
"Apa yang gadis itu lakukan?" tanya Daru setelah kembali memanggil Ian dalam ruangannya
"Nyonya Inayah sedang bekerja di caffe Tuan."
Daru hanya mendengarkan sebelum kembali mengajukan pertanyaan.
"Jam berapa caffe itu tutup," katanya kembali.
"Sampai jam 12 malam. Tetapi biasanya Nyonya Inayah yang masuk dari waktu pagi, pulang jam 4 sore lalu bergantian dengan karyawan lain yang memang masuk jam kerja malam," jelas Ian. Daru bisa menebak jika tempat Inayah bekerja lumayan banyak pengunjung karena melayani pembeli sampai tengah malam.
"Jam istirahat kita pergi minum kopi. Kamu bisa keluar."
"Baik Tuan."
Ian meninggalkan ruangan Daru dengan wajah tanya yang kentara tapi hanya beberapa detik sebelum ia berada di luar. Ian tahu betul Daru tidak menyukai kopi, apa hanya untuk alasan agar bisa pergi ke caffe? Walau Daru tidak menyebutkan akan minum kopi dimana, tetapi Ian bisa mengetahui jika tujuan mereka dijam istirahat nanti adalah caffe tempat Inayah bekerja.
Sejujurnya Ian merasa kasihan pada Inayah yang harus diberatkan dengan uang yang Daru berikan pada Hendra, apalagi berkali lipat dari yang sebenarnya hanya 2.000.000.000.000,00 saja. Tapi Ian tidak bisa melawan dan tetap mendukung keinginan Tuannya, menurutnya itu sepadan dengan apa yang telah berani Inayah lakukan. Penipuan! Daru sangat benci dengan yang namanya penipuan dan penghianatan. Kata itu telah mendarah daging dan akan dihancurkannya jika memasuki kehidupannya.
"Inayah."
Inayah langsung menoleh ke sumber suara.
"Ya?" tanyaya pada Andi, rekan kerjanya.
"Bisa minta tolong antar pesanan ini di meja 17? Rudi masih sibuk mengantar pesanan lain, aku mau buang air."
Inayah tidak langsung menjawab perkataan Andi melainkan ia menoleh pada Indri lebih dulu.
"Gimana? Boleh tidak kalau aku tinggal dulu," kata Inayah karena mereka memang bertugas di bagian dapur sedangkan Rudi dan Andi bagian pemesanan yang langsung ke caffe maupun di antarkan pada alamat mereka.
"Iya deh, kasian juga muka Andi ijo gitu. Tapi cepatan ya Inayah. Ini sibuk bangat soalnya."
"Iya. Cuma antar saja kok, paling cuma beberapa detik."
"Ya sudah, ini. Aku ke wc dulu."
Andi langsung berlari kebelakang setelah menyerahkan nampan berisi kopi pada Inayah. Inayah dan Indri hanya tertawa melihat Andi yang seperti di kejar setan itu.
"Sana antar, cepat!"
"Iya bawel," balas Inayah mulai melangkah ke menja 17 berada.
"Silahkan menikmati pesanannya Tuan-tua_"
Inayah menghentikan ucapannya saat melihat orang yang memesan kopi tersebut, tangannya sampai bergetar saat menyondorkan gelas ke depan Daru yang menatapnya dengan tajam menggunakan mata hitamnya itu.
"Pe_permisi," katanya tergagap setelah akan pergi. Daru hanya menerbitkan senyum di ujung bibirnya melihat kelakuan Inayah, sedangkan Ian hanya menonton semuanya dengan tenang.
__ADS_1
"Manis," komentar Daru setelah mencicipi kopi dalam gelas itu. Ian ikut meneguk kopi setelah melihat Daru menurunkan gelasnya, dahinya berkerut setelah rasa kopi itu menyentuh indra perasanya.
"Pesankan aku satu kopi lagi," ujar Daru setelah kopi dalam gelasnya habis. Ian mengikuti keinginan Tuannya dan melambai pada Andi untuk melakukan pemesanan.
"Satu kopi lagi."
Andi mencatat pesanan Ian dan langsung pergi menuju pada Indri dan Inayah.
"Kopi hitam satu," kata Andi.
Setelahnya Andi pergi melayani pemesan lain sembari membawa pesanan yang sudah jadi dan kembali mengambil pesanan lagi dan terus seperti itu sampai jam kerjanya selesai.
"Ini kopi di meja 17."
Inayah menyerahkan kopi itu pada Andi, dan disambut oleh rekannya itu.
'Siapa yang nambah ya?' batinnya setelah kopi di tangannya berpindah tangan.
"Kenapa kau yang mengantar kopinya? Dimana orang yang mengantar sebelumnya."
