
"Nyonya Inayah, bisa kita bicara sebentar?" tanya Harun dengan halus
"Mau bicara apa Tuan Harun?" tanya balik Inayah, ia baru selesai makan dan Harun memintanya untuk berbicara.
"Berbicara. Lebih tepatnya memberikan Nyonya sesuatu."
"Sesuatu?"
"Benar. Mari ikuti saya."
Inayah mengikuti Harun dengan ragu dan penasaran akan maksud sesuatu itu.
"Silahkan masuk Nyonya," kata Harun lagi setelah mereka tiba di depan sebuah ruangan, Inayah hanya patuh mengikuti ucapan Harun yang telah masuk lebih dulu
'Ini ruangan apa ya?' Inayah memasuki ruangan yang kurang lebih, hampir sama dengan ruangan Pak Kepala Sekolah sewaktu ia masih di kampung dulu, bedanya ruangan itu lebih kecil dari ini dan penuh dengan apa yang Inayah tidak bisa menyebutkannya satu-persatu.
"Ada apa Tuan Harun?" tanyanya setelah duduk berhadapan dengan Harun.
"Saya diperintah untuk memberikan ini. Tuan Ian mengatakan agar Nyonya membacanya dengan tangkap dan cermat."
"Tuan Ian?" tanya Inayah bingung.
"Benar. Lebih benarnya Tuan Daru."
Inayah mulai faham, maksudnya adalah Ian yang diperintah oleh Daru dan Harun yang ditugaskan oleh Ian untuk disampaikan padanya.
"Kenapa bukan Tuan Ian sendiri yang memberikannya?" tanya Inayah lagi.
"Tuan Ian masih ada keperluan dengan Tuan Daru, untuk mempersingkat waktu tugas ini diberikan kepada saya. Silahkan untuk membacanya lebih dulu Nyonya, pastikan untuk dipahami dan dimengerti. Selebihnya, jika Nyonya ingin sesuatu setelah membacanya, silahkan berbicara langsung dengan Tuan sendiri," jelas Harun.
"Maksudnya pada Tuan Daru?" tanya Inayah memastikan. Mendapat pengiyaan dari harun, akhirnya Inayah mulai membaca lembar-lembar itu.
Dihalaman pertama tertera dengan tulisan besar kata, KONTRAK NIKAH
'Kontrak? Untuk apa?' bingungnya mulai melihat kata demi kata yang berjejer setelahnya.
'Konrak ini dibuat untuk kelanjutan dari permasalahan yang telah dilakukan dengan mengganti penganti wanita dalam pernikahan yang sebelumnya telah disepakati dengan pihak pengantin asli. Pihak pertama dan pihak kedua (pengantin asli) menyepakati dengan hubungan timbal balik yang telah disepakati, yaitu: pihak kedua memerlukan dana yang besar dari pihak pertama dan pihak pertama meminta untuk menikah dengan pihak ke dua ( pengantin asli) sebagai bentuk dana tadi.
Karena telah terjadi perubahan yang tidak diduga-duga dari pihak pertama maka kontrak ini telah dibuat untuk tidak merugikan pihak pertama yang telah tertipu. Oleh karena itu, pihak pertama adalah titah dan aturan yang harus pihak kedua (pengantin pengganti) taati setelah kontrak ini di tandatangani oleh kedua belah pihak.
__ADS_1
Jika pihak kedua menolak untuk menerima keputusan dari kontrak ini maka pihak kedua (penganti pengganti) harus membayar dengan dan ganti rugi atas kerugian pihak pertama dari permintaan pihak ke dua(pengantin asli) saat hubungan timbal balik antara pihak pertama dan kedua(penganti asli) terjadi.
Dengan ini di tandatangani oleh.
Pihak pertama
.........................
Pihak kedua (pengantin pengganti)
.........................
Inayah membaca deretan kata itu dengan hati kembang kembis tidak karuan dengan getaran yang serasa sesak.
'Ganti rugi?' Inayah rasanya akan lunglai, apalagi ia tidak tahu berapa jumlah yang harus digantinya nanti.
"Bagaimana Nyonya? Sudah dipahami?" tanya Harun melihat Inayah telah selesai dengan bacaannnya.
"Tuan Harun. Emmm berapa jumlah yang harus di bayar jika saya tidak menanda tanganinya?" tanya Inayah
" Anda bisa menanyakan semuanya pada Tuan langsung."
Entah mengapa Inayah tidak mau mendengarnya dari Daru, selain suaranya yang selalu meninggi dan suka memerintah, Inayah juga tidak tenang setiap berbicara maupun berdekatan dengan Daru yang seperti orang jahat tapi Inayah yang merasa terbebani.
"Maaf Nyonya Inayah, itu bukan wewenang saya."
