INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Putri


__ADS_3

"Minum Bi."


Inayah membantu Darsih meminum air dalam gelas tersebut walau Darsih tidak terbatuk lagi.


"Makasih Ina," ucap Darsih setelah meminum setengah air dari gelas itu.


"Iya Bi. Sejak kapan Bibi sakit? Kenapa tidak memberitahuku Bi?" tanya Inayah setelah meletakkan gelas. Darsih tersenyum mendapat pertanyaan dari Inayah yang nampak khawatir padanya. Ia lalu meraih sebelah tangan Inayah dan menepuknya pelan di atas pangkuannya.


"Bibi tidak sakit Ina. Ini hanya batuk biasa dan tidak lama pasti sembuh," kata Darsih sambil tersenyum.


Inayah merasa bersalah, harusnya ia menemani Darsih disaat wanita paruh baya ini mendapatkan kondisi yang kurang sehat, setidaknya pada malam hari Inayah harus menemani Darsih. Tapi Inayah malah harus terjebak dalam masalah yang melandanya. Inayah semakin merasa bersalah lagi kala mengingat ia menyembunyikan semua kebenaran ini dari Darsih.


Akan seperti apa nanti bila Darsih mengetahui Inayah melakukan ini karena harus mendapatkan dana untuk operasi Darsih tempo hari. Darsih akan semakin merasa tidak senak bila mengetahui semua itu.


"Aku pergi belikan obat batuk ya, Bi? Bibi harus minum obat."


Inayah hendak berdiri tapi Darsih tidak melepaskan tangannya membuat Inayah kembali duduk.


"Ada apa Bi?" tanya Inayah.


Darsih hanya menggeleng kepalanya pelan.


"Tidak perlu. Bibi sudah minum obat siang tadi, nanti malam Bibi minum lagi. Obatnya masih ada."


Inayah sedikit lega mendengarnya, setidaknya Darsih sudah minum obat. Tidak ada yang bisa Inayah lakukan.


"Bi ... sebaiknya Bibi ke Desa dulu untuk sementara waktu. Aku tidak bisa tenang kalau Bibi terus tinggal sendiri. Setidaknya di Desa ada Bi Minar dan kerabat lainnya. Bibi mau kan?" kata Inayah dengan hati-hati. Ia tidak bermaksud mengusir Darsih dari kehidupannya. Inayah hanya menginginkan yang terbaik untuk Darsih. Darsih harus ada yang menjaga, sementara Inayah tidak bisa bila terus menemaninya.


"Bi. Ina tidak bermaksud tidak ingin merawat Bibi. Tidak sama sekali. Tapi ..._" kata Inayah dengan cepat saat melihat perubahan pada wajah Darsih. Ia menghentikan ucapannya saat Darsih cepat memotong.


"Bibi paham Ina. Ini untuk kebaikan kita berdua kan?"


Inayah mengangguk lemah.


"Tapi, kalau Bibi pulang ke Desa ... Ina tidak akan melupakan Bibi kan?" tanya Darsih dengan suara bergetar dan air mata yang melewati kelopak mata serta hati yang cemas.


Darsih takut jika ia kembali ke Desa Inayah akan melupakannya. Sebab, ia tahu Kota ini adalah asal Inayah sebelum Dahlia membawanya ke Desa. Sedangkan Dahlia kini sudah tiada dan ia bukan siapa-siapa untuk Inayah. Inayah juga pasti ingin bertemu dengan keluarganya yang selama ini Inayah cari.


"Tidak Bi. Jangan berkata seperti itu."

__ADS_1


Inayah ikut menangis mendengar ucapan Darsih. Itu tidak mungkin. Inayah tidak mungkin akan melupakannya hanya karena dia akan pulang ke Desa. Segera dipeluknya tubuh bergetar Darsih.


"Bibi adalah orang tua Ina satu-satunya, Bi. Aku tidak mungkin melupakan orangtuaku sendiri."


Air mata Darsih semakin deras mengalir. Ia mendekap Inayah lebih kencang. Darsih tidak pernah mengharapkan semua ini karena memang dia tidak memiliki anak. Darsih ikhlas dengan semua itu. Tapi, mendengar perkataan Inayah membuat harapan itu tumbuh di hatinya. Harapan untuk kebahagiaan putrinya, Inayah. Itulah harapannya.


"Baiklah. Besok pagi Bibi akan ke Desa," kata Darsih setelah pelukan mereka terlepas.


"Iya Bi. Aku usahakan besok akan datang pagi-pagi dan mengantar Bibi."


Darsih menggeleng mendengar ucapan Inayah.


"Tidak perlu repot. Bibi bisa pergi sendiri naik angkutan. kamu kerjakan pekerjaanmu saja," ujar Darsih.


"Pasti kamu harus bekerja siang dan malam karena biaya operasi. Maaf Ina, karena Bibi ka_" lanjutnya tertahan.


"Ssstt ... tidak Bi, jangan berpikir seperti itu. Ina bahagia menjalaninya," potong Inayah cepat. Inayah lalu membuka tas kecilnya dan mengambil amplop coklat dari dalamnya dan ia serahkan pada Darsih.


