INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Pernikahan


__ADS_3

"Bagai mana? Apa Nyonya mau membantu?" tanya Sulis setelah melihat Inayah menuruni tangga.


"" Alhamdulillah, Bi," jawab Inayah memaksakan senyumnya, tersenyum karena akhirnya Darsih bisa di operasi dan terpaksa karena harus menyetujui kemauan Karmila dan Dinda.


"Persiapkan dirimu, pernikahannya 2 minggu lagi."


kata-kata itu kembali tergiang dalam telinga Inayah seakan tidak percaya jika dia akan menikah 2 minggu lagi.


"Alhamdulillah. Cepatlah, kamau harus segera membayarkan uangnya agar Darsih segera di operasi."


Sulis ikut senang mendengar bahwa Karmila mau membantu meminjamkan biaya operasi Darsih.


"Iya Bi. Saya pergi dulu."


Inayah berlalu dari kediaman yang akan mengubah hidupnya 2 minggu lagi itu setelah berpamitan pada Sulis.


Disebuah gedung pencakar langit, seorang pria memainkan jemarinya di atas meja dengan cara menjetikkannya bergantian, menghilangkan kesunyian yang melanda dirinya bersama dengan seorang pria lagi yang kini tengah berdiri di depannya yang menanti perintah dari sang Tuan.


"Dia sudah mendengarnya?" tanyanya tanpa melihat lawan bicara, pandangannya dingin menatap hal yang menurutnya menyenangkan untuk di pandang.


"Harusnya sudah Tuan, Ayahnya bahkan sudah mendengar kabar jika Tuan dan Nona Dinda akan menikah," jawqb Ian.


"Kuharap dia kembali sebelum pernikahan sialan itu terjadi."


pandangan Daru meneduh, berharap rencananya dapat membuat sang kekasih bisa kembali ke tanah air dengan sendirinya. Daru sudah berusaha membujuk agar wanita itu mau kembali dalam pelukannya seperti semula, untuk apa karier yang harus dikejarnya jauh-jauh itu jika dia bisa memberikan segalanya.


Dialah Daru, pengusaha sukses yang mampu membawa usaha peninggalan sang Ayah mencapai tingkat tertinggi dari segala penjuru. Ia mulai menanggung semua kerjanya sejak umur 18 tahun, Ian adalah pemilik kinerja terbaik yang langsung direkrut oleh sang Ayah untuk menemaninya.


"Bagaiman pendapatmu? Mungkinkah dia mau kembali?"


" ...."


Ian haya diam, tidak ingin memberi pendapat yang Tuannya sendiri tidak tahu dengan situasinya nanti.


"Kapan dia menelfonku?" Daru kembali bertanya.


"10 menit lagi Tuan. Nona kainah akan selesai pemotretan 5 menit dari sekarang, lalu akan ada sebuah kesepakatan dengan direksinya yang mungkin memakan waktu 5 menit, karena itu hanya tinggal Nona Kainah dengarkan penjelasannya dari asistennya serta menandatangani jika Nona Kainah setuju," tutur Ian setelah melihat pergelangan tangannya.


"Kontrak baru lagi?"


"Benar Tuan."


Daru mendesah berat, Ia berharap Kainah tidak akan menerima kontrak-kontrak itu saat mengetahui kabarnya yang akan menikah dan segera kembali.


Seperti ucapan Ian, sekitar 10 menit telepon Daru berdering, Ian yakin itu panggilan dari Kainah.


"Tinggalkan aku sendiri," kata Daru sebelum menjawab panggilan itu.


"Baik Tuan."


Ian melangkah keluar dari ruangan Daru.


"...," ucap seorang wanita di balik telepon.


"Iya, bukakah kamu sudah mendengarnya?"


"...."


Daru ingin menyerah dalam permainannya mendengar tangisan yang terdengar pilu dari kekasihnya.

__ADS_1


"Pulanglah jika kamu ingin itu tidak terjadi."


Daru tidak ingin luluh haya dengan mendengar tangisan memelas dari Kainah.


"...."


"Kamu menerima kontraknya?!"


