INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Nyanyi


__ADS_3

"Iya Bos?" tanya Inayah dan mendapati ternyata Karim yang memanggil namanya.


Karim melihat sekilas pada Indri yang ada di samping Inayah berdiri.


"Bos," sapa Indri pada Karim.


"Hmmm," balasnya mengangguk sambil tersenyum sekilas lalu beralih pada Inayah untuk membahas apa yang membuatnya memanggil nama Inayah.


"Begini Inayah, pagi ini sampai siang nanti caffe akan ada yang membokingnya. Jadi, saya perlu bantuan kamu," tutur Karim dan Inayah senang mendengarnya begitupun dengan Indri yang sudah menyunggingkan senyumnya karena hari ini setidaknya sampai siang nanti ia bisa bernafas lega tanpa terburu-buru memenuhi pesanan pembeli.


Tapi Inayah agak bingung, kenapa Karim harus membutuhkan bantuannya?


"Bantuan apa Bos? Kami pasti akan membantu kalau untuk urusan caffe. Iya kan Indri?" tanyanya pada Karim beserta Indri yang menggangguk setuju.


"Betul itu Bos. Emangnya cuma Inayah aja yang bisa bantu, Bos? Aku atau Andi dan Rudi, tidak?" tanya Indri dengan gaya bahasanya yang santai saat berbicara dengan Bosnya seakan bukan kelakuan bawahan pada atasan.


Karim hanya geleng-geleng dan tersenyum menawan mendengar tutur kata Indri, rasanya Karim ingin mencapit bibir gadis itu dengan kedua jarinya.


"Indri bilang, katanya kamu pintar menyanyi dan bermain gitar kan? Jadi, nanti kamu bisa nyanyi untuk menciptakan suasana romantis untuk sepasang remaja yang nanti akan menyatakan perasaannya pada wanita yang mau di tembak. Bagaimana Inayah, bisa?" tutur Karim meminta agar Inayah bernyanyi untuk orang yang telah memboking caffe sampai siang hari nanti.


'Indri kebiasaan deh! Suka banget bicara yang bukan-bukan'


Inayah memelototi Indri yang sekarang malah nyengir bodoh sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya.


"Sorry ..., soalnya Bos pernah nanya siapa yang pintar nyanyi atau mainin musik gitu. Tapi suara dan petikan gitarmukan bagus."


Meminta maaf sekalian membela pendiriannya dengan memuji Inayah, Indri menjah dari Inayah takut di jitak oleh Inayah dan mendekat pada Karim.


"Bos, cari yang lain aja."


Indri yang hilang sopan santunya pada Karim sekaligus Bosnya itu malah menggenggam lengan Karim saat berbicara tanpa rasa takut dan seperti sengaja melakukan itu. Karim hanya membiarkan apa yang Indri lakukan pada tangannya.


"Tidak bisa. Waktunya sudah mepet dan kalau ada yang bisa serta ada orangnya di depan mata kenapa harus mencari penyanyi lain. Bukan begitu Inayah?"


Karim melihat Inayah saat birbicara tanpa melirik pada gadis yang tidak tau malu memegang tangannya.


Inayah hanya menggeleng melihat kelakuan Indri yang sudah sering dilihatnya itu. Tetapi yang menjadi pertanyaan Inayah, kenapa Karim membiarkan saja Indri bersikap seperti itu.


'Jangan-jangan mereka ini punya hubungan lain selain Bos dan karyawan' batinnya, Inayah akan menanyakan itu nanti pada Indri.


"Baiklah Bos. Tapi, saya belum pernah bernyanyi di depan banyak orang."


Inayah memang hanya pernah bernyanyi dalam rumah bersama gitar yang dibelinya dua tahun yang lalu dan masih ada di kontrakan Darsih. Karena keakrabannya dengan Indri, membuat gadis itu sering melihat Inayah bernyanyi saat pergi ke kontrakan Darsih.


"Percaya diri, anggap saja kamu cuma bernyanyi di depan dinding. Awww!'


Tiba-tiba Karim berteriak karena mendapat cubitan dari Indri.


" Kamu ini ya? Mau di pecat?" Karim kaget dengan cubitan Indri yang nyut-nyutan di kulitnya walau dilapisi kemeja itu.


Tapi apa yang ia dapatkan dari Indri akan ancamannya?


"Wle! Inayah, aku ke belakang dulu ya? Kamu bicara saja sama si Bos."

__ADS_1


seperti itulah Indri, ia sangat berani menjulurkan lidahnya pada orang yang berstatus sebagai atasannya.


"Iya," jawab Inayah lalu Indri berlalu.


'Indri berani sekali. Bagaimana kalu Bos benar-benar memecatnya karena sikapnya itu' Inayah hanya tersenyum kikuk melihat kepergian Indri.


"Maaf Bos. Indri malah pergi."


Entah mengapa Inayah yang merasa tidak enak dengan kelakuan Indri, apalagi Karim malah biasa saja.


"Sudahlah. Indri biar menjadi urusanku, kamu latihan bernyanyi saja untuk sebentar, dan pastikan kamu memilih lagu yang paling romantis," tutur Karim.


"Baik Bos."


