
"Sekarang kau hanya perlu patuh dan taat padaku. Aku akan mengurus si tua itu," kata Daru sembari mulai melepaskan ikatan demi ikatan pada badan Inayah.
'Terserah anda! Aku tidak mau tau. Tapi apa yang akan dia lakukan?' Inayah tidak melihat Daru saat pria itu membuka ikatan demi ikatan yang telah dipasangnya dan memberikan siksaat pada Inayah.
'Cih! Ternyata dia lemah dan dengan beraninya ia menggunakan badan lemahnya ini untuk mempermainkanku' Daru menatap sejenak kulit yang terikat itu dan merahnya hampir sama dengan darah kala kain ikatannya di lepas.
"Aku mau mandi," kata Daru lalu Inayah lebih melihat ke sisi lain lagi saat Daru mulai berdiri, Inayah belum berani berdiri sampai Daru akan menjauh.
"Kau tuli! Kubilang mau mandi. Cepat mandikan aku." Inayah melotot dan menoleh pada Daru tanpa sadar tetapi kembali membalikkan kepalanya kala tersadar melihat yang tidak ingin ia lihat.
'Dasar! Dia pikir aku mau memandikan orang berumur kaya dia apa? Kecuali anda seorang bayi Tuan, barulah saya mau'
"Tangan saya serta kaki saya masih lemah Tuan."
Inayah mencari alasan yang mungkin dan berarti pada Daru. Jika ia sembarangan beralasan bisa berakibat fatal pada dirinya. Walau saat panas tadi ia kesakitan tatapi setelah air hangat terus mengalirinya rasa sakitnya berangsur menghang bersama aliran air.
"Jadi? Kau mau ku mandikan?"
Daru tersenyum miring melihat Inayah yang terus menghindar untuk melihatnya. Inayah menggeleng kencang akan ucapan Daru.
'Yang benar saja. Aku tidak mau di mandikan!'
"Tidak perlu Tuan," katanya mendongak dengan cepat agar cuma bisa melihat wajah Daru yang tidak bisa disembunyikan ketampanannya dengan rambutnya yang sebahu telah basah kuyup dan berusaha menjaga kepalanya agar tidak melihat ke bawah.
"Begitukah?" Daru mendekatkan dirinya dan kembali berjongkok membuat Inayah harus mengangkat kepalanya lebih ke atas lagi dan mengikuti wajah Daru saat pria tanpa kain itu berjongkok di depannya.
"Mau memandikan atau dimandikan? Tidak ada pilihan lain selain keduanya. Pilihlah dengan cepat sebelum kau hanya bisa menerima keduanya."
"Apa! Saya tidak mau salah satunya."
Entah dapat keberanian dari mana sampai Inayah mengeluarkan kata penolakan tepat di depan wajah Daru.
"Waktumu sepuluh detik untuk memilih."
Daru tidak menghiraukan penolakan Inayah, ia menikmati wajah cemas Inayah mendengar ucapannya.
"10,9,8,7."
Daru menghitung mundur kala Inayah masih tetap terdiam belum ingin memilih.
'Bagaimana ini? Bagumana kalu dia sungguh-sungguh jika aku tidak memilih? Akhh!' batinnya menjerit.
"6,5,4."
Daru tidak menghentikan hitungannya membuat Inayah semakin panik jika Daru benar-benar akan memandikannya.
'Lebih baik aku mandikan saja, aku sudah terlanjur melihatnya dari pada memperlihatkan tubuhku padanya. Tapi kalau memyentuhnya ...' Inayah tanpa sadar menatap seluruh badan Daru dan menunduk lalu kembali menatap wajah pria itu dan berakhir di bibir yang tidak berhenti menghitung mundur.
"3, du_"
Mulut Daru langsung ditutup oleh telapak tangan Inayah dengan cepat.
__ADS_1
"Saya mau memandikan Tuan," ujar Inayah cepat sebelum kehabisan waktu dan membuatnya rugi. Daru membuka dan menggenggam tangan kecil itu dari mulutnya.
"Pilihan yang tepat."
Daru lamu berdiri dan kembali ke tempatnya semula.
"Cepat ke sini dan sabuni aku."
Daru sudah berada dalam perendamannya.
"BainTuan." Inayah memaksa untuk berdiri dan mengangkat beban tubuhnya, setelah berusaha berdiri dalam pijakanya yang seakan melemah, Inayah merasakan badanya seringan kapas saat melangkah dan mengayunkan kakinya, jika ia tidak bisa menjaga keseimbangan maka ia bisa jatuh kapan saja.
"Cepat!" Dari tempatnya Inayah melihat Daru memelototinya sambil bersandar terlentang dalam air dan memperlihatkan setengah badannya.
'Seenaknya mempercepat! Anda pikir saya berjalan seperti angin ini karena siapa? Dasar pemaksa!' umpat Inayah.
"Jangan cuma mengumpatiku. Cepat kau ke sini sebelum ku seret."
Kata-kata Daru mengingatkan Inayah saat sebelum Daru mengikat kaki dan tangannya.
'Anda tidak akan bisa menyiksa saya lagi!'
