INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Ciuman Ganas


__ADS_3

"Tenanglah .... Dia pasti akan kembali padamu."


Dinda menenagkan Kainah yang masih terus menangis itu.


"Aru tidak mencintaiku lagi. Aru tidak mencintaiku ...,"


Kainah terus menagis dengan lirih mengingat berbagai kebersamaannya dengan Daru.


"Hey! Lihat aku."


Dinda memaksa Kainah untuk melihatnya dan Kainah menatap wajah Dinda dengan mata sembab dan wajah berantakan.


"Kian saling mencintai kan?" tanyanya.


" ...," Kainah hanya diam bersama tangisannya.


"Kainah. Kamu masih mencintainya, dan kalau cinta Daru padamu berkurang maka buatlah dia kembali mencintaimu."


Kainah hanya menggeleng dengan pelan dalam kemalangan yang ia rasakan.


"Aku mencintainya, Aku bahkan merelakan kontrak yang aku impikan selama ini demi kembali padanya. Kenapa, Dinda? Kenapa ...?"


Kainah kembali menagisi semuanya. Daru adalah cinta terindahnya setelah Ayah kuat dan hebat yang di kenalnya selama ini.


Kenapa Daru malah membuatnya sesakit ini, kenapa?


"Maafkan aku. Harusnya aku tidak meminta mama untuk membuat Inayah menggantikanku dalam pernikahan."


Kainah yang mendengar ucapan Dinda menjauhkan diri dari sepupunya itu dan menatapnya dengan tajam.


"Dan kamu ingin menjadi istri Daru?! Aku akan membunuhmu jika itu benar-benar terjadi," Kata Kainah berapi-api.


"Tidak. Bukan sepeti itu! Maksudku, jika aku yang menikah dengan Daru, aku bisa meminta cerai dan dia kembali padamu."


Kainah menghapus air matanya saat mendengar perkataan Dinda.


"Berikan nomor wanita itu padaku," kata Kainh.


"Untuk apa?" tanya Dinda.


Kenapa Kainah meminta nomor Inayah, bukankah Kinah membenci wanita itu karena telah mengambil Daru darinya?


"Berikan saja."


" Aku tidak punya nomornya. Tapi sepertinya Bibi Darsih memilikinya."


"Darsih? Orang yang di operasi dan membuat wanita itu mau menggantikanmu?" tanya Kainah sesaat mengingat cerita Dinda saat nama Darsih di sebutkan.

__ADS_1


"Iya. Lebih baik kita ke tempatnya jika ingin mengetahui nomor Inayah. Soalnya aku juga tidak punya nomor Bibi Darsih jika kita meneleponnya," jelas Dinda pada Kainah.


"Antar aku ke sana."


Kainah langsung berdiri karena ingin segera menemui orang yang bernama Darsih itu.


"Yakin mau pergi dengan keadaanmu yang seperti itu?" tanya Dinda.


Kainah melihat pantulan dirinya di cermin besar yang ada dalam kamar Dinda. Penampilannya memang ingin menyaingi orang gila yang sudah tidak terurus selama bertahun-tahun.


"Diakan ...?"


Mulut Indri membentuk lingkaran dan matanya melotot tajam. Ia menyikut Inayah yang juga hanya berdiri di dengan kehadiran dua orang itu.


Indri maju dengan ragu karena ingin memastikan keraguannya.


"Apakah anda adalah orang yang bernama Daru?" tanya Indri pada salah satu orang yang ada di sana, sedangkan satunya lagi ia tidak mengetahuinya karena baru melihat wajah pria itu. Sedangkan wajah Daru selalu sering dilihatnya dalam postingan idolanya, Kainah.


"Ya," jawab Daru singkat tanpa melihat orang yang bertanya sama sekali karena matanya hanya tertuju lada Inayah yang masih tetap berdiri diam di tempatnya.


' Kenapa dia terus melihatku seperti itu ...! Apa juga yang mereka lakukan di sini.' Inayah tidak berani memgangkat padang untuk bertemu mata dengan tatapan Daru padanya.


'Kumohon ...! Kumohon pergilah' doa Inayah dalam hati berharal mereka segera pergi.


"Oh! Jadi anda si pria brensek itu? Hah!"


Ian yang mendengar ucapan Indri menatap wanita itu dengan tajam sedangkan Daru hanya biasa saja dan tetap menatapi Inayah tanpa menghiraukan ucapan Indri.


"Jaga ucapan anda Nona!" peringat Ian pada Indri yang berkata kasar pada Daru. Indri beralih menatap Ian yang malah menjawab perkataannya.


