
"Inayah, kalian siap di tempat. Mereka akan datang beberapa menit lagi."
Inayah menghentikan petikan gitarnya, di samping kanan kirinya ada tiga orang yang juga ikut memainkan alat musik lainnya, hanya saja mereka kekurangan penyanyi, makanya Karim meminta Inayah mengisi tempat yang kosong tersebut.
"Baik Bos," jawab Inayah sementara yang lainnya mengangguk paham.
Andi dan Rudi sudah menata setiap sudut caffe agar terlihat rapi dan indah dipandang. Salah satu meja di siapkan seistimewa mungkin untuk calon atau tidak akan di terima menjadi pasangan nanti.
Sudah tiga kali Inayah menyaksikkan hal seperti ini selama bekerja di caffe Karim, dari semuanya tidak berjalan menjadi pasangan kekasih.
Yang pertama seorang wanita yang menyatakan perasaannya pada Si pria. Namun, Si pria ternyata sudah mencintai wanita lain. Walau seperti itu, tapi hubungan mereka tetap terjaga yaitu akan selalu menjadi sahabat dan berakhir dengan tangis Si wanita yang tidak bisa mengubah pendirian Si pria tersebut yang mungkin bercampur perasaan sedih, kecewa, serta merasa memiliki perasaan sepihak, dan bahagia karena belum kehilangan sahabat yang dicintainya.
"Woe!"
Inayah terkejut mendapat tepukan bahu dari Indri.
"Kamu ngapain di sini? Bos bilang orangnya akan datang. Sebaiknya kamu kerjain pekerjaanmu, Indri," tutur Inayah saat melihat Indri.
"Kamu tegang banget sih. Kayaknya kalau aku nggak teriak kamu nggak bakal dengar."
Indri beralih melihat satu-persatu orang-orang yang akan menciptakan nyanyian untuk hari ini.
"Kalian santai aja, mereka datangnya masih 40 menitan lagi. Lagian kalian udah selesai latihannya, kan?"
Yang di ajak bicara malah diam semua, membuat Indri kesal sendiri dan refleks tangannya mencubit gemas tangan Inayah yang dihalangi lengan baju.
"Awww! Kamu kenapa sih?" tanya Inayah sembari mengusap tangannya yang sedikit kepanasan serta sakit di bagian yang terkena cubitan.
"Kamu yang kenapa! Malah diam pas aku ngomong."
Salah seorang yang bermain gitar di samping Inayah menggeleng melihat kelakuan Indri, sedangkan yang lain hanya fokus memainkan alat musik yang ada di depan mereka membuat suasana sedikit bising.
"Tidak .... Bukan apa-apa. Aku hanya teringat hal kaya hari ini saja, dan kejadian yang ke-4 nya aku malah mau nyanyi."
Indri malah tertawa mendengarnya, seperti mendapati suatu hal yang sangat lucu sampai matanya sedikit ber air.
"Sorry, sorry. Aku cumw merasa lucu aja. Jadi malu deh ketawa sendiri. Kalian kenapa nggak ikutan ketawa sih?!" kesalnya bercampur malu setelah tawa anehnya terhenti.
__ADS_1
'Ternyata dia tau malu juga. Pertanyaannya juga aneh, nanti kami ikutan gila kalau malah ketawa bersama' Inayah tertawa dalam diam melihat kekesalan Indri
"Lagian apa sih, yang lucu? Kita nggak tau, makanya tidak ketawa," jelas Inayah sesabar mungkin menghadapi Indri.
"Aku juga teringat kejadian terakhir kali. Duh ..., aku juga pengen nampar tuh pipi si cowok! Untung pacar-pacarnya keburu datang, kalau nggak kayanya dia dapat pacar baru lagi."
Pemain piano ikut tertawa bersama Indri, sedangkan yang lain hanya tersenyum saja termasuk Inayah.
"Semoga hari ini mereka bisa jadian. Seperti kejadian kedua yang aku saksikan," doa Inayah untuk calon pasangan yang akan datang nanti.
"Itumah terserah mereka. Pokoknya kita cuma kerja dan mendapatkan uang! Aku juga ma_"
" Ekheem!"
Ucapan Indri terhenti saat mendengar deheman dari bawah.
"Turun!" Perintah Karim meminta Indri untuk segera turun dan tidak mengganggu kru yang akan bernyanyi.
"Tunggu dulu Bos. Lagian merrka ini udah latihan," jawab Indri santai, belum berniat untuk turun dari ketinggian yang hanya 25 cm itu.