Andi bingung mendapat pertanyaan dari pengunjung itu, ia lupa karena banyaknya pesanan yang harus diantarkannya. Mungkinkah Rudi yang dimaksudnya? Ia mendongak dan menatap sekekeliling mencari keberadaan rekannya itu, ternyata Rudi berada di meja lain bersama pengunjung lain.
Ian yang melihat kebingungan Andi dan melihat arah pandangan lelaki itu akhirnya bersuara.
"Wanita yang tadi mengantar pesanan."
'Inayah ya?' tanyanya sendiri.
"Di belakang Tuan. Apa perlu saya panggilkan?" ujarnya sopan.
"Tidak perlu."
Andi langsung pergi melihat tangan Daru yang mengusirnya, setelah Andi pergi Daru tidak meminum kopinya sama sekali.
"Kita kembali ke kantor," katanya dan langsung beranjak.
"Baik Tuan."
"Mah! Dinda!"
Suara Hendra begitu keras terdengar memanggil istri dan anaknya, karena suaranya yang melengking itu membuat yang lain ikut keluar.
"Ada apa sih kak! Datang langsung teriak-teriak."
Karman yang memang memiliki letak kamar di lantai bawah muncul lebih dulu di susul istrinya bersama ibu mertua yang di dorong di atas kursi roda. Karmila beserta Dinda terlihat menuruni tangga dengan tergesa.
"Mama. Paman kenapa?" tanya Kayla sambil mendekap boneka doraemonnya, Ia yang bermain bersama nenek dan ibunya harus keluar karena teriakan Hendra.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, Kayla lanjutin mainnya di kamar nenek dulu ya, nanti mama sama nenek ikut ke sana," kata Astia melepaskan tangan kanannya dari kursi roda dan beralih mengelus kepala sang putri.
"Iya," jawabnya lalu beralih kehadapan Erni.
"Nenek, nanti kita main lagi ya?" pintanya pada Erni.
"Iya, tapi Kayla pergi tunggu di kamar dulu."
Erni juga mengangkat tangan rentanya untuk mengelus kepala Kayla.
"Iya, nek!" senang Kayla lalu berlari ke dalam kamar.
"Ada apa pah?" tanya Karmila setelah berhadapan dengan suaminya.
"Kita pulang sekarang. Mah, kami mau pulang dulu. Ayo sayang, cepat ambil barang-barang kita. Kamu juga Dinda, pergi ambil barangmu. Kita pulang ke rumah."
Tidak bisa disembunyikan kalau raut Hendra begitu senang dan bersinar sekarang, apalagi saat mengatakan akan pulang ke rumah.
"Tapi pah, kita mau pulang kana? Tuan Daru sudah menyita semuanya."
Dinda menunduk mendengar ucapan Karmila, semua ini karena keegoisannya, kalau saja dia mau menikah dengan Daru pasti mereka tidak perlu pergi kemana-mana sebelumnya. Hendra sampai berperilaku seperti itu. Dinda masih ingat betul bagaimana marahnya Hendra 5 hari yang lalu.
"Tuan Daru mengembalikannya kembali. Cepatlah ambil barangnya, kita pulang."
Karmila kembali naik ke atas, sedangkan Dinda pergi ke kamarnya.
"Hendra, apa benar yang kamu katakan?" tanya Erni yang ikut bahagia mendengar kabar dari Hendra.
"Benar mah. Mama jaga kesehatan ya? Kami mau pulang ke rumah. Adik Ipar, tolong jaga mama," kata Hendra yang menghampiri Erni juga Astia.
"Dek, jaga mama. Besok kamu bisa ke kantor lagi, karena semuanya sudah kembali seperti semula."
Hendra beralih melihat Karman yang memang tidak jauh dari keberadaan Erni dan Astia.
"Baguslah kak. Besok aku akan ke kantor," balas Karman yang seperti tidak senang pada wajahnya.
'Bagaimana bisa Tuan Daru mengembalikan semuanya? Hah! Kerja lagi' batinnya tampak tidak suka dengan kabar yang Hendra bawa.
"Hendra, jangan membuat masalah lagi dengan Tuan Daru itu. Kasian Kakakmu yang harus bekerja sendiri kalau kalian tidak punya pekerjaan. Walau usaha Ikram sukses, tapi kalian juga harus berusaha, apalagi kalian sudah sama-sama berkeluarga," nasehat Erni pada putranya.
"Iya Mah. Aku akan berusaha untuk tidak lagi kembali melakukan kesalahan yang sama."
"Astia, kita kembali ke kamar. Kasian Kayla sudah lama menunggu."
"Iya Mah."
Astia memutar kursi roda yang Erni duduki lalu mereka pergi dari sana, rumah mereka tidak terlalu jauh, masih dalam kompleks yang sama, jadi tidak ada yang namanya perpisahan penuh haru.
__ADS_1