INAYAH (Pengganti Pengantin)

INAYAH (Pengganti Pengantin)
Sah


__ADS_3

"Tunggu, Inayah," cegah Dinda saat Karmila dan Inayah akan keluar dan menghentikan langkah kedua wanita itu.


"Iya Mbak?"


Dinda turun dari kasur dan berjalan mendekati mereka yang hampir menggapai pintu.


"Aku pengen jujur dan memberitahumu mengenai situasi pernikahan dan jalan terjadinya pernikahan ini. Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak mau menikah kan?"


' Ya, aku sangat penasaran dan jika bisa tolong untuk menghentikan pernikahan ini' Inayah menjerit dalam hati dan memilih diam.


"Aku sudah mempunyai pria lain yang harus menjadi suamiku nanti."


'Lalu kenapa harus ada drama pernikahan ini dan melimpahkannya padaku jika kmu sudah menyukai pria lain?' lagi-lagi Inayah hanya bertanya dalam diam, tidak ingin bersuara. Rasa-rasanya jika suara keluar dari mulutnya bisa bersamaan dengan air mata yang sudah siap berderai.


"Orang yang akan menikah denganmu adalah kekasih sahabatku. Aku tidak mau membuatnya terluka dengan merebut kekasihnya walau itu bukan niatanku. Tapi tetap saja, dia akan menganggapku menghianatinya."


Dinda berbicara dengan sangat serius dan Karmila tidak berani menyela, ia juga tidak akan pernah mau putrinya sampai tidak mendapatkan kebahagiaan dengan terlibat dalam pernikahan ini. Ia dengan jahatnya menyeret gadis yang tidak tahu apa-apa ke dalam masalah besar.


'Maaf Inayah. Tapi putriku tidak akan pernah kubiarkan menderita selama aku masih hidup!' Karmila memasang ekspresi datar menunggu Dinda melanjutkan kata-katanya.


"Dan lagi, sebenarnya ... Sepertinya Daru menikah ini hanya mau membuat Kainah kembali karena cemburu bila dia akan menikah dengan wanita lain. Jadi ... sepertinya kalian tidak akan sama seperti pria dan wanita yang menikah pada umumnya."


Dinda merasa harus memberitahu kebenarannya pada Inayah, agar gadis yang akan menikah ini bisa mempersiapkan diri untuk kenyataan jika pernikahan mereka hanyalah sandiwara belaka.


"Jadi maksudnya saya bisa bercerai dengan orang yang bernama Daru itu?" tanya Inayah dengan bahagia seperti angin segar yang menghinggapinya setelah hanya terdiam dengan batinnya.


"Ya, itu bisa saja terjadi dan juga tidak. Satuhal yang harus kamu ingat, Daru tidak akan membiarkan miliknya di ambil orang lain." Inayah belum paham dengan maksud ucapan Dinda.


"Sudah cukup, kita harus keluar sekarang."


Karmila tidak membiarkan Inayah dan Dinda berbicara lebih lama lagi, Inayah masih ingin bertanya tapi Karmila segera menarik tangannya dan keluar dari kamar.


Sepeninggal mereka, ponsel Dinda yang tergeletak di atas ranjang berbunyi. Segera ia melangkah dan mengambil telepon itu. Kainah! Dinda bimbang harus mengangkat panggilan video itu atau tidak. Dinda membiarkan terus berbunyi, setelah dering untuk kedua kali barulah Dinda mengangkatnya.


"Dinda!" seru Kainah yang wajahnya memenuhi layar handpone Dinda.


"Ya, Kainah," balasnya


Kainah tampak memperhatikannya dengan cermat dari layar.


"Bukanah hari ini kamu akan menikah dengan Daru?"


"Kamu tidak akan marah jika aku menikah dengannya?" tanya balik Dinda.


"Aku pasti membunuhmu jika itu benar-benar terjadi," kata Kainah dengan tampang serius.


"Aku akan menikah dengannya jika kamu yang melepaskannya. Lagipula kamu jelas tau sendiri siapa yang ku suka."


Dinda tersenyum malu mengatakan kata terakhir.


"Baguslah. Akhirnya Daru tidak akan menikah, aku tahu dia tidak akan pernah melirik wanita lain karena hanya aku yang bisa menjadi istrinya. Padahal kukira tadi mau pesan tiket untuk terbang ke Indonesia dan menghentikan pernikahan itu. Sudah dulu ya, aku masih ada pemotretan."

__ADS_1


"Ka_" Layar handponenya kembali dari panggilan itu, Dinda belum selesai berbicara tetapi Kainah sudah memutuskan sambungannya. Berulang kali Dinda mencoba kembali menghubunginya tetapi tidak pernah terjawab.


'Ya ampun Kainah! Kenapa kamu tidak menjawab panggilanku?' Dinda menyerah menghubungi Kainah yang tak kunjung menjawab, lagi pula jika Kainah baru akan memesan penerbangan bukankah dia akan terlambat menghentikan pernikahan yang mungkin sekarang tengah berlangsung?


"Mama ngapain bisik-bisik sama Pak Penghulu?" tanya Hendra pada Karmila.


"Bukan apa-apa Pah. Mama tidak selingkuh kok."


Karmila tersenyum genit pada suaminya menghentikan Hendra yang ingin bertanya lagi.


"Ananda Daru. Sudah siap?" tanya Pak Penghulu pada Daru yang kini berdampingan dengan Inayah.


"Siap," jawab Daru. Pandangannya terus mengarah ke pintu. Kapan Kainah akan datang? Apa dirinya tidak penting bagi Kainah? Wanita itu akan menyesal jika terlambat sedikit saja.


