INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Membahas masalah pernikahan


__ADS_3

"Tolong lepaskan tangan saya Nyonya."


"Eh!" Inayah lamgsung melepaskan tangan Ian dengan cepat dan sedikit merasa tidak enak pada Ian karena telah memegang tangan pria itu, yang mungkin membuat Ian tidak nyaman.


"Maaf Tuan."


"Ada apa Nyonya?" tanya Ian menahan ketidak sukaannya pada Inayah, ia tidak suka jika seorang wanita memegangnya.


"Saya cuma mau bertanya, soalnya Tuan Harun memgatakan bukan wewenangnya untuk menjawab pertanyaan saya," jelas Inayah.


"Silahkan bertanya Nyonya. Saya akan menjawab jika saya mampu menjawabnya."


Inayah senang mendengarnya, lebih baik mendengar dari Ian dari pada Daru, walau jika ingin Inayah akan memilih tidak berurusan dengan mereka berdua.


'Ian pasti mengetahuinya kan? Secara dia dari kemarin selalu di samping Tuannya itu' batinnya merasa Ian pasti bisa memberitahunya.


"Saya ingin menanyakan tentang kontrak ini Tuan Ian," katanya sambil mengangkat sebelah tangannya yang tengah memegang map.


"Berapa yang harus diganti rugi jika saya tidak menandatanganinya?" tanyanya melanjutkan kalimatnya.


'Sudah kuduga, dia pasti mempertanyakan tentang hal itu. Sayang sekali anda berurusan dengan orang yang salah Nyonya, kau bahkan tidak bisa mengganti semua kerugian Tuan Daru jika hanya mengandalkan pekerjaanmu sekarang walau seumur hidup!'


"Silahkan berbicara dengan Tuan sendiri mengenai hal itu."


"Memangnya Tuan Ian tidak tau?"


'Tidak mungkin dia tidak mengetahuinya. Mereka sungguh keterlaluan!' kesalnya.


"Saya permisi Nyonya, saya harus beristirahat di hari libur ini."


Ian tidak menjawab pertanyaan Inayah dan malah pergi berlalu.


'Eh! Kenapa dia malah mau pergi' Ian sudah hampir menyentuh lantai bawah.


"Tuan Ia_"


"Ada perlu apa kau dengan Ian."


Inayah langsung menghentikan ucapannya mendengar suara dari belakang.


'Aduh! Kenapa dia malah muncul sih. Ian pasti melihatnya makanya dia tidak menjawabku' kesalnya melihat Daru yang barusan berujar.


"Tuan. Saya cuma bertanya pada Tuan Ian."


Tiba-tiba tangan Inayah ditarik, memaksanya menaiki anak tangga yang sempat ia turuni saat memgejar Ian tadi, Inayah mengikuti langkah Daru dengan tergesa-gesa karena langkah Daru begitu lebar yang tidak sebanding dengan langkahnya yang tidak bisa mengimbangi jika melangkah biasa.


"Tuan. Kenapa menarik tangan saya?"


Inayah ingin melepaskan tangannya tetapi lingkaran di pergelangan tangannya sangat kuat menariknya.


Daru membawa Inayah memasuki kamar dan setelah sampai di dalam Daru melepaskan dan menghempaskan tangan Inayah dengan keras membuat gadis itu meringis bersama dengan tubuhnya yang ikut terguncang karena hempasan itu, tangan Inayah bahkan sampai memerah yang menandakan seberapa kuat cengkraman Daru pada pergelangan tangannnya.

__ADS_1


'Kenapa lagi sih! Dari pagi tadi dia terus menyiksaku sampai aku terlambat shalat subuh dan sekarang kenapa dia kasar lagi. Aku salah apa?'


Sesungguhnya Inayah takut kejadian tadi pagi kembali terjadi.


"Apa yang kau bicarakan dengan Ian?" tanya Daru menatap tajam gadis didepannya, ia tidak suka gadis itu sok akrab dengan mereka.


'Dia pikir ingin mencoba untuk berusaha mendapatkan simpati mereka setelah menipuku. Jangan harap!'


Inayah menatap Daru dengan takut-takut sebelum menjawab, takut salah bicara dan membuat Daru semakin kasar lagi padanya.


"Saya cuma menanyakan uang yang harus saya ganti jika saya tidak mau menandatangani kontrak ini," kata Inayah.


Daru melihat sekilas benda di tangan Inayah.


"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Daru lalu mendudukkan dirinya di sofa, bertanya tanpa melihat lawan bicara. Inayah mendekati Daru dengan ragu.


"Tuan. Boleh saya duduk?" ucapnya dengan ragu, jika ia tidak bertanya dan menunggu Daru mempersilahkannya, pasti kaki Inayah akan kembali kebas seperti sebelumnya.


'Jawab dong Tuan'


Daru hanya dian tidak bersuara melarang atau mempersilahkan Inayah untuk duduk.


'Ini boleh tidak ya? Aku duduk saja, kalau dilarang kan tinggal kembali berdiri'


Dengan ragu Inayah duduk di ujung sofa panjang dan besar itu menciptakan jarak yang sangat jauh dengan Daru.


'Dia tidak mencegahku, berarti tidak apa-apa kan?' tanyanya lada diri sendiri melihat Daru masih setia dengan duduknya.


