
"Mengobati? Tapi tanganku tidak terluka, Suamiku."
Oh, ayolah. Inayah geli sendiri dengan kalimatnya dan apa maksud Daru dengan mengobati?
"Tentu tidak terluka, karena aku sudah mengobatinya."
Daru mengecup punggung tangan Inayah bergantian.
"Kamu tenang saja. Aku akan memberikan pelajaran pada Bos sialanmu itu!" lanjut Daru tampak marah saat mengatakannya.
'Eh! Ini kenapa lagi?' Inayah kaget mendengarnya, kenapa Karim sampai di bawa-bawa dalam hal mengobati yang tidak perlu untuk di obati sama sekali? Apalagi kedua tangannya ini baik-baik saja.
"Tunggu-tunggu. Maksudnya apa Suamiku?"
Inayah memaksa untuk bangun dan akhirnya berhasil juga walau Daru tidak mengizinkannya bergerak lebih jauh lagi yang tentunya badan Inayah di tahan oleh Daru untuk tidak jauh-jauh.
'Orang ini kenapa sih? Padahal aku tidak mau terlalu dekat dengannya'
Inayah tersenyum manis saat bergerak untuk menjaga jarak malah di tarik lagi. Pokoknya ia harus berhati-hati dengan pesona yang Daru miliki dan tentunya Inayah tidak bisa berbohong akan hal itu.
Inayah tidak ingin melukai hati dan perasaan jika hatinya terbuka untuk Daru yang memang berhak untuknya sebagai sepasang suami istri. Akan tetapi, hubungan ini tidak seperti itu. Dimana Daru sudah memiliki seorang kekasih.
"Jangan pernah berikan senyumanmu pada orang lain."
Mendengar ucapan Daru Inayah mengembalikan bibirnya yang membentuk senyuman.
'Ini bukan senyuman bahagia tau! Tapi palsu. Palsu, Tuan suami yang aneh!' gerutunya dalam hati untuk Daru.
"Kenapa kamu tidak tersenyum lagi? Cepat senyum seperti tadi!" tuntut Daru penuh perintah.
'Ini orang maunya apa sih?' Inayah geram dengan semua perkataan Daru. Tadi di larang, sekarang malah di suruh lagi. Maunya apa sih?!
"Bukanya tadi sa_ eh! aku di larang tersenyum?"
Sebenarnya Inayah bingung dengan pembicaraan mereka ini. Tadi dia ingin mempertanyakan mengapa Daru mengatakan akan memberikan pelajaran pada Karim yang malah beralih membahas sebuah senyuman.
"Awww!" Inayah kaget saat Daru mencapit bibirnya.
"Bicara yang benar. Lain kali aku akan membuatmu sulit bernafas jika salah menyebut kata lagi."
Inayah mengusap bibirnya dan menyumpahi Daru dalam hati walau setelahnya beristigfar juga.
"Tapi aku langsung memperbaikinya, Suamiku. Aku juga belum sempat menyebutnya tadi."
Inayah membela diri yang terus di salahkan oleh Daru.
"Sini cucu kesayanganku. Peluk Nenekmu ini. Kami sudah lama menunggu kalian."
"Nenek ...!"
__ADS_1
Kainah meninggalkan kopernya dan berjalan sedikit berlari untuk memeluk Erni yang tengah duduk di kursi roda.
"Kenapa kalian harus datang semalam ini?" tanya Erni setelah pelukan mereka terlepas pada Kainah.
"Maaf ya Nek. Nenek harusnya tidur saja, pasti ini sudah lewatkan, jam tidurnya Nenek?" kata Kainah pada Erni yang merupakan Neneknya itu penuh perhatian.
"Apa kabar Bu? Bagaimana kesehatan Ibu, sehat? Maaf ya, tadi kami harus menyelesaikan urusan di sana dulu, makanya datang selarut ini."
Ikram menyalami Ibunya sembari mengajukan beberapa pertanyaan serta menjelaskan pertanyaan Erni tadi.
"Ibu baik-baik saja."
Erni gantian berpelukan dengan Ikram.
"Terimakasih sudah sehat Bu ...," ucap Ikram disela pelukan mereka. Erni hanya tersenyum hangat mendengarnya.
"Kak."
Ikram berpelukan singkat dengan Karma yang berdiri di belakang kursi Erni.
"Mana adik Ipar dan anak-anak?" tanya Ikram.
"Mereka sudah tidur kak," jawab Karman sambil tersenyum.