"Iya. Iya!"
Indri segera turun karena melihat Karim akan mengeluarkan ponselnya. Tidak enak ternyata mempunyai Ibu yang memiliki sifat seperti Ibunya. Tetapi, walaupun begitu Indri tetap bangga mempunyai Ibunya.
Karim tersenyum menawan melihat Indri yang takut akan ancamannya, padahal nyatanya Karim tidak akan mau menghubungi Ibu Indri yang apalagi takutnya nanti seperti kejadian tempo hari.
"Udah Bos. Nggak usah senyum-senyum gitu di atas penderitaan orang lain. Apa lagi seorang wanita. Dosa!"
Setelahnya Indri pergi dengan kekesalan yang ikut bersamanya untuk Karim si Bos.
Setelah menunggu dengan sabar, akhirnya yang dinanti-nanti datang juga.
'Dia ...,' Inayah terkejut melihat siapa gadis yang datang bersama orang yang memesan caffe.
"Ino kok sepi?" tanya Si gadi pada Si pria.
"Mungkin mereka emang nggak mau datang. Kenapa? Kamu nggak suka kalau kita cuma berdua?" sahut Si pria yang tidak ingin mengatakan kebenarannya pada sang pujaan hati.
__ADS_1
"Nggak kok, maksud aku bukan gitu," Si gadis menjawab cepat dengan malu-malu.
"Kita mulai sekarang," kata Inayah pada teman-temannya yang telah siap sedari tadi dan alat musik mulai terdengar menghilangkan suasana sunyi yang tercipta pada ke dua remaja tersebut.
Pipi Si gadis memerah saat mendengar lagu yang Inayah nyanyikan, yaitu 'Karena Kamu Cuma Satu' di tembah tangannya yang ada di atas meja di raih oleh pria yang ada di depannya.
Perasaanya bergemuruh seiring dengan bait-bait yang terdengar. Gadis itu belum menyadari siapa yang bernyanyi karena wajah Inayah terhalang oleh tiang yang ada di sampingnya, serta ia hanya terfokus pada meja di depannya karena malu lantaran sedari tadi, sepasang mata yang ada di depan terus menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
"Sesil."
Yang di panggil namanya melihat pria yang kini berjongkok di depannya dengan mawar merah ia hantarkan untuk sang pujaan hati.
Ya, dia adalah Sesil. Sesil berdebar dengan semua itu, apalagi menanti kata-kata yang akan terucap selanjutnya.
"Jadilah kekasihku. Seperti bait lagu tadi, aku bahagia bisa bersamamu karena kamu adalah wanita satu-satunya yang mengisi hatiku setelah Ibu yang melahirkanku."
Sesil terharu mendengar kata-katanya, air matanya sampai mengalir mendengar beberapa kata terakhir yang terucap dari bibir pria itu.
"Hey ..., kenapa menangis? Jangan menangis, kumohon! Kupakan jika kata-kataku membuatmu sedih. Maafkan aku, oke?"
Sesil menggeleng, bukan karena kata-katanya dia menangis, melainkan karena rasa bahagia, ia juga memiliki perasaan yang sama sejak pertemuan pertama dan ternyata perasaannya selama ini terbalaskan, karena itulah Sesil menagis.
"Jangan berkata begitu, aku justru bahagia. Aku mau jadi kekasihmu," kata sesil.
"Sungguh?" tanyanya tak percaya dengan mata berbinar mendengar ucapan Sesil. Sesil hanya mengangguk tanda mengiyakan.
"Kalau begitu terima bunganya dan berdiri peluk aku."
Dengan malu-malu Sesil mengikuti kata-kata orang yang kini mendekapnya erat setelah berdiri dari jongkoknya di depan kursi Sesil.
"Terima kasih. Terima kasih Sesil ..., l love you."
"Iya, aku juga," jawab Sesil masih dengan bahagiannya.
Suara Inayah kembali terdengar menyanyikan lagu yang berjudul 'Hingga Nanti' untuk pasangan yang terjalin dengan penuh rasa haru itu dan ter romantis yang pernah Inayah saksikan di depan mata. Semoga kisah cinta mereka terjalin hingga nanti seperti lagu yang ia tengah nyanyikan ini.
"Kak Inayah!" Sesil kaget melihat Inayah ada di sana apalagi tengah menyanyikan suasanan jadian mereka. Cepat-cepat ia melepaskan pelukan yang sedari tadi mendekapnya penuh perasaan. Kenapa Inayah bisa ada di sana?
__ADS_1