"Apa ini, Ina?" tanyanya belum memgambil apa yang Inayah sondorkan padanya.


"Ambillah Bi. Ina masih kasih ini dulu, kalau udah gajian nanti Ina akan kirimin sebagian ke Bibi."


"Tapi Ina, Bibi belum membutuhkannya. Sebaiknya kamu simpan untuk keperluanmu sendiri."


Darsih tidak mau mengambilnya. Ia akan menjadi serakah jika terus merepotkan Inayah.


"Bibi tidak mau mengambilnya? Apa aku tidak pantas menjadi putri Bibi? Padahal Bibi sendiri yang mengatakan kalau aku sudah Bibi anggap seperti putri sendiri," ucap Inayah dengan suara pelan dan beraut sedih. Kenapa Darsih tidak mau mengambil pembarian darinya, padahal selama ini ia yang selalu membantu Inayah. Inayah hanya ingin memberikan sedikit dari apa yang telah Darsih berikan padanya.


"Bukan seperti itu Ina ...."


Tangan Darsih bergetar dan menggantung di udara mendengar ucapan Inayah.


"Jika bukan seperti itu, Bibi jangan menolaknya."


"Kenapa berhenti Mang?" tanya Inayah karena ojek yang dinaikinya malah berhenti.


Tukang ojek mengatakan jika ia hanya bisa mengatar sampai di situ saja karena kalau masuk lebih jauh ia bisa dituntut.


Wajah Inayah dipenuhi tanda tanya mendengar penuturan si ojek. Ia lalu turun dari motor untuk berbicara lebih jelas.

__ADS_1


"Tapi saya belum sampai tujuan."


Si ojek tetap tidak mau mengantar Inayah sampai kediaman Daru dan terpaksa Inayah harus mengalah dan membayar ongkos ojeknya. Padahal selama tiga hari kemarin tidak mengapa ojek mengantarnya. Kalau tahu begini ia naik di ojek lain saja!


"Ini kenapa tidak ada yang lewat sih!" gumamnya sudah menunggu 10 menit tapi belum ada kendaraan yang lewat.


"Kalau aku jalan kaki bisa telat sampai di rumah. Tapi belum ada yang lewat. Bagaimana ini?" khawatirnya dan langsung berjalan kaki di jalanan yang sunyi itu. Walau pernapasannya lancar dan sejuk karena pepohonan yang hijau, tapi saat ia hanya berjalan seorang diri di jalan sepi itu sedikit menggetarkan langkah Inayah.


'Jangan takut, kamu hanya perlu mempercepat langkah' Inayah menyemangati diri sendiri sambil terus melihat pergelangan tangannya. 04:55! Inayah sepertinya akan sampai lewat dari jam lima. Ia tidak mungkin bisa sampai dengan cepat dalam lima menit jika sekilo lagi. Berlaripun pasti waktu tidak mungkin bisa berhitung mundur.


'Aku harus cepat. Mobil Tuan belum lewat' Inayah semakin mempercepat langkahnya dan sesekali menengok ke belakang kalau-kalau mobil Daru muncul.


"Hah ...! Sampai," leganya setelah berada di depan gerbang. Ucup yang melihat Inayah segera membukakan gerbang untuk Nyonyanya. Seperti kemarin, Inayah langsung berlari memasuki rumah. Inayah rasa kakinya sudah kebas karena setelah berjalan jauh harus berlari lagi.


"Tuan Ian!"


'Apa Tuannya juga sudah pulang? Tapi tadi mobilnya tidak lewat' paniknya saat melihat Ian setelah berada di lantai atas.


"Iya, Nyonya Inayah."


"A_apa ... Tuan Daru juga sudah pulang?" tanyanya hati-hati.


'Ya Allah. Tolonglah hambamu ini. Semoga Tuan Daru masih di kantor' pintanya pada Tuhan tapi mengingat waktu sekarang. Sudah pasti Daru ada di dalam. Tetapi Inayah tidak melihat mobilnya lewat dan tidak ada satupun mobil yang lewat.


"Tuan sudah menunggu."


Hanya itu jawaban Ian. Apa Inayah akan mendapat hukuman lagi? Inayah tidak mau lagi. Apalagi kalau lebih berat.


"Tuan Ian."


Inayah mencegah tangan Ian saat pria itu akan pergi, membuat langkah Ian tertahan dan melihat tangan Inayah yang menahannya.


"Maaf!"


Inayah langsung melepaskan tangan Ian saat menyadari apa yang telah dilakukannya. Sebelum Ian pergi Inayah buru-buru bertanya.


"Apa Tuan Daru marah?"


"Orang di rumah ini tidak ada yang berani melanggar perintahnya. Saya ingatkan Nyonya Inayah, hari ini harus terakhir kali anda pulang melebihi dari waktunya."

__ADS_1


Inayah menelan air liurnya dengan susah payah mendengar ucapan dingin Ian yang langsung pergi setelah berkata.


__ADS_2