"Sebaiknya kita juga istirahat. Biar aku saja yang mengantar Ibu, kamu pergilah tidur lebih dulu."
Ikram mengambil alih kursi roda Erni.
"Sudah. Tidak apa-apa, kalian tidur duluan. Kainah, pergi istirahat sayang, kamu pasti lelah selama perjalanan."
"Iya Yah."
Akhirnya Kainah dan Karman pergi ke kamar mereka sedangkan Ikram ingin mengantar Erni lebih dulu sebelum ikut mengistrahatkan diri.
"Nak."
Erni meraih tangan Ikram setelah putranya menyelimutinya.
"Maafkan Ibu."
Erni selalu menangis jika mengingat segala kelakuannya yang membuat putranya sendiri menderita.
"Tidak usah di ingat lagi, Bu. Semua sudah menjadi jalannya untuk seperti ini."
Ikram tersenyum menenagkan sang Ibu yang selalu merasa bersalah, walau dalam lubuk hatinya yang terdalam Ikram tidak bisa memendung kerinduannya.
"Sudah ya, Ibu jangan memikirkan yang macam-macam."
Ikram mengusap air mata yang mengalir di bawah mata Erni.
__ADS_1
"Istirahatlah Bu," lanjunya, lalu mematikan lampu kamar Erni dan menghidupkan lampu temaram, setelahnya Ikram meninggalkan kamar Erni untuk pergi juga ke kamarnya.
"Maafkan Ibumu ini Ikram ...," lirih Erni dengan air mata yang kembali mengalir.
Perbincangan manis dan pahit di kamar sepasang suami istri belum berakhir bersama gelap di luar rumah, dengan pesona serta perintah dan tuntutan sang suami pada istrinya yang hanya pasrah menerima dengan enggan dan malas-malasan.
Jangan lupakan kelakuan si Suami yang mencampur aduk perasaan Istrinya.
"Bos tidak salah apa-apa. Jangan melakukan apapun pahmmpppp ...!"
Inayah tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena Daru segera menutup mulut itu.
"Jangan pernah membela laki-laki lain di hadapanku!" kata Daru penuh penekanan memperingati Inayah yang masih memburu mengatur nafasnya setelah Daru melepaskan bibir Inayah. Daru mengusap bibir Inayah yang belepotan karena ulahnya dengan jari jempol.
'Mau berapa, 'jangan' yang harus aku lakukan sih! Lagian Bos Karim memang tidak melakukan apa-apa' Inayah tidak tahu kenapa dengan suami anehnya ini.
"Tapi Bos Karim memang tidak me_"
"Sstttt ..., ini."
Daru meraih tangan Inayah lalu kembali mengecupnya.
'Mau berapa banyak sih, dia mau mencium tanganku terus!'
Inayah ingin menarik tangannya yang rasanya sudah dipenuhi bau bibir Daru.
Walau Inayah tidak pernah menemukan bau harum yang berasal dari Daru pada orang lain, tapi hal itulah yang membuat Inayah takut. Takut kala bayangan Daru terus menghantuinya di saat mereka berpisah nanti.
"Dia melakukan kesalahan pada tangan ini. Jangan berpikir aku tidak tahu bahwa kamu bermain gitar."
Inayah kaget mendengarnya, apa masalahnya dengan itu?
'Tunggu! Kalau dia tau, berarti ...?' Inayah ingin menanyakan hal lain pada Daru.
"Jari-jarimu pasti kesakitan memegang tali gitar. Aku akan memberinya pelajaran karena berani memintamu memainkannya! Bila perlu kamu tidak perlu ke sana lagi."
'Eh! Enak saja' apa yang Daru katakan? tidak mungkin Inayah berhenti bekerja.
"Tidak, tidak. Jangan lakukan itu." kata Inayah cepat.
"Aku akan menolak jika di minta bernyanyi lagi, tolong jangan melarangku bekerja dan jangan melakukan apapun pada Bos Karim," lanjutnya.
Ujung jari-jarinya memang sedikit sakit saat menekan senar-senar gitar, karena sudah hampir dua bulan ia tidak memainkn alat musik itu.
Tapi Inayah juga tidak mau merugikan orang lain hanya karena hal kecil ini, apalagi ia sampai harus berhenti bekerja.
Inayah harus mengumpulkan banyak uang sebanyak-banyaknya untuk terbebas dari Daru.
"Kamu membelanya?!"
__ADS_1
Daru memdekatkan kepalanya di hadapan Inayah dan menatap tajam wanita itu.