Daru tidak percaya Kainah menandatangani kontrak baru walau mendengar ia yang akan menikah.


"...,"


"Ternyata kamu tidak menganggapku Kainah! Jangan meminta untuk kembali jika kamu lebih mementingkan karier mu itu, aku bisa memberikan semua yang kamu inginkah Kainah. Kembalilah ...."


"...."


"Baiklah! Jangan harap ada waktu ke dua jika kamu sudah memilih tetap dengan pilihanmu itu!"


Daru langsung mematikan sambungan telepon itu lalu terduduk menyandar di atas kursi kebesarannya.


"Pasien akan sadar jika pengaruh obatnya mulai menghilang, jika Ibu Darsih sudah sadar jangan terlalu memberinya pikiran berst dulu. Saya izin keluar untuk menangani pasien lain."


"Baik. Terimakasih Dokter."


Inayah senang akhirnya Darsih selesai melakukan operasi, sekarang tinggal tahap pemulihan agar Darsih bisa kembali beraktivitas dengan bebas. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya Inayah melihat jemari Darsih mulai bergerak perlahan sembari kelopak matanya yang memaksa untuk terbuka.


"Bibi," seru Inayah menyambut sadarnya Darsih.


"Ina, apa Bibi pingsan lagi?" tanya Darsih ingin bangun dari pembaringannya.


"Bibi jangan bergerak dulu."


"Bibi baru selesai operadi, jadi sebaiknya jangan banyak bergerak dulu agar Bibi bisa pulih dengan baik."


"Operasi?"


Darsih terkejut mendengarnya.


"Iya, Bi."


Inayah kembali duduk saat tadi sempat berdiri mencegah Darsih bangun.


"Tapi Ina, bagaiman mungkin Bibi bisa operasi, pasti biayanya sangat mahal."


"Ssttt. Bibi jangan mikir berat-berat, nanti kepalanya kembali sakit. Bibi tidak perlu khawatir, Ina mencari pekerjaan baru yang bisa di kerjakan malam hari, lalu meminjam uang pada Bos Ina. Serahkan semuanya pada Ina."


Inayah memberikan senyum manisnya pada Darsih dan terpaksa berbohong agar tidak membebani pikiran Darsih.


"Malam hari? Jangan bilang kamu bekerja yang tidak benar!" takut Darsih, ia tidak mau Inayah sampai melakukan hal yang salah demi operasinya.


"Astagfirullah! Tidak Bi, Ina dapat kerjaan baik-baik. Bibi percaya pada Ina kan? Ina tidak akan melakukan pekerjaan yang tidak pantas."


Inayah tidak ingin semakin berbohong, tetapi ia juga takut jika Darsih malah berangsumsi yang tidak-tidak.


"Pekerjaan apa? Kenapa harus malam hari?"


Darsih ingin memperjelas lagi agar merasa tenang.


"Bibikan tau sendiri, kalau siang hari Ina harus ke caffe. Pokoknya Bibi tidak usah khawatir, Ina tidak akan melakukan hal-hal yang merusak Ina sendiri."

__ADS_1


Darsih tersenyum sedih, kenapa dirinya harus sakit sampai harus merepotkan putri temannya ini.


'Maaf Dahlia, aku malah menjadi beban untuk Ina. Seharusnya aku membahagiakan putrimu ini, bukan malah menjadi masalah untuknya'


"Bibi kenapa menangis?" kaget Inayah melihat Darsih meneteskan air mata. Darsih tersenyum dan mengelus tangan Inayah yang mengusap air matanya.


"Bibi bahagia Ina, Bibi seperti memiliki seorang putri yang begitu sangat perhatian pada Bibi. Tatapi Bibi juga sedih karena harus menyusahkanmu, Bibi merasa tidak berguna karena penyakit ini."


Inayah terharu mendengar penuturan Darsih, sebelah tangannya ia letakkan di atas tangan Darsih yang mengelus tangan kanannya.


"Bibi jangan merasa menjadi beban Ina, Bi. Bukankah Bibi sendiri yang menganggap Ina seperti putri Bibi? Tidak ada orang tua yang menjadi beban anaknya."


