
"Tu_Tuan. Kenapa Anda ...."
"Kita akan saling menghukum. Bukankah harus seperti ini?"
Daru semakin merapatkan kedua badan mereka dengan Inayah yang masih mendongak dan Daru yang tertunduk.
"Hukuman apa maksud Tuan? Saya juga belum meny_"
"Siapa yang meminta persetujuanmu."
Ucapan Inayah segera di potong oleh mulut yang berkuasa itu. Tiba-tiba Daru mengangkat tubuh Inayah membuat gadis itu memekik.
"Tuan! Apa yang anda lakukan?"
Inayah memberontak ingin turun namun tidak berhasil apalagi setelah mendengar ucapan Daru.
"Diam atau kau ingin di banting."
Ucapan dingin itu menghentikan ronta Inayah.
'Apa semua ini? Apa! Apa ...,' Inayah bahkan tidak bisa mengatakan kelanjutannya takut bila itu benar terjadi.
"Tunggu Tuan."
Tangan Inayah mencegah mulut Daru yang akan turun ke leher setelah mulut itu dari bibirnya.
"Kenapa?"
Kepala Daru mendongak ingin mendengar dan melihat bibir mungil itu berbicara.
"Kenapa kita_ maksudnya, bukankah Tuan mengatakan tidak akan memperlakukan saya seperti ini?" tanyanya ingin Daru menyingkir dari atas tubuhnya.
"Kau sedang di hukum atas kesalahanmu. Jadi harus melakukannya."
'Hukuman apa ini? Ini namanya bukan hukuman. Sepertinya anda harus kembali belajar ke sekolah Dasar dulu' batin Inayah menggerutu.
"Pakai hukuman yang lain saja Tuan. Saya tidak mau melakukannya jika hukumannya seperti ini."
Inayah berkata sambil berusaha menyingkirkan wajah Daru, apalagi bibir dan lidah yang mempermainkan dirinya.
"Tuan. Lepaskan."
Inayah belum bisa menghindari tubuh besar Daru yang menghimpitnya, kedua kakinya ditahan oleh kaki-kaki panjang dan besar Daru. Hanya tangannya yang leluasa dan terus mencegah tangan dan kepala Daru.
"Oke! Aku berikan hukuman yang akan kamu pilih dari dua pilihan yang harus kamu pilih salah satunya selain yang ini."
__ADS_1
Daru segera beranjak dari badan Inayah setelah berkata seperti itu, kini wajahnya datar dan dingin menatap tajam Inayah.
"Benarkah Tuan?"
Inayah yang senang langsung bangun dan memperbaiki penampilannya yang telah Daru acak sedemikian rupa.
"Berikan hukumannya Tuan. Saya akan menerima selain yang tadi," pinta Inayah dengan antusias.
'Dasar! Mana ada orang yang meminta hukuman sesenang ini. Tapi daripada yang tadi lebih baik mendapat hukuman lain' Inayah mengomentari dirinya yang seakan ingin di hukum. Ia menunjukkan rasa senangnya, tapi dalam hati ia juga merasa takut melihat raut muka Daru yang ingin membunuhnya.
"Kau yakin tidak akan meminta hukuman yang tadi?"
Raut wajah Daru terlihat meremehkan saat berkata drmikian. seakan mengatakan 'kau pasti menyesalinya'
'Tentu saja! Mana mau aku tidur denganmu jika hanya untuk bermain-main' sejujurnya Inayah bukan tidak ingin melakukannya bersama Daru yang berhak atas dirinya, hanya saja pernikahan mereka ini bukan pernikahan yang wajar dan Inayah takut sesudahnya Daru akan membuangnya atau mengusirnya setelah merenggut apa yang selama ini Inayah jaga, dan itu sudah pasti karena Daru akan kembali pada kekasihnya yang entah kapan.
"Yakin Tuan," ucap Inayah dengan sangat serius membalsa perkataan Daru.
"Itu pilihanmu. Buka laci itu."
Inayah menurunkan kakinya dan duduk di bibir ranjang serta menyamping lalu membuka laci yang Daru tunjuk.
'Pisau?'
Pikiran Inayah sudah ke mana-mana melihat benda tipis dan runcing itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Tangan Inayah sedikit gemetaran mengeluarkan benda tersebut.
"Tu_Tuan?" tanyanya dengan bibir bergetar.
"Hmmm. Itu pilihan pertama, kau bisa menusuk dirimu dengan itu."
