
Membaca pesan terakhir Fano itu membuat hati Riri berbunga-bunga dan dia tersenyum sendiri. membayangkan dirinya memakai baju pernikahan bersama Fano. dan juga El pangeran kecil mereka.
Selesai kelas, Riri duduk dikantin bersama Maya. mereka memesan makanan untuk mengganjal perut mereka agar bisa fokus saat kelas berikutnya.
"hari ini aku yang traktir kamu. kamu mau makan apa?" kata Riri.
"serius Ri? gak usah. aku gak enak sama kamu." kata Riri.
"udah gak usah merasa gak enak begitu. aku tahu, ibu kamu mau dioperasi kan? itu uang kamu, kamu tabung buat ibu kamu aja. hari ini kamu makan aku yang bayar. aku gak bawa bekal hari ini." kata Riri.
"tapi kan Ri.. " kata Maya hendak menolak tapi sudah dipotong omongannya oleh Riri.
"gak usah ada tapi-tapian. kalau kamu menolak, kita gak akan pernah jadi sahabat lagi." ancam Riri sehingga membuat Maya menerima dengan terpaksa tawaran Riri. karena sebenarnya kalau Riri tak menawarkan traktiran itu, hari ini Maya harus puasa karena uangnya hanya cukup untuk membeli kebutuhan yang sudah habis dirumah karena uang tabungannya sudah dikirim ke Indonesia untuk biaya ibunya yang masuk rumah sakit dan harus segera dioperasi. bahkan gaji bulan ini pun dia hanya mengambil 10% saja. yang lainnya dia langsung kirimkan ke Indonesia. dia akan puasa sampai gajian minggu depan.
"kamu mau makan apa? aku pengen sandwich sama orange jus." kata Riri.
"aku mau nasi goreng seafood aja Ri, yang paling murah sama es teh."
"kenapa mesti yang paling murah? yang paling mahal juga akan aku belikan kalau kamu mau." kata Riri tak bermaksud menyombongkan.
"aku gak enak sama kamu Riri. udah aku itu aja." kata Maya mengelak.
"baiklah.kalau gitu aku pesan dulu ya." kata Riri pergi meninggalkan Maya untuk memesan makanannya.
Saat Riri pergi, banyak mahasiswa yang berbisik dibelakang Maya. meskipun berbisik tapi Maya mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
"kamu lihat kan? darimana dia punya uang buat mentraktir temannya. kalau bukan dari orang yang sering mengantarnya ke kampus." kata gadis A.
__ADS_1
"iya, tahu gak tadi aku gak sengaja lihat dia masukin kartu anti limit ke dompetnya saat dia lewat didepanku. padahal dia kan sekolah cuma beasiswa. kenapa dia bisa punya kartu anti limit?" sahut gadis B.
"Jangan-jangan dia simpanan Om-om? dan kartu itu bayarannya dari tidur semalam?" kata Gadis yang lainnya.
"bisa jadi. aku juga mau dong ditraktir." kata gadis lainnya menanggapi.
Maya mendengar itu semua dia merasa geram. tapi dia tak mungkin melabrak mereka karena sebelum melabrak pun nyalinya sudah menciut duluan karena Maya tau mereka anak orang kaya. Akhirnya Maya pun diam dan mencoba membalas mereka nanti dengan cara yang elegan..
Saat mereka berdua tengah asyik duduk sambil makan, Maya pura-pura melihat sekeliling dan dia pura-pura tak sengaja melihat kebelakang dan benar saja seperti dugaannya bahwa keempat gadis tadi masih disana memperhatikan mereka. Maya tersenyum dalam hati. lihat saja ya. habis itu jangan pernah mengatakan Riri simpanan lagi. batin Maya.
"Ohh iya Riri, sebenarnya cowok yang tiap hari nganter kamu itu beneran pacar kamu ya?" tanya Maya dengan sedikit keras dan benar saja gadis di belakang seperti menajamkan pendengaran mereka.
"ya sebenarnya bukan pacar sih May, aku kenal dia udah dari SMA. dia menikah saat lulus SMA. tapi istrinya meninggal saat melahirkan anak mereka. dan kita dipertemukan kembali. ya walaupun belum resmi, tapi kita udah tunangan." kata Riri menunjukkan cincin emas di jarinya itu. "dan tadi pagi dia ngasih kartu kredit anti limit untukku karena percaya aku yang akan mengurus kebutuhan rumah jadi dia memberikannya untukku." lanjutnya.
"jadi kamu akan menikah nantinya?" kata Maya sedikit berteriak membuat para gadis kepo itu menahan malu karena menjelekkan Riri sebagai simpanan yang nyatanya justru cowok itu calon suaminya.
"aku mau dong kaya kamu Riri. masih ada gak stok cowok kaya calon suami kamu itu?" kata Maya membayangkan calon suami masa depannya.
"emmm.. kaya nya udah habis May, soalnya cowok kaya calon suamiku itu limited edition May." kata Riri percaya diri.
"iya deh iya yang calonnya." kata Maya mencibir.
Mereka kembali masuk kelas saat sudah selesai makan. dan Maya merasa puas karena dia bisa membalas para gadis yang mengatai Riri sebagai simpanan tanpa harus melabrak nya.
Setelah selesai kelas, mereka berdua langsung menuju sekolahan El untuk menjemput El. dan kemudian langsung ke supermarket untuk membeli bahan belanjaan.
"bunda, El mau itu bunda." kata El yang duduk di troli belanjaan sambil menunjuk sebuah mobil remot yang bisa berubah menjadi sebuah robot.
__ADS_1
"El mau? kalau El mau ayo kita beli." kata Riri mendorong troli kearah mainan tersebut. El dengan girang memilihnya. dia bahkan memilih sampai dia mainan.
"El, gak boleh milih dua. satu aja." kata Riri pelan tapi tegas.
"emm... kalau menurut bunda dan tante Maya bagus mana?" tanya El sambil menimang mobil berwarna biru dan hitam itu.
"terserah kamu sayang. kamu mau yang mana." kata Riri.
"kalau tante Maya?"
"kalau tante, bagus yang biru sayang." jawabnya lembut.
"baiklah kalau gitu El ambil yang biru ya bunda. ohh iya bunda. besok teman sekelas El mau ulang tahun dan dirayakan disekolah. bagusnya El kasih hadiah apa ya bunda?" tanya El. meskipun umurnya baru 4 tahun lebih sedikit tapi sifatnya sudah dewasa. dia bisa memilih dan juga memberikan pilihan sambil menimang untung ruginya jika memilih.
"teman kamu cowok apa cewek sayang?" tanya Riri.
"cewek bunda. tadi saat El tanya temen El, mereka pada mau ngasih dia boneka bunda. tapi kan kalau semuanya memberikan boneka, nanti sama aja gak ada gunanya bunda." kata El.
"kalau begitu, gimana kalau kita kasih kado tas, buku, baju atau sepatu aja." usul Maya.
"ide bagus itu May." kata Riri.
"emm.. gimana kalau tas bunda? setau El dia gak pernah ganti tas bunda. padahal tasnya udah seperti mau putus." kata El.
"baiklah.nanti kita akan carikan tas untuk kado temanmu. tapi sekarang kita belanja keperluan rumah dulu ya sayang. nanti Oma menunggu." kata Riri.
__ADS_1
gantengnya ayah Fano💞