalaman ia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak sampai hampir tengah malam entah karena tidak pernah tidur selain di rumahnya atau karena tidak berhenti memikirkan akan seperti apa, bagaiman, serta apa yang akan dilakukannya setelah bertemu dengan Ayahnya nanti.


"Ina harus bagaimana saat bertemu Ayah nanti, Bi?"


Sangking gugupnya, Inayah sampai bertanya pada Darsih apa yang harus ia perbuat bila berjumpa dengan Ayahnya. Darsih menggenggam tangan Inayah yang sudah basah karena keringat.


"Lakukan apapun yang ingin Ina lakukan."


Suara lembut Darsih menenangkan pikiran Inayah.


'Lancarkan semuanya ya Tuhan' pinta Inayah dalam hati.


'Kenapa kamu tidak pernah memberitahu putrimu tentang keberadaan Ayahnya Dahlia?' Darsih menatap lekat wajah Inayah dari samping yang kini tengah menatap lurus ke depan, sesekali melihat ke samping menyaksikan suasana kehidupan dan keadaan Kota yang baru pertama kali ia temukan dalam kendaraan beroda empat yang menjadi kendaraan mereka sekarang.


Dalam perjalanan yang hampir memakan waktu 20 menit, Inayah tidak bisa tidak memuji semua deret rumah besar yang megah nan mewah, berbeda dengan rumah-rumah yang mereka lewati sebelumnya. Darsih juga dapat melihat raut penasaran Inayah.


"Disini adalah wilayah elite, Ina. Hanya para orang kaya yang bisa tinggal di kompleks ini," jelas Darsih, tahu Inayah begitu ingin tahu mengapa suasananya berbeda dengan sebelumnya. Inayah tersenyum malu karena Darsih bisa mengerti perasaannya.


"Bibi. Mungkinkah Ayahku juga orang kaya?" tanyanya ingin mendengar pendapat Darsih.


"Menurut surat Dahlia, sepertinya iya. Karena jika Ayahmu hanya seorang pekerja, tidak menutup kemungkinan Ibumu pasti memperkirakan Ayahmu bisa saja kehilangan pekerjaannya."


Inayah mengangguk akan perkataan Darsih, Inayah juga memikirkan hal itu.


"Saya harus mengantar kalian ke alamat mana dulu?" tanya sang supir di balik kemudi karena Darsih memberikannya dua tujuan.


"Kita ke alamat XXXX dulu pak, setelah itu baru ke *****," jawab Darsih.


"Baik."


Sang supir mulai menyetir tanpa ragu kemana ia harus mengantarkan penumpangnya.


"Bibi, langsung pergi saja ke tempat kerjanya Bibi. Ina sudah hafal alamat kontrakan Bibi, jadi kalau nyasar bisa bertanya pada orang lain," Inyah berujar saat Darsih akan menemaninya masuk, sedangkan matahari semakin meninggi.


"Baiklah, kamu hati-hati. Kabari Bibi jika kamu ingin sesuatu, karena Bibi harus tinggal di rumah majikan Bibi, sampai hari minggu baru bisa pulang. Bersenang-senanglah dengan Ayahmu."

__ADS_1


"Iya, Bi."


Darsih kembali mamasuki mobil yang berupa Taksi itu untuk menuju rumah majikannya, majikannya memang menyiapkan paviliun untuk para pekerja, jadi Darsih biasa tinggal 5-6 hari setiap minggunya dan kembali ke kontrakannya pada hari minggu. Biasanya Darsih menghabiskan hari liburnya dengan menghibur diri sendiri, karena jika di paviliun pekerja tidak leluasa dalam beraktivitas.


Darsih adalah teman Dahlia, Ibu Inayah yang telah tiada 6 hari yang lalu. Darsih bekerja di Kota sebagai ART(Asisten Rumah Tangga), pekerjaannya itu sudah lama ia tekuni semenjak masih bersama dengan sang suami yang telah meninggal dari 16 tahun yang lalu. Darsih tidak ingin menikah lagi semenjak ditinggal mati oleh suami tercintanya 9 tahun yang lalu.


Pernikahan mereka tidak memiliki keturunan sampai maut yang memisahkan, akhirnya Darsih hanya tinggal seorang diri dan terus mengontrak kontrakan yang sama untuk mengenang hari-harinya bersama sang suami yang telah lebih dulu meninggalkannya.


Inayah memandang takjub pada rumah besar bertingkat yang ada di depannya, bersama dengan telepon cadul serta kotak cincin yang setia di genggamnya erat-erat.


"Woe! Cari siapa?" tanya satpam penjaga gerbang berteriak.


Inayah bingung harus berkata apa, apa yang harus ia katakan? Ia bahkan tidak tahu siapa nama Ayahnya untuk menyebutkan nama itu. Satpam itu kembali bersuara saat yang ditanyanya hanya diam membisu.


"Cari siapa? kalau tidak ada kepentingan silahkan pergi!"


Tiba-tiba datang pria paruh baya bersama seorang wanita tua yang di dorongnnya di atas kursi dari kejauhan. Inayah melihat pria itu menunduk berbicara dengan nenek yang duduk di atas kursi roda lalu meninggalkan nya dan mendekati gerbang yang masih setia tertutup.


'Diakah Ayahku?' batin Inayah bertanya melihat pria itu semakin mendekat.