"Mah, kenapa Dinda menutupi wajahnya?" Hendra kembali bertanya pada sang Istri yang cukup terdengar oleh orang lain dalam ruang sunyi yang menunggu proses akad itu.


"Dinda malu Pah. Papa jangan tanya terus, nanti pernilahannya nggak jadi-jadi!"


Hendra menurut, tidak bersuara dan hanya ingin menyaksikan putrinya yang akan menikah. Hendra sedikit aneh saat menatap sosok Dinda putrinya, seperti berbeda. Mungkinkah karena memakai pakaian pernikahan dan menutupi wajahnya?


"Ananda Daru, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Inayah binti Hendra dengan maskawin sebesar 1,8 Milyar rupiah bersama satu set permata di bayar tunai!"


"Saya terima nikahnya Inayah binti Hendra dengan maskawain tersebut, tunai!"


"Bagaimana? Sah?"


Semua orang nampak hening mendengar akad yang baru saja berlangsung, karena mendapat keanehan.


"Mah, ada yang salah. Kenapa namanya Inayah, dan bukan Dinda?" tanya Hendra merasa bingung setelah kata sah terucap dari bibirnya sendiri bersama saksi lain.


"Tidak ada pah. Papa salah dengat kali," elak Karmila.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Daru.


Proses pernikahan telah berlangsung dengan sederhana. Dalam akadnya pun Daru hanya datang bersama dengan sang sekretaris, Ian. Dalam pernikahan mainan itu. Daru memang sudah merasa curiga dengan calon istrinya yang datang-datang menutupi wajahnya, apalagi setelah mendengar ucapan Pak Penghulu saat menyerahkan akad tadi, sial! Hendra membodohinya, awas saja pria tua itu.


"Sa_saya, saya," Inayah tergagap, merasa aneh dengan tatapan Daru yang seakan menusuk daging-dagingnnya.


Mobil yang mereka naiki berjalan dengan sedang, Ian tidak percaya wanita di kursi belakangberani bermain-main dengan Daru, nyawa gadis itu harus banyak jika ingin masuk permainan. Ian hanya fokus mengemudi dengan pandangan lurus ke depan dalam gelapnya malam yang diterangi oleh lampu yang berasal dari mobil seakan tidak mendengar adanya suara yang datang dari belakang.


"Buka."


Inayah tidak tahu apa yang harus di buka. Apakah dia akan dibuang dari mobil dengan keadaan menyala? Ya, hal itu tidak akan ada masalah untuk orang di sampingnya ini, tinggal lapor saja jika istri yang baru di nikahinya lompat dari mobil padahal dia yang menyuruh untuk membuka pintu mobil dan akan mendorong Inayah keluar.


'Tidak! Tidak!' batin Inayah menolak untuk membuka, nyawanya hanya ada satu jika khayalannya benar-benar terjadi.


"Kau tuli? Hah! Jangan membuatku mengulang kata yang sama, cepat buka kain di wajahmu itu!"


Inayah kaget, ternyata penutup wajahnya ia baru tersadar jika wajahnya ditutup sangking gugupnya karena tidak tahu malunya berani menggantikan orang yang akan menikah.


'Aku kaya perebut calon suami orang. Jahat sekali!'

__ADS_1


"Ian. Hentikan mobilnya," perintah Daru pada pria yang ada di balik kemudi.


"Baik Tuan."


'Bagaiman ini? mungkinkah dia marah?'


"Keluar! Sebelum kesabaranku habis," kata Daru, Inayah dapat merasakan suasana yang memcekik, apa dia harus keluar? Tapi ... Karmila dan Dinda tidak mengatakan dia bisa melakukan apa saja jika sudah menikah kan? Apa tidak apa-apa jika dia keluar?


"Baik Tuan."


Tangan Inayah bergerak untuk membuka pintu mobil. Setelah terbuka, Inayah menggeser duduknya untuk keluar dari mobil.


'Dia sangat berani!' batin Ian melihat keberanian Inayah dari kaca spion.


"Ah!"


Sebelum kaki Inayah menyentuh tanah, ia merasakan tangannya tertarik dan badannya ikut dengan kekuatan yang menariknya dan terduduk kembali.


"Kau lebih memilih untuk keluar dari mobil ini daripada memperlihatkan wajahmu?!"


Kemarahan terpancar pada mata Daru. Inayah membeku, ada apa dengan orang ini?


'Bukankah dia sendiri yang menyuruhku keluar?' Inayah tidak memahami ucapan Daru yang aneh menurutnya.


"Maaf Tuan. Saya hanya mengikuti perkataan Tuan yang menyuruh saya keluar. Apa saya salah?"


Daru menghempaskan tangan Inayah dengan kuat.


"Aaw ...."


Inayah merasakan sakit pada pergelangan tangannya.


"Jalan," kata Daru tanpa mengindahkan ucapan Inayah.


"Baik Tuan."


Pintu mobil kembali tertutup setelah Ian menekan suatu tombol lalu perlahan mbil kembali berjalan.


'Kenapa malah jalan?'


"Tuan? Jangan jalan dulu, saya masih harus keluar."


Ian hanya diam tidak menanggapi perkataan Inayah.


'Siapa tadi namanya? Ah, iya. Ian!'


"Tuan Ian, tolong hentikan dulu mobilnya," Inayah kembali berkata setelah mengingat nama yang tadi Daru sebutkan.


"Diam! Kau tidak berhak berbicara."


Inayah membeku dan terdiam mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2