Air mata Darsih kembali menetes mendengar kata-kata Inayah, Inayah yang melihat Darsih menangis lagi segera menunduk dan memeluk wanita paruh baya itu.


"Bibi jangan menangis," ucapnya tanpa melepas pelukannya.


"Maafkan Bibi, Ina. Maaf."


"Inayah, kenapa harus lama sekali kamu minta libur sama Bos ... aku akan kesepian tanpa dirimu disini," Indri memelas mendengar Inayah tidak akan ke caffe selama seminggu.


Inayah tertawa geli melihat kelakuan Indri yang begitu konyol dan lebay.


"Sepi dari mana Indri? Kan ada mereka juga."


Inayah mengarahkan dagunya pada dua pekerja lain seperti mereka yang tengah sibuk mencatat pesanan para pembeli.


"Lalu ada Bos ganteng juga," tambahnya sambil mengedipkan sebelah matanya, memayaunkan bibir Indri yang kesal dengan godaan Inayah.


"Mereka laki-laki Inayah, tidak asik kalau berbicara dengan mereka. Alur ceritanya belok terus, aku tidak suka," kesalnya.


Inayah hanya tertawa lagi melihat kelucuan temannya itu, padahal mereka hanya tidak akan bertemu selama seminggu.


"Lalu aku harus bagaimana? Kalau begitu kamu bilang Bos juga kalau mau libur, biar kita bisa ketemuan," Canda Inayah.


"Huh! Gampang banget kamu ngomongnya. Ibu akan memotong kepalaku jika tau aku tidak bekerja."


Ibu Indri memang sangat menakutkan, Inayah merasa segan untuk kembali pergi kerumah Indri saat mengingat pertemuan pertamanya dengan Ibu Indri.


"Itu deritamu. Sampai jumpa minggu depan."


Indri ingin melarang Inayah pergi tapi di urungkannya dan menghentakkan kakinya kesal lalu kembali masuk ke dapur untuk melanjutkan kerjanya.


Inayah meminta libur dengan alasan ingin menemani Darsih di rumah sakit sampai wanita itu pulih, padahal itu hanya alasannya saja. Inayah merasa semakin banyak berbuat dosa dengan terus berbohong pada orang-orang karena pernikahan yang akan berlangsung dua lagi.


Untunglah Karmila menambahkan nominal uangnya yang lebih dari biaya operasi sehingga ia sedikit tenang untuk meminta libur pada Bosnya untuk beberapa hari kedepan.


Seoarang gadis menatap dirinya dari pantulan cermin yang terpampang indah di depannya, kamar Dinda yang mewah kini menjadi tempatnya bersiap untuk pernikahannya, bersama dua orang penata rias yang memolesi wajah putih susunya dengan berbagai merek bedak yang Inayah pusing sendiri jika menghafal nama-namanya. Di samping, tepatnya di atas ranjang yang besar dan lebar Dinda duduk dengan tenang sembari memainkan handponenya.


Inayah menghela nafas lagi, hari ini ia akan menikah. Hari ini akan menjadi hari pernikahannya. Inayah ingin menangis tetapi ditahannya saat memgingat lagi bahwa ini adalah jalan yang dipilihnya untuk kesembuhan Darsih yang sekarang sudah pulang dari rumah sakit dan mulai beristirahat di rumah. Inayah tidak bisa mundur lagi, ia telah menggunakan uang Karmila untuk operasi Darsih.


Pintu terbuka dan Karmila masuk ke dalam.


"Pernikahan akan segera dilakukan. Dinda, jangan keluar kamar jika kamu tidak ingin semua ini gagal."


Karmila lalu mengeluarkan sebuah kain putih dari dalam tasnya lalu menutupi wajah Inayah sampai sebatas hidung.


"Iya ma," jawab Dinda.


"Kau tidak boleh membukanya sampai kalian pergi dari rumah ini. Mengerti?!" peringat Karmila setelah mengikatkan kain itu.

__ADS_1


"Baik Nyonya," jawab Inayah patuh.


__ADS_2