"Indri."


Indri menoleh ke sumber suara dan mendapati Karim tengah bersandar di pintu dan tangannya menyilang di depan dada serta sebelah kaki yang ia sandarkan ke belakang.


'Gila!' Indri menelan ludahnya dengan susah payah melihat gaya Karim.


Indri menggeleng dan berusaha berwajah biasa saja.


"Kenapa Bos?" tanyanya seakan tidak pernah melakukan kesalahan apapun yang baru ia lakukan beberapa saat yang lalu pada Karim.


"Cepat minta maaf sebelum kamu ku pecat."


Karim mendekat ke tempat di mana Indri berada.


"Maaf untuk apa? Memangnya saya punya salah apa sampai harus minta maaf?" Indri malah menantang Karim dan mengikuti gaya Karim menyilangkan tangannya di depan dada dengan sebelah tangannya yang masih memegang sendok.


"Sepertinya kamu memang ingin kehilangan pekerjaan ya?"


"Halah! Bos mana berani mecat saya. Kalu Bos mecat saya nanti Bos sendiri yang rugi," Kata Indri dengan penuh percaya diri.


"Oh, ya? Kenapa aku harus rugi?" tanya Karim sembari megurung Indri yang masih bersedekap dada dengan kedua tangan kekarnya di balik meja.


"Booss ..., in_ini. Bos jangan dekat-dekat!"


Jantung Indri ingin meledak karena dada Karim hampir menyentuh tangannya yang menyilang di depan.


"Jawab dulu."


Karim malah tersenyum melihat wajah memerah Indri.


"Karena_karena tidak akan ada pekerja yang sebaik saya," kata Indri dengan cepat walau tergagap di awal kata.


"Percaya diri sekali. Orang yang lebih baik banyak diuar sana. Mereka bisa menghormati atasannya dengan baik."


"Kata siapa! Karyawan sejak pertama yang bertahankan cuma saya. Bos nggak akan berani mecat saya."


Dada Indri naik turun sangking gugupnya.


'Ini si Bos, kenapa nggak jauh-jauh sih? Jantungku mau copot!' batinnya menjerit.

__ADS_1


"Kataku. Kamu tidak dengar tadi mulutku yang bicara?"


Tangan kanan Karim menjitak kening Indri.


"Awww!" keluh si pemilik kening.


"Cepat minta maaf. Sebelum saya telepon Ibumu dan memecatmu agar Ibu galakmu itu mengejarmu paki sapu ijo."


Karim tersenyum mengingat Ibu Indri yang pernah menyusul Indri sampai ke caffe bersama sapu yang setia ia genggam hanya karena tidak melihat keberadaan salah satu timba di rumah.


"Bos jangan ngatai Ibu saya!" akhirnya Indri kesal juga.


"Terseralah."


Karim menjauh Dari Indri dan mengambil handpone dari kantungnya.


"Bos mau ngapain?" tanya Indri sedikit panik.


"Menghubungi Ibumu, apa lagi? Kamu lupa? Saat datang di sini tempo hari Ibumu meninggalkan nomornya dan megatakan untuk menghubunginya kalau kamu berulah selama bekerja," kata Karim yang kelewat pajang.


"Jangan Bos!"


Keberanian Indri memang lebih dari 100% pada Karim. Ia menarik handpone Karim saat pria itu akan menghubungi Ibu Indri.


"Kembalikan," Karim meminta handponenya kembali.


"Maafkan saya Bos. Jangan hubungi Ibu saya ya? Ibu suka malu-maluin kalau sudah kumat kesalnya."


Karim malah tertawa melihat anak yang malah mengatai Ibunya.


"Ya sudah. Kembalika handpone saya."


"Janji ya Bos. Jagan telepon Ibu, emang Bos mau pas nanti pelanggannya datang malah di sambut sama Ibu yang bawa sapu?"


Indri masih menyembunyikan handpone Karim di belakang badannya sebelum Karim berjanji untuk tidak menghubungi Ibunya.


"Iya. Sini, kembalikan handpone saya."


Tangan Karim kembali terulur meminta handponenya.


"Bos janji dulu!" kekeh Indri dengan apa yang harus Karim lakukan jika ingin mendapatkan handponenya kembali.


'Ini sebenarnya Bosnya siapa sih?' Karim sendiri tidak punya pilihan lain selain berjanji.


"Baiklah, saya berjanji tidak akan menghubungi Ibu kamu. Tapi kamu juga harus minta maaf dengan benar."


'Cih! si Bos nyebelin banget!' Indri mencebik dalam hati.


"Nih! Maaf kan saya ya Bos. Tolong jangan pecat dan telepon Ibu saya."


Karim mengambil handponenya dari tangan Indri.


"Itu tidak akan terjadi kalau kamu bisa menjaga sikap. Saya bisa memecat kamu kapan saja," kata Karim lalu berlalu.

__ADS_1


' Dasar! Mana berani dia mecat aku' Indri tetap percaya Karim tidak akan memecatnya. Kalau tidak takut Karim menelepon Ibunya, Indri pasti ingin membalas menjitak Karim dulu sebelum Bosnya itu pergi.


__ADS_2