'Siapa tau kalau aku cerita dia bisa mengerti mengapa aku menggantikan Dinda dan dia mau mengakhiri pernikahan ini, jadi aku tidak perlu tanda tangan' batinnya mencoba akan bernegosiasi dengan ulah yang telah dia lakukan.


"Sebenarnya saya mau menikah dengan Tuan karena terpaksa, Bibi saya memerlukan biaya untuk operasi dan dananya tidak sedikit. Jadi ... saat Nyonya Karmila memberikan saya syarat untuk menikah dengan Tuan menggantikan Nona Dinda, saya harus menyetujuinya."


Daru masih tetap tidak bersuata sama sekali bahkan tidak melihat gadis itu berbicara, ia hanya duduk dengan tenang menikmati hari liburnya setelah lelah bekerja di kantor.


"Jadi ... saya tidak mau menandatangani kontraknya. Bisakah Tuan memberikan solusi agar saya tidak perlu tanda tangan namun tidak membayar ganti ruginya sekarang? Kita anggap saja pernikhan ini tidak pernah terjadi. Tuan bisa langsung menceraikan saya. Maaf karena saya telah menggantikan Nona Dinda. Dia mengatakan sudah menyukai orang lain, makanya tidak mau menikah dengan Tuan," kata Inayah panjang lebar menceritakan tentang situasinya sekarang.


'Dia dengar nggak sih? Aku kaya bicara sendiri'


Daru tidak menanggapi ucapan Inayah.


"Tuan," panggilnya dan memberanikan diri melihat wajah Daru dari semula kepalanya yang menunduk.


'Eh! Dia tidur?' Inayah melihat Daru memejamkan matanya dengan kepala yang bertumpu pada kedua tangannya yang ia letakkan di belakang kepala dan bersandar pada sofa.


"Tuan. Tuan mendengar saya?"


Tidak ada jawaban sama sekali.


'Kenapa dia malah tidur sih. Tapi, masa secepat itu. Padahal ini belum siang kalau dia mau tidur siang kan?' batinnya mulai meragukan Daru hanya berpura-pura dalam tidurnya.


'Aku cek saja'

__ADS_1


Inayah perlahan berdiri tanpa bersuara, sebelumnya ia meletakkan lebih dulu map di tangannya di samping tempatnya duduk.


"Ini gimana ya?" gumamnya bingung harus apa setelah berada di dekat Daru tepat di depan pria itu dan masih berjarak setengah meter. Inayah menunduk sedikit lalu melambaikan tangan di depan Daru.


'Tidak bangun, matanya juga tidak bergerak sedikitpun'


"Tuan." panggil Inayah dengan suara sedikit bebisik.


" Tidak bangun juga," Inayah kembali bergumam.


Ia kembali melambaikan tangannya serta kembali memanggil Daru.


"Tuan," panggilnya, kini lebih terdengar keras dari sebelumnya yang berbisik. Saat akan menghentikan lambayannya tiba-tiba tangan Inayah ditahan dan badannya tertarik lalu tubuhnya terjatuh di atas tubuh Daru. Inayah terkejut lalu mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Daru, karena ia terjatuh dan kepalanya bertumpu pada dada Daru yang bidang dan kokoh.


'Apa yang sudah aku lakukan ...' sesalnya karena saat mendongak Daru sudah memberinya tatapan tajam yang mungkin jika menelan mata tatapannya itu akan menariknya ke dalam.


"Tu_Tuan."


Inayah tentu takut dengan situasi sekarang, apalagi dia yang memang mengganggu orang yang tengah terpejam.


'Tapikan tadi aku sedang berbicara, harusnya dia dengarkan dulu kan? Jadi disini bukan aku yang bersalah' pikirnya setelah tadi menyesali perbuatannya.


"Kenapa kau suka sekali menganggu, apa pantatmu itu bisulan sampai tidak bisa duduk tenang?"


'Apa katanya? Pantatku bisulan? Enak sekali dia bicara! Ini karena anda sendiri Tuan, harusnya jika ada yang berbicara itu dengarkan dulu, jangan malah pura-pura tidur!'


"Sekarang apa lagi yang tercetak dalam otak bodohmu itu? jangan berani untuk mengataiku!"


'Sok tau!'


"Lepaskan Tuan."


Inayah ingin bangun tapi badannya sudah tertahan dan tangannya di genggam erat oleh Daru.


"Kenapa kau ingin dilepas? Bukankah tadi kau ingin sekali ini terjadi sampai berani mengganggu ku?"


Daru tidak melepaskan Inayah sama sekali.


'Apa yang harus ku lakukan agar terlepas?' Inayah memutar otak yang kata Daru bodoh itu.


"Saya tidak bermaksud seperti yang Tuan katakan. Saya cuma mau memastikan Tuan mendengarkan bicara saya atau tidak."


"Begitukah?" nada bicara Daru seakan tidak percaya.


"Benar! Tuan harus dengar saya dulu, kita harus membahas masalah pernikahan yang telah terjadi ini. Tolong lepaskan saya agar kita bisa bicara dengan tenang," kata Inayah dengan tergesa-gesa.


"Baiklah."


Akhirnya Daru melepaskan tahanannya dan Inayah beranjak dari sana.


'Syukurlah' batin Inayah setelah kembali duduk di tempatnya, sekarang tinggal kembali berbicara dengan Daru.

__ADS_1


__ADS_2