Inayah berusaha mempercepat langkahnya agar cepat dan tidak mendapatkan siksaat lagi dari pria yang telah menjadi suaminya itu.
"Jangan cuma di tangan saja. Kau pikir badanku yang perlu di sabuni hanya tangan?!"
Inayah hanya menghela nafasnya yang tidak berhenti sesak dia rasakan.
"Maaf Tuan."
"Lebih lembut! Tubuhku ini berharga tidak seperti dirimu yang murahan."
Rasanya Inayah ingin menjitak kepala itu dari belakang kalau saja waktu berhenti dan hanya dirinya yang bisa bergerak agar memberikan pelajaran pada Tuan songong itu.
"Bain Tuan. Saya akan lembut," patuh Inayah tidak ingin membantah dan mulai melembutkan gosokkannya.
"Apa kau ingin berlama-lama dengan menyentuh tubuhku sampai gerakanmu selambat itu? Aku ini tidak memiliki banyak waktu sampai harus bermain busa denganmu!"
Inayah menghentikan gerakan tangannya.
'Orang ini waras tidak ya? Atau dia pikun sampai harus melulakan kata-katanya yang baru ia ucapkan sendiri?' kesalnya namun hanya dalam batin saja tanpa berani mengutarakannya.
"Punggungku menggelitik setelah tanganmu berhenti. Kau mengumpatiku?" Daru memutar kepalanya kebelakang saat dalam kalimat tanya tersebut. Inayah salah tingkah dan melihat hal lain lalu melihat wajah Daru dari samping dan menjawab,
"Saya tidak berani Tuan."
"Kau yakin tidak berani?"
Daru bertanya sambil membalikkan badanya mengikuti kepala sampai Inayah harus cepat-cepat menghindar dari pemandangan di depannya sebelum setengah tubuh Daru benar-benar berada dalam air.
."Be_betul Tuan, saya tidak berani."
__ADS_1
Inayah benghindari tatspan Daru yang saat ini ke dua tangan pria itu tengah memegangi bibir bak mandi dan bertanya pada Inayah yang berada di luar yang tengah memegangi spon yang benuh dengan busa.
"Kau ingin aku percaya?" tanyanya
"Maksudnya Tuan?" bingung Inayah tidak mengerti.
"Kau mengumpatiku tapi mengatakan tidak melakukannya. Kau ingin aku mempercayai itu? Sepertinya itu hal yang tidak bisa di percaya."
Daru menatap tajam Inayah membuat gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali guna menghilangkan kegugupan akan tatapan mengintimidasi dari mata tajam di depannya.
"Emmm. Itu ... saya_"
"Cepat selesaikan tugasmu."
"Eh! Baik Tuan. Tuan berbaliklah."
Inayah akan melanjutkan menyabuni Daru.
"Kau hanya tertarik dengan punggungku saja. Bagaimana dengan dadaku, kau akan melewatkannya?"
Inayah menatap dada kekar Daru lalu turun ke perutnya yang bergaris-garis itu.
'Badan anda memang bagus Tuan, tetapi sangat terbalik dengan sifat anda ini'
"Saya bu_"
"Cepat gosok! Kau lambat sekali."
Daru mencondongkan dadanya sampai menghentikan ucapan gadis di depannya yang memundurkan badannya ke belakang tapi tangannya yang memegang spon di tarik oleh tangan Daru dan mengarahkannya untuk melanjutkan kegiatan pada kulit kencang itu.
"Ba_baik."
Inayah melanjutkan acara menggosoknya yang berangsur dengan banyaknya ia menahan nafas kala harus melakukannya pada bagian lain.
'Tidak apa-apa Inayah. Tidak apa, kamu tidak berdosa. Dia suamimu' batinnya terus memperingatkan.
Daru keluar dari kamar mandi meninggalkn Inayah yang masih tertinggal di dalam kamar kecil itu. Daru menuju ranjang dan duduk di bibirnya dengan gaya elegant sambil menatap pintu kamar mandi dengan sorot matanya yang begitu hitam.
Inayah keluar dan langsung menggunakan baju yang dilihnya tadi dalam kamar mandi sembari sebelah tengannya menggosok halus rambutnya yang basah dengan handuk lembut di tangannya.
Inayah terkejut saat melihat ke arah ranjang dan Daru menatapnya tajam dari kejauhan, Inayah segera menghindari tatapan yang ingin menelannya itu dengan berpura-pura melihat hal lain, saat matanya melihat jam besar yang tergantung, seketika matanya ingin keluar sangking melototnya.
'Jam delapan! Aku terlambat shalat subuh. Maafkan hamba ya Allah ...' lirihnya tanpa suara lalu ia menatap Daru dengan tatapan tidak bersahabatnya.
"Kau berani membalas tatapanku!" Marah pria itu tidak terima.
'Dasar! Bila perlu aku ingin mencolek dan mencopot kedua bola matamu itu!'
"Maaf Tuan."
Jawaban Inayah begitu berlawanan dengan isi dalam hatinya yang tidak berhenti mengumpati Daru.
__ADS_1
"Cepat kemari."
Inayh melangkah ragu mendekati Daru yang menyuruhnya untuk ke sana.