
Fano melihat sekeliling mencari Riri dan El. dia agak sedikit terlambat karena perjalanan yang macet. dia tak ingin membuat Riri dan El kecewa akhirnya dia berlari dari parkiran menuju dalam Mall mencari diantara ratusan orang yang ada disana. matanya lalu tertuju akan seorang wanita menggandeng seorang anak dengan tertawa bermain di arena game. Fano pun menghampiri.
"maaf sayang, maaf ayah kelamaan dijalan karena kejebak macet." kata Fano menghampiri El dan Riri.
"tidak apa-apa kok yah, kita juga belum makan. El masih mau main dulu yah." kata El. sedangkan Fano melihat ke arah Riri dan Riri pun menggelengkan kepalanya menandakan untuk menghentikan El bermain.
"sayang, kita makan dulu baru main ya. ini hampir lewat jam makan siang. kamu gak boleh telat makan siangnya." kata Fano lembut.
"baiklah ayah. kalau gitu El mau makan steak di restoran itu sama ice cream yah." kata El menunjuk salah satu restoran bintang 5 yang ada di Mall itu.
"baiklah sayang. ayo kita makan." kata Riri menggandeng tangan El dan menuntunnya masuk ke restoran itu.
Mereka langsung duduk di salah satu kursi yang kosong disana. mereka memesan makanan lewat pramusaji yang menghampiri mereka. mereka pesan makanan sesuai keinginan El. mereka tak mau membuat El sedih lagi karena masalah kemarin.
"gimana sayang? enak?" tanya Riri.
"enak bunda. tapi lebih enak bikinan bunda." jawabnya dengan mulut penuh makanan.
__ADS_1
"El, kalau ngomong itu ditelan dulu makanannya jangan ngomong sambil makan. nanti tersedak." titah Fano.
"kamu juga buruan makan jangan main HP mulu." kata Riri memarahi Fano karena dari tadi makanannya gak tersentuh karna masih asik dengan hpnya.
"ayah marahin El gak taunya ayah sendiri juga gitu sampai dimarahin bunda. marahin terus aja bunda biar ayah gak lupa sama kita." sindir El yang tak lepas fokusnya dengan makanan didepannya.
Fano yang mendengar itu menepuk jidatnya karena merasa anaknya kini sudah lebih dewasa. sedangkan Riri yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba Riri memuntahkan makanan karena dirasa dalam hidangan penutupnya ada benda yang terasa keras saat digigit. saat dilihat, dia menemukan sebuah cincin berlian yang cantik.
Dengan diam Fano mengambil cincin itu dari tangan Riri dan mulai berlutut sambil menggenggam tangan Riri erat.
"Kamu tahu kan sayang. aku mencintaimu dari dulu. dari awal kita berkenalan. tapi aku hanya bisa mencintaimu dalam diam. aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan. dan beberapa tahun terakhir, akupun hanya bisa merindukanmu dalam kejauhan ku. aku selalu berharap tak ingin bangun disetiap paginya karena aku hanya bisa bertemu denganmu lewat mimpi. kini saat kamu sudah ada didepanku. ada di kehidupanku. aku tak ingin melepas itu semua. oleh karena itu, Riri... maukah kamu menjadi istriku dan juga...." kata Fano menggantung sambil melirik anaknya.
"Dan juga jadi bunda untuk El?" sahut El sambil membaca sebuah kertas ditangannya. ternyata acara makan siang ini acara Fano dan El.
__ADS_1
"jadi kalian berdua sudah merencanakan ini semua?" tanya Riri dan hanya dijawab anggukan ayah dan anak yang kompak itu.
"jadi bagaimana jawaban kamu?" kata Fano yang masih menggenggam tangan Riri.
"aku mau." kata Riri mantap membuat Fano tersenyum dan memeluk Riri serta El yang juga berhambur dalam pelukan Riri dan Fano.
Sedangkan semua mata yang ada di restoran tersebut menatap mereka dengan senyum dan tepuk tangan yang meriah. namun berbeda dengan halnya seorang gadis yang duduk dipaling pojok ruangan. dia meremas botol air mineral dalam genggamannya. dia terlihat tak suka akan pemandangan itu. terlebih Riri terlihat bahagia karena Fano melamarnya.
"tak akan aku biarkan kalian tertawa diatas kesusahan ku. jika aku tak bisa mendapatkan Fano, maka kamu juga tak boleh mendapatkannya Ri." kata perempuan itu yang tak lain adalah Maya.
Dua minggu telah berlalu dari acara lamaran di restoran itu. Fano dan Riri terlihat bahagia terlebih sekarang sudah tak ada ancaman dari Maya. mereka merasa aman. terlebih Riri yang merasa bisa hidup kembali setelah kemarin mengalami hal yang tak mengenakan.
Namun sebenarnya Maya hanya memberi kesempatan mereka untuk bernafas lega sejenak. karena sebenarnya Maya hendak mengulur waktu sampai sebulan lagi acara pernikahan Riri dan Fano. dia akan membawa sebuah hasil yang selama ini dia tunggu. yaitu hamil anak Fano. ya meskipun itu bukan murni anak Fano karena itu juga ikut campur tangan Jo didalamnya.
Tapi selama Fano tak tahu, terlebih Riri, pasti mereka akan membatalkan pernikahan itu. dan itu sesuai rencana Maya untuk memisahkan Riri.
"gimana kamu sudah hamil belum?" kata Jo pada Maya yang kini mereka sedang berada di apartemen milik Maya. ya, dia bisa menyewa apartemen setelah membohongi Riri dengan penyakit ibunya yang sebenarnya ibunya memang benar-benar sakit, tapi itu 10tahun yang lalu dan sekarang ibunya sudah meninggal.
__ADS_1
"belum nih. bantuin lagi yok." kata Maya yang langsung menyeret Jo kedalam kamar dan menguncinya. dengan senang hati Jo melakukan itu karena bagi dia, itu bisa mendapat kepuasan nafsunya tanpa harus membayarnya pada germo. terlebih Maya yakin bisa segera hamil karena permainan Jo yang begitu bersemangat bahkan bisa beberapa kali keluar.