"Siapa kamu! Jangan kira karena kalian orang kaya, aku akan takut pada kalian, ya?" balas Indri tidak takut sama sekali menjawab peringatan Ian.


"Siapa yang cemburu Istriku?" tanya Daru, kembali mengulang pertanyaannya yang semula.


'Istrinya?' kaget Indri.


Apa maksudnya dengan Istrinya, mungkinkah Instri dari orang brensek itu ada si sini?


Indri mengikuti arah tatapan Daru dan Indri melihat mata Daru hanya tertuju lada Inayah yang ada di belakangnya.


'Inayah ...?' Indri ingin menebaknya tapi itu tidak mungkin juga terjadi.


Indri melihat sekeliling dan tidak ada orang lain terutama di arah pandangan Daru selain Inayah.


"Inayah? Ini ...?" tanya Indri tidak bisa melanjutkan kata-katanya lantaran belum mengerti dengan keadaan yang ingin mengejutkannya.


"Tetap di situ!" cegah Inayah saat melihat Daru ingin melangkah mendekatinya. Bukan ingin, melainkan memang mendekatinya karena Daru tidak menghiraukan suara Inayah yang menghentikannya.

__ADS_1


'Aduh! Indri bisa salah paham' batinnya gelisah karena Indri tengah memandanginya dengan wajah penuh tanya.


"Tuan. Janhmmpppp."


Bola mata Indri ingin keluar dari tempatnya saat melihat pemandangan yang memgejutkannya itu.


'Giilaak ...!'


Indri menelan ludahnya dengan susah payah saat menyaksikkan ciuman yang menggemparkan jiwa orang yang melihatnya.


Jangan tanya bagaimana dengan keadaan Ian sekarang yang melihat kelakuan Tuannya terhadap Nyonyanya itu. Tentu saja ia hanya menyaksikkan adegan itu dengan tenang dan tenang tanpa tergambar apapun di wajahnya.


Indri memutar kembali kepalanya ke delan dan melihat pria yang bersama Daru hanya biasa saja menonton dengan teliti apa yang Daru lakukan pada Inayah.


"Situasi macam apa, ini?" gumam Indri yang masih terdengar oleh Ian.


"Sudah berapa kali ku katakan untuk tidak menyebutku Tuan?!" kata Daru setelah melepaskan bibir Inayah yang saat ini seperti kehilangan tenaga untuk menopang berat badanya sendiri karena ciuman tanpa nafas yang Daru ciptakan.


Tentu saja hanya Inayah yang menahan nafas, Daru bernafas dengan tergesa dan memperoleh udara dengan cepat tanpa membiarkan Inayah menarik nafas untuk memasuki paru-parunya.


Indri kembali menoleh ke belakang saat mendengar suara Daru.


Berarti mereka sudah selesai berciuman, dan entah mengapa Indri tidak berani berkata seperti sebelumnya setelah menyaksikkan ciuman yang baru pertama kali di lihatnya itu dan tentu saja Indri merinding mengingat bagaiman mengerikannya gaya ciuman Daru.


'Inayah sampai lemas gitu ...!' Indri tidak berani membayangkan dirinya berada di posisi Inayah. Dimana, Inayah sampai linglung jika tidak segera di tahan oleh Daru agar tidak terjatuh.


Walau takut demikian, tapi Indri penasaran juga bagaimana rasanya berciuman dengan ganas seperti Daru dan Inayah tadi. Pipinya bahkan sampai memerah menghayalkan adegan itu jika tercipta antara dirinya dan seseorang.


"Sadarlah Indri," gumamnya.


Indri menepuk kepalanya sendiri untuk menyadarkan diri dari segala fantasi liar yang terlintas di otaknya.


"S_ aku .... Maaf," kata Inayah menjawab perkataan Daru setelah berhasil menguasai diri.


"Kenapa meminta maaf?"


Daru menatap Inayah dengan mata hitamnya yang menusuk menanti jawaban Inayah. Awas saja jika Inayah berkata yang tidak seharusnya lagi.


'Hah! Apa boleh buat ...,' pasrah Inayah yang sudah paham dengan sorot mata itu.


"Maafkan aku, Suamiku. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


Tentu saja Inayah tidak akan berani lagi mengulanginya. Untung saja yang melihat hanya beberapa orang, bagaimana jika Daru bertindak seperti tadi di hadapan banyak orang.


"Suami?!"


Indri menatal tajam Inayah mendengar kata 'Suami' terucap dari bibirnya. Setelah tadi Daru menyebut Istri, berarti memang benar Inayah Istri Daru. Seharusnya Indri sudah paham saat menyaksikkan ciuman ganas tadi.

__ADS_1


__ADS_2