Ucapan dingin dan datar Daru seketika membuat Inayah merinding. Daripada bunuh diri Inayah lebih memilih untuk di bunuh. Cepat-cepat Inayah mengembalikan benda menakutkan itu dalam tempatnya.
Haah ...!
Belum bunuh diri saja Inayah rasanya seperti sudah sesak napas.
Inayah masih ingin hidup, perjalanannya masih panjang dan harus bertemu dulu dengan keluarganya. Sebaiknya Inayah menanyakan pilihan selanjutnya yang juga akan menjadi pilihan Inayah selain bunuh diri.
Enak saja, Inayah tidak akan melakukan hal bodoh itu! Siapa dia sampai memberikan pilihan nyawa pada Inayah.
"Kenapa kau memasukkannya kembali?" tanya Daru dengan gaya elegantnya yang semakin membuatnya bertambah tampan.
'Tampan dan berkuasa seperti dirinya harusnya berhati baik, tapi tidak! Dia bahkan memberiku pilihan untuk bunuh diri? Anda bukan Tuhan, Tuan jahat! Saya akan memilih pilihan ke dua'
__ADS_1
Walau belum tahu apa yang akan menjadi pilihan kedua yang akan dipilihnya, Inayah harus memilihnya. Harus! Dengan perasaan bergejolak dan bimbang serta was-was akan apa yang akan Daru Katakan, Inayah mencoba menghadap Daru yang duduk di sampingnya.
"Saya mau memilih pilihan ke dua, Tuan."
Daru masih tetap dengan gayanya dan tersenyum jahat melihat wajah Inayah yang memiliki banyak ekspresi, titik-titik kecil keringat bahkan ikut serta menghiasi wajahnya.
"Kau yakin? Bagaimana kalau kita melanjutkan yang tertunda tadi. Ini adalah kesempatan terakhir mendapat tawaran dariku, selanjutnya kau harus memilih yang akan ku sebutkan jika tidak bunuh diri."
'Kalau bisa aku ingin membunuhmu Tuan. Kenapa semudah itu anda menyuruh orang untuk bunuh diri!' Inayah mengatur nafasnya yang ingin meledak.
"Saya yakin Tuan. Saya akan memilih pilihan terakhir," kata Inayah dengan keyakinan.
"Kau harus melunasi hutangmu sekarang juga serta secara tunai tanpa penundaan."
Inayah terkejut mendengarnya.
'Dasar orang ini!'
Dari mana Inayah mendapatkan uang sebanyak itu?
"Tuan, tapi itu terlalu banyak kalau harus se_"
"Kalau begitu biar kau brurusan dengan polisi saja, dan akan di tambah dengan kasus penipun dan pencemaran nama baik."
Setelahnya Daru langsung berdiri berniat untuk menelepon Ian untuk mengurus semuanya.
'Polisi?!' wajah Inayah pucat pasi mendengar kata polisi.
"Tuan!"
Tanpa sadar Inayah berdiri dan menarik tangan Daru serta memanggilnya dengan kencang, padahal niatnya ingin menghentikan Daru menghubungi polisi, dan hal itu mengagetkan keseimbangannya sendiri serta menarik Daru ikut serta dalam terjatuhnya tubuh mereka dengan Inayah yang berada di posisi bawah dan Daru di atas tubuh Inayah dengan kaki mereka yang masih menyentuh lantai.
"Bukankah sudah ku katakan? Pilihanmu sudah kau tentukan, dan aku juga tidak berselera dengan dirimu," kata Daru menyadarkan Inayah dari keterkejutannya.
'Itu lebih baik. Aku tidak mau bertemu polisi'
"Tuan."
Tangan Inayah bergetar menahan Daru yang ingin beranjak dari atasnya.
"Jangan panggil polisi," tambahnya.
"Kenapa tidak. Aku tidak mau melihatmu lagi, lepaskan tanganmu ini."
Sebenarnya bukan masalah besar untuk Daru terlepas dari tangan yang mencegahnya dan bergetar itu. Hanya saja, Daru ingin melihat apa yang akan Inayah lakukan. Setakut itukah wanita ini pada polisi? Cih! Menarik. Daru menyukai wanita penakut.
__ADS_1
"Tidak Tuan. Ayo kita lakukan yang tertunda tadi."
'Bodoh! Kenapa aku seperti menjilat ludahku sendiri. Tapi aku tidak mau mati dan juga takut dengan polisi, sedangkan untuk membayar uang sebanyak itu aku tidak mungkin bisa dan sanggup' Inayah tidak punya pilihan lain.