"Kalau begitu saya akan bertanya pada Tuan Ian saja. Tuan Ian pasti bisa mengatakannya kan, Tuan?"
Inayah melihat Harun hanya tersenyum saja tanpa mengatakan ya atau tidak pada Inayah selain.
"Anda bisa kembali Nyonya. Bawalah serta kontrak itu jika anda belum akan menandatanganinya."
'Ternyata orang-orang yang bekerja dengan Tuan Daru itu sama-sama aneh! Ditanya lain malah memberikan jawaban lain dari pertanyaan'
Inayah langsung keluar membawa serta map ditangannya tanpa membalas ucapan Harun yang sedikit membuatnya jengkel, ia keluar dengan wajah tidak bersahabat entah karena apa. Harun hanya membiarkan dan tidak terganggu dengan hal itu.
Setelah berada diluar pintu, Inayah menghentikan langkahnya dan berpikir sejenak.
'Astagfirullah. Kenapa aku harus kesal pada Tuan Harun yang mungkin memang tidak tahu apa-apa. Seharusnya aku marah pada Tuan yang sok berkuasa itu! Kenapa dia harus membuat kontrak segala'
__ADS_1
Inayah memutar langkahnya dan kembali masuk ke dalam yang mungkin ruangan Harun itu.
"Ada yang bisa dibantu Nyonya?" tanya Harun melihat Inayah kembali masuk.
"Tidak Tuan. Saya cuma mau meminta maaf."
Harun kebingungan dengan maksud Inayah yang meminta maaf.
"Maaf? Maaf untuk apa Nyonya?" tanya Harun, ia merasa istri dari Tuannya itu tidak memiliki salah sama sekali selain menipu Tuannya.
"Emmm ... tadi saya tinggal keluar saja dan kesal pada Tuan. Maaf untuk ketidak sopanan saya."
Harun Hanya tertawa mendengar ucapan Inayah, jujur ia tidak bisa menyembunyikan tawanya, baru kali ini selama ia bekerja atasannya ada yang meminta maaf hanya kerena hal sepele.
"Tidak mengapa Nyonya Inayah, saya tidak mempermasalahkannya," kata Harun setelah tawanya terhenti.
"Terimakasih Tuan Harun. Kalau begitu saya mau kembali ke kamar dulu."
Inayah lega, setidaknya ia tidak akan memikirkan lagi ketidak nyamanannya itu. Biarlah pada Daru saja ia merasa tidak nyaman kerena telah menjadi penipu dan menipu pria itu, jangan pada orang lain agar Inayah tidak semakin sesak memikirkan beban-bebannya
"Silahkan Nyonya."
Harun memandangi Inayah sampai gadis itu hilang di balik pintu.
'Tuan Daru akan menyesal jika melepaskan Nyonya Inayah. Gafis itu berhati baik seperti hati Tuan Daru yang tersembunyi, semoga dengan kehadirannya bisa memunculkan perasaan itu ke permukaan' Harun tersenyum untuk kebahagiaan Tuannya.
"Tuan Ian!"
Ian menghentikan langkahnya yang menuruni tangga saat mendengar namanya dipanggil, ia berbalik dan mendapati Inayah berlari bersama kertas yang ia pegang untuk menyusulnya. Teriakan itu tentu saja di dengar oleh Daru yang berada dalam kamarnya, karena Inayah berteriak tepat didepan kamar dan Daru belum lama memasuki kamar tersebut yang baru dari ruang kerjanya, begitupun dengan Ian yang juga baru saja mengantar Tuannya sampai memasuki kamar setelah mereka keluar dari ruang kerja. Rumah itu memiliki tangga yang berdampingan namun berjauhan, itulah mengapa Inayah berteriak setelah ia naik karena melihat Ian menuruni tangga satunya. Kalau saja tadi ian lewat ditangga yang Ian turuni pasti mereka akan bertemu.
"Syukurlah, saya menemukan Tuan Ian disini," kata Inayah setelah berhasil menyusul Ian, yang berada di tengah tangga.
"Anda mencari saya Nyonya Inayah?" tanya Ian sembari melirik kamar Tuannya yang masih tertutup.
'Jelas-jelas tadi dia dengar sendiri aku memanggilnya, tapi sudahlah! Aku harus menanyakan dulu harga yang harus dibayar untuk ganti rugi. Tidak tertulis saja aku sudah tidak berani berbicara dan membantah, apalagi kalau harus tertulis'
"Nyonya Inayah? Saya pergi dulu jika sudah tidak ada yang mau dibicarakan."
Inayah tersadar dari lamunannya dan segera menahan Ian untuk pergi.
__ADS_1
"Tunggu Tuan Ian," cegah Inayah sambil menahan tangan pria itu.