"Siapa?" tanya pria itu pada satpam yang tadi berbicara dengan Inayah.


"Saya tidak tahu Pak, gadis ini tidak menjawab saat saya bertanya," lapor Satpam itu.


"Ada perlu apa?" Pria paruh baya tadi kembali bertanya dan kini pertanyaan itu ia berikan untuk Inayah.


Pria itu menatap Inayah dengan tatapan tajamnya seakan tidak suka kepada gadis itu.


"Ayahmu tidak ada di sini!" jawabnya ketus, firasatnya mengatakan wanita di depannya bukanlah gadis baik.


"Tetapi alamat yang Ibu saya berikan adalah di sini."


Inayah tidak ingin mengatakan jika Ibunya salah memberikan alamat, perasaannya mengatakan bila Ayahnya memang ada di sana.


"Siapa Ibumu?"


"Nama Ibu saya Dahlia."


Pria itu nampak terkejut mendengar nama yang Inayah sebutkan tetapi seketika ia merubah ekspresinya biasa saja dan kembali normal.


"Pergi! Dirumah ini tidak mengenal nama yang kau sebutkan," usirnya pada Inayah.


"Jangan biarkan dia masuk. Wanita itu penipu, usir jika dia datang lagi," tambahnya memperingatkan Satpam.

__ADS_1


"Baik Pak."


Pria paruh baya itu lalu pergi menuju wanita tua yang duduk di atas kursi dan Satpam membuka gerbang yang terkunci.


'Dia bukan Ayahku ... lalu Ayahku dimana?' batinnya Inayah tetap yakin jika Ayahnya serta kakak perempuannya tinggal di rumah megah itu, tatapi mereka dimana? Kenapa mereka tidak keluar untuk melihatnya.


"Silahkan pergi dari sini, anda tidak diizinkan untuk mendekati rumah ini," ucap si Satpam mengusir Inayah yang ingin menolak pergi namun ia urungkan mengingat ia tidak tahu apapun tentang Ayahnya untuk mengatakan jika Ayahnya benar-benar ada di sana.


Inayah menangis meninggalkan kediaman itu, ia berjalan tidak tahu arah sampai kakinya tiba disebuah taman yang indah, taman itu sangatlah sepi. Inayah duduk disalah satu kursi untuk menenangkan diri, haruskah ia kembali lagi ke rumah itu besok atau lusa? Siapa tahu saat ia kesana bisa bertepatan dengan Ayahnya yang keluar rumah.


"Hay."


Inayah terkejut mendengar suara yang datang dari sampingnya, begitu kepalanya menoleh ke samping, ia mendapati seorang pria dengan jas putih serta sebuah selang kecil yang Inayah yakini biasa di pakai seorang Dokter untuk memeriksa pasiennya, seperti itulah gambaran Dokter yang pernah ia tonton di TV tetangga saat masih di Desa.


"I_ ia," balasnya tergagap, sesungguhnya ia takut bertemu dengan orang asing dan apalagi di tempat yang asing juga untuknya.


"Hey, gadis kecil. Apa yang kamu lakukan di sini?" Inayah di beri pertanyaan oleh orang itu.


"Saya, saya hanya akan duduk sebentar."


Inayah beranggapan, mungkin orang lain dilarang untuk duduk disana karena Darsih mengatakan bila hanya orang-orang kaya yang bisa tinggal di wilayah itu. Pria itu tersenyum dan kembali melontarkan kata.


"Tidak ada yang melarang untuk duduk di sini seberapa lama. Siapa namamu?" tanyanya lagi.


"Inayah."


"Nama yang cantik. Namaku adalah Darwin, jika bertemu lagi kamu bisa memanggilku Dar, siapa namamu tadi? Inayah! Kamu bisa memanggilku Dar."


Inayah hanya tersenyum tidak biasa berbincang lebih lama lagi dengan orang yang baru dikenalnya.


"Bagaimana kamu masuk di kompleks ini. Apa kamu tersesat?"


Lagi-lagi Inayah hanya tersenyum tidak ingin menunjukkan raut sedih pada orang lain. Pertanyaan orang itu membuat Inayah bingung harus menjawab apa, ia datang bersama Darsih yang telah mempunyai akses, dan dia juga tersesat setelah dari alamat rumah Ayahnya.


"Jadi kamu benar-benar tersesat? Oh Tuahan! Dimana rumahmu? biar ku antar."


Entah kenapa saat melihat wajah gadis kecil di depannya mengingatkan Darwin akan seseorang yang hampir mirip dengan dengan Inayah, tetapi mereka berbeda dari segi penampilan.


"Tidak perlu," tolak Inayah tidak ingin menyusahkan orang lain, tidak bisa di pungkiri bila pria di depannya ini sangatlah tampan walau mungkin berumur 25-30 an.


Darwin tetap memaksa ingin mengantar Inayah pulang, karena lnayah merasa orang itu adalah orang baik, akhirnya iapun memberikan alamat Darsih kepada Darwin.


"Terimakasih Pak Darwin," katanya sebelum turun dari mobil.

__ADS_1


"Tidak mengapa. Tetapi aku belum menikah apalagi punya anak, jadi jangan panggil Pak. Cukup Dar saja."


Inayah hanya membalas dengan senyuman, ia mungkin tidak akan bertemu lagi dengan orang yang bernama Darwin itu.


__ADS_2